RASYA : My Queen Not You Queen!

RASYA : My Queen Not You Queen!
R 60


__ADS_3

Malam ini, dimana ketiga kakak adik itu berada di markas kebesaran Black World untuk merundingkan masalah.


Rasya sudah memerintahkan kelima sahabatnya untuk datang malam ini tanpa bantahan, begitu juga dengan Rafka yang hanya membawa Gilang saja sengaja, dan nanti ia akan menjelaskan kepada Gilang kenapa hanya dia yang ia bawa. Raska juga melakukan hal yang sama yaitu mengundang Tiger Bips untuk ke Markas BW saat ini Tiger Bips lengkap intinya, Jo sudah selesai urusannya dengan Ryh Group.


Satu persatu mereka datang. Dimulai dari Raden yang berangkat lebih dulu bersama dengan sang kekasih, Salsya. Dia akan menjelaskan dunianya saat ini agar tidak ada kebohongan diantara mereka.


Disusul dengan Alen dan juga Ali yang datang bersamaan, mereka tidak janjian hanya saja mereka sampai disana bareng saat sudah didepan markas. Ali tak sendiri dia dengan Adel( sekretaris Acha) sengaja karena tadi kebetulan ada bersamanya dan diperintahkan Rasya untuk sekalian membawanya( Adel) untuk meluruskan masalah salah satu sahabatnya.


Alen sendiri saja tidak dengan sang kekasih yang sudah menjadi gadisnya beberapa hari belakangan ini, hubungan mereka kali ini tidak sehangat kemarin pasal kemarin di Rumah sakit.


Tak lama pun Tiger Bips datang rombongan serta berbarengan dengan datangnya Amel dan Thea, tidak satu mobil tetapi mereka menggunakan mobil masing masing dan datang bersamaan, halaman Markas BW penuh dengan mobil saat ini karena mereka. Icha dan yang lainnya pun memasuki markas itu dengan izin Rasya yang memperbolehkan.


"Kurang siapa?" Kata Rasya.


"Arel" jawab Raden.


"Kita tunggu" mereka hanya mematuhi saja apa ucapan Rasya karena itu sama saja dengan perintah.


Mereka menunggu dengan berbagai aksi dan mimik wajah masing masing. Rasya yang sedang memeluk bahu Icha dengan membahas beberapa tentang gangster juga hubungan mereka yang masih baru ini, sedangkan Rafka, Gilang dan Ali yang berbincang santai, Rafka sudah menjelaskan kepada Gilang tentang Galang tempo hari lalu, Gilang pun juga sangat merasa Emosi, di lain bangku juga ada ciwi ciwi yang sedang asyik berghibah ria.


Keasyikan mereka tak bertahan langsung karena kedatangan salah satu sahabat mereka, Arel.


Arel datang dengan sempoyongan yang disebelahnya ada Bianca yang mengantar Arel,karena ia tak tega jika Arel berkendara sendiri sedangkan kondisinya mabuk berat, jadi ia menggantikan posisinya yang menjadi supir untuk ke markas BW, Bianca sudah tahu siapa Arel sebenarnya.


"Lix tolongin aku" di pemilik nama menoleh dan langsung membantu Bianca.


"Kenapa dia?" Bianca mengedikkan bahunya.


"Ck. Merepotkan" decak Ali yang sudah mengambil alih Arel dari Bianca lalu membantunya ke arah sofa.


"Maaf tuan tuan, saya permisi dulu" pamit Bianca pada sahabat Arel.


"Jangan pergi Bi" lirih Arel yang lemas itu, ia memejamkan matanya tetapi mulutnya berbicara.


"Ikut disini saja Bianca, kita tidak apa bukan begitu Cha?" Kata Ali. Dia sangat mengenal Bianca selaku orang yang menetap di clubnya karena Arel.


"Iya Bianca, lo disini saja temani Arel" kata Rasya. Bianca mengangguk lalu duduk disebelah Arel dan memegangi tangan Arel yang sudah lemas itu.


"Apa lo baik baik saja rel" tanya Ali.


"Hati gue hancur" jawab Arel dengan suara berat seperti menahan tangis didalam dirinya. Bianca yang sudah tahu kenapa Arel sampai mabuk berat itu kini ia menggenggam tangan Arel kuat memberinya semangat.


"Lix, aku mohon jangan bahas ini disini nanti kalau yang lainnya sudah pergi saja" kata Bianca mewakilkan, Arel tersenyum menatap Arel.


"Arel kenapa" gumam Amel dibangkunya.


"Gila lo rel, mabuk sampai kayak gitu bawa perempuan pula" kata Icha.


"Sayang jangan ikut campur" tutur Rasya.


"Eh lo, lo siapanya Arel?" Tanya Thea membuat Bianca tertunduk dan diam sejenak, tangannya digenggam oleh Arel yang mengangguk kearahnya.


"Dia kekasihku, gadisku" kata Arel lalu mencium pipi Bianca. Sontak membuat para ciwi menutup matanya.


"Jangan berlaku seperti itu didepan mata gue" protes Thea.


"Tolong mata gue gak suci" kata Ara yang masih menutup matanya.


"Bukan mata doang yang ga suci" celetuk Arel tanpa sadar dengan seringai yang ia buat.


"Rel jangan bicara sembarangan" tutur Bianca, Arel menyembunyikan wajahnya di tubuh Bianca tepatnya di samping ketiak Bianca.


"Maaf, ucapan Arel jangan diambil hati. Kamu tahu sendirikan kondisinya sedang mabuk" kata Bianca pada Ara.


"Iya"


"Btw kenalin nama aku Bianca"


"Gue Ara"

__ADS_1


"Kalian yang masih belum mengenalnya, perkenalkan nama kalian biar bisa jadi teman" kata Rasya. Karena ia tahu pandangan mereka seperti apa, dia tak percaya jika Bianca adalah pacar Arel, apalagi mereka melihat Bianca membawa Arel yang tengah mabuk pikiran mereka belum bisa berpikir positif.


"Gue Thea"


"Gue Amel"


"Gue Grace"


"Gue lyli"


"Gue Lucas"


"Saya Jonathan nona " bagaimana pun dirinya adalah orang kecil dari pada mereka mereka yang ada disekitarnya.


"Gue Raska"


"Gue Gilang"


"Gue Rafka"


"Kenalin nama aku Bianca"


"Ck. Sok polos" batin Amel, jujur dia sangat kesal ketika ada gadis lain yang berada didekat Arel, entah kenapa dia merasa seperti itu.


"Kalau kamu?" Sambungnya menatap Icha.


"Isabelle " kata Icha.


"Pasti kamu Icha kan, Arel pernah cerita samaku"


"Cerita apa dia" tanya Rasya mrnyeritkan alisnya.


"Bi, sekarang aku milikmu jangan bahas itu lagi" sahut Arel yang masih betah di tubuh Bianca.


"Ck. Suka lo sama Queen kita" kata Alen.


"Diem lo yon, selesaiin dulu noh sama pacarlo baru urusin yang lainnya" ketus Arel menatap Alen.


"Kita bakal bahas apaan" kata Alen menatap Rasya.


"Ada banyak yang perlu kita bahas saat ini, tapi karena keadaan lo tidak memungkinkan untuk masalah utama gue tunda hari esok sebelum berangkat liburan" kata Rasya.


"Ck. Terserah lo"


"Jadi kita bahas apa Cha" kata Alen.


"Bahas masalah kalian, kita ini sahabat dan itu tidak baru. Gue tahu tentang kalian walaupun tidak kalian ceritakan pada gue" kata Rasya menyindir para sahabatnya.


"Untuk lo Alen, selesaiin masalah lo sama mak lampir. Gue gak mau lo jadi diam karena cinta. Gue sudah sehat seharusnya hubungan lo juga udah sehat " alen menatap Thea yang menatapnya juga.


"Nanti kita bicara ya? Di taman belakang saja" kata Alen diangguki Thea.


"Untuk lo Lucas. Jangan merasa sendiri, ada kita yang bantu lo untuk mencari Ara jangan khawatir gue udah serahkan ini sama Devano yang bakal bergerak sama semua anggota gue" kata Rasya.


"Makasih King" kata Lucas menatap Rasya.


"King" beo Amel, Thea, Salsya.


"Bahas itu belakangan aja" kata Raden mewakili.


"Rel, lo ada masalah apa? Tidak seperti biasanya lo sampai mabuk kayak gini" tanya Rasya.


"Hati gue hancur Cha, sangat hancur dan itupun gue gak berhak marah dan gue sangat menyesal, gue bodoh Cha " kata Arel dengan mata berkaca-kaca.


"Tuan Rasya, apa bisa kita bicarakan masalah Arel nanti saja setelah mereka pulang? Ini permintaan Arel karena ia tak mau kelihatan lemah didepan dia saat ini" kata Bianca meluruskan, dia memohon kepada Rasya.


"Ka, Ice blue dikepung sama GSc" kata Gilang pada Rafka disebelahnya.


"Apah" pekik Rafka.

__ADS_1


"Keadaan disnaa gimana?"


"Sudah aman, mereka itu bodoh tidak memberi tahu kita saat penyerangan, tapi Alhamdulillah mereka bisa mengatasi dan hanya luka kecil saja, sudah ditangani oleh dokter kita " kata Gilang.


"Ck. Bodoh"


"Bisa bisanya mereka nyerang markas kita, Galang Galang keterlaluan kau" decak Rafka.


"Gimana ini kak" kata Raska.


"Santai saja, jangan membalas biarkan mereka bertindak kalau sudah melewati batas gue akan bantu Ice blue" kata Rasya.


"Tapi kita semua harus waspada dan selau hati hati dimanapun" imbuhnya mengingatkan.


"Apa ini yang lo maksud masalah utama Cha " tanya Arel.


"Iya, tapi akan kita bahas besok saja" kata Rasya.


Ting ting , dentingan botol bersuara, mereka menoleh ke arah suara. Dilihatnya ada Devano dan Reno datang dengan sekantong kresek berisikan minuman berakohol, karena Devano sendiri juga mengkonsumsi itu juga.


"Ck..kenapa lagi tu anak" gumam Rasya berdecak.


"Lagi rame gue tinggal ke atas ya" kata Devano lalu beranjak ke arah tangga menuju lantai 3.


Reno ditatap tajam oleh Alen, Reno bukanlah orang seperti itu maka dari itu Alen merasa bingung. Dia ingin penjelasan.


"Maaf bos, saya dipaksa Tuan Devano untuk membawakannya dan menemaninya tadi padahal saya sudah menolak" kata Reno sambil menunduk dengan tatapan Alen.


"Ck"


"Suruh bodyguard membawakannya, lo kesini" kata Alen. Reno pun menghampiri Alen dengan tubuh yang bergetar.


"Mana tangan lo" kata Alen dengan nada dingin. Dengan ragu Reno mengulurkan tangannya ke arah Alen, dia sudah tahu konsekuensinya. Dia juga sudah berjanji!


"Ck. Menyebalkan, gue gak tega sebagai gantinya lo urus semua tugas gue tanpa ngeluh" kata Alen.


"Makasih bos, emang bos paling baik"


"Makasih sama Acha lo dipertemukan dengan gur yang baik sekali ini" kata Alen mode narsis.


Mereka berdecak kesal.


"Uhhh idaman banget sii" batin Grave menatap Alen.


"Narsis sekali kau ini Tuan Nalendra" cibir Thea.


"Aku narsis kan ada buktinya sayangku" kata Alen.


"Udah baikan apa gimana, perasaan belum ada ngomng"sindir Amel, Thea meringis padanya.


"Gue nyusul bang Vano ya, dia bawa banyak kasian kalo sendirian" kata Arel.


Ingin beranjak tangannya dicekal oleh Bianca.


"Pergilah, aku juga akan pergi" kata Bianca mengandung ancaman bagi Arel.


"Oke oke, tidak jadi kamu tetap disini"


"Bisa bucin juga lo Rel" ledek Alen mencebik.


"Diam kau bocah"


"Cha, kenapa tu sama Vano" tanya Rafka.


"Aku juga tidak tau kak, nanti aku tanyakan samanya" kata Rasya. Dia sendiri sebenarnya khawatir dan penasaran, tidak biasanya Devano akan minum banyak kalau tidak sedang ada yang menggangu pikirannya.


"Kak, kalau Bang Vano kayak gitu kondisinya sepertinya gak memungkinkan buat kita ngasih tau sama Alen sama Lucas, semua bukti ada di bang Vano kan?" Kata Raska berbisik pada Rasya.


"Ck. Iya itu yang sedari tadi Acha pikirkan As"

__ADS_1


"Itu juga Arel kenapa si Cha, bingung gue kenapa bisa barengan gini" decak Raska kesal.


"Acha juga tidak tahu As"


__ADS_2