
"bang ada anak anak gak di dalem?" Tanya Arel pada salah bodyguard yang menjaga pintu.
Arel dan Icha sudah berada di sebuah rumah yang cukup besar, dirumah itu digunakan untuk markas mereka, tempat istirahat!
"Tidak semuanya tuan hanya tuan Raden dan tuan muda saja yang berada disini sedang mengurus tentang masalah kemarin dan ada tuan Devano juga" jelas bodyguard itu. Arel mengangguk dan kemudian dia masuk ke dalam.
"Hmm lo temennya Acha, kita dimana ini?" Tanya Icha cengo.
"Nama gue Fairel, panggil gue terserah lo" ucap Arel yang masih setia dengan langkahnya menuju ruang tamu yang disana ternyata ada Devano saja.
"Van, mana bos lo?" Tanya Arel, Devano mendongak.
"Ke ruang kerja Raden rel. Kenapa muka lo lebam gitu abis perang sama siapa lo? Sendiri?" Oceh Devano melihat tuannya dengan wajah sudah tidak mulus lagi.
"Bacot lo kek emak gue ah" ucap Arel kesal.
"Fai, udah jan galak galak gitu napa sih" tutur Icha.
"Gue gak galak Cha gue cuma kesel aja dia tuh orangnya parnoan" Devano memutar bola matanya malas, dia lagi yang kena!
"Duduk Cha gue ambilin kotak p3k dulu" Icha mengangguk dan kemudian duduk di kursi empuk disana.
"Lo pacarnya bos Arel?" Tanya Devano tiba tiba. Icha tersenyum canggung.
"G-gue temen sekolahnya" kata Icha sedikit gugup.
"Temen apa temen" goda Devan.
"Temen tidak lebih" Devano mengangguk saja lalu melanjutkan aktivitasnya yang tertunda tadi karena kedatangan Arel.
"Bener nih Queen Li? Cantik banget woilah perfect udah gandeng sama si bos ahahay gak sia sia Mobil Alphard huhuy" batin Devano bersorak kegirangan. Dia waktu itu diperintahkan oleh Rasya mencari tau tentang gadis di depannya itu dengan imbalan apa yang Devano minta jadi deh mobil impian Devano terwujud dengan modal Otak saja, enak ga jadi Vano?
"Lama banget sih tu anak ambil nya dimana di mesir kali yak" gumam Icha kesal, Devano bisa mendengar itu karena telinga yang sangat tajam ia miliki jadi sekecil apapun suara dia bisa mendengarnya.
"Kotak p3k gak ada di lantai ini adanya di lantai 3 tempat medis di rumah ini" kata Devano tiba tiba, Icha melotot kaget padahal ia tadi hanya bergumam pelan saja kenapa lelaki di sebrangnya ini bisa mendengar.
"Dukun lo?" Ledek Icha.
"Gue Devano kalo lo belum tau"
"Yayaya, eh btw Devano kan? Gue Bella kenalin" Devano hanya mengangguk saja.
__ADS_1
"Siapa tuan muda?" Tanya Icha tiba tiba.
"Siapa yang bilang?" Tanya Devano balik.
"Bodyguard di luar tadi" jawab Icha.
"Lo pasti kenal dia secara dia temen tuan Arel" jelas Devano.
"Lo kerja sama mereka? Gue lihat umur lo gak jauh dari kita kita?" Kata Icha.
"Iya gue kerja sama mereka, gue kuliah sambil kerja jadi gini deh"Icha manggut-manggut saja mendengar kata Devano.
"Lo lebih tua dari mereka kenapa lo panggil mereka tuan?"
"Karena mereka bos gue jadi gak salah dong? Sebenarnya itu sudah merubah panggilan karena mereka gak senang dipanggil bos dan tuan pun mereka menolak tapi gue gak bisa jika panggil mereka langsung nama karena gue menghargai mereka sebagai atasan gue karena gue kerja dengan mereka semua" jelas Devano. Icha mengangguk paham saja.
"Sorry lama disini gak dikasih lift soalnya" kata Arel yang baru saja datang.
"Iyaa sans ada si pano disini"
"Pano?" Beo dua lelaki itu.
"Emm Devano maksud gue" Arel membulatkan mulutnya saja 'oh'.
"Eh"
"Shutt diem bisa?" Icha pun akhirnya menurut saja toh dia berpikir nanti akan balas budi atas pertolongannya dengan gantian membersihkan luka diwajah Arel.
"Lah kok gue baru ngeh kalo lo ada luka Bel" kata Devano.
"Ya elo natap layar mulu mana bisa peka huuu" ledek Icha.
"Dih"
"Nah udah. Ntar malem jangan lupa ganti perban di plester aja cukup dalem tuh takut iritasi kalo dibuka lukanya" tutur Arel, Icha mengangguk.
"Sekarang gantian, luka lo gue beresin"
"Gak usah, tadi ada dokter pribadi disini yang kebetulan lagi free di rumah sakit jadi gue tadi agak lama juga di rawat samanya, jadi lo gak usah repot repot" Icha hanya menganggu kemudian wajahnya berubah menjadi wajah yang sendu.
"Eh lo kenapa?"
__ADS_1
"Maaf gara gara gue lo berantem tadi" cicit Icha.
"Bukan masalah buat gue. Lagian gue juga gak suka liat ada cewek dikasar sama cowok, banci huh" terlihat wajah penuh kekesalann di wajah Arel.
"Eh bentar jelasin dulu siapa yang berantem sama lo" tanya Devano.
"Ada banci bang, dih masih mending gue tampangnya sok yes huh" balas Arel.
"Pacar Bella?"
"Bukan Bang Vano, catat ye MANTAN" protes Icha tak terima jika pria itu dibilang pacar, mengakui mantan saja dia tak sudi tapi mau gimana lagi kenyataannya memang begitu.
"Oh mantan toh" ucap dua lelaki di hadapannya kompak.
"Tapi kenapa dia kayak ngejar ngejar lo banget gitu " tanya Arel penasaran juga dengan pria tadi.
"Gak tau gue, padahal jelas jelas dia yang nyakitin tapi berlagak dia paling tersakiti, pengen tak hih" kata Icha kesal.
"Kenapa gak tadi aja?" Tanya Devano yang sebenarnya tau tentang Icha,karena yang membuat Rasya tau adalah Devano yang diperintahkan untuk mencari tau tentang gadis ini.
"G-gue -g-g
Belum sempat diteruskan Devano langsung menyela.
"Gue ngerti, lain kali jangan dibawa perasaan ingat kalo lo seperti ini lo bakal keliatan banget kelemahan lo dan itu akan membuat musuh di luar sana memanfaatkan keadaan yang ada" tutur Devano. Icha tersenyum lalu mengangguk dengan penuturan Devano yang ada benarnya juga.
"Iya makasih"
"Si Acha emang the best kalo dapet cewek, paket komplit kalo inimah. Gue bakal cari tau tentang cowok itu dan bilang ke Acha kalo dibalik sikap Bella ini ada sesuatu yang serius, gue ngerasa bukan ini aja pasti ada rahasia yang gue sama Acha belum tau" batin Devano.
"Psstt, Pai gue kebelet dimana toiletnya?" Bisik Icha pada Arel.
"Oh, lo keluar ruangan ini belok kiri lurus terus mentok ada di kanan itu toiletnya" Icha mengangguk kemudian dia berjalan dengan arah yang ditunjukkan oleh Arel tadi.
Tak lama kepergian Icha, Rasya juga Raden nampak menghampiri ruang tamu.
"Udah selesai Cha?" Rasya mengangguk.
"Muka lo kenapa rel? Sama siapa?" Tanya Raden yang melihat wajah Arel penuh lebam.
"Ada, pria gila yang-
__ADS_1
"AAAAAAAAAAA TOLONGGGGGGG" teriakan gadis menggema di lantai 1 itu, terdengar dari ruang tamu membuat 4 lelaki disana kaget dengan teriakan itu.
...----------------...