
Affan dan Jihan sudah bersiap-siap untuk berangkat berbulan madu. Mereka akan melakukan perjalanan selama tujuh hari, sesuai kesepakatan mereka berdua. Keduanya tampak bahagia. Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta.
Inilah saat yang mereka nanti. Mereka berharap, setelah pulang dari berbulan madu. Mereka akan mendapatkan kejutan, kalau Jihan sudah berbadan dua. Selain doa yang selalu mereka panjatkan, mereka juga akan berjuang keras untuk melakukannya.
Kini mereka sudah berada di dalam pesawat, dalam penerbangan menuju Singapura. Jihan tampak meletakkan kepalanya di pundak sang suami, dan Affan terlihat menggenggam tangan sang istri. Jihan mulai mencintai Affan, dan melupakan Wildan.
"Apa kamu berbahagia?" Bisik Affan di telinga sang istri.
__ADS_1
"Tentu saja, Mas! Makasih ya Mas untuk semuanya! Aku sangat bahagia!" Ungkap Jihan.
Affan memang berniat ingin selalu membahagiakan istrinya. Mengobati luka hatinya, akibat ulah mantan suaminya. Affan hadir menjadi obat penyembuh lukanya. Menghilangkan rasa trauma yang sang istri rasakan.
Pesawat yang mereka tumpangi, akhirnya sampai di Bandar Udara International Changi Singapura. Mereka tampak bergandengan tangan dengan mesra, keluar dari bandara menuju hotel yang sudah Affan pesan untuk mereka menginap selama satu malam. Mereka tak akan lama di sana, karena harus melakukan perjalanan ke tempat lain.
Mereka kini sudah sampai di hotel di mana tempat mereka akan menginap malam ini. Sebuah hotel yang mewah yang Affan sudah pesan untuk sang istri. Mereka langsung masuk menuju kamar hotel mereka.
__ADS_1
"Makasih ya, Mas! Makasih, karena Mas telah membuktikan kepadaku. Kalau masih ada kebahagiaan di luar sana untukku. Aku kira, aku tak akan pernah mendapatkan kebahagiaan. Bahkan ini sangat luar biasa," ungkap Jihan di iringi isak tangis.
"Allah itu sayang sama kamu. Dia yang mengatur sedemikian rupa untuk kamu. Sampai akhirnya, kita bisa bersatu! Aku berjanji akan selalu membuat kamu bahagia, dan aku berjanji juga tidak akan pernah menyakiti hati kamu," ungkap Affan.
Affan melepaskan pelukannya, kini posisi mereka saling berhadapan. Netra mereka saling bertemu. Affan tampak menghapus air mata yang membasahi wajah sang istri.
"Selama aku ada di dunia ini, aku tak akan pernah membiarkan kamu menangis! Kecuali, air mata itu adalah air mata kebahagiaan. Kamu itu begitu berarti untukku. Aku sangat menyayangi kamu," ucap Affan dan Jihan tampak menganggukkan kepalanya. Affan langsung melabuhkan kecupan di pucuk kepala, kemudian kening sang istri dengan penuh kelembutan. Jihan dapat merasakan, betapa besarnya rasa cinta sang suami kepadanya.
__ADS_1
Kini wajah mereka saling mendekat, perlahan bibir mereka menyatu, dan ciuman pun terjadi. Affan mencium bibir Jihan dengan penuh kelembutan. Semakin lama, keduanya tampak menikmati ciuman itu. Keduanya tampak terhanyut dengan permainan bibir itu. Affan mengarahkan sang istri ke ranjang, tanpa menghentikan aktivitas ciuman mereka. Kini Affan sudah berada di atas tubuh Jihan. Lidah mereka saling membelit satu sama lain. Namun, hal itu tak lama. Affan menghentikan ciuman itu.
"Kita sholat dan berdoa dulu, sebelum kita melakukannya kembali! Semoga Allah memberikan kepada kita keturunan yang sholeh atau sholeha!" Ucap Affan dan Jihan mengiyakan.