
"Assalamualaikum everybody, kembali lagi bersama saya Nalendra si paling tampan diantara kalian" teriakan Alen menggema di seluruh ruangan membuat yang mendengar menutup telinga mereka karena berisik dan cukup sakit ketika masuk di telinga.
Lucas yang di belakangnya juga kaget, apa teman barunya ini sudah tidak waras! Pikirnya.
"Beneran nih bang Alen? Wiihh gila lebih gila dari gres" batin Lucas geleng geleng kepala.
"Lo kemana saja sih dari tadi ditungguin juga" omel Ali.
"Sory, nah gue bawa sesuatu nih buat kalian. Sahabat baru gue dari Inggris bule dia" ucap Alen. Dan semuanya termasuk anak buah yang berada disana manatap Lucas. Yang ditatap hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan tersenyum canggung. Dia tidak nyaman jika ditatap seperti ini padahal jika di Inggris semuanya menunduk patuh padanya ternyata di Indonesia dia hanya debu saja!
"Siapa dia Len?" Tanya Raden.
"Eits, duduk dulu luc jangan sungkan Monggo" ucap Alen mempersilahkan Lucas untuk duduk dan Lucas pun segera duduk dan tepat di samping Rasya karena tadi ia melihat tempat itu kosong dan hanya satu orang yang duduk disana jadi dia pun duduk disitu, tak salah bukan?
"Sorry luc apa lo bisa pindah disini samping gue atau gak di kursi tunggal sana" kata Alen hati hati, Lucas yang di perintahkan seperti itu hanya menyeritkan alisnya tak mengerti tetapi tetap pindah sesuai kata Alen tadi.
Lucas menaikkan sebelah alisnya ke arah Alen 'kenapa' Alen yang mengerti itu hanya tersenyum saja tanpa ingin membalasnya.
"Dia siapa Len" tanya ulang Raden.
"Namanya Lucas dari Inggris" balas Alen.
"Gue Lucas Moura A. Panggil Lucas saja" Kata lucas sambil tersenyum canggung ke arah sahabat Alen lainnya.
"Oh Lucas toh, kenalin gue Ali sahabat Alen juga" sahut Ali.
"Gue Arel kalo lo mau tau" timpal Arel memperkenalkan.
"Gue Raden" Lucas tampak mengangguk, dan menatap ke arah Rasya.
Rasya mengerti arti tatapan itu, "gue- Rasya" Lucas mengangguk.
__ADS_1
"Kalo lo?" Tanya Lucas mengarah pada Devano.
"Gue juga perlu?"
"Emang ada yang salah"
"Gak ada sih, gue Vano"
"Devano kalo lo lupa" koreksi Raden, dia memang seperti itu. Selalu saja mengoreksi jika menurutnya salah namun itu bukan hal yang buruk kok.
"Sorry, gue bukan maksud apa apa gue kesini diajak Alen saja" kata Lucas. Mereka mengangguk paham.
Rasya memperhatikan Lucas dengan tajam. Ia melihat logo TB dan tulisan di lengan kanan 'tangan kanan TB' Rasya segera melirik Devano ternyata lelaki itu juga melihatnya. Saling menatap Devano mengangguk dan segera ke arah yang sudah ia pahami.
"Apa tujuan lo ke Indonesia luc?" Tanya Arel.
"Ada tugas penting dari bos gue jadi gue kesini untuk menyelesaikannya" balas Lucas.
"Apa lo kenal dengannya sya?"
"Ya, dan sekarang dia ada di markas kita " seketika rahang Lucas mengeras mendengar penuturan Rasya, berdiri dengan tatapan tajam ia menatap Rasya dan tangan yang sudah terkepal, Rasya hanya santai dengan hal ini menurutnya wajar karena dari tugas dia harus membantu bosnya dan sekarang malah dapat omongan kalo bosnya ada di markas mereka sekarang.
"Cha apa maksud lo? Queen Li? Bahkan kita tidak pernah bertemu denganya jangan mengada-ada ya lo Cha" kata Raden.
"Bos" suara bariton membuat mereka yang ada disana menoleh siapa lagi kalo bukan Devano. Dia sekarang membawa pasien Rian dan juga sahabat baru mereka.
"Queen Li/ bang Lucas" pekik keduanya. Icha dan Lucas!
"Queen Li?" Beo mereka berempat.
Dengan mata berkaca-kaca Icha ingin berlari namun ia hentikan mengingat kakinya yang terluka dan masih basah jahitannya, dia merentangkan tangannya dan Lucas segera menghamburkan pelukannya ke arah Icha.
__ADS_1
Setelah lama berpelukan kini mereka sudah melepaskan pelukannya.
"Kenapa bang Lucas ada disini? Bukannya di markas?" Teringat sesuatu Icha menutup mulutnya dan merutuki kebodohannya.
"Gakpapa Cha kita udah tau kok, jadi gabunglah disini dan kita bicara bersama" kata Ali bijak.
Kini ada delapan orang di ruang tamu itu.
"Queen, are you oke baby? Kenapa kaki lo? Tangan lo? Infus ini? Kumat?" Tanya lucas beruntun sambil menyisir rambut Icha ke belakang.
"Kumat?" Batin Rasya.
"Kumat? Apaan? Mungkin Lucas tau tentang Bella, apa gue cari tau dari Lucas aja ya? Batin Devano.
"Siapa Queen? Lo ngasih tugas tapi namanya gak lo kasih tau" tanya Lucas dengan nada lembut, Icha hanya tersenyum.
"Im ok bang, jadi gak usah khawatir karena disini gue dapat perawatan yang baik, mereka salah satu temen gue disekolah jadi lo gak perlu khawatir lagi oke" Lucas tersenyum kemudian mengelus pipi Icha lembut.
"Bangggggg malu ih" rengek Icha, Lucas terkekeh melihatnya.
"Santai Cha, kita gak liat kok" sahut Alen memalingkan wajahnya.
"Dia abang gue kalo lo belum tau, paham kan" kata Icha.
"Jadi siapa hm?" Icha terdiam, bodoh juga dirinya meminta bantuan pada Lucas.
"Siapa Ichaaaa, Karel l? Liam? Siapa hm?"tanya Lucas lagi.
"A-ar
Brak!
__ADS_1
"Berani juga dia nyentuh lo Li" sarkas Lucas. dia emosi benar benar emosi, seseorang yang selalu ia hindari dan waspadai telah berani nenampakkan dirinya sekarang, lihat saja apa yang akan Lucas lakukan huhh!