
Di uks kini ada Rasya dkk serta Thea dkk yang sedang menunggu kesadaran dari Icha. Raut wajah datar tak menampakkan rasa apapun membuat semuanya tak curiga jika dirinya tengah khawatir tapi tidak dengan Arel, si peka.
"Lo kenapa Li?" Batin Rasya sambil terus memandangi Icha yang masih memejamkan matanya itu.
"Enghhh" lenguhan Icha yang rupanya baru sadar dari pingsannya.
"Emm gue disini ya? Sorry guys gue banyak pikiran" kata Icha.
"Mikirin apaan si lo itu Cha, kita semua cemas tau" omel Amel yang seperti mengomeli anaknya.
"Iya iya maaf"
"Sekarang lo makan dulu udah siang juga" titah Thea sambil memberi sekotak makanan dan juga satu botol air mineral.
"Yaudah klo udah sadar kita pamit dulu" pamit Alen yang diangguki oleh girl squad disana.
Rasya ikut dengan mereka dan melanjutkan kegiatannya yang tertunda yaitu ke markas menemui Devano untuk mencari tau tentang pelaku peneror BW.
*
Ruangan penuh berkas berkas penting itu terdapat dua orang saling pandang dengan sangat tajam. Mereka baru selesai membahas tentang teroran itu dan masih belum juga pelakunya namun 1 yang menjadi tersangka mereka tpi masih belum yakin dan kini setelah menyudahi obrolan tentang gangster mereka beralih ke obrolan santai.
"Bos"
"Jangan panggil gue dengan sebutan itu kalo lo mau gaji" tegas pria tampan bermata biru yang tak lain adalah Rasya yang sedang berbicara dengan Devano.
"Oke kalo lo maksa, Cha lo suka sama Bella?" Tanya Devano To the point.
"Hah?" Cengo Rasya.
"Ck. Oh ayolah adikku sayang, lo gak bisa boongin gue plis. Lo suka kan sama Bella?"
"Mana ada? Gue hanya bersahabat saja samanya tak lebih Van" kata Rasya penuh keyakinan, bukan Devano namanya kalo tidak bisa menggertak dan membuat musuh jujur, contohnya seperti sekarang.
"Yakin nih lo gak suka sama Bella?" Tanya Devano lagi.
"Ck. Ngeyel banget lo"
"Bukan gue mau nikung lo Cha,gue kayaknya mulai tertarik sama Bella" mendengar hal itu Rasya langsung menatap Devano dengan tajam membuat Devano tersenyum smirk.
"Lo taroh mana Della hah? Lo mau nyakitin dia? Berani lo?" Bentak Rasya.
"Emang kenapa? Apa urusannya sama lo? Lagian Della selalu nolak gue bukan? Jadi tidak masalah kalo gue pindah lain hati, bukan begitu adik?" Kata Devano yang sengaja memancing isi hati Rasya. Dengan menaik turunkan alisnya Devano tersenyum jail melihat raut wajah kesal Rasya.
"Kalo emang lo gak suka sama Bella yaudah, berarti kali ini saingan gue gak berat" imbuh Devano lagi. Rasya menatap Devan dengan sangat tajam hingga ingin sekali menusuk pria itu rasanya.
"Apa lo tidak punya akal? Secara gak langsung lo mempermainkan kak Della dan lo melampiaskan semuanya ke Li, brengsek lo Van. Lo bukan Vano yang gue kenal lagi arhh brengsek lo " kata Rasya kesal kemudian dia beranjak ingin pergi. Devano dengan segera mencegahnya. Kali ini batal rencana dia dan fatal! Singa benar benar ngamuk sekarang?
"Rasya, vano minta maaf?" Rengek Devano seperti anak kecil. Rasya berusaha tak luluh, tidak Kakaknya Rafka, Devano , Della, Arel selalu saja menjadi kelemahannya huh menyebalkan!
"Vano salah, Vano bercanda maafin Vano" kata Vano lagi dengan memohon maaf kepada Rasya.
__ADS_1
"Terselah lo Van, sekali gue denger lo permainkan hati Della habis lo di tangan gue" ancam Rasya kemudian dia benar benar pergi dari ruangan itu.
"Lah gak mempan njir? Padahal gue udah yakin kalo Rasya ngejawab jujur, astaga Della ide lo hihhhh gue kurung lo lama lama" batin Devano kesal.
Tap! Tap! Tap!
Suara derap sepatu perempuan terdengar dari dalam ruangan.
Tok! Tok!
Ketukan pintu dibuat seseorang dari luar membuat Devano membukakan pintu dengan malas dan tak bersemangat karena salah satu penyemangatnya telah marah dengannya.
"Hai Van" sapa perempuan itu.
"Hai" balas Devano lesuh.
Kemudian Devano mempersilakan perempuan itu duduk di sofa. Tanpa aba aba Devano memeluknya dari samping.
"Vano salah, Vano buat Rasya marah, Vano salah" lirih Devano.
"Lah kenapa sih yang? Gagal emangnya?" Tanya perempuan itu sambil mengelus pucuk kepala Vano dengan sayang.Devano mengangguk.
"Hiks Vano bikin Rasya marah" ucap Devano sambil menangis.
Jangan kaget plis, ini nyata kok, eh halu eh gak eh gimana ya? Pokoknya ini sifat asli Devano Fanes Ganendra! Si tampan nan manja. Dia seperti ini kalo sama orang terdekat saja ya? Kalo diluar jangan bilang siapa siapa oke? Devano kejam xixixi.
Bergelayut di tubuh Della, membuat perempuan itu geli dengan tingkah kekanakan kekasihnya ini.
Yap, wanita itu adalah Della Madonnina, sekretaris Rasya yang sudah dianggap sebagai kakak perempuannya, walau angkat Rasya menyangi kedua kakaknya dengan adil. Saat ini Della menyandang sebagai kekasih Devano beberapa hari lalu, ingat kan perkataan Rasya yang katanya Della selalu menolak Devano? Itu benar namun kemarin salah, Della menerima Vano dan akhirnya mereka jadian dan itu tanpa sepengetahuan Rasya, memang anak buah heem! Hermannnnnnnn!
"Loh yang, kok nangis sih. Ish malu sama karyawan loh" ucap Della.
"Gak mau berhenti kalo Rasya gak maafin Vano" kekeh Vano .
"Yaudah aku panggil Acha dulu ya?" Devano mengangguk.
"Mau peluk ayang Della" dengan senang hati Della membalas pelukan Devano yang sedang bayi mode on.
Calling Rasyaaddddd👍
Della : hallo Cha bisa balik ga ke kantor? Lo dimana?
Rasya : gue di pantry ngambil minum, otw
Della : gue di ruangan lo
Rasya : oke kak
Tut.
"Nah Rasya masih otw. Kamu jangan nangis lagi ya?" Devano mengangguk dengan posisi senderan di bahu Della dengan manja, memainkan jari jemari Della. Della melihat itu hanya geleng geleng kepala.
__ADS_1
Ckriettt!
Pintu terbuka menampakkan Rasya yang sedang membawa segelas air putih ditangannya.
Ia menautkan alisnya dengan pemandangan di hadapannya.
"Ck. Bayi gede" sindir Rasya. Devano tambah cemberut.
"Rasya duduk sini" titah Della. Rasya menurut.
"Ada apa kak? Mau bilang apa lagi hm?" Tanya Rasya. Della menghela nafasnya pelan.
"Masih marah?" Rasya diam tak menjawab.
"Ish Rasya, Vano minta maaf ya?" Ganti posisi. Devano mendekat di samping Rasya. Jurus andalannya muka ditekuk dan puppy eyes!
"Ck. Geli bang"
"Maafin Vano dulu, tadi Vano bercanda syaaaaa"
"Iya iya, udah ih jangan natap gue gitu bukannya luluh geli gue liatnya" kata Rasya. Devano mengerucutkan bibirnya.
"Ish Rasya mah jahat" seraya berjalan ke arah Della dengan bergelayut di lengan Della. Rasya menaikkan alisnya meminta penjelasan.
"Gak usah dikasih tau yang, Rasya nyebelin" kata Devano.
"Diam Van, emm kita udah pacaran 4 hari yang lalu dan sengaja gak ngasih tau lo karena gue gak mau aja ngasih tau hahaha" ucap Della diakhiri dengan tawa mengejek.
"Ck. Gue gak iri asal lo tau" ketus Rasya, ia benar benar kesal dengan dua pasangan dihadapannya ini.
"Makannya cepet cepet nah nyatain perasaan lo ke Bella" timpal Devano.
"Secepat ini gak bikin dia tambah dekat sama gue bang Vanooo, yang ada dia malah ngejauh. Gue juga masih sebatas tertarik gak lebih" jelas Rasya.
"Saingan lo banyak Cha" kata Devano lagi.
"Tapi gue lebih baik bukan?"
"Tingkat kepercayaan diri lo tinggi sekali hingga gue gak bisa nyusulin lo"
"Lupain masalah cinta dulu lah, jadi inget dulu kan gue"
"Jiahahaha di selingkuhin?" Ledek Devano.
"Sayang jangan gitu gak boleh ngejek" tutur Della.
"Iya yang maaf" kata Devano lirih. Rasya menjulurkan lidahnya ke arah Devano meledek.
"Pacarpun gak ada apa apanya dibanding gue Devano haha" sindir Rasya.
"Bodo amat" kata Devano membuat Rasya tertawa.
__ADS_1
"Tertawa seperti ini terus Cha, jangan bikin wajah lo itu kayak tembok lagi gue kangen sama Rasya yang kayak gini. Lupain masa lalu sekarang masa depanlo ada di depan mata jadi jangan sia siain itu" batin Della memohon.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...