
Keesokan harinya. Pagii ini di kediaman Alaric sudah ada keluarga lengkap yang akan sarapan bersama di meja makan panjang itu. Semuanya sudah duduk di kursi masing masing yang sudah ada namanya sendiri.
"Yah nanti aku sepulang sekolah mampir ke kantorku dulu ya mau liat perkembangan disana sama kangen kak Della" kata Rasya berpamitan kepada Ayah Angga.
"Selagi gak keluyuran ayah izinin" sindir Angga sambil menatap Rafka yang ditatap hanya mencebikkan bibirnya kesal.
"Oh iya, bagaimana kabar Della Cha" tanya bunda Mili..
"Baik bun, dan sekarang kak Della udah pacaran sama Vano" kata Rasya.
"Jadi Della udah nerima Vano Cha? Wah wah kesambet apaan tu anak" ledek Rafka yang memang tau perjuangan Devano untuk Della.
"Ya mungkin kak Della udah suka sama Vano jadi ya wajar sih kak" kata Rasya.
"Kapan kapan kamu ajak kesini sekalian sama Devano juga ya Cha bunda kangen samanya" kata Bunda Mili.
"Iya bun kalau kak Della mau nanti Acha bawa kesini"
Mereka pun melanjutkan sarapannya karena sudah disajikan oleh pelayan disana.
Tin tin!
Suara klakson mobil yang membuat acara makan mereka terhenti.
"Ck. Siapa sih yang dateng pagi pagi gini" Kata Rafka kesal.
"Aku samperin dulu ya" kata Rafka lagi.
Rafka membukakan pintu dan menatap sebal kearah tamu.
"Siapa kak yang dateng" teriak Rasya dari ruang makan.
"Kakak iparlo tercinta" balas Rafka dengan teriakan, yang disebut hanya meringis melihatkan deretan giginya saja.
"Mau numpang makan lo" sewot Rafka.
"Yang sopan lo sama yang tua" kata Devano. Iyap,dia adalah Devano tamu tak diundang.
"Sadar lo kalo udah tua"
"Serah lo gue mo makan laper" kata Devano yang langsung masuk nyelonong ke dalam rumah dan langsung duduk di kursinya.
"Kenapa lo kesini"tanya Rasya.
"Mau numpang makan dia dek, kasian sekali dia rumah besar gak ada yang masakin haha" ledek Rafka yang baru bergabung dengan mereka.
"Yasudah kalo gitu makan nak Vano, kebetulan juga ini masak banyak"
"Iya Tante dengan senang hati"
Memang keluarga Alaric baik dengan siapapun, termasuk Devano yang memang tidak tau malu untuk di terima di keluarga terpandang itu wkw, dasar Vanoo nyebelin. Tapi memang gitu gaiseu, semua sudah menganggap Devano seperti keluarga sendiri karena Vano sebatang kara di Indonesia ini dan orang tuanya ada di London untuk menghindari serangan musuh dan memang Devano menutupi identitasnya rapat rapat. Semua tau kalo Devano ini hidup sendiri .
*
SMA kebanggaan Alric, sudah melaksanakan kegiatan belajar mengajar, tampak sesekali ada mulut yang sedari tadi tidak bisa diam, siapa lagi kalau bukan kelas kesayangan kita, 11 C?
"Wah pak, saya ngantuk pak jadi biarkan murid cantikmu ini tidur" kata Icha menegosiasi pada Pak Rio yang mengajar mtk sekaligus walikelas mereka.
"Berani kamu bicara seperti itu bella?" Ucap pak Rio dengan wajah garang.
"Ck. Bapak mah gitu gak berperikemanusiaan" kata Icha sok sedih.
"Saya tidak akan termakan omonganmu Bella jadi sekarang kerjakan tugas saya"
"Iya pak iya saya kerjain nih, nanti kalo saya sudah selesai izinkan saya untuk keluar ya mau bocan" kata Icha, pak Rio hanya bisa menghela nafas berat menghadapi murid baru tapi sudah membuat pusing saja.
"Terserah kamu"
Tak berselang lama hanya butuh waktu 15 menit saja Icha mengerjakan tugas dari Pak Rio ini, semuanya tampak kaget bahkan materi ini sangat baru dan terlihat cukup sulit tapi Icha? Apa dia ngawur? Asal asalan mungkin? Begitulah isi pikiran mereka.
Ingin tau keadaan Liam? Dia tidak masuk karena harus mendapatkan perawatan medis karena serangan dari Rasya kemarin,ck. Masih satu hari sekolah udah main izin aja wkwkw rasain!.
"Pak saya sudah selesai" Pak Rio nampak terdiam.
"Kalo sudah sini kumpulkan tugasmu" pak Rio menerima buku yang diberikan Icha dan memeriksanya.
__ADS_1
"Pintar dan cerdik" gumam Pak Rio.
"Jangan puji saya pak, saya emang pintar jadi jangan terlalu memuji karena saya tidak suka" kata Icha .
"Yasudah silahkan keluar sana hus" usir pak Rio.
"Bapak ngusir saya? Dengan senang hati pak" kata Icha dengan cengiran khasnya.
"Emang bener bener unik ini mah" batin seseorang.
"Oh iya pak jangan pilih kasih nah yang lainnya ada yang udah selesai jadi apa boleh mereka keluar pak?"
"Terserah kamu bel, yang lainnya jika sudah selesai silahkan keluar dari jam ini" kata Pak Rio memerintah sambil tersenyum paksa ke arah muridnya.
"Nah gitu kan bagus"
"Kamu ini bel, untung kamu orang besar jadi mmmemmm" mulut pak Rio sudah dibekap oleh Icha dengan beraninya.
"Kalo tau tengang saya gak usah ember atau mau saya keluar kandang pak" bisik Icha.
"Iya iya maafkan saya Bella keceplosan" kata Pak Rio.
"Wah lo berani sekali ya Cha sama pak Rio padahal pak Rio itu terkenal kejam haha" kata Thea.
"Siapa bilang saya kejam, saya seperti ini juga karena kalian gak mau diatur"
"Ngeles bae, galak pantes jomblo" ucap Amel langsung mendapat pelototan dari pak Rio yang di pelototi hanya melihatkan cengirannya.
"Peace pak peace, jangan baper pak udah tua" kata Amel sambil membentuk 2 jari 'v' tanda damai,
"Stop Amel pusing saya sudah, dan satu lagi kalau kamu masih buat ulah jangan harap bapak kasih tugas sedikit" ancam pak Rio.
"Kalau pusing istirahat saja pak di uks biar enakan, sekalian minum obat pak" kata Ara.
"Kalau saya di uks yang ada kalian bikin rusuh disini"
"Mana pernah kita bikin rusuh pak bahkan kelas kita selalu juara kalau ada lomba" kata Alen ikut angkat suara. Sepertinya seru, pikirnya.
"Oh jadi gak pernah gitu ? Nah liat geh buku bapak yang ini siapa aja disitu yang sering muncul diantara kalian" kata Pak Rio sambil mengeluarkan buku kecil di dalam tasnya.
"Cha, bacain Cha siapa artis kita" pak Rio memutar bola matanya malas, memang sih kelasnya itu sangat aktif sakinh aktifnya biat beliau pusing tujh keliling.
"Lanjut Bella karena masih ada nah"
"Rasya Rasya Hilmi Alen Alen Alen Alen Alen Rasyad Arel Arel Amelia Amelia Amelia Salsya Putra Putra Rido ' hmm ketlas juga berulah rupanya Dina Raden Amelia Hilmi Salsya Sinta Rayhan Rayhan Rasyhan Rasya Putri Amelia Amelia Amelia Amelia Thea Thea Ara 'nah kan muncul juga lo ra lanjut gess Rasya Arel Arel Arel Arel Arel sampai bawah Arel dannnnn WHATT ISABELLE JUGA ADA PAK?". Kata Icha membaca buku itu lalu berteriak setelah namanya tercatat di buku berwarna hitam itu.
"Yaiyalah, kenapa hmm? Mau ngelak baru seminggu udah absen jam 1-4 hmm" Icha nyengir kuda mendengarnya.
"Yasudha pak jangan dibahas sekarang jam bapak udahh habis dan waktunya istirahat juga, males sama bapak ngulur ngulur waktu mulu" pak Rio menyeringai.
*
Kantin. Yap Icha dkk sudah berada dikantin beserta the perfect plus Rafka dkk, sebenarnya The perfect sudah menolak tapi Icha memaksa akhirnya mereka memilih mengalah saja dan pasrah untuk ke kantin, sampai disana pun mereka juga dipaksa untuk memesan makanan dan itu dilakukan oleh Icha, dan tidak bisa dibantahkan.
"Jangan banyak banyak bel sambelnya" kata Rafka mengingatkan.
"Iya bang"
"Bentar lagi ada acara ulang tahun sekolah, kalian sudah persiapkan apa saja untuk minggu depan?" Tanya Rafka.
"Hah? Ultah sekolah? Kok gak dikasih tau gue?" Tanya Icha.
"Yang waktu kumpul di lapangan trus lo pingsan itulo cha" kata Amel mengingatkan.
"Ohhh yang tuu"
"Jadi dilaksanakan minggu depan neh? Teruss temanya apaan?" Tanya Icha.
"Terserah setiap kelas sih, dan setiap kelas juga harus ada perwakilan untuk ngisi acara yang udah di susun osis" kata Thea menjawab.
"Oh gitu"
"Oh iya kenapa lo pingsan waktu itu Cha lo belum jelasin ke kita detailnya lo" tanya Amel yang memang tukang kepo itu.
"Oh jadi itu, gue kepikiran aja si sama dua sahabat gue di Inggris yang tengah koma karena kecelakaan, gue ngerasa gagal jadi sahabat aja gitu kenapa waktunya pas gue pergi dari Inggris" kata Icha.
__ADS_1
"Yang sabar dek, Gres sama Kai orang kuat, jadi lo tenang aja, kan sekarang Gres udah sadar tinggal Kai kan?" Kata Rafka yang memang tahu masalah itu.
"Kai itu siapa? Lakik? Sahabat lo banyak juga ternyata Cha" tanya Thea.
"Iya, dia sahabat gue sejak kecil gue sayang banget sama dia sampai sampai gue udah anggep dia sebagai kakak gue sendiri"
"Terus dia sekarang gimana kondisinya? Udah sadar?" Icha menggeleng lesu.
"Belum, gatau sampai kapan dia akan tidur gitu"
"Sabar dek Kai kan orang hebat jadi dia bakal berjuang keras untuk lo juga" kata Rafka menenangkan Icha.
"Iya bang, emang si bang Caesar itu sangat kuat dan hebat" kata Icha sambil tersenyum.
Rasya sedari tadi hanya menjadi pendengar baik pun kini beranjak pergi ketika mendengar nama itu( Caesar ) disebut dan disanjung walaupun ada sedikit rasa senang dihatinya dan ada rasa sakit di jiwanya ketika mendengar sang kembaran tengah koma disana.
"Mau kemana Cha?" Tanya Rafka.
"Jangan nyusulin gue kak karena gue gak akan balik kesini" Rafka bingung tapi ia hanya membiarkan adiknya itu pergi toh dia juga sudah besar.
"Apa Acha udah tau ya?"batin Icha bertanya tanya.
*
Kini di sebuah gedung besar Ryh group, perusahaan ternama dikenal sebagai pesaing perusahaan ayahnya sendiri karena nilai kedua perusahaan itu hampir sama rata walaupun memang AL corp lebih unggul dari perusahaan Ryh group.
Di sebuah ruangan besar ada dua orang yang tengah berpelukan.
"Hiks, Acha takut kak" lirih Rasya sembari memeluk Della.
Yapp, setelah kejadian tadi Rasya pergi ke kantornya untuk menemui Della hanya untuk sekedar mencari kenyamanan saja dan seseorang untuk menenangkan hatinya.
"Takut kenapa sih cerita samaku"
"Ya takut pokoknya, Acha gak mau kalau gak disayang lagi maunya disayang terus"
"Ck. Dasar kenapa sih semua lelaki di sini manja sekali , apa tidak ingat gender ya?" Batin Della geram dengan sifat lelaki di sekitarnya. Gak Devano, Rasya, Rafka selalu saja manja kepadanya kalau ada masalah huft untung Della sabar.
"Lah emang Rafka kenapa kok sampe kamu kayak gini hmm? Jangan menuduh Cha sebab itu tidak baik" tutur Della.
"Iya kak maaf"
"Ada apa sebenarnya hmm?"
"Gak ada kak, Acha mau manja aja sama kak Della " kata Rasya sambil memamerkan deretan giginya.
"Yaudah sekarang kamu lanjutkan itu berkas, kakak juga mau kerja lagian kamu yang punya perusahaan kenapa kakak musti yang pusing huh"
"Maaf kak, kan aku masih sekolah jadi ya wajar saja lah"
"Nah tu tau, masih sekolah kenapa bangun perusahaan hmm kalo gak mau ngurusin"
"Kan ada kakakku yang paling cantik ini" goda Rasya sambil menoel dagu milik Della.
"Rasyaaaa" geram Della.
"Maaf kak" kata Rasya sambil menyengir kuda.
"Devano mana kak tumben dia gak kesini?"
"Kan dia lo suruh ke markas buat selesaiin masalah disana kalo lo lupa"
"Oh iya juga ya"
"Dasar, kasian mana masi muda"
"Kakakkkkk" rengek Rasya kesal, sedangkan Della sudah menghilang dari hadapannya.
Kini tersisa Rasya sendiri di ruangan itu.
"Sebenarnya gue seneng kalo gue ternyata punya saudara selain kak Rafka, tapi disisi lain gue takut kalo kak Rafka lebih sayang lo Caesar, bahkan sebenarnya pun gue tidak keberatan juga tapi gue gak rela kalo Kakak lebih perhatian sama lo" kata Rasya sambil menatap ke arah handphonenya.
"Apa gue terlalu lebay ya? Arhh tau lah" kata Rasya frustasi. Dia bingung kenapa sesayang ini kepada Rafka walaupun itu hal wajar tapi dia sangat ingin sekali hanya Rafka saja yang sayang padanya. Wajar bukan kalau dua saudara saling berpelukan dan akur walaupun gender male? Tidak salah bukan?
"Kita liat aja nanti setelah Lo dateng ke rumah Caesar apa lo akan merebut kakak gue atau tidak"
__ADS_1
"Walaupun itu juga kakak lo tapi gue gak akan biarin hal itu terjadi, siapa suruh dulu ngilang padahal kita kembar haha" kata Rasya kemudian dia tertawa renyah mengingat status saudaranya yang gak jelas seperti ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...