
Sudah kembali tenang seperti semula namun dengan obat yang Rasya berikan membuat Ali tertidur agar lebih tenang lagi, kini Rasya dan Arel menemui gangster TB yang menunggu mereka sedari tadi.
"Sorry guys lama ya?" Kata Rasya.
"Gakpapa kok, kita ngerti King" kata Grace dengan sopan, dia masih canggung ketika berbicara dengan Rasya walaupun Rasya tidak keberatan jika dengan sebutan lo-gue atau obrolan santai seperti teman biasa tidak sesuai pangkat yang harus formal.
"Kita lanjut ngobrol saja disini ya" kata Alen.
"Lo tadi katanya ngantuk" kata Lucas.
"Ntaran aja"
"Kalo kalian kau istirahat kalian bisa ke kamar tamu disebelah sana, disini gak begitu lengkap sorry" kata Rasya.
"No problem, kita disini juga gak ada rencana nginap jadi resiko aja" kata Lucas.
"Yang laki boleh istirahat di kamar yang kosong, disini kamar Arel juga Raden yang kosong silahkan kalian tempati"
"Gak enak ah, ditempat Alen aja ya"
"Terserah sih gue"
Akhirnya yang laki pun menuju ke kamar Alen, sebelum itu Icha, Lyli dan Grace diantar terlebih dahulu oleh Alen ke kamar tamu untuk beristirahat. Dan Rasya masih stay di ruang tamu dengan mata yang tertuju pada iPhonenya.
"Sshh kenapa sakit lagi sih, udah gue obatin juga" kata Rasya membuka sedikit luka di bagian perutnya. Benar saja gegara tadi berlari mungkin lukanya ini kebuka lagi.
"Gue telfon bang Rian tapi kasian kalo balik lagi kesini, mau telfon Arel tpi dia sibuk" gumam Rasya.
"Gue bisa sih tapi kalo ngejait kaga bisa sendiri lah yang ada malah tambah luka nih, lagian kenapa sih segala kena kan sakit jadinya mana kak Rafka gak ada disini lagi" gerutu Rasya sambil mengoles saleb dibagian luar lukanya.
"Ahh napa jadi nyebut kakak sih kan gue sekarang lagi marah sama dia, duh emang ya kaga bisa gue marahan lama sama kakak, jadi kangen deh gue samanya" kata Rasya.
"Cha? Itu lo kenapa?" Tiba tiba suara cantik milik gadis yang tba tiba muncul mengkagetkan Rasya dengan cepat Rasya menutup lagi perutnya dan menyembunyikan salebnya dibawah pahanya.
"Gapapaa Li"
"Gue lihat loh Cha jangan bohong kalo gak tahan bilang masih ada gue sama yang lainnya kenapa harus orang orang tertentu si" omel Icha yang sudah duduk disamping Rasya.
"Gakpapa kok Li, udah diobatin juga sama Bang Rian jadi aman cuma nyeri dikit"
"Pasti tadi sakit banget ya?" Rasya menggeleng.
"Nggak kok sakitnya cuma sedikit kan ada kamu"
"Ceilah aku kamu segala" ledek Icha bercanda.
"Emang gak boleh hmm?"
"Terserah lo"
"Kenapa belum tidur?" Tanya Rasya.
"Gak bisa tidur, gatau tiba tiba gue pengen kesini aja gitu"
__ADS_1
"Khawatir lo sama gue?" Goda Rasya.
"Ihh mana ada"
"Iya iya percaya deh"
"Harus dong " Rasya mengacak rambut Icha gemas.
"Gemesin banget si" kata Rasya sambil mencubit hidung mancung Icha.
"Achaa, sakitt ih" rengek Icha.
"Utututu sakit yahh? Maaf deh" kata Rasya.
"Icha maafin"
"Lo gak ngantuk emang?" tanya Icha.
"Ngantuk sih, tapi ada lo disini ngapain gue tinggal kasian kalo diculik"
"Siapa yang berani nyulik gue enak aja"
"Gue lah siapa lagi" kata Rasya.
"Amasaaa"
"Iyaa sayang"
Blush! Merahh pipi Icha, dia Salting! OMG OMG hello Queen kitaa!
"Acha udah ih jangan gitu malu"
"Iya iya enggak lagi" kata Rasya mengalah.
"Acha"
"Apa hm?"
"Gak jadi" dahi Rasya berkerut.
"Kenapa?"
"Ya gak jadi"
"Aneh" decak Rasya..
"Cha" panggil Icha lagi.
"Apa lagi? Awas kalo gak jadi lagi?"
"Seriuss ini"
"Iya apa?"
__ADS_1
"Kalo gue terima lo sekarang masih bisa kan?" Kata Icha.
"Beneran?" Icha mengangguk.
"Lo yakin nerima gue?" Icha mengangguk.
"Gue yakin, gue gak mau bohongin hati gue kalo gue itu suka sama lo"
"Makasih Cha, sayang banget sama kamu"
"Udah ganti nih panggilannya" goda Icha.
"Aku kamu" kata Rasya menunjukkan jari kelingkingnya.
"Aku kamu?"
"Kamu beneran kan mau jadi kekasihku?" Icha mengangguk.
"Jangan pernah tinggalin aku ya?" Icha mengangguk.
"Janji?"
"Janji" Icha menautkan kelingkingnya ke kelingking Rasya.
"Thanks" Icha mengangguk.
"Kembali kasih, terimakasih lo udah mau jadiin gue milik lo dan terimakasih karena lo gue gak terus berasumsi kalau laki laki itu sama saja"
"No problem, aku akan selalu berusaha buat kamu bahagia"
"Thanks" kata Icha lalu memeluk Rasya tiba tiba, yang dipeluk awalnya kaget tetapi membalas juga, dia sangat bahagia hari ini.
"Shhh" ringis Rasya. Membuat Icha panik.
"Lo kenapa?" Kata Icha khawatir setelah melepaskan pelukannya.
"Kamu peluknya kekencengan kenak lukaku" Icha nyengir kuda.
"Maaf hehe"
"Gakpapa" kata Rasya lalu menarik Icha ke bahunya.
"Kalo kamu capek istirahatlah, atau mau disini sama aku?"
"Kalau boleh sih tak apa" kata Icha.
"Yaudah kamu merem aja aku tetap disini kok"
Lama akhirnya Icha sudah terlelap ditidurnya, Rasya memindahkan kepala Icha di pahanya sebagai bantal. Rasya masih Stay di duduknya dan berbantal sandaran kursi saja tapi dia nyaman, dengan tangan yang tadi mengelus pucuk kepala Icha perlahan berhenti dia sudah terlelap dalam tidurnya.
*
Keesokan harinya.
__ADS_1
"ASTAGHFIRULLAH QUEEN AND KING LO BERDUAAA HABIS NGAPAINN HAA" pekik Alen yang sudah bangun dan ingin menuju dapur untuk meminta masakan dari pelayan yang ada disana tetapi saat melewati ruang tamu melihat pemandangan yang amat sangat membuat mata pagi Alen ternodai dan tentunya bikin iri!