
Rasya masih tetap mengurung diri di kamar pribadinya di markas besar itu. Berbeda dengan Icha yang tengah mencemaskan sang kekasih, dirinya mendapat kabar dari Alen yang mengabarkan sang leader itu tengah mengamuk dan dari tadi mengurung diri dalam ruangannya.
^_________^
Alen BW
Queen, Acha marah besar di markas
Kita butuh bantuan lo buat bujuk dia
Gue harap lo bisa datang kesini sekarang
Ichaaa
Gue kesana sekarang setelah masalah di markas gue selesai
Alen BW
Lo dapat masalah apa Queen?
Apa perlu bantuan kita?
Lo selesaikan dulu markas lo gakpapa. Kita nungguin lo sampe lo datengg
Ichaaa
Bukan masalah besar Len
Gue bisa atasi sama anggota gue
^_________^
Icha saat ini tengah berada diruang rapat TB yang dimana ada anggota inti TB.
"Gimana ini Queen, GSc udah terang terangan ingin balas dendam sama kita" kata Lucas.
"Gak tau gue bingung, kita selesaikan ini segera gue mau ke markas BW" kata Icha merapikan bukti dan laporan serta menutup rapat.
"Lo ngapain kesana" tanya Lyli.
"Ada hal yang harus gue urus kalian tetap disini" titahnya pada mereka.
"Cha, kakak hilang" kata Raska tiba tiba membuat Icha terduduk lemas.
"Kok bisa "
"Gue gak tahu, gue dapat info dari Alen. Katanya kak Rasya gak ada di kamarnya setelah didobrak dan mendapat laporan dari anak buah mereka Rasya baru saja pergi" kata Raska.
"Kita kesana sekarang" kata Icha lalu pergi meninggalkan ruangan.
"Kalian kalau mau bantu gakpapa asal jangan bicarain masalah ini sama mereka paham kan" titah Raska diangguki.
*
__ADS_1
"Ini semua salah gue Len" lirih Devano.
"Bang lo gak salah sekarang kita cari Acha sama sama" kata Alen. Devano yang masih setengah sadar itu sangat merasa bersalah atas kepergian Rasya.
"Sial kenapa gue gak inget apapun, rasanya ada yang janggal tapi gue gak tau" kata Devano.
"Jangan dipikirin bang, kita harus berusaha mencari Acha sebelum jauh dia" kata Ali.
*
Icha baru sampai di markas tiga, disusul oleh anggotanya yang lain.
"Kok bisa Acha sampe marah besar sih " kata Icha pada empat the perfect itu.
"Maafin kita Cha " cicit Alen menunduk.
"Ini semua salah gue, maaf Queen" lirih Devano menatap Icha.
"Hah, kita harus cari Acha dimana sekarang" kata Icha memegang kepalanya terasa pusing.
"Vano, apa lo tidak tahu tempat dimana kak Rasya biasanya pergi atau nenangin pikirannya?" Tanya Raska.
"Gue lupa gue gak inget maaf tuan" kata Devano menunduk.
"Ck. Lo dimana sih kak" gumam Raska berdecak.
"Apa kalian gak ada gps khusus gitu? Gak mungkin kalian melupakan hal itu" kata Raska.
"Itu dia masalahnya. Acha sengaja ninggalin itu semua dan memakai mobil yang tidak terpasang gps, handphone juga dimatikan"
"Karena dua sahabatnya mabuk karena perempuan" cicit Alen menunduk tak berani menatap mata Raska.
"****" umpat Raska.
"Gue pamit gue mau cari Acha dia gak boleh beranggapan kalau gue sama dengan cewek cewek diluar sana" kata Icha langsung melenggang pergi.
"Maaf tuan" kata Ali ditujukan pada Raska.
"Maafkan kami" kata Alen.
"Apa dengan meminta maaf bisa ngembaliin kakak gue hah" sentak Raska.
"Gue kabari bang Rafka sama ayah dulu siapa tahu mereka bersamanya(Rasya)" kata Raska lalu menghubungi kakak sulungnya dan juga ayahnya.
*
Ditempat gelap, disinilah Rasya berada. Menjauh tidak akan menyelesaikan masalah tetapi Rasya sangat marah sekali dan hatinya juga bimbang sekaligus memikirkan sang kekasih.
"Gue harus gimana, apa gue akan seperti itu?" Gumam Rasya menopang dagunya.
"Li, jangan tinggalin gue" katanya dalam hati.
"Ternyata anda disini tuan muda" ucap seseorang yang tiba tiba bersuara dan menepuk pundak Rasya membuatnya terjingkat kaget.
__ADS_1
"U-ncle" kata Rasya mengelus dada.
"Ada gerangan apa kau kesini, apa ada masalah hingga kau mendatangiku?" Kata orang tersebut.
"Ya uncle, Acha sedang dalam masalah dan juga Acha rindu sama suasana disini" katanya menatap pria yang sudah tidak tua lagi.
"Uncle senang kau datang kemari, tapi uncle tidak senang kau datang saat dalam masalah saja untuk menemui Uncle" kata pria tersebut.
"Aku kangen sama Nana apa dia ada disini?" Kata Rasya.
"Ada, di ruang latian bersama sahabatnya"
"Wah ada mereka uncle? Acha rindu sekali sama dua orang itu" kata Rasya lalu meninggalkan pria itu disana dan menuju ke ruang latian yang dikatakan unclenya tadi.
*
"Kamu dimana Cha" gumam Icha yang sudah menjelajahi seluruh tempat yang ia ketahui.
Sedangkan Rasya yang sudah membuat cemas semua orang tengah asyik latian senjata api bersama dua orang yang berbeda gender itu.
"Huh sudah ya, aku lelah sekali" keluh Gadis yang tadi menjadi lawan Rasya.
"Istirahatlah Na kita lanjutkan nanti" kata pria yang sepertinya masih sepantaran dengan Rasya.
"Kita istirahat di sana saja yuk kak" kata gadis itu.
Mereka berdua mengangguk dan berjalan beriringan dengan gadis itu diapit dua cowok menuju tempat yang dituju sebagai tempat istirahat mereka.
"Oh iya, kakak ada masalah apa gak biasanya kakak datang kemari" kata gadis itu seakan menyindirnya.
"Ah tidak Na, aku hanya rindu sama kamu" kata Rasya.
"Iya juga ya Na, si tuan muda ini kan akan lupa sama kita kalau lagi senang" kata Pria itu ikut dengan sindiran gadis cilik itu.
"Itu semua tidak benar, aku kesini merindukan kalian"
"Jujur sama kita Ya" kata pria itu. Yaya adalah sebutan mereka untuk memanggil Rasya.
"Tidak ada, sudahlah aku mau istirahat" kata Rasya, saat sudah berdiri dan membalikkan badannya dilihatnya ada beberapa orang yang menatapnya tajam. Ia terkejut namun hanya sekejap saja, Rasya meringis melihat tatapan itu menggaruk tengkuknya ia berjalan ke arah orang orang itu.
"Sudah membuat kami cemas malah asyik main disini dasar anak kurang ajar" sungut pria paruh baya itu yang diketahui adalah ayahnya sendiri, Angga.
"Ayah kenapa ada disini" pertanyaan yang tidak masuk akal. Rasya nyalinya kembali menciut kata melihat tatapan menusuk dari sang ayah.
"Hehe maafin Acha yah, Acha hanya kangen sama uncle sama Nana" cicit Rasya.
"Ke ruang keluarga sekarang atau kamu ayah hukum" kata Ayah Angga tegas.
"Hayolo, leader marah besar tuh" ledek pria yang sedang menggandng tangan gadis kecil itu tersenyum meledek kr arah Rasya.
"Lebih baik kau diam saja Nathan" kata Rasya menatap Nathan tajam.
<( ̄︶ ̄)>
__ADS_1
Uncle tadi adalah Dicky Chandra Maverick, adik dari Ayah Angga. Seorang pengusaha sukses di Roma dengan jabatan tertinggi disana. Memiliki anak tunggal, cantik dan menggemaskan bernama Natalia Maverick yang kerap disapa Nana, si sepupu yang selalu membuat Rasya bangkrut ketika bersamanya tapi dia tetap menyayanginya.
Nathan Syke, sahabat Rasya juga Natalia. Seorang pebisnis muda dan sukses di Indonesia.