RASYA : My Queen Not You Queen!

RASYA : My Queen Not You Queen!
R 22


__ADS_3

"sendirian aja?" Kata seseorang yang tiba tiba datang menghampiri Icha yang tengah melamun di Rooftop sekolah.


"Hah em, iya" kata Icha gelagapan karena baru sadar dari lamunannya.


"Kenapa?"


"Gakpapa, cuma ngedem aja hehe" kata Icha.


"Jangan bohong,gue tau kalo lo itu sedang mikirin sesuatu" kata pria itu.


"Dukun lo?" Ledek Icha.


"Nebak aja, soalnya biasanya Queen kebanggan kita gak semurung ini kalo ada masalah" kata pria itu.


"Ck. Sa ae lu bang"


"Beneran dah, kenapa hm?" Tanya pria itu mengulangi pertanyaannya tadi.


"Liam bang" lirih Icha menjawab pertanyaan pria itu. Seketika pria itu mengepalkan tangannya kuat.


"Kenapa dia? Ganggu lo lagi?"


"Dia dateng ke Indonesia dan sekolah disini kelas gue" ucap Icha menatap lurus ke depan.


"Sial, udah tua masih betah juga dia ke bangku SMA"


"Ck. Emang gila tu om om"


"Nanti gur urus dah kalo dia buat masalah sama lo oke" ucapnya sambil tersenyum ke arah Icha.


"Makasih abangku sayang" kata Icha seraya memeluk tubuh tegap milik Rafka. Heeh,dia adalah Rafka gais, dia sebenarnya gak tau kalau Icha ada disana tetapi pas dia sampai disana untuk gabung sama the perfect ternyata the perfect belum dateng dan nemuin Icha yang duduk sendirian di sana.


"Sama sama adikku cantikk" balas Rafka.


Melepaskan pelukannya, Icha berpamitan ke toilet dengan alasan untuk buang air kecil, bukan alasan sih tapi memang benar haha.


"Bang gue ke toilet bentar ya, tinggal aja gakpapa nanti gue susul ke kantin" kata Icha diangguki oleh Rafka.


"Yaudah gue tunggu di kantin"


*


Sudah selesai Icha membuang air kecilnya, dia kini keluar dari bilik kamar mandi itu dan segera keluar karena ingin mengisi perutnya yang sudah demo.


Tiba di tengah jalan, dirinya di cegat oleh sekelompok ciwi centil, Icha menatap mereka tak percaya ' ketrima juga kayak mereka di sekolah ini huh sabar' batin Icha malas.


"Heh cewek murahan, mau kemana lo?" Icha menunjuk dirinya sendiri lalu menoleh kebelakang tapi tak ada siapa siapa dan berbalik ke tiga gadis itu yang sedang menatap Icha kesal.


"Heh lo ya, malah celingukan, lo cewek murahan" Icha yang mendengar julukan itu mencoba untuk tidak emosi. Bisa bahaya sekolah ini kalao dirinya emosi.


"Lo panggil gue?" Si ketua kelompok itu menggeram kesal.


"Lo murid baru belagu ya, sok cantik juga"


"Emang gue cantik" jawab Icha santai sambil mengkibaskan rambutnya yang tergerai itu.


"Nantangin lo hah" sudah mengambil ancang ancang untuk menampar Icha tapi dia hentikan.


"Kenapa? Tampar aja toh palingan gak sakit tuh" tantang Icha dengan gaya coolnya, Jiwa Liger saat ini ia bawa namun belum sepenuhnya karena tidak mau emosi mendominasi dirinya.


"Kurang ajar sekali lo ini"


Plak!


Sebuah tangan melayang ke pipi kanan Icha. Terlihat merah namun tidak sakit sama sekali, dia sudah kebal bahkan tergores katana pun dia bilang hanya luka kecil saja! Queen kita nih bro! Haha.


"Sayang sekali ya lo, gak usah sok nampar segala kalo kekuatan saja tidak punya" ledek Icha, sengaja ia lakukan untuk membuat lawannya ini semakin kesal dengannya, sayangnya dia adalah Icha bukan Lyli yang jago sekali membuat lawan kesal dan jago mengkibuli lawan saat perang.


"Ck. Dasar lo ya" menjambak rambut Icha dengan kasar membuat Icha sedikit meringis kesakitan. Namanya juga manusia yakan? Icha tidak membalas dengan jambakan tetapi dengan tendangan kaki mengarah ke betis lawan membuat 'cabe itu berhenti menjambaknya dan meringis kesakitan.


"Jangan ganggu gue kalo gak mau ngerasain patah tulang!" Tutur Icha lalu beranjak pergi dari sana, karena ia benar benar tidak mau emosi saat ini.


"Gue gak takut sekali dengan ancaman lo itu jalnggggg" kata si ketua kelompok cabe itu dengan sedikit teriakan di akhir kalimatnya.


Icha berhenti dari langkahnya kemudian berbalik dengan wajah yang sudah merah padam, tangan yang mengepal hingga aura dingin mendominasi di sana, hingga siapa yang merasakan bisa bergidik ngeri saja.


"Katakan sekali lagi" kata Icha sambil melangkah pelan.

__ADS_1


"Lo jal*ng, ***** *****" ulang si ketua kelompok cabe itu sambil melangkah mundur karena sebenarnya dia juga takut namun dia gengsi.


"Katakan sekali lagi *****" sarkas Icha yang sudah mode on.


Brukkk!


Gadis centil itu yang sudah menempel dengan tembok hanya bisa menegul salivanya kasar dengan keringat dingin yang mulai keluar dari tubuhnya yang bergetar.


"Serem cok" batin gadis itu.


"Gue ulangi, jangan pernah sekalipun ganggu gue sebelum tangan lo patah gue ingatkan sekali lagi jangan pernah ganggu gue dengan tingkah licik lo itu kalo lo tidak mau ada empat tulang lo yang patah ingat itu *****" seru Icha sambil meninju tembok di sebelah persis kepala gadis itu yang sudah memejamkan matanya takut.


Icha berbalik badan dengan langkah yang cepat dan emosi masih mengusai dirinya.


"Gue gak bisa gini terus, ayo Cha lo bisa lo tenang oke tenang " batin Icha menyemangati dirinya sendiri.


Tapi nihil, tidak bisa ia lakukan karena dirinya juga berada di posisi kesal dan banyak pikiran, jadi sulit sekali dan dia menginginkan pelampiasan.


Saat dirinya sudah keluar dari gedung kelas dan saat ini Icha berada di area lapangan yang disebrang sana adalah kantin AL.


Tetapi saat di lapangan dirinya mendengar teriakan yang memekakkan telinga.


"WOI CEWEK MURAHAN MAU KEMANA LO? NGELONTE YA" suara teriakan terdengar dari gedung kelas 12, dan sudah diiringi tertawa dari mereka yang ada disana. Mereka pikir lucu apa? Pikir Icha. Tetapi Icha tak menanggapi hal itu, Icha segera pergi ke kantin namun terhenti ketika lemparan botol mengenainya.


Dug!


"Sok cantik, sok cool, sombong sekali lo gak pantes sekolah disini" cibir siswi kelas 12 yang rupanya 1 geng dengan siswi tadi.


Emosi Icha sudah diatas rata rata. Dia butuh pelampiasan dan tidak bisa ditunda untuk itu.


Dengan mata tajam Icha mendapati tumpukan kayu dan besi juga kursi rusak di tepi lapangan basket, Icha ke arah sana dan siapa yang akan menduga jika Icha akan melakukan semua itu.


Pyar


Prang


Dug


Bruk


Tang


Terus melakukan aksinya hingga kabar Icha membuat heboh sekolah terdengar sampai ke sahabatnya dan juga Rafka yang berada di kantin, mereka terperanjat kaget mendengar hal itu kemudian mereka segera berlari ke arah lapangan yang dimana sudah kacau ulah Icha.


"Lo semua brengsek, kalo lo semua disini tidak suka dengan kehadiran gue cukup bicarakan dengan baik baik bukan? Brengsek sekolah apa ini hingga bisa menerima murid bodoh seperti kalian hah" teriak Icha sambil membanting kursi yang disana ada ujung paku yang mengenai tangannya, Icha sendiri yang melakukan itu semua tak merasakan sakit sedikitpun karena hatinya yang saat ini terluka bukan fisiknya.


"Cha berhenti gue mohon" pekik Thea yang sudah khawatir dengan kondisi Icha namun tak digubris oleh si pemilik nama.


"Jangan dekat dengan gue atau kalian yang dapat serangan dari gue" ancam Icha.


The perfect sudah mendengar kabar dari sang adik kelas jika ada salah teman kelasnya yang membuat heboh seantero AL.


"Li? Kenapa dia sampai mengamuk seperti ini?" Batin Rasya bertanya tanya.


"Lah si Icha ngapa ngamuk ngamuk gini, ngapa dah" kata Alen.


"Gak tau ege Kitakan baru sampe" sahut Ali.


"Cha, samperin geh nekat sono dia butuh pelampiasan sepertinya dan mungkin butuh penenang" saran Arel yang didengar baik baik oleh Rasya.


"Gue kesana dulu" Arel mengangguk dan tersenyum.


"Icha, lo bisa dengerin gue kan? Stop ya? Jangan buat rusuh disini? Kita bicarain baik baik?" Kata Rasya yang sudah berada di tengah lapangan hampir di hadapan Icha.


"Mundur atau gue mencelakai gue sendiri" ancam Icha, Rasya perlahan mundur karena Icha sudah membawa besi di tangannya.


"Jangan lakuin itu, oke gue mundur tapi berhenti" Icha diam sejenak. Lalu dengan berjongkok tak ada yang tau apa maksudnya tapi hanya Rafka yang tau, dia segera berlari namun kakinya sakit dan dia hanya bisa berteriak.


"Jangan gila Bell, ini sekolah Bella" pekik Rafka yang sudah menduga apa yang akan terjdi.


Icha berdiri dengan dua tangan yang sudah memegang pisau kecil di tangan mungilnya.


"Kalo kalian gak nerima gue sebagai murid di SMA ini, silahkan bunuh gue. Gue kasih pisau ini sama kalian yang gak suka sama gue dan ambil atau gue sendiri yang bakal lempar ke arah kalian hah" kata Icha sambil memandangi semua murid yang memang sudah berkumpul disana.


Tidak ada guru dan osis yang tahu karena semua guru san osis sedang mengadakan rapat di ruangan khusus dan kedap suara juga, di karenakan agar murid murid tidak bisa mendengarkan rencana semua guru, dan kali ini berbeda kejadiannya semua guru tidak mendengar suara heboh di luar.


"Kenapa diam hah, kenapa kalian beda sekali dengan tadi, bukannya kalian sangat membenciku? Ayo lakukan sekarang" kata Icha lagi.

__ADS_1


Tanpa Icha sadar, Rasya perlahan maju ke arahnya dan HAP pelukan dari belakang membuat Icha kaget.


"Jangan lakuin itu please" mohon Rasya. Icha berbalik ke arahnya dan membalas pelukan itu. Hangat rasanya ini yang dia butuhkan saat ini dari tadi tapi ia urungkan karena emosi yang menjiwai diri Isabelle ini.


Pelukan mesra itu ditonton oleh semua siswa siswi, terutama si pembuat ulah yang menatap keduanya dengan perasaan kesal dan benci terutama pada Icha yang berani sekali menyentuh pangeran hati mereka.


"Jangan lukain diri lo sendiri hanya untuk mereka yang tidak penting okey?" Bisik Rasya yang mendapat anggukan dari Icha, saat ini Icha menangis tanpa suara karena semuanya benar benar melelahkan hatinya dan juga pikirannya.


Setelah sedikit lama mereka berpelukan, Icha mengusa air matanya dan berbalik ke arah murid AL.


"Hanya peringatan kecil untuk lo yanh ada di atas sana dan untuk lo yang duduk manis di depan aula. Thanks dan...


Icha melemparkan pisau kecil yang ada di tangannya ke arah mereka berdua, meleset? Tentu Icha tidak bodoh hingga mengenai mereka. Pisau itu menancap di mading untuk gedung kelas 12 dan di kursi dari bahan ban truk tepat di mana gadis cabe itu duduk. Semua yang melihat aksi itu kaget.


'kena ga ya?


'sadis


'ini yang gue cari


'wihh iblis spek bidadari


"Queen kebanggaan kita emang the best banget" kata Arel pada Alen yang berada di sebelahnya.


"Yoi dong, Queen kita neh" bangga Alen. Tidak ada yang mendengar karena mereka jauh dari kerumunan juga.


"Syukur deh kalo Acha bisa nenangin Bella" batin Rafka tersenyum lega.


"Heh Cha ngawur lo, untung kaga kena tuh" omel Amel. Icha hanga menyengir saja.


"Kalian semua bubar" perintah Rafka tegas. Dan mereka pun bubar dari sana dan melanjutkan kegiatannya, dan berhubung guru serta osis menyelesaikan rapatnya kini the perfect dan Geng Rafka membantu membereskann kekacauan di lapangan dibantu dengan satpam ( si satpam partner the perfect dan bestie 11C ekwk).


Sedangkan Rasya, Rafka , Icha, Amel, Thea dan juga Ara sudah menepi ke taman yang dibuat di tengah tengah Lapangan olahraga dan Lapangan upacara.


"Kalo mau bertindak pikirin dulu konsekuensinya, ini malah ngerepotin yang lain kan" tutur Rafka.


"Dan kalo mau ngapa ngapain usahain tubuh lo aman jangan kayak gini" imbuh Rasya. Icha seperti dimarahi oleh kedua abangnya saja saat ini yang di apit oleh dua kakak beradik dan Icha berada di tengah mereka.


"Kalian bertiga ambilin kotak p3k di UKS cepet" perintah Rafka diangguki oleh ketiganya.


"Kalo udah gini siapa yang susah hm" kata Rafka.


"Lo terluka lo juga yang susah lo ngerasain sakit bukan gue jadi usahakan jaga diri baik baik jangan main bertindak" timpal Rasya.


"Ini sekolah Bella bukan arena perang, dan disini lo sebagai murid biasa bukan Queen Liger yang dikenal banyak orang paham kan?" Imbuh Rafka.


"Setau gue Queen Li itu tidak seperti ini dan yang gue lihat ini lo itu bodoh bisa bisanya lo ngeladenin orang kayak mereka gak ada gunanya" ujar Rasya sambil membenarkan anak rambut milik Icha.


"Dan kalo orang lain negus di dengarkan baik baik jangan masuk kanan keluar kiri, kita seperti ini itu juga buat kebaikan lo sayangkuu jadi jangan ceroboh lagi dan untung sekali lo sendirian disini gak ada Riger sama Iger bisa jadi kapal pecah nih sekolah" tutur Rafka yang sudah mulai kesal karena sedari tadi Icha hanya diam saja. Sedangkan dibelakang mereka sudah ada ketiga sahabat Icha.


"Nah kek di interogasi sama kakaknya si Icha" ucap Thea.


"Jangan ngegosip dulu mana kotaknya, keburu infeksi ntar" kata Rafka. Amel memberikan kotak itu pada Rafka dengan gugup.


Sementara itu Rafka dengan telaten membersihkan luka Icha dan mengobatinya hingga, selesai.


"Sekarang jawab siapa yang udah buat lo marah" tanya Rafka.


"Gak tau" jawab Icha santai.


"Siapa Bella jangan buat gue kesal ah" kata Rafka.


"Lo seharusnya sudah tau bang karena pisau tadi mengarah pada mereka bukan?" Rafka mengangguk paham dan bertujuan yang dia sendiri tau.


Tak lama kemudian, semua yang membereskan kekacauan itu sudah selesai dan menghampiri dimana Rafka dan Rasya berada.


"Semua udah beres cha , bang" kata Alen.


"Makasih ya semuanya, ntar gue traktir dah sebagai gantinya kalian capek capek bantuin gue" mereka bersorak senang apalagi Alen dan Gilang ( sahabat Rafka)


"Thanks Cha"


"Makasih Cha"


"Thankyu Queen"


"Matursuwun Icha"

__ADS_1


"Thanks you Cha"


Ucapan terimakasih ditujukan kepada Icha, Icha senang karena masih ada yang berteman baik dengannya walaupun sedikit tak apa itu sudah menjadi hal penting di hidupnya.


__ADS_2