
Dimalam hari, dimana keluarga Alaric berkumpul di ruang keluarga untuk saling bertukar cerita saja.
"Ayah Acha mau sesuatu" kata Rasya.
"Apa?"
"Kalau boleh Acha mau tinggal sendiri di rumah Acha, beberapa hari aja" kata Rasya sambil menatap Angga.
"Lah, kenapa kamu mau tinggal disana kenapa tidak Disini cha?" Kata Angga curiga dengan anak bungsunya itu.
"Acha hanya rindu suasana rumah Acha saja yah" kata Rasya sambil tersenyum.
"Apa kamu lagi ada masalah hingga kamu mau menjauhi kita?" Tanya Angga memicing kepada Rasya.
"Jangan selalu curiga sama Acha yah, kalau boleh saja kalau tidak Acha akan tetap disini"
"Ayah melarang kamu apa kamu keberatan nak?" Tanya Angga.
"Tidak sama sekali ayah, dan sekarang Acha mau ke kamar dulu karena ada PR dan beberapa urusan kantor jadi Acha kembali kalau sudah waktunya makan malam saja" kata Rasya lalu beranjak dari duduknya kemudian pergi dari hadapan mereka sekarang.
"Apa kamu ada masalah dengannya Rafka?" Tanta bunda Mili.
"Tidak bunda, bahkan tadi disekolah kita baik baik saja seperti biasanya"
"Tapi kenapa adik kamu itu aneh sekali, bahkan sudah 3 hari ini dia tidak se manja sebelumnya sama kita" kata Angga.
"Nanti Rafka tanyain ke Acha yah"
"Jangan bertengkar dengan saudara karena itu tidak baik" tutur Angga diangguki patuh oleh Rafka.
"Iya yah, Rafka mengerti" ucapnya sebelum dia menyusul adiknya dikamar.
"Aneh sekali bukan anak kita itu?" Kata Mili pada Angga.
"Iya sayang, aku juga merasakan itu bahkan ini sampai minta nginap ke rumahnya sendiri apa itu bukan berarti Acha ada masalah ya atau ada yang mengganggu pikirannya?" Kata Angga sambil menebak tentang anak bungsunya itu.
Sementara di kamar bernuansa hitam dan abu-abu itu sudah ada dua saudara yang tengah diam dari tadi tanpa ada kata sedikit pun hingga sang kakak mengalah dan angkat suara terlebih dulu.
"Apa kamu ada masalah?" Tanya Rafka pada Rasya.
"Tidak" jawab Rasya singkat.
"Jangan berbohong Cha"
__ADS_1
"Aku tidak berbohong kak, jangan menuduhku seperti itu"
"Kakak akan marah kalau kamu bohong sama kakak hm?" Ancam Rafka yang ia sangat yakin pasti berhasil namun naas, kali ini tidak mempan! Dia hanya bisa menghela nafasnya berat.
"Jika ingin marah silahkan aku juga tidak keberatan karena aku memang tidak membohongimu kak"
"Jangan seperti ini Cha, apa lo mau kalau kakak dimarahi ayah karena lo?"
"Acha lupa, bahkan sekejap saja sudah membuat kakak berubah, lebih baik kakak keluar aku mau istirahat juga sudah lelah sepertinya aku tidak ikut makan malam karena aku sudah kenyang"
"Maaf, kakak lupa jadi jangan seperti ini. Kakak gak bisa jika kamu cuekin kakak"
"Jangan berbicara seperti itu, malu kak sama gender kita udah dewasa jadi jangan seperti ini kurang nyaman"
"Lo itu kenapa si hah, bahkan gue udah coba sabar menghadapi lo kenapa lo gak ngerti itu. Jika lo marah karena gue bilang Cha jangan kayak gini, dan alasan kenapa lo beberapa hari ini sikap lo berubah itu apa, kalo ada yang mengganggu pikiran lo maka bicara sama gue jita cari solusinya sama sama" bentak Rafka geram karena sikap adiknya yang tidak tentu ini.
"Pergi kak" usir Rasya.
Sedangkan yang dibawah mendengar teriakan dari suara anak sulungnya itu merasa khawatir. Dan mereka pun menghampiri ke atas melihat kondisi mereka.
"Ada apa ini sayang hm?" Tanya Bunda Mili pada Rafka yang keluar dengan wajah kesal.
"Rafka? Apa yang terjadi? Kedengaran loh sampai bawah" Rafka masih tidak menjawab.
"Jika orang tua bertanya maka jawablah" ucap ayah Angga tegas.
"Kita ke dalem yuk , selesaiin semuanya sekarang okey?" Saran Bunda Mili yang diangguki oleh Angga dan Rafka, mereka pun masuk ke dalam kamar Rasya dan saat mereka masuk mereka mendengar lirihan dari anak bungsunya itu.
'gue gak mau kehilangan lo kak, gue sayang lo tapi gue arhhhh gue egois iya kenapa hah bahkan gue pengecut sekarang ini hmm' kata Rasya sambil menatap bingkai fotonya bersama dengan sang kakak.
"Cha?" Panggil sang bunda, Rasya pun menoleh ke arahnya dan mengusap air matanya dengan kasar. Lalu kembali dengan wajah datarnya.
"Kenapa semua ada disini? Apa dia mengadu ke kalian!" Tanya Rasya datar.
"Acha, dia kakak kamu" koreksi Angga.
"Acha tau itu ayah"
"Acha sini nak, duduk dulu disini ya" Rasya menuruti bundanya,dan mereka kini duduk di kursi sofa yang berada di kamar Rasya.
"Acha ada masalah apa hm?" Tanya bunda Mili.
"Tidak ada bun, dan Rasya hanya ingin sendiri saja saat ini"
__ADS_1
"Kita semua tau kamu sayang, jadi jangan mencoba untuk berbohong sama kita apalagi kamu seperti ini malah lebih mudah untuk kita menyimpulkan kalau kamu sebenarnya ada yang mengganggu pikiran kamu" kata Bunda Mili.
"Maaf bun, maaf yah, maaf kak"
"Tidak perlu meminta maaf jika kamu tidak mengatakan masalah kamu sayang"
"Tapi Acha beneran gak ada masalah bunda " kata Rasya sambil tersenyum menatap bundanya.
"Apa kamu masih memikirkan soal kembaran kamu?" Tanya Ayah Angga yang mungkin sudah bisa menebak pikiran anaknya.
"Tidak ayah" kata Rasya sambil menunduk membuat ayah Angga tersenyum.
"Kakak kamu gak akan pernah lupain kamu, dia akan perhatian sama kamu sampai kapan pun, apa Acha takut kalau kak Rafka akan lebih sayang sama kembaran kamu nantinya?" Kata Ayah Angga sedikit memberi pengertian kepada Rasya.
"Maaf ayah, karena selama ini Acha selalu yang dapat perhatian kakak dan sekarang Acha akan berbagi dengan Caesar"
"Apa maksud lo cha? Kenapa Caesar lo sebut apa lo mengenalny?" Tanya Rafka.
"Dia kembaran Acha kak dan dia adalah hufftt" terdengar helaan nafas berat dan mungkin Rasya tidak mau melanjutkannya.
"Caesar orang kepercayaan Queen Li?" Rasya mengangguk lesu.
"Jangan bercanda Cha bahkan dia itu adalah putra dari tukang kebun dirumah Bella"
"Itu kebenarannya Rafka, ayah akan segera menjemputnya kalau Caesar sudah sembuh dari komanya"
"Jadi? Selama ini Rafka sudah dekat dengan adik kandung Rafka sendiri Rafka tidak menyadari itu, bodoh sekali aku ini" ucap Rafka terdengar menyesal.
"Belum apa apa juga udah nyesel tidak mengetahui dia adiknya apalagi kalau sudah ada disini bisa jadi adik pungut akunya" sindir Rasya membuat semuanya terkekeh kecil.
"Apa gini hmm sifat dari ketua gangster nomer satu di dunia? Manja dasar bocah" ledek ayah Angga.
"Rafka seneng deh kalau ternyata adik Rafka yang satunya itu sangat mandiri dan hebat tidak seperti Acha yang manja sekali" cibir Rafka.
"Tuh kan, ayah liat nah kakak nyebelin"
"Bercanda Achaaaaa" kata Rafka sambil memeluk Rasya dengan tulus dan sayang.
"Kalau ada apa apa cerita, karena kita keluarga ya? Kamu juga Rafka kamu tau kan adikmy seperti apa jadi jangan sekali-kali buat kesalahan kalau tidak mau ayah cambuk" kata Angga pada Rafka yang mendapat tatapan tajam dari Rasya.
"Jangan berani menyakiti kakaku ayah, karena aku sendiri yang akan membelanya" kata Rasya dengan tatapan tajam ia layangkan kepada Angga.
"Sudah lah cha, ayah hanya bercanda saja jadi jangan serius menanggapinya" kata Rafka .
__ADS_1
"Acha saayang kalian" mereka berempat pun berpelukan dengan sayang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...