
"Mas, kita sewa apartemen saja. Setahu aku, teman aku di sewakan pacarnya cuma 3 juta kok sebulannya. Enggak mahal. Kan apartemen fasilitasnya lengkap, bisa bebas juga kita melakukan apapun," pinta Melisa manja.
"Iya, tapi nanti ya! Belum bisa sekarang. Aku baru bisa menyisihkan uang untuk kamu, mulai bulan depan. Ini juga aku lagi mikir, alasan apa yang harus aku ucapkan kepada Jihan. Agar Jihan mengerti, jatah uang untuknya berkurang." Wildan mencoba memberi pengertian kepada Melisa.
Setelah percintaan panasnya dengan Melisa, sikap Wildan kepada Melisa langsung berubah. Dia tak lagi bersikap sinis kepada Melisa. Tentu saja hal itu membuat Melisa merasa menang. Melisa berhasil menggoda Wildan, meruntuhkan pertahanan Wildan. Dia berhasil menguasai Wildan.
"Ya sudah, tapi kosannya yang pakai AC ya Mas! Kalau kita bercinta kan nanti enggak kegerahan," pinta Melisa lagi, dan Wildan pun menganggukkan kepalanya.
Mereka kini sudah berada di sebuah kosan kelas VVIP. Letaknya tak jauh dari Mall tempat Melisa bekerja. Untuk uang sewa kamar di situ, setiap bulannya Wildan harus mengeluarkan uang satu juga setengah.
"Kamu kos di sini dulu saja ya! Tempatnya enak juga kok, tidak ketat. Tak ada ketentuan tidak boleh membawa laki-laki ke kamar dan dibatasi jam kunjungan," ucap Wildan dan Melisa menganggukkan kepalanya.
Tentu saja tempat ini lebih nyaman, daripada dia harus tidur di sofa. Lagi pula, dia bisa bermesraan dengan Wildan.
Melisa langsung menyerang Wildan, dia langsung memeluk tubuh Wildan.
"Mas, kita bobo siang dulu yuk! Aku ingin puas-puasin dulu, bisa bersama kamu," rayu Melisa.
Melisa langsung mendorong Wildan, hingga Wildan terjatuh ke atas kasur. Melisa langsung mencium bibir Wildan, dan **********.
__ADS_1
Wildan pun terhanyut, ciuman itu semakin menuntut lebih. Lidah mereka pun saling membelit satu sama lain. Melisa membuka kancing kemeja Wildan satu persatu. Wildan pun melakukan hal yang sama.
Kini pakaian mereka sudah terserak di lantai, keduanya sudah sama-sama dalam keadaan polos. Melisa mulai melancarkan aksinya. Lidahnya kini bermain di leher Wildan, membuat Wildan mendesah merasakan nikmat.
Lidah Melisa semakin turun, hingga kini bermain di milik Wildan. Melisa mulai memasukkan rudal Wildan ke dalam mulutnya.
"Ah, sayang enak," puji Wildan. Melisa tersenyum kala mendengar Wildan memanggil dirinya dengan panggilan sayang. Tangan Wildan semakin asyik mere*mas bukit kembar Melisa. Jika dibandingkan Jihan, bukit kembar Melisa memang lebih besar. Namun, milik Jihan pastinya lebih unggul. Karena milik Jihan masih kencang. Namun, setan kini sudah merasuki hati Wildan. Hingga dia tak takut lagi berzina dengan Melisa.
Melisa meminta Wildan memuaskan dirinya. Bergantian. Melisa kini yang membaringkan tubuhnya. Wildan tampak asyik menyusu di bukit kembar Melisa, sambil jari tangannya kini bermain di area sensitif Melisa. Membuat tubuh Melisa bergelinjang dan mendesah. Keduanya sudah di kuasai hawa nap*su di diri mereka.
"Sayang, aku mulai ya!" Ujar Wildan dan Melisa menganggukkan kepalanya.
Wildan langsung mencabut miliknya, di saat dirinya sudah akan mencapai pelepasan. Dia memilih untuk membuangnya di atas perut Melisa. Melisa merasa kesal, karena Wildan mencabut rudalnya. Padahal, dia pun sudah mau mendapatkan pelepasan. Lagi pula, jika dirinya tak hamil. Dia takut, kalau nantinya Wildan akan lebih memilih untuk bersama Jihan. Hingga akhirnya, meninggalkan dirinya.
Setelah selesai bercinta, Wildan langsung bangkit untuk mencuci miliknya yang terasa lengket. Setelah itu, Wildan langsung membaringkan tubuhnya di kasur. Masih ada waktu tiga jalma lagi
"Kok dicabut si? Aku belum keluar, orang lagi enak juga," protes Melisa menunjukkan wajah tak suka.
"Ya sudah, coba bangunin lagi! Lumayan bisa sekali lagi, sebelum Jihan pulang. Tapi nanti sebelum jam 15.00 aku harus jalan ya! Aku harus jemput Jihan di bandara. Nanti kamu pulang sendiri ya! Jangan lupa langsung pindah saja ke kosan malam ini juga! Segera pamit sama Jihan!" Ujar Wildan.
__ADS_1
"Pintar banget kamu! Aku di suruh cepat-cepat pindah biar kamu enggak ke ganggu kan bermesraan sama Jihan?" Sahut Melisa ketus.
"Enggaklah! Aku kan sudah puas sama kamu, paling nanti malam tidur. Jihan juga, biasanya kalau baru pulang gitu dia suka tidur lebih cepat. Karena selama tugas, dia suka kurang tidur. Aku seperti itu, karena merasa kasihan sama kamu. Kamu jadi tidur di sofa terus," rayu Wildan. Agar Melisa tak lagi merajuk.
Pergulatan panas pun terjadi kembali. Melisa sudah tak malu-malu lagi meminta secara terang-terangan kepada Wildan. Wildan semakin terlarut ke lembah kehancuran. Tak menyadari kalau dia sudah menggali kuburannya sendiri. Dia pikir, dia akan selalu bisa menutupi rahasia ini dari Jihan.
Melisa turun dari kasur untuk ke kamar mandi, sedangkan Wildan masih membaringkan tubuhnya di kasur, dia ingin mengirimkan pesan chat kepada sang istri. Mengatakan kalau dirinya akan menjemput dirinya. Melisa yang baru saja keluar dari kamar mandi, merasa tak suka.
"Aku akan membuat Jihan harus menunggu lama. Seperti yang dia lakukan dulu saat pertama kali aku datang ke Jakarta," ucap Melisa licik dalam hati.
"Nanti tolong bangunin aku ya jam setengah tiga. Lumayan aku mau tiduran dulu, ngantuk mata aku," ucap Wildan dan Melisa menganggukkan kepalanya. Wildan tak tahu, kalau Melisa sudah berencana licik kepada Jihan. Melisa berniat untuk menguasai Wildan.
Setelah membersihkan miliknya, Wildan langsung membaringkan tubuhnya di kasur kembali. Tak butuh waktu lama, dia pun langsung terlelap. Hal itu membuat Melisa tersenyum bahagia.
Melisa berniat mengirimkan pesan chat kepada Jihan, mengatakan keinginannya untuk menyewa kosan di dekat tempat dia bekerja. Melisa berniat meminjam uang kembali kepada Jihan, dengan alasan untuk ngekos.
"Assalamualaikum. Ta, kamu pulang kapan? Sebelumnya aku ingin meminta maaf, aku ingin meminta tolong lagi sama kamu. Kamu bisa enggak pinjami aku uang satu setengah juta untuk ngekos? Soalnya, aku lelah kalau bolak balik ke rumah kamu. Kalau aku ngekos, aku kan jadi tinggal jalan kaki saja ke tempat kerjaan. Aku juga enggak enak sama mertua kamu, kalau aku terus menerus tinggal di rumah kamu. Sepertinya dia tak suka aku tinggal di rumah kamu." Pesan chat yang Melisa kirim untuk Jihan.
Jihan tak langsung menjawabnya, karena dia sedang sibuk persiapan untuk kembali ke Jakarta. Wildan kini terlihat sudah tertidur nyenyak.
__ADS_1
Jihan sudah sampai di Jakarta, tapi sampai saat ini sang suami belum ada kabar berita. Di telepon sejak tadi tak diangkat. Bagaimana sang suami akan mengangkat telepon darinya, jika saat ini sangat suami sedang tidur berpelukan dengan wanita lain. Melisa sengaja menyeting ponsel Wildan ke model diam. Sehingga Wildan tak tahu, kalau Jihan menghubungi ponsel Wildan.