RASYA : My Queen Not You Queen!

RASYA : My Queen Not You Queen!
R 27


__ADS_3

Disisi lain, dimana tempat kekacauan dibuat oleh pemuda tampan yang tengah mengamuk. markas kebesaran Black World. Si pelaku adalah Rasya Arshad Daniyal Alaric, selaku King Rallion, sebutan kebanggaan BW sendiri.


Dia kini tengah mengamuk mengacaukan seluruh markas, dimuali dari membanting kayu, senjata api, kursi, meja, vas bahkan kaca kaca itupun ia hancurkan. Tidak ada yang berani menghentikannya karena takut dijadikan samsak oleh Rasya karena mereka tau jika bos besar mereka jika mengamuk akan lebiih menyeramkan, entah apa yang menjadi penyebabnya mereka semua bingung. Apalagi Devano yang baru datang dibuat melongo dengan kekacauan di depan matanya, Devano dengan segera mencari siapa pelakunya yang tentu ia kenal betul dengan sang pelaku.


Disisi lain, sudah ada Rasya yang menyeringai dengan tatapan tajam ia tujukan kepada para tawanan, mereka(tawanan) merasa aura dingin mendominasi didalam ruangan itu merasakan takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Dengan langkah pelan namun terlihat menakutkan, Rasya berjalan ke arah tawanan yang sudah cukup lama mendekam disana, dengan sadis ia membabi butanya(tawanan) dengan pisau kecil yang ia ambil dari sakunya, puluhan tawanan melihat itu semua hanya bergidik ngeri dan membayangkan takut jika akan giliran mereka datang.


Rasya seakan tak peduli dengan sekitar bahkan teriakan dari Devano juga Aliyyah ia abaikan, sekarang giliran tawanan selanjutnya tapi terhenti ketika mendengar pekikan dari seseorang yang tak asing baginya.


"BERHENTI DEK" siapa yang panggil kesayangan kita dengan sebutan dek kalau bukan Rafka? Sang kakak tercinta.


"Stop Cha" kata Rafka, lalu menghela nafas beratnya. Rasya menghampiri sang kakak dengan gaya coolnya.


"Kenapa lo lakuin ini semuanya Cha?" Tanya Rafka.


"Punya hak apa Leader Ice blue datang kemari?" Tanya Rasya.


"Cha" sentak Rafka, namun yang disentak menyeringai.


"Kasih dia ke Lion Van gue tunggu lo di ruangan gue" Devano mengangguk mengiyakan saja dia tak mau berkomentar apapun sekarang.


"Aliyyah lo ikut gue" si pemilik nama mengangguk.


"Acha dengerin kakak dulu" teriak Rafka lalu mengikuti langkah sang adik melangkah.


*


Ruangan telah terisikan 4 orang dengan keadaan yang serius bahkan tidak ada yang berani bicara duluan apalagi berniat mendahului sang ketua bicara kecuali Rafka selaku kakak bos besar BW.


"Kakak mau bicara sama kamu" kata Rafka.


"Ice blue tidak di undang jadi silahkan pergi" kata Rasya datar dan tidak menatap Rafka sedikit pun.


"Cha, sorry kalo kakak buat kamu marah, plis maafin kakak" kata Rafka berusaha untuk meminta maaf kepada Rasya yang sedang dalam mode saat ini.


"Acha bilang pergi atau acha yang pergi dari sini"

__ADS_1


"Oke kakak akan pergi tapi nanti di rumah kakak nemuin kamu lagi" diam. Acha tak menjawabnya, Rafka memilih untuk pergi saja toh nanti dirumah juga ketemu nantinya.


*


Sedangkan di rumah seorang lelaki berparas tampan dan sedikit lebih tua dari pada gadis yang tengah ngamuk sekarang membuat kekacauan disana, berteriak histeris membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa sakit telinga.


"Stop Cha ini rumah gue lo jangan teriak teriak gitu dong ah sakit nih kuping gue" pekik pria itu yang diketahui namanya. Evan Williams, salah satu anggotanya juga yang ia taruh di Indonesia untuk mengawasi perusahaannya ketika Icha berada di Inggris.


"Diem lo, gue lagi kesel nah sama si brengsek itu lo tau gak uhh nyebelin bangettt"


"Iya iya yaudah si tapi stop buat keributan disini kasian mbak mbak disini denger ocehan lo yang gak jelas itu, gue gantangin mampus lo" omel Evan.


"Ya maap kan gue lagi bete banget asal lo tau" bela Icha.


"Iyain biar seneng"


"Ihhhhh epannnnnn" rengek Icha


"Iya iya maap"


"Gue nginep sini yak, bonyok lagi ke luar kota gue sendirian jadinya" kata Icha.


*


Di kediaman Alaric, sudah jelas nampak kekhawatiran di wajah sang bunda juga ayah Angga walaupun diam bukan berarti ayah Angga tidak merasa khawatir hanya saja tidak mau menambah beban kekhawatiran sang istri karena ketidak pulangan salah anak bungsunya, Rasya.


"Yah, kenapa jadi seperti ini. Acha bahkan sampai tidak pulang apa yang sebenarnya terjadi masalah apa lagi sama kakaknya sampai tidak mau pulang" lirih Bunda Mili.


"Maafin Rafka bun karena Rafka Acha gak pulang" kata Rafka sambil menunduk.


"Sudah Raf, jangan menyalahkan diri kamu dulu dan sekarang kita biarin dia disana dulu besok baru kita bujuk"


"Iya yah, Rafka pamit ke kamar dulu" diangguki kedua orang tuanya, Rafka segera ke kamarnya untuk merebahkan tubuhnya.


'Pulang Cha kakak mau bicara sama kamu, kakak kangen sama kamu' pesan singkat Rafka kirimkan dari aplikasi ijo ke nomor Rasya.


"Pulang dek, maafin kakak" gumam Rafka.

__ADS_1


Ting!


Ada pesang masuk di handphonenya dengan segera ia melihat notice pesan dari siapa pengirimnya, dan harapan untuk dibalas sang adik masih ada. Yang baru saja mengirim pesan adalah adiknya, Rasya si manja.


Simanja


Nanti malam gue pulang.


Ada rasa senang Rafka membacanya, dia sangat senang sekali hanya dengan satu pesan membuat sang adik kembali pulang. Tersenyum senang ia membalasnya.


^^^Rafkaaaa^^^


^^^Kakak tunggu Cha ☺️^^^


Simanja


Buatin Acha susu anget kak, tungggu Acha otw


Tersenyum senang, Rafka segera turun dari kasurnya segera turun ke dapur untuk membuatkan susu hangat yang dipesan sang adik, dengan semangat 45 sampai membuat maid yang ada di dapur heran dengan sikap tuan mudanya.


"Ada yang bisa saya bantu Raf?" Tanya pelayan yang memang akrab dengan Rafka, maka dari itu tidak menyebutnya dengan tuan lagi dan itu atas permintaan Rafka sendiri.


"Tidak usah mbak Rita, Rafka buat sendiri aja karena ini spesial" kata Rafka menolak halus lengkap dengan senyuman yang tak kunjung pudar itu.


"Buat siapa memangnya Raf?" Tanya mbak Rita.


"Jangan kepo urusan anak muda mbak" kata Rafka.


"Baiklah"


"Tidak usah marah, mbak Rita ku yang cantik" goda Rafka sambil mencubit pelan hidung mbak Rita. Kalau ada yang belum tau status mereka pasti sudah bilang kalau mereka adalah pasangan kekasih karena umur mbak Rita juga tidak jauh beda dengan anak majikannya itu dan wajah mbak Rita juga cantik walaupun hanya seorang pelayan saja.


"Jangan menggodaku anak tampan" kata Mbak Rita sambil memukul pelan lengan Rafka.


Tin tin! Terdengar suara klakson mobil dari luar membuat Rafka tersenyum lebar saat ini.


"Mbak Rita ku sayang Rafkamu ini pamit dulu ya bye" pamit Rafka tak lupa memberikan cium jauh ketika sudah berada diambang pintu masuk antara ruang makan dan dapur.

__ADS_1


"Anak muda" gumam mbak Rita geleng geleng kepala.


__ADS_2