Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Mengkhianati Jihan


__ADS_3

"Emm ... itu. Iya, maaf ya. Aku tadi. Iya. Tadi itu, aku sibuk banget. Iya, benar. Tiba-tiba saja aku disuruh memimpin pertemuan dengan klien perusahaan aku," jawab Wildan gugup. Terlebih sorot mata istrinya menatapnya tajam.


"Memangnya, enggak ada waktu untuk break dulu saat azan magrib? Atau mungkin membutuhkan waktu berjam-jam kah untuk menghubungi aku? Apa susahnya si, mengirimkan pesan ke aku kalau kamu enggak sempat jemput aku. Ingat loch mas, kamu itu berurusan sama seorang auditor. Tugasnya mengaudit data yang bisa dikatakan menyimpang, sampai akhirnya terungkap apa yang sebenarnya terjadi. Sedetail apapun aku akan tahu. Jangan pikir selama ini mas baik padaku, aku tak akan mencurigai mas!" Ucap Jihan tegas.


"Mas ingatkan, saat aku bicara dulu tentang sebuah kesetiaan di dalam sebuah hubungan suami istri? Jika masalah itu, masalah ekonomi. Masalah ini bisa kita pecahkan bersama. Ini salah satunya aku tetap mempertahankan untuk bekerja. Karena aku ini memiliki mimpi, keinginan, dan aku lihat kamu itu butuh dukungan agar kita bisa mewujudkannya. Aku tak ingin membebankan ke kamu sendiri. Jadi, kalau kamu tak suka aku bekerja atau terlalu sibuk dengan pekerjaan aku, kamu itu salah besar. Karena semua ini aku lakukan demi masa depan kita bersama. Aku masih tak tega membebankan semuanya kepada kamu. Tapi maaf, jika kamu berselingkuh. Aku enggak bisa toleransi lagi. Kamu tahu kan? Aku ini berjuang keras untuk kebahagiaan kita, kalau kamu sudah tak setia, atau mengkhianati kepercayaan aku. Untuk apalagi kita bersama? Orang berselingkuh itu memiliki efek yang banyak di dalam rumah tangga. Pastinya, akan membuat hati tersakiti dan kecewa," ucap Jihan lagi. Membuat Wildan menelan salivanya. Dia berusaha untuk menutupinya.


Wildan langsung memeluk tubuh istrinya, untuk menenangkan hati sang istri yang sejak tadi terus mengoceh.


"Mana mungkin si Yang, aku seperti itu. Aku itu cinta banget sama kamu. Mana mungkin aku bisa berpaling dari kamu. Ibarat kata, kamu itu nyawa untuk aku. Jika kamu pergi dari hidupku, mati aku. Kamu itu begitu berarti untukku," ucap Wildan.


Jihan menceritakan firasat dan mimpi yang dia rasakan dan alami kemarin saat dirinya pergi. Firasat tentang ada sesuatu yang terjadi pada suaminya, dan kecurigaan dirinya kepada suami dan sahabatnya. Wildan tampak terdiam, tak mampu berkata-kata. Hingga akhirnya Wildan mengalihkan pembicaraan, dia mengajak Jihan untuk tidur. Membaringkan tubuh mereka di ranjang.


"Pokoknya, gini saja ya sayang! Kita sama-sama saling menjaga kepercayaan. Aku pun berusaha untuk percaya sama kamu untuk melakukan perjalanan dinas, karena aku yakin kalau kamu tak akan selingkuh mengkhianati cinta aku. Tapi, kalau enggak percaya pasti aku akan berpikir buruk tentang kamu. Berpikir, bisa saja kamu itu di sana bersama laki-laki lain. Banyak loch kejadian. Bilangnya tugas kantor, eh tahunya istrinya zina sama laki-laki lain. Suaminya nemuin dia satu kamar sama laki-laki lain. Semoga kita selalu dilindungi Allah. Sudah ya, jangan pikir yang macam-macam lagi ke aku," ucap Wildan dan Jihan menganggukkan kepalanya.


"Kita tidur yuk! Sudah malam! Besok pagi aku harus kerja. Kamu besok kerja enggak?" Tanya Wildan kepada sang istri.

__ADS_1


"Aku besok mau nganterin Melisa ke kosannya. Dia mau pindah katanya, mau kos di daerah sana saja yang dekat dengan tempat dia kerja. Capek katanya pulang malam terus sampe rumah. Kalau di dekat sana kan bisa jalan kaki. Aku juga bisa tenang, jadi enggak berseteru sama kamu dan mama karena membela sahabatku tinggal di sini bersama kita. Makanya, aku besok mau antar dia. Biar aku tahu, kalau nanti mau main ke tempat Melisa. Kasihan, dia di Jakarta enggak punya sanak keluarga. Hanya aku yang dianggap seperti keluarganya di sini," ungkap Jihan.


"Ya benar itu. Bagus deh, kalau Melisa seperti itu. Aku soalnya risih kalau dia terlalu lama di rumah kita. Bagaimanapun dia seorang wanita. Aku benar-benar menjaga dari hal-hal yang tak di inginkan," ucap Wildan. Padahal di belakang Jihan, mereka sudah melakukan hal itu.


Wildan mengajak Jihan tidur. Karena, semakin lama dia berbincang. Semakin Jihan bisa menyelidiki dirinya dengan Melisa. Namun, Wildan tak benar-benar tidur. Saat Jihan tidur, Wildan membuka pintu kamarnya pelan-pelan untuk menemui Melisa. Dia menuruni anak tangga secara perlahan, agar Bi Sumi tak mendengar.


Wildan menarik tangan Melisa ke kamar mandi. Dia ingin berbicara dengan Melisa. Wildan meletakkan jari telunjuknya di bibir, kode agar Melisa tak berbicara. Mereka kini sudah berada di kamar mandi.


"Ada apa si Mas ngajak aku ke sini?" Tanya Melisa kepada Wildan.


Wildan menceritakan kepada Melisa tentang kecurigaan Jihan kepadanya, dan Wildan meminta Melisa untuk berhati-hati. Dia juga menceritakan kalau Jihan besok berencana mau mengantarkan Melisa pindahan.


"Serius? Padahal, aku hanya bilang mau pindah saja loch. Enggak minta dia mengantarkan aku pindah ke kosan," sahut Melisa.


"Iya, ngapain juga aku bohong. Tadi dia sendiri yang ngomong sama aku. Ya sudahlah biarin saja! Dia juga sibuk, belum tentu ke kosan kamu. Kalau pun dia mau ke kosan kamu, pasti dia bilang ke aku," ujar Wildan dan Melisa mengiyakan.

__ADS_1


"Ya sudah, gitu saja! Aku kembali lagi ke kamar. Khawatir Jihan bangun dan mencari aku," ucap Wildan.


Namun, bukan mengerti. Melisa justru langsung mencium bibir Wildan. Hingga akhirnya Wildan terhanyut. Ciuman panas pun terjadi di kamar mandi. Bahkan bukan hanya sekadar ciuman, Melisa pun memanjakan milik Wildan. Melisa menurunkan boxer yang dikenakan Wildan, kemudian berjongkok untuk mengulum milik Wildan yang sudah menegang.


Hingga akhirnya Wildan mengerang, karena berhasil menembakkan racun miliknya ke mulut Melisa.


"Makasih ya! Ya sudah, kamu tidur ya! Aku harus kembali ke kamar. Besok kamu kerja enggak?" Ujar Wildan sambil membersihkan miliknya dan memakai celananya kembali.


"Kenapa? Mau ke kosan aku? Besok aku izin deh," ucap Melisa sambil nyengir. Dia terlihat begitu bahagia.


"Ya sudah, besok aku pulang cepat langsung ke kosan ya," ujar Wildan dan Melisa menganggukkan kepalanya.


Wildan membuka pintu kamar mandi pelan-pelan dan melihat sekitar. Dia keluar lebih dulu, setelah itu barulah Melisa keluar dari kamar mandi. Wildan kembali ke kamar, dan tidur kembali di sebelah istrinya. Tak butuh waktu lama, Wildan pun akhirnya tertidur nyenyak.


"Akhirnya, Mas Wildan jatuh ke pelukan aku. Dia sudah terkena dengan servis yang aku berikan kepadanya. Itu tandanya sebentar lagi, dia akan menceraikan Jihan, dan menikahi aku," ucap Melisa sambil tersenyum licik.

__ADS_1


__ADS_2