
"Memangnya bukti itu belum cukup ya?." Jasmine merasa tidak sabar untuk membongkar nya di depan Marcel.
"Kita harus punya bukti yang bisa di tunjukkan langsung di depan mata ayah bu, jadi ayah tidak bisa menghindar lagi." Via meminta agar Jasmine lebih sabar sedikit.
"Tapi bagaimana caranya Via, ayah mu itu sangat pintar berbohong, sudah beberapa kali ibu marah hanya gara-gara wanita. Tapi tetap saja ayahmu bisa beralasan." jawab Jasmine.
"Maka dari itu bu, kita juga harus pintar menyikapi tingkah laku ayah yang begini. Kalau perlu ibu pura-pura saja chat seseorang pria biar ayah cemburu." ucap Via bercanda.
"Ibu mana bisa seperti itu Via. Jangan bicara begitu!. Kalau kita begitu juga, apa bedanya kita dengan ayahmu." jawab Jasmine.
"Ya ngak apa lah bu, biar ayah tau rasanya disakiti seperti apa!. Nanti kalau Via punya bukti lain, via akan katakan kepada kak Aldi bahwa ayah telah menyakiti ibu untuk kesekian kalinya." Via merasa ia memerlukan bantuan Aldi suatu saat nanti.
Ketika malam hari, Marcel tidak pulang lagi sampai larut malam, dan saat Marcel pulang Jasmine tidak menyadari ia pulang jam berapa.
Saat Pagi hari nya Jasmine melihat Marcel sudah tidur di sampingnya.
Batin Jasmine, "Kok aku ngak sadar ia pulang."
Jasmine bangun dan langsung melakukan aktivitas seperti biasanya.
Tidak seperti biasanya Marcel juga bangun lebih awal dari biasa, ia ingin pergi ke rumah ibunya karena saat ini ibunya sedang sakit.
Tut.. Tut.. Tut..
"Ya Halo bu." jawab Marcel.
"Cel, kamu bisa tolong ibu tidak?." tanya ibu kandungnya.
"Ada apa bu?." tanya Marcel khawatir.
"Kamu kan punya teman bidan ya kemarin, kalau bisa pinta ia untuk datang mengobati ibu Nak." pinta Ibunya.
"Ibu sakit nya parah ya bu, kalau tidak beli obat di warung saja dulu bu." pinta Marcel kepada Ibu kandungnya.
"Maka dari itu kamu tolong minta marni datang dan periksa ibu dulu Cel." ucap Ibu kandungnya.
"Sebentar bu, Marcel telpon dulu, apakah dia sibuk atau tidak." jawab Marcel.
"Iya nak."
__ADS_1
Marcel langsung menghubungi Marni dan bertanya apakah ia tidak sibuk hari ini.
Tut.. Tut.. Tut..
"Halo Long." jawab marni dengan cepat.
"Mar, hari ini kamu sibuk tidak?." tanya Marcel sebelum meminta Marni untuk ke rumah Ibu kandungnya.
"Tidak terlalu, cuma hari ini aku ada pasien yang mau cek up jam 09.00 WIB, ada apa ya Long? tumben sekali kamu tanya aku sibuk atau tidak?." Marni merasa aneh karena biasanya ia yang selalu bertanya tentang kesibukan Marcel.
"Begini Mar, ibuku sedang sakit sekarang, kalau kamu sudah tidak sibuk, apa bisa kamu menemui ibuku dan periksa kondisi kesehatannya sekarang?." tanya Marcel dan meminta Marni untuk melihat kondisi ibunya.
"Oh tentu saja bisa Long, setelah aku bertemu pasien ku, baru ke rumah ibu nya Along. Tapi aku belum tahu rumah ibunya along di mana. Kalau bisa along juga ikut ke sana ya!." Marni meminta Marcel juga ikut ketika ia ke rumah Ibunya Marcel.
"Baiklah, kalau begitu nanti kamu saya jemput saja." ucap Marcel membuat Marni senang dan saat ia mengatakan ingin menjemput Marni, Jasmine mendengar tapi ia tidak tahu siapa yang akan di jemput Marcel.
"Kamu mau kemana Long?." Tiba-tiba Jasmine datang kepada Marcel dan bertanya karena ia sekilas mendengar bahwa Marcel akan menjemput seseorang.
"Jemput teman." jawab Marcel singkat.
"Siapa?." tanya Jasmine penasaran.
"Memangnya kenapa? tidak boleh? Kok kamu ngak mau kasih tahu siapa teman mu. Atau jangan-jangan... kamu mau jem.. put pacarmu?." tanya Jasmine membuat panas suasana.
"Mulai lagi kamu ini ya, Kalau di seriusi nanti marah juga." jawab Marcel seolah-olah tuduhan Jasmine salah.
"Ya iya lah marah, wanita mana yg tidak marah jika suaminya membawa orang lain yang bukan muhrimnya. Apa kamu tidak ingat dulu kamu juga membawa istri orang dengan sengaja. Tidak menutup kemungkinan jika kamu akan mengulanginya." ucap Jasmine.
"Aku heran ya sama kamu Jasmine. selalu mengungkit-ngungkit kesalahan lama, apa kamu tidak bosan?." tanya Marcel agar Jasmine tidak mencurigai nya.
"Aku hanya mengingatkan, tidak mengungkit kesalahan. Ya, jika kamu sadar akan kesalahan mu, aku berharap penuh agar kamu tidak lupa untuk mengulangi nya Long." ucap Jasmine menyinggung.
Marcel terdiam dan langsung mengambil handuk nya untuk bekerja terlebih dahulu sebelum ia menjemput Marni.
Pada sore hari, Marcel menjemput Marni dan pergi membawa nya ke rumah ibu kandungnya.
Ketika di perjalanan menuju rumah Ibunya, Marcel dan Marni melewati kampung yang banyak mengenal Marcel.
Sehingga orang di kampung ibunya bertanya-tanya, siapa yang Marcel bawa saat itu.
__ADS_1
"Bukannya itu Marcel ya?." tanya tetangga dengan tetangga yang mengenal Marcel di kampung tersebut.
"Sepertinya iya bu, tapi ia dengan siapa ya? Jasmine bukan, anaknya juga bukan. itu lebih gendut. Kira-kira siapa ya bu." sesama tetangga bertanya-tanya ketika melihat Marcel dan Marni lewat.
"Kurang tahu juga bu, nanti kita tanya wanti saja, mungkin ia tahu siapa yang di bawa oleh abang nya itu." ucap para tetangga yang hobinya gosip.
"Kenapa ya terlihat mesra Marcel dan wanita itu. Padahal jelas bukan jasmine." para tetangga semakin penasaran.
Pada hari itu juga, tetangga tidak sengaja bertemu dengan adiknya Marcel, dan sebelum ia di tanya, wanti pun juga melihat abangnya membawa Marni menuju arah rumah orang tuanya.
"Wanti." panggil para tetangga super kepo.
"Iya bu, mau kemana?." wanti lang bertanya mereka mau kemana.
"Sengaja mau jalan-jalan sebentar wan. Oh iya, tadi kami lihat abang mu Marcel membawa seorang wanita, itu siapa?." tanya tetangga kepo itu.
"Oh itu temannya bu, kenapa bu?." tanya wanti kembali.
"Benarkah? maaf ya wanti, kalau tidak salah lihat tadi sepertinya abang mu menggonceng dengan mesra begitu, apa itu istri mudanya." tanya tetangga lancang.
"Ah mungkin ibu salah lihat kali, mana mungkin abang saya punya istri lagi bu." wanti enggan menjawab nya.
"Ya ngak tau juga ya wan, mungkin saja kami salah lihat, dari pada kamu bengong wan, mending sekarang kamu ke sana, sepertinya Marcel ke rumah orang tuamu meminta restu." ucap tetangga yang menyakitkan.
Setelah mendengar perkataan tetangga, wanti khawatir kalau yang di katakan tetangga itu benar.
Dan langsung ke rumah orang tuanya untuk melihat langsung.
Ketika Wanti sampai, ia melihat Marcel sedang memperkenalkan Marni kepada ayahnya dan dirinya yang belum pernah bertemu dengan Marni.
"Eh Wanti. Kamu dari mana?." tanya Marcel.
"Dari rumah bang Long." jawab Wanti.
"Kenalkan ini Marni, seorang bidan di komplek sebelah kami, sekarang ia mau periksa ibu." ucap Marcel.
"Oh iya saya Wanti." jawab Wanti dengan senyum kurang enak di pandang.
Jika masih banyak kesalahan dari Author mohon masukan nya🙏 jangan lupa untuk dukung dengan cara like, komen, dan Vote karya author biar author tambah semangat Up nya🥰
__ADS_1