Sabar Tak Berujung

Sabar Tak Berujung
Episode 91


__ADS_3

"Kalau kamu merasa penasaran, kenapa kamu ngak tanya langsung kepada ayahmu." ucap teman kostnya.


"Ngak deh kak, ngak mau cari masalah dulu sekarang, soalnya kuliah masih minta di biayai, nanti kalau aku tanya macam-macam yang ada ayah marah dan nanti ngak jadi kirim uang nya. sementara aku di sini kan ngak kerja." jawab Via tidak berani untuk bertanya kepada ayahnya tentang hubungannya dengan marni.


"Ya kan kamu tanya untuk membuktikan kebenaran dan biar ibu mu tahu kalau memang ayah mu menjalin hubungan dengan wanita lain." ucap temannya yang memberi saran kepada Via.


"Biar saja lah dulu kak, sekarang aku belum bisa menanyakan nya, jika nanti setelah aku wisuda tapi ayahku masih dekat dengan wanita itu, baru aku tanyakan." jawab Via karena saat ini ia masih bergantung kepada ayahnya.


"Tapi kamu ngak kasihan ya sama ibu mu, jangan sampai dia tahu dari mulut orang lain Via." ucap teman kostny Via.


"Semoga tidak kak, lagian ibu kan sering nya di rumah, ibu tidak suka keluar rumah atau main ke rumah tetangga hanya untuk gibah. Karena sebaik-baiknya wanita itu adalah wanita yang menghabiskan waktunya hanya di rumah." ucap Via.


"Sekali-kali kan tidak masalah Via." jawab teman Via.


"Iya, maksud ku tadi bukan setiap hari ibu di rumah, terkadang bergaul juga dengan tetangga tapi sewajarnya, kalau sudah mulai menggibah, biasanya ibu memilih untuk pulang begitu kak." ucap Via.


"Bagus deh kalau begitu." jawab nya.


Keesokan harinya, marcel mengirim uang untuk Via, dan memberi tahu Via kalau ia sudah mengirimkan uang barusan.


"Via, ayah sudah kirim ya uang untuk kamu." ucap marcel.


"Iya yah, terimasih ayah." jawab Via.


Via langsung pergi ke ATM terdekat, untuk mengambil uang yang sudah ayahnya kirim, karena kebetulan uang Via sudah benar-benar habis terpakai.


Setelah mengambil uang ke ATM, Via langsung membeli makanan, dan makan di kost saat itu.

__ADS_1


Sesaat Via berhitung, uang yang di pegangnya sangat lah sedikit jumlahnya, sedangkan ia harus membaginya untuk makan dan untuk tugas kuliah.


Akhirnya Via berinisiatif untuk berhemat sehemat-hematnya, agar kebutuhannya tetap terpenuhi dapat waktu yang di tentukan oleh ayahnya.


Ketika Via berniat untuk berhemat, saat itu juga teman dekat Via yaitu Dwi mengajak Via jajan Bakso sepulang kuliah.


"Via, nanti pulang kuliah kita ngebakso yuk! Ada Bakso yang lagi viral sekarang, banyak yang bilang enak. Cobain yuk!." Dwi mengajak Via mencoba merasakan sensasi Bakso yang lagi Viral saat itu.


Batin Via, "Bagaimana ini, mana uang nya buat tugas juga lagi. Hm, tapi ngak apalah sekali-sekali.


"Oh iya wi, boleh deh, seenak apa sih Bakso nya." ucap Via.


"Nanti lah kita baru tahu gimana sensasinya, mau ngerasa sensasi pilih yang pedas nanti." ucap Dwi yang sangat menyukai pedas.


"Itu mah selera kamu banget wi." jawab Via dan Dwi tersenyum mendengar perkataan Via.


"Ramai banget ya wi, ini kita mau nunggu atau pulang lagi?." tanya Via, berharap Dwi mau putar balik karena Via sangat memperhitung kan uang yang ia punya.


"Kita tunggu saja, kan sudah terlanjur sampai di sini Via. Tunggu bentar pasti ngak lama kok. Sabar." jawab Dwi.


"Baiklah." jawab Via.


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya mereka dapat giliran dan mereka makan di lokasi tersebut.


Via dan Dwi memilih menu yang sama yaitu selera pedas, saat itu Via sangat kepedasan dengan Bakso tersebut.


"Pedas banget wi." ucap Via yang tidak tahan pedas.

__ADS_1


"Kenapa ngak pilih yang original saja tadi Via." jawab Dwi merasa kasihan dengan ekpresi Via.


"Tapi kan yang viral yang rasa pedas." wajah Via memerah karena rasa pedas dari Bakso nya itu.


"Ya sudah nikmati saja, pasti enak." ucap Dwi sambil tertawa melihat ekpresinya.


Setelah pulang dari ngebakso, tiba-tiba teringat bahwa Via masih harus revisi proposal skripsinya dan pastinya pengeluaran untuk print lumayan besar.


"Wi, kamu kan ada print ya? Kalau boleh aku print ke kamu saja ya dan nanti kita beli kertas nya dulu." pinta Via kepada Dwi.


"Oh boleh dong, iya beli kertas saja. nanti mau print biar aku yang bantu print kan." jawab Dwi teman yang sangat baik dan tidak pelit itu.


Via merasa urusan print sudah diringankan oleh sahabat dekatnya sendiri.


Setelah selesai revisi proposal skripsinya, Via pulang ke kampung halaman karena saat itu kampus nya sedang libur.


"Via mau tidak kerja di tempatnya Bu Marni?." tanya marcel ketika Via sudah berada di rumah karena libur kuliah.


"Sebagai apa?." tanya Via mengenai posisi pekerjaannya.


"Sebagai Admin. Mau tidak?." tanya marcel kembali.


"Boleh yah." jawab Via mengiyakan karena ia tidak tahu apa sebenarnya hubungan ayahnya dengan Bidan itu.


"Kalau kamu mau, nanti ayah bilang kepada Bu Marni." ucap marcel yang berkesempatan untuk chat dengan Marni.


Setelah Via mengobrol dengan marcel, lalu Via mengatakan apa yang barusan ayahnya katakan kepada dirinya.

__ADS_1


Jika masih banyak kesalahan dari Author mohon masukan nya🙏 jangan lupa untuk dukung dengan cara like, komen, dan Vote karya author biar author tambah semangat Up nya🥰


__ADS_2