
Rasya masih tetap sama sejak tadi, seperti patung. Hanya diam dengan wajah datar tatapan dingin, seperti Rallion saja pikir semua sahabatnya.
"Bahaya gak sih Rasya ngebawa sikap Rallion di sekolah dan kenapa tu anak berubah gini apa kita buat salah ya?" Kata Alen.
"Gue juga gak tau len" kata Raden.
"Dia gini sejak tadi waktu bang Rafka sama Icha ngobrol" jelas Arel.
"Cemburu maksud lo?" Kata Ali menebak.
Sekarang semua ciwi pergi ke kantin untuk makan, sedangkan the perfect tetap stay di Rooftop. Rasya bukan tidak mendengar obrolan sahabatnya, dia mendengar namun malas menanggapi dia masih ingin diam untuk saat ini.
"Yakali cemburu sama abang sendiri" sahut Alen.
"Bisa aja kan kita gak ada yang tau" kata Ali.
"Gue laper, Cha kantin yok? Apa lo titip ke kita gitu?" Tanya Arel. Rasya nampak menggeleng kemudian terdengar helaan nafas beratnya, dia menatap semua sahabatnya tapi setelah itu diam lagi lalu memainkan Hpnya dengan wajah yang murung. Mereka semua merasakannya.
"Makan Cha, roti deh" kata Arel.
"Terserah lo"
"Yodah tunggu sini gue mau ke kantin dulu"Rasya mengangguk.
Sekarang sepi,tidak ada satupun yang ada disana kecuali Rasya. Dia sendirian disana dengan wajah lesuh sambil menatap Hpnya dan memandangi foto disana.
"Jadi ini wajah kembaran gue? Mirip sih tapi arhh kenapa lo harus dateng sekarang kenapa juga lo dulu ngilang si hah" kata Rasya Frustasi.
"Rasa kangen dan rasa sakit yang gue rasain itu ternyata lo Raska, lucu ya cerita kita, Kita kembaran tapi ketemu gede" lirih Rasya.
"Gue bakal nerima lo kok walaupun mungkin kita bakal sering ribut buat kak Rafka kakak kita Ras"
"Kalo lo dateng lo bakal gue sambut deh walaupun lo dari anggotanya Li eh kok Li idih amit amit deh Si Bella bos lo itu songong banget Ras, gue sekarang lagi galau sakit hati gue sama dia(Icha) lo tau kan rasanya sakit hati karna lo mencintai seseorang dalam diam haha cemen lu Ras" lirih Rasya lalu tertawa renyah karena meledek kembarannya.
"Ohiya lupa, gue bakal sambut lo dengan senang hati dan lo gue panggil Aska aja deh gak usah pake R biar sama kita ya gak" kata Rasya.
Tanpa Rasya sadari ada yang menguping ucapanya, lirihannya dari belakang tembok dan pelakunya adalah Icha. Dia tak sengaja balik lagi ke sana untuk mengambil uang dan handphonenya karena ketinggalan, tetapi sampai disana dia mendengar lirihan dari Rasya.
"Ternyata hati Rasya itu lembut banget ya? Gak sekeras luarnya. Apa gue salah ya udah nuduh dia kemarin? Tapi kan dia sendiri yang ngaku kalo dia pelakunya ah bodo amat lah" batin Icha.
Icha dengan gaya songongnya berjalan ke arah tempat duduknya untuk mengambil tujuannya tadi tanpa memperdulikan sekitar seolah dia tak tau disana ada orang.
Kemudian Icha segera meninggalkan Rooftop meninggalkan Rasya sendirian disana.
"Gak sadar ternyata, gue kira lo bakal minta maaf atau sekedar nyapa gitu? Jangan ngarep Cha perempuan itu sama aja oke!" Batin Rasya tersenyum miring ketika Icha pergi dari sana.
Tak lama keempat sahabat Rasya datang dengan beberapa makanan dan camilan serta minuman disana, banyak yang mereka bawa dan itu juga untuk mereka nongkrong nantinya.
"Nih Cha roti lo sama susu plus air mineral kalau mau yang lain tinggal ambil aja" kata Arel. Memang yang lebih peka ngerti hanya Arel saja, yang lain walaupun mengerti tapi tidak berani mengajak Rasya mengobrol saat mode on gini kecuali Arel & Alen kadang.
"Thanks" Arel mengangguk kemudian dia duduk di sebelah Rasya dan memakan gorengan.
"Jangan banyak banyak lo makan gorengan inget besok lo tampil" peringat Raden pada Alen.
"Siap pak"
"Perempuan belum dateng yak? Lama banget mereka gak mau latian apa?" Kata Ali.
"Biarin lah mungkin butuh tenaga" kata Arel santai.
"Ya juga sih"
"Cha, kalo lo ada apa apa cerita sama gue jangan lo pendem sendiri" tutur Arel pada Rasya.
"Gak ada rel, gue cuma pengen diem aja lagi males ngomng kalo gak penting"
"Tapi lo beda Cha, aura lo keliatan banget jangan bodoh gue lebih ngerti lo" Rasya tersenyum samar. Memang benar adanya jika hanya Arel saja salah satu sahabatnya yang lebih mengerti dirinya.
"Kalau waktunya pas gue ceritain, sekarang gue mau makan dulu"
"Habisin"
*
Nah, sekarang sudah lengkap mereka sudah kenyang setelah mengisi perut mereka, dan mereka pun akan membahas untuk kegiatan besok dengan suguhan camilan yang tadi di beli oleh Arel.
__ADS_1
"Gimana gimana jadinya?" Tanya Thea memulai duluan.
"Lo gak usah ikut campur deh lo udah ada tugas sendiri jadi ini urusan kita berlapan" kata Amel.
"Tega lo sama guee"
"I don't care" Thea mencebik kesal.
"Lo salah Mel, kalian bertujuh karena gue besok ada urusan" kata Rasya. Dia sekarang juga mencoba untuk nimbrung dan melupakan masalahnya sejenak.
"Urusan paan" tanya Amel.
"Biasalah sultini" kata Rasya dengan wajah songongnya.
"Nah gini kek dari tadi gue liat lo murung terus gue kira lo kesambet" ledek Amel.
"Dih enak aja"
"Stop gausah ribut mending nah gimana jadinya" lerai Arel.
"Psst Thea, sikap Rasya emang gini atau gimana?" Tanya Icha pada Thea berbisik.
"Emang gini anaknya kalo sama kita aja sih kalo keluar kelas udah beda lagi sifatnya" balas Thea. Icha manggut-manggut saja.
"Lo besok mau kemana Cha " tanya Thea.
"Kepo lo pacarnya Alen"
"Dih? Ogahh" protes Thea.
"Gue sama nih cunguk ? Ogah gue Cha mending sama kakak kelas nah manteb tuh bodynya" kata Alen.
"Huekk siapa juga yang mau sama lo najiss" kata Thea sambil muka ingin muntah.
"Heh stop jangan ribut lo pada ah, gue bakal ikut tampil besok" kata Rasya.
"Tampil apaan, bagian apaan lo? Nyapu panggung?" Tanya Ara yang mendadak absurd.
"Gak sekalian ngepel hah" ketus Rasya.
"Dih marah gue bercanda kali"
"Seriusan lo ngapain nampil di panggung? Tebar pesona lo?" Tanya Icha ketus.
"Gak usah kepo urusan orang bisa gak, ngurusin anggotanya aja gak becus gimana ngurus orang lain" sindir Alen yang saat ini sedang sensi dengan Queen gangster itu.
"Dih sewot amat"
"Sak karepku"
"Serius bisa gak sih" kali ini bukan Rasya tapi Arel. Mereka pun diam karena suara Arel yang tegas itu mereka sedikit takut minus Icha dan Rasya.
"Dan lo murid baru gue lupa nama lo. Jangan mancing keributan atau lo mau gue kerasin hah" kata Arel menatap tajam Icha.
"Terserah lo" ucap Icha santai sambil memainkan rambutnya dengan jarinya.
"Besok ada sedikit acara pemindahan hak milik sekolah ini. Gue sama kak Rafka yang akan gantiin posisi ayah gue jadi ya gitu gue gak ikut kalian dan gue bakal ada di ruang pribadi keluarga gue sama yang lainnya termasuk kak Rafka" kata Rasya menjelaskan.
"Oh gitu toh" Ara dan Amel manggut-manggut.
"Jadi sekolah ini milik keluarga lo Cha?" Tanya Salsya yang memang belum tau dalm tentang Rasya dan mungkin beberapa teman lainnya. Rasya mengangguk singkat saja dia tak mau sombong atau pamer.
"Dan kalo lo yang ambil alih enak dong kalo bolos bebas" seru Thea.
"Peraturan tetap peraturan mak lampir" kata Rasya sambil menjitak kening Thea.
"Sakit ege" kata Thea sambil mengusap keningnya.
"Walaupun gue yang ambil alih tapi saham gue disini sedikit yang paling banyak kakak gue jadi keputusan apapun ada di tangan kakak gue bukan gue" mereka semua mengangguk paham.
"Oh iya besok acaranya di hotel Alric ya? Hotel om Angga kan Cha?" Tanya Ara, Rasya mengangguk.
"Wihh enak tuh, party kita"
"Acaranya ngapain aja disana?" Tanya Amel.
__ADS_1
"Ya makan" celetuk Ali sambil mencomot gorengan yang masih ada itu.
"Makan mulu lo" cibir Amel.
"Suka suka hati la"
"Dasar" decak Amel.
"Ngapain aja Cha"
"Lah jangan tanya gue, gue bukan pengisi acara gue cuma nyewain aja"
"Wihh beneran lo Cha yang bayarin" seru Ara heboh. Otomatis itu semua GRATIS dia tak mau menyia nyiakan hal itu.
"Ini juga gratisan mulu yang dipikirin" cibir Amel.
"Suka suka hati la" kata Ara meniru kata kata Ali tadi.
"Dasar, udah sono balikan geh eneg gue liat kalian curi curi pandang mulu huh" akhirnya Amel mengeluarkan unek-uneknya.
"Lah kalian pernah pacaran?" Tanya Icha.
"Pernah tapi putus tengah jalan gara gara Ara gak enakan orangnya awshh sakit ra" rintih Thea yang mendapatkan cubitan kecil dari Ara.
"Jangan buka aib dong, malu gue di depannya ada yang bersangkutan goblokk" kata Ara menekankan kalimatnya manyatukan giginya sambil tetap mencubit Thea.
"Iya iya maaf"
"Ck. Gak asik lo"
"Hahaha masih kerasa gak li?" Ledek Alen.
"Kerasa banget sampek dep-" Rasya menatap Ali tajam.
"Sampek apa?" Tanya Rasya.
"Nggak kok nggak Cha, itu rasanya beuhh sakit banget galau berbulan bulan gue lo tau sendirikan waktu itu gue sempet cuti" kata Ali gugup yang mencoba mengelak, namun benar adanya waktu itu dia cuti berbulan bulan entah kenapa sampai selama itu padahal hanya galau saja.
"Gue gak maksa tapi gue bakal cari tau"
"Cari tau aja orang gue gakpapa"
Ara melihat suasana jadi seperti ini merasa tak enak sendiri, akhirnya dia memutuskan untuk membahas hal lain saja.
"Sal ngomong kek jangan diem mulu bisu lo" kata Ara pada Salsya yang sedari tadi hanya menyimak saja.
"Iya Ra gue bingung jawab apaan, lagian gak terlalu akrab sama kalian"
"Sans bae, anggep ae kita sahabat. Lo bisa jadi sahabat gue kok"
"Iya iya makasih Mel "
"Besok pake nuansa hitam semua yakin?" Tanya Amel memastikan kostum yang akan mereka kenakan besok.
"Kan kesepakatannya begitu?"
"Yaudah yuk nanti belanja , gue gak punya baju item tau sendiri gue gak suka warna item" kata Ara.
"Lo mah apaan kelakuan tomboy tapi penampilan feminim banget heran gue" ucap Amel sambil geleng geleng kepala.
"Mau heran tapi Ara" timpal Thea.
"Eh gue ikut dong gue juga mau beli soalnya baju yang dirumah pernah kepake semua" kata salsya.
"Ikut aja, ntar kita ke parkiran bareng kita berangkat bareng"
"Gimana Icha, ikut kaga" tanya Thea pada Icha.
"Kaga dah gue dah punya" uca Icha malas.
"Yaudah kalau gitu gak jadi, kita pake mobil Ara aja kan bangku empat pas kan"
"Ide bagus sih"
"Kalau gue mood gue nyusul" kata Icha, diangguki oleh ketiga sahabatnya.
__ADS_1
"Yaiyalah punya secara lo terjun ke dunianya gak pake acara ginian juga lo punya kalo bisa lo pake nah seragam TB" batin Rasya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...