RASYA : My Queen Not You Queen!

RASYA : My Queen Not You Queen!
R 53


__ADS_3

Kring! Kring!


Bell istirahat berbunyi, dengan serempak semua murid berhamburan keluar kelas menuju kantin untuk mengisi perutnya yang dari tadi sudah demo meminta jatah makan. Sama seperti kela 11C, Arel, Raden, Ali, Amel, Ara, Salsya juga Thea sudah beranjak dan keluar kelas tujuan ke kantin.


"Rel, mereka bertiga kenapa si? Gak fokus banget kita ditinggalin loh" tanya Amel pada Arel yang memang saat ini Amel berada ditengah Ara juga Arel dan Ali dan Raska yang didepan mereka didepan lagi didahului Thea, Sasya juga Raden.


"Gue pun juga tidak tahu" kata Arel.


"Gue pun juga lihat dari tadi Thea kayak gak fokus sama pelajaran bahasa, gue gak tega liat Thea yang biasanya bacot sekarang jadi bisu" kata Ara menyahut.


Tidak ada lagi obrolan mereka terus berjalan hingga ditengah jalan mereka bertemu dengan Lucas , Grace dan Lyli yang baru saja keluar kelas.


Lyli tersenyum ramah pada mereka.


"Kalian mau ke kantin ya?" Amel sebagai perwakilan mengangguk dan menjawab.


"Iya, kalian murid baru? Mau ke kantin bareng?" Kata Amel.


"Boleh, yuk" akhirnya mereka bertiga pun ikut rombongan.


Sampai dikantin, seperti biasa mereka memesan makanan dan minuman sesuai selera masing masing. Di sela sela makan mereka diselingi mengobrol santai dengan awalan perkenalan.


"Ohiya, kalian bertiga pindahan darimana?" Tanya Amel pada mereka bertiga.


"Oh kita dari Inggris" jawab Lyli.


"Oh Inggris, teman kita ada loh yang pindahan dari sana namanya Icha tapi sekarang dia gak masuk izin" kata Amel.


"Oha ya nama lo siapa?" Tanya Amel.


"Gue Lyli"


"Amel"


"Gue Grace"


"Gue Lucas"


"Kalo kalian?" Tanya Lyli balik .


"Gue Ara"


"Gue Salsya, salam kenal"


"Thea" jawab Thea malas tanpa minat.


"Ali"


"Gue Raden"


"Arel"


"Raska" kata Raska memperkenalkan lalu iseng dia mengedipkan sebelah matanya ke arah Lyli.


Lyli melotot sedangkan Amel bingung.


"Kalian saling kenal?"


"Nggak" Lyli "Iya" Raska


"Yang benar yang mana?" Tanya Amel.


"Gue" jawab mereka bersamaan.


"Ck. Serah kalian dah males gue?" Dengus Amel.


"Cemberut pun lo tetap cantik" batin seseorang.


"Oh iya ngomong ngomong kalian kelas D ya?" Mereka bertiga mengangguk.


Brak!


Gebrakan meja membuat kaget semua orang?


"Kaget ya? Upss sorry sengaja" kata Naomi dengan sengaja.


Yaps, dalangnya adalah Naomi.


"L-lo" geram Ara.


"Heh kalian, kampungan ngapain lo deket deket sama anak kelas gue cari muka lo?" Kata Naomi mengejek.


"Mungkin deketin mereka karena mereka dari keluarga terpandang kali Mi lo tau sendiri kan mereka ini anak miskin" sahut Putri mengompori.


"Jaga ucapan lo ya" sentak Amel.


"Maksud kalian apa ya?" Kata Lyli.


"Kalian itu ya kok mau si temenan sama mereka kampungan, lebih baik sama gue yang udah jelas jelas primadona disini" kata Naomi dengan bangganya.


"Pfftt" Amel dkk serta Thea dan The perfect pun menahan tawanya termasuk Lucas.


"Primadona desa maksud lo?" Ledek Thea.


"Heh lo jlaNg berani lo sama gue?" Kata Naomi tak terima.


"Buat apa gue takut sama tagir ha?" Kata Thea santai sambil menyeruput es jeruknya lalu dengan sengaja menyemburkan ke arah Naomi.


"Baju gue" desis Naomi. Dengan marah Naomi menjambak Rambut Thea, setelah itu aksi jambak jambakan terjadi, Thea memimpin sedangkan Naomi sudah meringis kesakitan.


"Cukup" pekik Arel dengan nada dingin membuat keduanya berhenti, Thea merapikan bajunya dan rambutnya yang berantakan itu.


"Udah berantemnya?" Kata Arel.


"Guys cabut" Naomi dkk cabut meninggalkan kantin dengan sorakan dari semua murid.


"Lo gakpapa The?" Thea menggeleng lalu kembali duduk dengan wajah kesal.


"Coba aja ada Alen, gue pasti ditolong sama dia diperhatiin sama dia, Alen kemana ya?" Batin Thea.


"The?" Panggil Amel pelan.


"Thea?" Panggilnya lagi.


"THEAAAAAA" teriak Amel ditelinga Thea membuat Thea sadar melamun dan reflek dia menampol wajah Amel hingga membuat Amel terdorong kebelakang dipangkuan Arel.


"Gue gak budelll Liaaaaa" kesal Thea mengelus telinganya yang pengang itu.


"Lagian elo dipanggili kaga nyaut nyaut kesel lah gue" kata Amel yang sudah diposisi benar tidak dipangkuan Arel.


"Ya maaf"


"Lo kenapa sih The" tanya Salsya.


"Gue ke toilet dulu" tanpa jawaban Thea langsung berdiri dan pergi ke toilet.


"Maaf guys gak nyaman ya?" Kata Amel pada tiga mubar itu .


"Gakpapa Mel, lagian gue kok jadi jijik sama tu anak tadi sombong banget pengen tak hih" geram Grace.


"Bunuh aja gue ikhlas" kata Raska tersenyum miring menggoda Grace.


"Sialan lo Kai" reflek Grace menutup mulutnya.


"Kalian udah saling kenal?"


"Hehe, kan Kai dulunya di Inggris dan satu sekolah jadinya kenal" kata Grace sambil menyerngir.


"Helleh tadi bilangnya gak sekarang kenal, sulit" dengus Amel.


"Heh lo Lucas napa lo ngeliatin Salsya mulu, suka lo?" Kata Ali.


"Cantik, ada yang punya kaga" kata Lucas tanpa mengalihkan pandangannya yang dari tadi menatap Salsya. Yang ditatap tadinya tidak merasa akhirnya menunduk malu.


"Jangan berani natap dia atau lo hadapan sama gue" kata Raden dengan aura dinginnya.


"Hehe punya lo? Gak jadi deh sama sebelahnya aja" kata Lucas.


"Jangan berani sesekali lo ngrebut dia dari gue Luc" kata seseorang dari belakang, dan itu adalah Galang yang datang dengan Gilang juga Rafka.


"Baru dateng lo bang" tanya Arel pada Rafka.


"Iya, tadi ada tambahan mapel" kata Rafka.


"Kurang tiga nih kemana mereka?" Tanya Gilang yang baru gabung.


"Izin ada urusan" jawab Arel.


"Oh yang itu musuhnya Alen mana" tanya Rafka.


"Oh musuhnya kirain pacarnya " batin Grace kesenangan.


"Toilet bang" jawab Thea yang baru kembali dari Toilet.


"Panjang umur lo" Thea nyengir kuda.


"Eh bang Galang, sory bang gue gak tau kalau ini punya lo" kata Lucas pada Galang yang berada di sebelahnya.


"Mereka udah jadian?" Batin Ali bertanya tanya.

__ADS_1


"Awas lo macem macem"


"Hehe ndak kok"


"Udah saling kenal?" Tanya Amel kesekian kalinya.


"Udahlah, mereka sahabat pena gue yang tengah noh sepupu gue" kata Galang menunjuk Lyli.


"Apaan sepupu, sodara jauh gaada sepupu gak sudi gue" ketus Lyli


"Yang penting sepupu udah, lo kan juga masih nganggep gue sodara ya walaupun emang jauh tapi kita kan bessssstiee ya ga"


"Serah lo"


"Lang" panggil Raska yang tujuannya ke Galang malang Gilang yang nyahut.


"Apaan?" Sinis Gilang.


"Gak manggil lo" ketus Raska.


"Lah tadi?"


"Gue manggil Galang"


"Apaan?" Kata Galang.


"Sesuai kesepakatan kita" kata Raska tersenyum jahil. Lyli mengkerutkan keningnya.


"Terserah lo, gue percaya sama lo" kata Galang.


"Yesss" girang Raska membuat mereka disana menatap Raska heran.


"Heh Gil napa tuh muka lo kusut banget" Tanya Raska. Gilang menggeleng.


"Diputusin mbak kantin" bukan Gilang yang jawab tapi Rafka.


"Hah? Mbak Rina mutusin lo? Kenapa?" Tanya Amel terkejut dengan pendengarannya. Gilang mengedikkan bahunya tanda tak tahu dengan kesal dia menghentakkan kakinya.


"Alasannya gak masuk akal, dia bilang waktu itu nerima gue apa adanya apapun kelakuan gue dan pekerjaan gue dan asal lo tahu Rina dengan entengnya mutusin gue dengan alasan gue masuk gang motor dia gak mau punya pacar nakal dan suka berantem padahal yaelah apasih, arhhh sumpah gak nyangka gue ternyata dia udah ada cowok lain bodoh bodoh bodoh" kata Gilang menjelaskan, di kalimat terakhir dia terlihat frustasi.


"Ck. Gak tau diuntung dasar tua" decak Ara.


"Trus gimana?"


"Gak tau gue benci banget sama dia, lebih milih cowoknya yang tua itu daripada gue padahal apasi, mau duit? Gue kasih mobil? Tinggal ambil auah males gue arhh" kata Gilang.


Amel menatap stand Rina dengan sinis.


"Sok lugu sok polos uhhh gak nyangka banget" desis Amel.


"Nah tu sadar, yang polos belum tentu hatinya polos yang nakal belum tentu hatinya buruk" kata Thea.


"Sini minuman kalian, gue balikin aja kita beli di kopsis mulai besok" kata Amel.


*


Ditempat lain. Markas dua masih tetap di lantai dua, tempat dimana Rasya masih belum sadarkan diri.


"Len ini semua salah gue" kata Icha lirih.


"No Queen, ini bukan sepenuhnya salah lo" kata Alen yang berusaha menenangkan Icha sambil mengelus pelan lengan kanan Icha bagian atas.


"Len gue takut"


"Percaya sama gue, Acha baik baik aja dia kuat" kata Alen yang sebenarnya juga mencemaskan keadaan Rasya.


"Engh" lenguhan Rasya terdengar ditelinga Icha dan Alen.


"Cha, kamu udah sadar, maafin aku ya? Maafin akuu" kata Icha dengan tangisan yang tadi ia tahan sekarang malah turun dengan deras.


"No baby, ini bukan salah kamu. Keadaan aku memang belum pulih jadi stop nyalahin diri kamu sendiri" kata Rasya.


"Maafin aku" Rasya menarik Icha ke pelukannya seolah menganggap Alen tidak ada.


"Kalian pacaran?" Decak Alen. Rasya dan Icha melepaskan pelukannya dan mengangguk.


"Kapan?"


"Tadi malam"


"Oh, trus kalian gak ke kamar malah tidur bareng di ruang tamu gitu?" Icha nyengir menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ck. Tau gini gue sekolah aja nemuin ayang" decak Alen kesal.


"Aelah, maaf Len maaf lagian gue gak minta lo temenin tuh" kata Icha membuat Alen semakin kesal.


"Auah lanjutin kalian gue mau keluar"


"Ke sekolah"


"Lah udah jam segini disana juga udah tutup Len" kata Icha.


"Ya bolos lah ke atap, istirahat kedua gue kabarin ayang buat samperin gue gampang kan" Icha berdecak kesal.


"Eh gue ikut" kata Rasya.


"Loh Cha kamu masih baru sadar loh jangan bertingkah" omel Icha.


"Dengerin kata bu bos noh" cebik Alen.


"Gue ikut" kata Rasya dengan nada datarnya seolah tak mau dibantah.


"Acha"


"Gue ikut" tegasnya lagi.


Dengan keputusan terakhir, Rasya dan Icha akhirnya ikut Alen sesuai dengan ucapan Alen juga mereka bolos ke atap. Walaupun mereka datang jam 10 tak apa Acha bisa menggunakan kekuasaannya untuk kali ini hahaha. Alen licik!


Sampai disekolah dengan santai mereka bertiga masuk tanpa hambatan apapun dan langsung menuju Rooftoop. Mereka kali ini menggunakan pakaian bebas tidak menggunakan seragam sekolah tapi tak masalah toh si pemilik sekolah juga seperti itu jadi selawwwww.


"Len pesen minum gih sama Mbak Rina" kata Icha menyuruh.


"Jangan sesekali pesan di cewek murahan itu" sangkal Rasya tegas.


"Hah?" Beo Alen bingung.


"Pokoknya jangan ya jangan"


"Iya, gue pesen di kopsis aja ya?" Icha mengangguk.


"Kalo dikopsis gue sekalian roti ya dua ? Eh tiga deh sama lo nih uangnya" kata Icha.


"No. Transferan dari Rallion masih ada" kata Alen lalu melenggang pergi menuju kopsis. Kebetulan kopsis kantin dengan kopsis gedung sekolah berbeda, Alen kini ke kopsis gedung sekolah yang tempatnya tak jauh dari Aula.


"Cha, emang kamu ngasih gaji mereka berapa" tanya Icha.


"Beda beda karena aku melihat dari hasil kerja mereka, walaupun gitu aku tetap adakan gaji pokok sekisar 10jt untuk gaji pokok lebihnya sesuai hasil kerja mereka" kata Rasya menjelaskan.


"Emangnya tugas mereka beda beda?" Tanya Icha yang memang ingin tahu.


"Iya, beda"


"Aku tebak pasti yang berat tuh di Arel sama Alen?" Tebak Icha. Rasya mengangguk.


"Kamu benar, untuk mereka berdua khusus karena mereka yang paling lama kenal aku jadi mereka sudah hafal kerjaan mereka tanpa aku suruh" kata Rasya.


"Makanya mereka lebih berani sama kamu timbang Ali sama Raden"


"Kamu benar lagi, aku sama mereka sebenarnya berteman dari kecil bayi pun kita udah ditemukan tapi waktu udah agak dewasa aku lebih dekat sama Alen sama Arel karena mereka asyik sedangka Ali dan Raden dulu mereka paling diem gak banyak tingkah sampai sekarang ya walaupun nyebelin tapi mereka semua sangat berarti dihidup aku" Icha manggut manggut saja mendengarkan.


"Kamu kabari mereka yang dikelas sekarang saja" kata Rasya.


Icha pun menurutinya dan mengabari pada sahabatnya yang ada di kelas untuk datang ke rooftoop.


...The girl ...


Icha : guys gue ada di rooftoop, kalian nanti kesini ya wajib semua hadir


Penting!


The perfect juga!


Left.


Lanjut ke room chat satunya.


...TB 🐯♥️...


Icha : guys ke rooftoop istirahat kedua!


Bareng anak C juga gpp


Penting!


Kalo gak dateng gue panggilin Tuan Sam haha


Bercanda 😂


Left.

__ADS_1


"Udah?" Tanya Rasya, Icha menoleh dan mengangguk.


Tak lama pun Alen kembali membawa 2 kantong kresek berisi beberapa minuman dan camilan.


"Gue suruh apa beli apa mana banyak lagi, kepekaan lo jadi orang" cibir Icha.


"Karena gue tahu nanti bakal rame disini jadi gue sediain aja biar gak repot ke kantin segala" kata Alen.


"Lo emang the best deh" decak Icha.


"Masih sakit Cha?" Tanya Alen.


"Nyeri dikit tapi gapapa gue stay sini aja gak duduk bawah gapapa kan?" Kata Rasya.


"Gakpapa dong bos, lo kan ketua kita jadi no problem" kata Alen lalu meneguk air mineral yang ia beli tadi.


"Len nih roti lo belum sarapan tadi, kamu juga" kata Icha.


"Makasih Cha"


"Makasih sayang"


"Sama sama"


"Ck. Kapan sih istirahatnya. Kesel gue jadi obat nyamuk arh" decak Alen kesal.


"Haha kasian banget si" ledek Icha.


Kring! Kring!


"Nah udah bel tunggu aja mereka dateng" kata Icha.


"Habis ini ada ayang lo jangan kusut gitu muka lo" kata Rasya ikut meledek lalu bertos ria sama Icha.


Selang beberapa menit kemudian yang ditunggu akhirnya datang juga.


"Woi, disini rupanyaa udah bolos gak pake seragam malah disini lu bertiga gak ajak ajak kita" oceh Amel.


"Shuttt diam berisik lo" kata Alen.


"Sialan lo len"


"Hai" sapa Alen pada Thea, dengan langkah malas Thea berjalan menuju Alen lalu berhambur di pelukan Alen.


"Kenapa?" Thea menggeleng.


"Haha lucu banget si kalo gini" kata Alen menoel dagu Thea.


"Ehem ehem masih ada orang disini" sindir Ara dengan suara keras sengaja.


"Berisik lu" sewot Alen membuat Ara menatapnya sengit.


"Yang benar musuhnya atau pacarnya sih? Hati gue sakit" batin Grace menatap Alen dan Thea.


"Ohiya kalian ngapain kesini" tanya Amel.


"Gabut disana mending kesini ketemu kalian" kata Icha.


"Kak, lo gakpapa kan ? Muka lo pucet" kata Raska.


"Gakpapa, cuma telat makan tadi tapi udah makan roti barusan" kata Rasya.


"Oh iya lo bertiga udah ketemu uncle?" Tanya Icha dengan smirknya. Lyli dan Grace menatap Icha tajam.


"Sialan lo Cha" Icha tertawa melihat kekesalan diwajah sahabatny.


"Len, gue kasih tau nih ya dari tadi pacar lo nih mukaanya ditekuk mulu, terus pelajaran juga banyak ngelamun" adu Amel menceritakan tentang Thea tadi pada Alen.


"Kamu kenapa?" Thea menggeleng dan malah memper-erat pelukannya membuat Alen terkekeh.


"Lepas dulu tatap aku " kata Alen tapi Thea enggan melepas dan menggeleng pelan.


"No Len gak mau" lirih Thea.


"Ay, cerita samaku?" Kata Alen lembut .


"The lo kenapa sih" tanya Icha penasaran. Thea tak menjawab dia menyembunyikan wajahnya di bidang dada Alen.


"Yank, lepas dulu aku mau tanya sama kamu" kata Alen.


"Nggak mau"


"Yank?"


"Nggak Len, gak mau lepas" kata Thea lirih. Alen merasa seragamnya basah dengan kuat dia melepaskan pelukannya dilihat Thea menangis, Alen tak suka itu.


"No Len, mau peluk kamu" kata Thea menunduk.


"Cih, lebay" batin Grace mencebik.


"Ada apa hmm?"


"Iya the ada apa si?" Tanya Amel yang juga gregetan.


"Thea? Are you okay?" Tanya Icha.


"Yank?"


"Hiks, no Alen mau peluk kamu" tangis Thea pecah saat itu, dengan sigap Alen memeluknya lalu memapahnya berdiri dan membawa Thea ke dalam.


"Sebentar ya guys?" Mereka mengerti dan mengangguk.


"Emang Thea kenapa" tanya Icha pada mereka semua.


"Gak tau gue, dari pagi dia lesu gitu" kata Ara.


"Ngelamun pula di kelas, di panggilin kaga nyaut nyaut" kata Amel.


"Pikiran dia sedang terganggu, jadi biarkan dia bicara sama Alen mungkin akan lebih baik" kata Raska. Grace menatap Raska sinis,sedangkan Raska tersenyum miring.


"Yaudahlah dibahas nanti aja" kata Amel menepis bahasan ini.


"Cha pasal kemarin lo baik baik aja kan?" Tanya Amel.


"Baik kok, gue gakpapa" kata Icha menatap Rasya yang tersenyum ke arahnya.


Di dalam ruangan sudah ada Alen dan Thea yang sedang duduk berhadapan.


"Yank, kamu kenapa" tanya Alen lembut.


"Aku sayang hiks kamu, aku gak mau kehilangan kamu hiks"


"Iya, aku juga sayang kamu aku gak bakal ninggalin kamu sayang jangan khawatir " kata Alen sambil membenarkan anak rambut Thea.


"Perasaanku gak enak, aku takut dari tadi aku kepikiran itu terus, apalagi tadi aku tau kamu gak sekolah aku takut kamu kenapa napa" lirih Icha.


"Enggak sayang, jangan bilang seperti itu. Bahkan akupun tidak ada niatan ninggalin kamu" kata Alen sambil mengelus pipi Thea.


"Len, aku mau minta sesuatu sama kamu" kata Thea.


"Apa sayang hmm?"


"Jangan dekat dekat sama itu murid baru ya? Aku kayak gini karena pas aku ketemu dia perasaanku rib tiba gak enak dan langsung ke ingat kamu" kata Thea.


"Murid baru siapa?" Tanya Alen.


"Lyli?" Thea menggeleng.


"Grace?" Thea mengangguk.


"Iya iya aku gak bakal deketin dia demi kamu karena kamu yang di hatiku gak ada yang lain" kata Alen membuat Thea tersenyum.


"Makasih sayang" Alen mengangguk.


"Iya sayangku" kata Alen.


"Keluar yuk, gak enak sama yang lainnya" Thea mengangguk.


"Udah?" Tanya Icha. Alen mengangguk dengan tersenyum.


"Sini The sama gue" kata Icha.


"Aku ke Icha ya?" Kata Thea pada Alen, sang pacar mengangguk mengizinkan.


" Oh ya guys gue ada berita hot" seru Alen. Dia menepis masalah tadi seolah tidak terjadi apa-apa.


"Paan" tanya Amel.


"Acha udah jadian sama Icha" kata Alen membuat mereka kaget dan syok.


"Beneran Len" - Amel.


"Boong lu" - Ara.


"Alhamdulillah" - Salsya.


"Amasaaa" - Ali.


"Kapan?" - Arel.

__ADS_1


"Sial"


__ADS_2