
"Sakit Mas," ucap Melisa.
Melisa tampak kesakitan. Perutnya sudah merasa sangat mulas, tetapi sang anak tak kunjung ingin keluar. Padahal bidan sudah melakukan induksi, untuk merangsang sang anak keluar. Hingga akhirnya bidan merujuk Melisa ke rumah sakit, untuk melahirkan secara sesar.
Wildan tampak kebingungan, karena dia tak memiliki uang banyak. Hanya mengandalkan dari BPJS. Itu juga yang menjadi alasan bagi Wildan menyuruh Melisa melahirkan di bidan. Uang itu pun hasil dari meminjam kepada temannya. Setelah keluar dari penjara, kehidupan Wildan benar-benar sulit. Semakin hari kehidupan Wildan dan Melisa semakin menderita.
Sang mama sudah diberi tahu, kalau Melisa akan melahirkan. Tentu saja Mama Risma merasa senang, karena akhirnya dia bisa menimang seorang cucu. Meskipun hubungan dia dengan Melisa akhir-akhir ini sudah tidak baik. Rencananya, setelah Melisa melahirkan. Dia ingin Wildan menceraikan Melisa, dan mengambil anak itu dari Melisa. Mama Risma merasa kasihan, karena sang anak menjadi menderita karena menikah dengan Melisa. Cobaan hadir bertubi-tubi. Dia ingin Wildan hidup bahagia.
Demi menyelamatkan nyawa Melisa dan juga anak dalam kandungnya, Wildan bergegas membawa Melisa ke rumah sakit sesuai rujukan. Selama dalam perjalanan Melisa tampak meringis kesakitan. Rasa sakit yang dia rasakan kali ini, lebih sakit saat melahirkan Mawar dulu.
"Sakit banget! Aku sudah tak tahan lagi," ucap Melisa di iringi isak tangis.
"Iya, Sayang! Sabar ya! Kamu harus kuat demi anak kita! Aku akan selalu di samping kamu," ucap Wildan mencoba menguatkan Melisa. Dia tampak menggenggam tangan Melisa erat.
Mereka sudah sampai di rumah sakit, Melisa langsung mendapatkan pertolongan ke ruangan bersalin. Kondisi Melisa saat itu sudah terlihat lemas. Sudah empat jam lamanya, dia tersiksa. Sang anak tak kunjung keluar.
"Silakan bapak urus dulu administrasi untuk operasi sesar!"
"Mas urus administrasi dulu ya! Biar kamu segera melahirkan, gak tersiksa lagi. Sabar ya!" ucap Wildan sambil melabuhkan kecupan di kening Melisa. Bagaimanapun Melisa adalah istrinya, dan dia sedang berjuang melahirkan anaknya.
__ADS_1
Setelah keluar dari penjara, Wildan memang lebih banyak meninggalkan Melisa bersama Mawar. Dia lebih banyak tinggal di rumah orang tuanya. Untungnya, tadi malam Wildan pulang. Melisa mengingatkan, kalau dia sudah mendekati perhitungan kelahiran. Sebelum pulang ke rumah, dia juga sempat bertemu temannya untuk meminjam uang untuk biaya persalinan.
"Wildan, Melisa gimana? Apa sudah melahirkan?" tanya Mama Risma. Dia baru saja sampai dengan diantar kakaknya Wildan.
"Belum Ma, ini Wildan lagi ngurus administrasi operasi sesar," jawab Wildan.
"Heran mama sama si Melisa, hidupnya nyusahin kamu terus. Sampai mau melahirkan saja, harus operasi. Pemalas sih jadi orang, maunya tiduran terus. Ngandelin uang dari suami. Cari kerja apa kek, yang menghasilkan. Mama pengen lihat, anak kamu seperti apa. Kalau jelek, mama gak mau anggap cucu ah. Malu. Kamu 'kan ganteng, Wil," cerocos Mama Risma.
"Astaghfirullahalazim Ma, istighfar Ma! Jangan bicara seperti itu! Ini semua juga bukan keinginan Melisa. Wajar juga Melisa gak kerja. Mana ada orang yang mau mempekerjakan wanita hamil besar, yang ada akan jadi masalah kalau Melisa kenapa-kenapa. Lebih baik kita berdoa yang baik-baik, untuk kelancaran persalinan Melisa! Dia harus berjuang melahirkan anak Wildan, cucu mama. Ayolah Ma, jangan seperti ini! Semoga keduanya selamat, anak Wildan juga sehat tanpa kurang satupun. Masalah ganteng atau apanya, itu semua ketentuan dari Allah. Tapi insya Allah, anak biasanya mengikuti juga dari ibu bapaknya," ucap Wildan dan Mama Risma akhirnya terdiam.
"Ya udah, ayo kita ke sana! Wildan harus kasih berkas ini, agar Melisa bisa segera di operasi," ajak Wildan.
Kasihan Mawar. Saat ini dia hanya sendiri di rumah. Tak ada makanan apapun yang bisa dia makan. Wildan tak mempedulikannya. Dia hanya fokus kepada kelahiran Melisa. Pergi begitu saja membawa Melisa ke bidan. Baik Wildan maupun Melisa tak ada yang ingat memberikan Mawar uang. Hingga akhirnya Mawar berniat, untuk mendatangi rumah Jihan. Hanya Jihan, harapannya.
Awalnya, Mawar merasa takut berjalan sendiri ke rumah Jihan. Namun, dia tak bisa menahan rasa lapar yang dia rasakan saat itu. Dia terpaksa, demi sesuap nasi. Di Jakarta, Mawar hanya mengenal Jihan. Dengan tertatih, akhirnya Mawar sampai di depan rumah Jihan. Mendengar bunyi bel, sang security langsung melihat tamu yang datang.
"Assalamualaikum. Maaf Pak menggangu. Tante Jihan ada gak ya? Saya mau minta tolong ketemu sama Tante Jihan," ucap Mawar.
Tubuhnya sudah terasa lemas. Matanya mulai kunang-kunang. Sang security belum menjawab, Mawar sudah jatuh pingsan membuat sang security merasa tak tega. Hingga akhirnya dia langsung membuka pintu pagar, dan menggendong tubuh mungil Mawar ke dalam rumah.
__ADS_1
"Tolong panggilkan Bu Jihan, anak ini jatuh pingsan. Tadi dia sempat bicara, mau bertemu Bu Jihan. Ini cara menyadarkannya gimana ya?" sang security tampak bingung.
"Enggak ibunya, gak anaknya. Kerjanya nyusahin Bu Jihan terus. Kasihan Bu Jihan," sahut Bi Sumi. ART yang setia sama Jihan, sangat tahu perjalanan Jihan dengan Wildan, dan Melisa.
"Bu Jihan lagi sama Pak Affan. Gak enak, kalau ganggu. Takutnya lagi sayang-sayangan. Coba kita sadarkan saja," ucap Bi Sumi lagi.
Mereka mencoba menyadarkan Mawar, dari pingsannya dengan menggunakan minyak angin. Perlahan, Mawar membuka matanya. Kepalanya terasa sakit. Wajahnya terlihat pucat. Mawar memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Minum dulu ini teh hangatnya!" ucap Bi Sumi. Dia menjadi tak tega melihat Mawar. Namun, jika mengingat kelakuan ibunya. Bi Sumi sangat membenci Mawar.
"Makasih," ucap Mawar. Suaranya masih terdengar lemas.
"Kamu mau ngapain ke sini? Mau ganggu Bu Jihan lagi? Disuruh mama kamu ya, biar Bu Jihan kasihan, dan akhirnya memaafkan kesalahan mama kamu?" sindir Bi Sumi.
"Demi Allah gak, Bu. Ini keinginan aku saja, karena perut aku lapar. Mama Melisa ingin melahirkan, dibawa ke bidan tadi sama Papa Wildan. Mereka tak meninggalkan aku makanan, dan uang. Tadi, aku sempat bertahan. Tapi, lama kelamaan perut aku tak bisa tertahan lagi. Makanya, aku memutuskan untuk menemui Tante Jihan. Hanya Tante Jihan yang bisa menolong aku, di sini aku gak memiliki sanak keluarga," ungkap Mawar.
"Ya ampun, keterlaluan banget ibu sama bapak kamu. Pasti mereka itu berpikir, kamu pasti akan ke sini. Makanya, mereka itu sengaja. Awas saja, kalau kamu bersekongkol mengusik hidup Bu Jihan. Bu Jihan itu sudah sangat baik sama kamu, jangan kecewakan dia," ucap Bi Sumi.
__ADS_1