
Kedatangan Icha di negara Inggris sudah menyebar luas sampai di telinga musuh. Hingga beberapa dari mereka akan melakukan penyerangan terhadapnya karena salah satu kekuatan dari gangster besar itu adalah Icha sendiri sebagai pendiri Tiger Bips itu.
Beberapa strategi sudah disiapkan untuk melawan dan mengugurkan Icha. Bahkan ada yang sangat nekad sekali hingga belum sampai di hadapan Icha mereka sudah tiada.
Anak buah Icha memang sudah sangat terlatih jadi tidak gampang dirobohkan oleh musuh dan tetap Tiger Bips lah yang menjadi gangster nomor satu di Inggris.
Sudah beberapa hari Icha di Inggris dan kini adalah hari dimana Icha harus segera balik karena masa ijin cuti sudah hampir habis tinggal 1 hari lagi saja dan itu Icha gunakan untuk perjalanan kembali karena jarak negara ini tidaklah dekat.
Skip penerbangan!
Icha sudah berada di tanah kelahirannya -Indonesia. Dia kini sudah di bandara akan segera pulang dan sudah ada jemputan dari anak buahnya yang sengaja dia suruh bertugas di Indonesia untuk menjaga keluarganya dan beberapa orang terdekatnya tak terkecuali sahabat barunya.
Dalam perjalanan Icha disuguhi dengan ban bocor! Yakk mobil sultini bocorrr!
"Ada apa Dim?" Tanyanya pada supir selaku anak buahnya bernametag Dimas itu.
"Maaf Queen ban bocor" menggaruk tengkuk yang tak gatal, Icha memutar bola matanya jengah dengan kesal ia keluar mobil dan hendak berjalan saja kebetulan ada apartemen miliknya di sebrang sana.
"Lo urus aja ini, gue ke apart yang ada disini jadi lo tenang saja. Kalo sudah selesai langsung balik dan kabarin nyokap kalo gue mampir ke apart5 oke" Dimas nampak mengangguk patuh saja.
Icha sudah berjalan ke arah apart itu. Dengan langkah yang terlihat kelelahan karena lumayan jauh juga dia berjalan dari mobilnya ke apart ini.
"Pegel banget gue ahh"
"Kenapa tadi gue gak pesen ojek atau taksi aja ya?"
"Wah bener bener nih otak pikun lo aissshh pegel" seraya memegang dan sedikit memijit kakinya.
tin tin tin.
"WOI AWASSSSS!" Teriakan seseorang tidak jauh dari keberadaan Icha.
Dengan kondisi terkejut Icha menoleh dan pas sekali ada sebuah mobil truk besar sudah hampir dekat dengannya, untung seseorang yang meneriakinya tadi berlari dengan cepat dan mendorongnya ke tepi jalan namun naas orang itu lah yang mengalami kecelakaan, walaupun tidak parah namun tersenggol truk dengan laju cepat itu adalah cedera yang parah bukan? Dengan cepat Icha berlari ke arah orang tersebut- yang menolongnya.
"B-bang Rafka?" Molod Icha setelah mendekati korban tabrak lari itu( orang yang menolongnya)
"Shhhhh arhhhh" rintih seseorang yang Icha sebut 'Rafka' tadi.
"Bang bertahann, gue bawa lo ke rumah sakit sekarang" kata Icha dengan inisiatif dia menelfon salah anak buahnya untuk membawa mobil dengan cepat ke jalan Vv.
"Bang, lo gakpapa kan? Mana yang sakit hmm bang plis bertahan" kata Icha.
"Bella?" Lirih Rafka menatap Icha. Si cantik yang selama ini dia jaga seperti adiknya sendiri dan malaikat baik hati yang dikirim tuhan untuk menolongnya dari serangan musuh,kalau Icha tidak datang mungkin dia akan tiada waktu itu.
Icha mengangguk dengan mata uang sudah berkaca-kaca. " Iya bang ini Bella, abang bertahan ya?"
"Sakit Bel" seraya memegangi kakinya yang terasa nyeri.
"Sebentar bang anak anak masih otw. Abang yang kuat ya?" Kata Icha.
__ADS_1
"Abang selalu kuat Cha tapi ini sakitt shhhh" kembali merintih kesakitan, Rafka memejamkan matanya dan pingsan. Icha berteriak histeris bahkan tangisannya pecah disana.
Tak lama ada mobil hitam dop datang ke arah mereka, ternyata itu adalah anak buah panggilan Icha tadi, dengan segera Rafka yang sudah tak berdaya di bopong ke dalam mobil dan dengan skil kecepatan mobil itu dibawa ke rumah sakit terdekat.
Sampai di rumah sakit, Rafka sudah ditangani oleh dokter di UGD, tepat di rumah sakit Alc hospital. Rumah sakit keluarga Alaric, ya milik keluarga Rafka sendiri tapi Icha tak menyadari itu.
"Bang lo yang kuat, gue butuh lo. Apa lo tau sekarang Gres juga terluka? Gue gak bisa tanpa kalian plis bertahan ya?" Gumam Icha sambil menatap pintu yang belum terbuka dengan lampu yang masih berwarna merah tanda dokter masih menangani pasien, terlalu lama lampu itu on, apa seserius itu lukanya? Icha tak tau itu.
Cklek.
Pintu ruangan terbuka, terlihat suster keluar dengan map yang dibawanya.
"Maaf nona jika tuan muda sekarang harus melakukan operasi dibagian kakinya karena ada sedikit retakan di area pergelangan kaki jadi mohon tanda tangan disini untuk persetujuan melaksanakan operasi" jelas suster bernametag Siska itu.
Mengkerutkan keningnya tak mengerti "Tuan muda?" Molog Icha.
"Maaf tapi saya bukan keluarganya tapi sahabatnya" kata Icha.
"Tidak masalah nona, karena tuan muda harus segera melakukan operasi secepatnya biar tidak terjadi hal yang tak diinginkan" jelas suster tersebut.
"Baiklah" Icha pun dengan bingung namun tetap tanda tangan dk atas map merah itu.
"Terimakasih nona"
"Maaf sus, apa disaku pasien ada handphonenya? Saya mau menghubungi keluarganya?" Tanya Icha.
"Rafka sayang hiks" tiba tiba terdengar suara tangisan yang baru datang ke arah ruangan itu. Icha kaget dengan kedatangan dua orang yang sudah cukup berumur itu.
"Maaf nyonya keluarganya bang Rafka?" Wanita paruh baya itu mengangguk dengan tangisan yang masih membasahi pipinya.
"Kamu siapanya anak saya?" Tanya Angga, dia barusaja pulang dari kotaB dan langsung mendapat kabar jika anak sulungnya kecelakaan.
"Maaf om, Tante. Saya sahabatnya bang Rafka" balas Icha dengan tersenyum ke arah Angga dan Emilia.
"Bang?" Beo Angga.
"Hehe maaf om, iya soalnya yang lain panggilnya bang jadi saya juga ikut bang hehe" setengah menyengir saja Icha membalas pertanyaan Angga.
"Sebelumnya saya seperti pernah ketemu sama kamu? Benar bukan?" Tanya Angga.
"Bentar om ya saya perhatikan juga saya pernah ketemu sama om" sambil memperhatikan wajah Angga Icha mengingat siapa sosok Angga ini.
"Nah inget, om kan waktu itu ketemu sama saya di sekolah AL dan om adalah pemilik sekolah itu dan saya adalah murid baru itu benar bukan?" Kata Icha.
"Oh iya, ternyata kamu ya anak cantik. Cuti kemana kamu hingga seminggu?" Tanya Angga.
"Dikasih tau papa ya?" Tanya Icha memicing pada Angga.
"Tidak dikasih tau papamu Sam juga bakal kasih tau saya anak manis" ucap Angga.
__ADS_1
"Ohiya ya" menepuk jidatnya yang tak bersalah itu, ia lupa yang menjadi lawan bicaranya adalah pemilik sekolah jadi informasi bakal mudah didapat bukan?
"Ekhem, bunda dilupain nih?" Deheman Emili membuat dua orang berbeda umur itu sadar jika mereka tidak sedang berdua saja.
"Hehe maaf Tante Icha lupa" kata Icha cengengesan.
"Iya tak apa. Oh iya kamu tau kronologinya kok bisa anak saya kecelakaan?" Wajah Icha kembali sendu dia sangat merasa bersalah dengan kejadian yang menimpa Rafka.
"Maaf tante hiks" Icha kembali menangis, dua pasutri saling menatap bingung kenapa gadis cantik ini menangis.
"Hei kamu kenapa cantik?" Kata Emilia.
"Ini semua gara gara Icha, bang Rafka kayak gini gara gara Icha" lirih Icha yang masih terdengar dengan jelas oleh kedua pasutri itu.
"Tante belum paham. Kamu bisa jelasin?" Kata Emilia.
"Maafin Icha Tan, Om karena Icha bang Rafka jadi kayak gini, tadi bang Rafka nyelametin Icha dari truk yang mybe remnya blong tapi karena kecepatan truk itu bang Rafka gak sempat ngehindar jadinya hiks bang Rafka yang jadi korban" jelasnya dengan isakan yang masih setia di matanya dan pernafasannya.
"Kalau Tante sama Om Angga mau hukum Icha gakpapa kok, Icha salah seharusnya Icha yang ada disini bukan Bang Rafka hiks hiks" lanjutnya. Dengan hati Emilia menarik Icha ke pelukannya untuk menenangkan Icha.
"Tante tidak marah kok" kata Emilia.
"Om juga tidak marah dan tidak akan hukum kamu" timpal Angga.
"Jangan karena papa Om Angga gak hukum aku, aku berhak dihukum karena aku bang R-
Jari telunjuk milik Angga berlabuh di bibir merah muda milik Icha.
"Shuttt jangan diterusin ya anak cantik, ini semua kecelakaan Om tidak menyalahkan siapapun ini sudah takdir Rafka jadi kamu jangan salahin diri kamu ya oke?" Icha mengangguk.
"Oh iya nama kamu Icha?" Icha mengangguk.
"Marga?" Tanya Emilia lagi.
"Dia anaknya Abi bun" sahut Angga. Emilia melototkan matanya, kaget? Bisa dibilang iya. Angga hanya mengangguk dan tersenyum penuh arti. Emilia menyeringai.
"Kamu anaknya Abiyasa Cha?" Icha mengangguk.
"Pas banget yah kalo gini" kata Emilia.
"Bener bun, waktu itu juga aku kaget ayah seneng waktu itu tapi ternyata ekspetasi kita jauh, dia gak sekalem Abi sama letta" kata Angga.
"Memangnya kenapa samaku Om? Tan?" Tanya Icha.
"Kepo, urusan orang tua ini" jawab Emilia. Icha mendengus kesal membuat Emilia dan Angga menahan tawanya melihat kekesalan Icha.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
dua saja ya xixi
__ADS_1