Sabar Tak Berujung

Sabar Tak Berujung
Episode 112


__ADS_3

Pada saat mereka sampai di pasar tradisional tersebut, Mertua jasmine sangat heboh, pilih baju, pilih tas masing-masing 2, dan Marcel menyetujui agar orang tuanya bahagia.


Marcel membayar semua belanjaan, dari anak-anak, istri, bibi dan teman Via semua serba 1 hanya ibunya yang mendapat 2 item.


"Pilih yang mana?." Marcel membiarkan ibunya memilih apa yang ia suka.


"Ibu mau ini boleh? terus yang ini juga, Boleh ngak Cel?." tanya ibu Marcel dan tanpa menolak Marcel langsung menerima.


"Iya iya boleh bu, ambil saja!." ucap Marcel.


"Yang lain gimana? sudah dapat pilihannya?." Marcel juga bertanya kepada yang lainnya,


Setelah selesai belanja, Marcel membayar semua nya, tanpa memikirkan uang nya habis yang penting keluarganya bahagia.


"Berapa semuanya mbak?." tanya Marcel kepada penjual.


"Saya bayar sendiri saja pak Long." ucap teman Via.


"Tidak usah, ayahku yang mau bayar say." jawab Via.


"Benar kah. Aku merasa tidak enak." jawab teman nya.


"Santai saja, ayah tidak membenarkan mu untuk membayarnya." ucap Via.


"Biar pak Long yang bayar." jawab Marcel tersenyum kepada temannya Via.


"Terimakasih pak Long." ucap temannya.


"Iya sama-sama." Marcel membayar semua belanjaan, kemudian mereka pulang dan mengantar Via ke kost nya.


Jasmine beserta keluarga yang lain pulang tanpa Marcel, karena Marcel membawa sepeda motor, ia terpaksa pulang pada dini hari pukul 02.00 WIB menggunakan Bus lagi.


"Hati-hati ya di jalan, kak jangan ngebut ya." pinta Via kepada Aldi.


"Iya." jawab nya singkat Aldi merasa sudah pusing karena kepanasan terkena sinar matahari.


"Kabari ya bu jika sudah sampai rumah." ucap Via kepada jasmine.


"Iya, kami pulang dulu." jawab jasmine.


"Iya bu."


Keesokan harinya baru lah Marcel menyusul pulang, dan bekerja seperti biasanya.

__ADS_1


"Long, apa kamu sudah bekerja seperti biasa?." tanya marni karena ia tahu Marcel akan pulang di hari itu.


"Sudah, sekarang aku sudah bekerja seperti biasa, ada apa marni?." tanya Marcel kembali.


"Susah ngomong nya lewat telpon, kita ketemu sepulang kerja ya long." pinta marni ingin bertemu.


"Memangnya mau bahas soal apa?." tanya Marcel lagi.


"Soal tanah Long, ngak jauh dari tempat tinggal along, ada yang mau jual murah. Nanti lah kita bahas." ucap marni membahas sedikit kepada Marcel.


"Oh ada yang mau jual, kalau begitu nanti kita ketemu di tempat biasa." jawab Marcel.


"Oke Long."


Pulang kerja Marcel langsung menemui marni di cafe tempat biasa ia bertemu.


"Kemarin ada yang nawarin tanah ke saya long, harga nya murah banget, tempatnya di sebelah komplek along, terus di sana biasa nya tempat orang bersawah, along kan suka berkebun, barang kali sekarang mau coba nanam padi, lumayan loh sekarang harga beras sudah naik Long, nanti saya bantu deh, sekalian saya bisa belajar." ucap marni menawarkan tanah kepada Marcel.


"Apa kamu yakin mau ikut mengurus sawah?." tanya Marcel karena pada dasar nya ia sendiri tidak pernah mengurus pertanian.


"Iya yakin, kan nanti di ajarin along cara menjadi seorang petani." jawab nya menggoda Marcel.


"Ya sudah nanti saya ketemu orang yang jual nya dulu dan mau lihat langsung lokasinya seperti apa." ucap Marcel ingin memastikan lokasi tanah nya.


"Kapan orang itu bisa bertemu?." tanya Marcel buru-buru karena mendengar dari marni, orang yang menjual tanah tersebut sedang memerlukan uang secepatnya.


"Coba saya tanya dulu ya long, kalau bisa hari ini, kita pergi hari ini juga, lebih cepat lebih baik." marni bergerak cepat untuk membantu pujaan hatinya.


"Iya, coba deh di telpon dulu!." pinta Marcel berharap tanah tersebut belum laku terjual.


"Iya."


Marni mencoba menghubungi penjual tersebut dan setelah di tanya untuk kesiapan pertemuannya dengan Marcel, si penjual siap bertemu pada hari ini juga, karena ia benar-benar membutuhkan uang.


"Long dia bersedia bertemu sekarang, Kira-kira uang along cukup tidak untuk membeli nya nanti?." marni bertanya tentang uang yang Marcel miliki, padahal jasmine sendiri tidak pernah mempertanyakan gaji Marcel selama pernikahannya, dan Marcel sendiri tidak pernah mau memberitahukan soal uang kepada jasmine, hanya sekali setelah kejadian kemarin.


"Cukup sih, tapi pas-pasan banget, untuk besok-besok lagi tidak ada, tapi sayang kalau tidak kita ambil." jawab Marcel ragu-ragu dengan kesiapan uangnya.


"Hm, gini saja lah, Biar along bisa pegang uang juga, nanti saya tambah 5 juta deh, jadi along tidak perlu menghabiskan uang yang ada. Gimana Long?." tanya marni.


"Hm." Marcel berpikir selama 5 menit.


"Gimana? Ini orang nya sudah mau sampai loh Long." tanya marni lagi.

__ADS_1


"Ya sudah, saya setuju. Nanti hasil panennya kita bagi jika berhasil." Marcel akhirnya menyetujui kesepakatannya untuk membeli tanah.


"Oke sip kalau begitu."


Setelah selesai berdiskusi, si penjual tanah akhir nya datang dan menceritakan kenapa ia menjual tanah tersebut.


Si penjual tidak ada pilihan selain menjual tanahnya, karena ia memerlukan uang untuk membayar hutangnya yang saat ini sedang di tagih orang.


Marcel simpati dengan nasib orang tersebut dan dengan yakin langsung membayar tanpa pikir panjang.


Surat tanah pun telah di serahkan ketika Marcel membayar yang sudah ia beli.


Selesai urusan beli tanah, Marcel pulang dengan wajah kusut karena uang telah habis di ATM nya, yang di bawa map berisikan sertifikat tanah yang baru saja ia beli.


Kebetulan saat ia pulang, Misya ada keperluan sekolah dan terburu-buru meminta uang kepada Marcel.


Marcel sangat marah, kepala nya sedang pusing, saat dimintai ia langsung membentak Misya yang tidak tahu apa-apa masalah yang saat ini Marcel alami.


"Yah, ada uang Rp. 15.000 ngak? Misya sekarang ada belajar tambahan buat kerajinan tangan. Mau beli perlengkapan yang kurang yah." pinta Misya ketika Marcel baru sampai di rumah.


"Aduh. coba pinta dengan ibumu, ayah sedang pusing, ayah ngak ada uang kecil." ucap Marcel dengan keras.


"Ibu sedang tidak ada di rumah yah." jawab Misya memilih pergi meninggalkan ayahnya yang sedang marah.


Misya meneteskan air mata, tugasnya harus selesai secepatnya tetapi ia tidak mempunyai uang untuk membeli bahan yang kurang.


"Ibu pulang dong, Misya harus menyelesaikan tugas sekarang." Batin Misya sambil meneteskan air mata.


"Misya." panggil Marcel.


Misya langsung menghapus air matanya dan menghampiri ayahnya sambil menundukkan kepalanya.


"Ini, belikan ayah rokok, dan beli keperluan yang kamu butuhkan, sisa nya kembalikan!." ucap Marcel masih dengan nada tinggi nya.


Misya terpaksa mengambil uang dari Marcel, karena ia memang sangat membutuhkannya.


Selesai belanja bahan yang diperlukan Misya, misya menyerahkan kembaliannya dan pergi ke kamar menyelesaikan tugas nya dengan cepat.


Beberapa bulan kemudian Marcel menanam padi tanpa sepengetahuan jasmine di tanah yang ia beli kemarin.


Marcel selalu sibuk dan buru-buru setelah pulang dari kantor, karena ia sedang belajar menjadi seorang petani bersama dengan marni.


Jika masih banyak kesalahan dari Author mohon masukan nya🙏 jangan lupa untuk dukung dentgan cara like, komen, dan Vote karya author biar author tambah semangat Up nya🥰

__ADS_1


__ADS_2