
Sepulang sekolah mereka semua tidak langsung pulang ke rumah masing masing melainkan ke rumah Rasya, ingin mengajak mereka ke markas namun adanya Amel dkk membuat Rasya mengajak sahabatnya ke rumah pribadinya. The perfect, girl Squad plus Lucas dkk serta pihak Ice blue ( Rafka and 2G)
"Ck. Anak orang kaya, sultan muda, pengusaha, ketua kita rumah gede masa makanan pun gaada" decak Alen menyindir sang pemilik rumah.
"Diam kau Len" kata Rasya menatap Alen tajam.
"Laperrrr ege mana bisa gue diem tambah laper" kata Alen.
Tingtong! Bell rumah Rasya berbunyi.
"Sono bawain ada bonus buat lo" kata Rasya pada Alen, mendengar nama bonus Alen dengan segera membukakan pintu dan melihat siapa tamunya dan ternyata adalah paket dari restorannya sendiri Zalen Caffe.
"Ck. Kenapa bisa gue gak tau kalo ada yang pesen di caffe gue sendiri adalah temen gue, emang dasar percaya deh kalo karyawan gue patuhnya sama lo bukan sama gue" gerutu Alen yang sambil membagikan satu persatu bungkusan kepada temannya rata.
"Bisa diam tidak tinggal terima makan apa susahnya toh Caffemu juga akan untung bukan" kata Ali kesal dengan gerutuan Alen sejak tadi.
"Iya juga sih, ah sudahlah aku sudah sangat lapar sekali"
Mereka pun dengan lahap dan tenang menyantap menikmati makanan yang baru dipesan Rasya tadi. Sampai dimana Icha membuka suara terlebih dahulu karena sudah selesai makan.
"Cha ikut aku bisa?" Kata Icha pada Rasya.
"Boleh"
"Kita tinggal dulu gakpapa kan? Kalian bisa tanya kamar sama Alen atau Arel kalo mau istirahat" kata Rasya lalu menggandeng Icha pergi ke suatu tempat yang ada di rumah mewah itu.
"Kamu mau cerita samaku?" Tanya Rasya. Nampak Icha hanya diam saja entah kenapa bibirnya kelu saat ingin mengatakan isi hatinya.
"Apa aku bisa meminta bantuanmu?"
"Dengan senang hati" kata Rasya sambil tersenyum.
"Aku tahu aku mungkin bisa melakukan ini, tapi aku tidak tega dan aku yakin kamu sangat bisa aku andalkan"
"Kamu mau aku melakukan apa sayang?" Kata Rasya menatap Icha, kali ini obrolan mereka sudah serius.
__ADS_1
"Apa kamu tahu LettMall?" Rasya tampak berfikir lalu menganggukkan kepalanya.
"Kenapa?" Tanya Rasya.
"Itukan Mall mama kamu?" Icha mengangguk membenarkan.
"Tapi ternyata setelah diselidiki sama Lucas ternyata huftt"
"Kalo belum bisa cerita jangan dipaksa" kata Rasya.
"Mall itu pemberian dari...
"Tuan Shankar?" Icha menatap Rasya seolah meminta penjelasan.
"K kamu tau?"
"Aku tidak bermaksud narsis tapi semua yang akan berbisnis pasti aku tahu karena mereka ingin saham dariku beberapa persen untuk keuntungan perusahaan dan kebetulan Shankar Group dan LettMall berada dibawah pengawasan Ryh Group"
"Aku hanya bersikap profesional saja dalam bekerja aku tidak ikut campur hubungan mereka yang ternyata bermain belakang dari Uncle Abi"
"Aku tidak memberitahumu karena aku belum ada hak untuk ikut campur urusan keluarga kalian dan sekarang kamu mau aku melakukan itu aku bisa melakukannya, demi kamu"
"Terimakasih sayang" Rasya mengelus rambut Icha lembut dengan sayang mengecup pucuk kepala Icha.
"Aku harus memulainya kapan?"
"Terserah kamu yang penting jangan sampai membuat kecurigaan buatlah seolah mereka ada kesalahan" Rasya mengangguk paham.
"Uncle udah tau?" Icha menggeleng.
"Pasti belum tahu karena ayah gak tega kalau beri tahu masalah ini sama uncle soalnya takut sakitnya kambuh?" Icha mengangguk, dia masih tetap berada di pelukan kekasihnya.
"Iya, ayah akan terkena serangan jantung kalau tahu ini. Gara gara kerjaan aja telat makan apalagi masalah ini, untung Kak Rizky bisa sabar dan selalu menjaga papa" kata Icha.
"Rizky Alatas itu?" Icha mengangguk.
__ADS_1
"Jangan cemburu, dia hanya diangkat papa sebagai adiknya dan orang kepercayaannya saja dan aku sudah menganggapnya sebagai kakaku sendiri "
"Aku tau karena Rizky adalah anak buahku" kata Rasya. Icha melepaskan pelukannya.
"Anak buah kamu?"
"Iya,dulu dia anak buahku yang sangat baik dan tekun, dia berhenti dari BW karena ingin kuliah tapi tidak punya uang jadi aku bantu dia memasukkannya ke kampusku dan dengan kebaikan yang ada di dirinya, dia ketemu sama Uncle Abi dan kudengar juga diangkat sebagai karyawan tetap"
"Aku juga sering bertemu dengannya saat meeting atau pertemuan perusahaan"
"Oh gituu"
"Makannya aku pernah liat jaket berlogo cakaran itu yang waktu itu ada di kursi" kata Icha.
"Hahaha dia pintar tapi ceroboh" kata Rasya seraya tertawa renyah.
"Aku aduin kamu sama Kak Rizky" kata Icha mengancam bercanda.
"Kalau dia berani haha" Icha memeluk Rasya dengan sayang.
"I love you" kata Icha.
"Love you to sayang" balas Rasya kemudian mengecup kening Icha. Ia benar benar merasa beruntung sekali bisa bersanding dengan gadis yang ada dipelukannya ini, dia sangat sayang sekali.
Diruangan lain nampak Amel yang tengah murung seperti memikirkan sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya. Dia sangat amat tidak nyaman saat ini bahkan ia mengacak rambutnya frustasi membuat rambutnya itu sedikit berantakan.
"Ck. Sialann si Deva bisa bisanya dia pergi keluar negeri lagi arhhh" gumam Amel didengar oleh seseorang yang tengah memperhatikannya dari belakang.
"Deva? Siapa dia?" Batin seseorang itu.
"Woi liatin paan lo" suara Ali mengagetkan Arel yang tengah memperhatikan Amel.
"Ngagetin lu" sewot Arel.
"Ngeliatin cinta diam lo?" Ledek Ali meremehkan.
__ADS_1
"Gak usah ikut campur"
"Lo ditungguin Bianca di Delxclub" kata Ali membuat Arel terdiam. Ia sampai lupa dengan wanita itu, sialan hatinya sedang kacau saat ini.