
Affan baru saja sampai di rumah, dia langsung mencari keberadaan sang istri. Saat itu jam menunjukkan pukul 17.00 WIB. Dia memang sengaja pulang lebih awal. Rasanya sangat berbeda, tak seperti saat dia masih hidup sendiri. Dia lebih senang menghabiskan waktunya di luar. Di apartemen hanya untuk tidur, dan saat hari libur.
Saat hari libur pun, dia kerap gunakan waktunya untuk main golf, gym, ataupun travelling. Tentunya, tanpa ada wanita di sampingnya. Semenjak kekasihnya selingkuh, dia menjadi menutup diri. Dia habiskan waktunya hanya untuk kerja dan kesenangan dirinya sendiri.
"Sudah pulang, Mas?" tanya Jihan saat baru keluar dari kamar mandi dan melihat sang suami yang baru saja masuk ke kamar. Saat itu, Jihan hanya menggunakan handuk yang dililitkan. Dia tak tahu, kalau sang suami sudah sampai rumah.
Bukannya menjawab, Affan justru berjalan menghampiri sang istri. Dia langsung melingkarkan tangannya di pinggang rampung sang istri. Harum tubuh sang istri, membuat dia bergairah. Namun, dia harus menahannya demi sang buah hati.
Jihan tersenyum, dia yakin kalau saat ini sang suami sedang menahan hasratnya. Sebenarnya, dia merasa tak tega. Tapi, mereka lakukan seperti ini demi kedua anaknya yang masih dalam kandungannya.
Affan langsung mencium bibir sang istri. Awalnya Jihan terkejut mendapatkan serangan tiba-tiba dari sang suami. Namun perlahan, dia pun ikut merespon. Affan langsung menggendong tubuh sang istri ke ranjang, tanpa melepaskan ciuman mereka. Dia tak tahan juga, saat melihat tubuh indah istrinya yang baginya semakin terlihat seksi.
"Yang, pengen! Boleh ya? Aku akan pelan-pelan melakukannya," rayu Affan dengan wajah yang memelas. Jihan pun akhirnya menganggukkan kepalanya, memperbolehkannya. Dia merasa tak tega juga melihat wajah sang suami.
Percintaan panas pun terjadi. Affan melakukannya dengan penuh kelembutan, berusaha untuk tidak mengusik kedua buah hatinya. Semenjak hamil, Jihan pun lebih bernap*su. Tentu saja membuat Affan semakin menggila, melihat istrinya bergairah.
Affan semakin tak sabar, karena dia sudah hampir mencapai kli*maks. Terlebih Jihan sudah lebih dulu mendapatkan pelepasan, membuat Affan merasakan miliknya seperti digigit. Rasa milik istrinya masih terasa enak baginya, meskipun dia tak mendapatkan perawannya.
__ADS_1
Affan langsung mencabut miliknya, saat dirinya hendak mendapatkan pelepasan. Dia memilih menembakkan racun miliknya di perut sang istri. Dia tak berani menimbulkan resiko, menumpahkan di dalam rahim sang istri. Setelah itu, dia langsung beranjak turun dari ranjang, mengambil tisu, dan membersihkan perut sang istri.
"Aku jadi mandi lagi deh," protes Jihan.
"Iya, maaf ya! Habisnya Mas gak tahan. Gimana kalau kita mandi bareng?" ucap Affan sambil memainkan alisnya.
"Gak ah, nanti yang ada Mas minta tambah lagi," sahut Jihan membuat Affan tertawa terbahak-bahak. Baginya, wajah sang istri begitu menggemaskan.
Hingga akhirnya, mereka mandi wajib secara bergantian. Karena mereka hendak sholat magrib. Setelah sholat magrib, mereka makan bersama. Namun, seperti biasanya. Dia tak nap*su makan. Perutnya terasa mual, membuat Affan merasa tak tega melihat kondisi istrinya seperti itu.
"Kamu mau makan apa? Biar aku pesankan," Affan bertanya kepada Jihan.
"Tapi, kamu butuh karbohidrat dan protein juga. Agar tubuh kamu tak lemas. Mas buatkan susu hangat ya? Mau rasa coklat apa vanila?" ujar Affan.
Kondisi mengidam Jihan memang cukup parah. Dia sampai tak bisa makan nasi. Hanya makan kentang, buah, dan sayur. Untungnya, dia suka minum susu juga. Sehingga tubuhnya tak terlalu lemas. Jihan menunggu di kamar. Affan baru saja masuk ke kamar, baru selesai membuatkan susu coklat untuk sang istri.
"Diminum dulu susunya, Yang! Vitaminnya udah di minum belum?" Affan bertanya kepada Jihan.
__ADS_1
"Belum, lupa. Nanti deh minum susu dulu," sahut Jihan. Affan selalu berusaha memperhatikan istrinya.
Kini keduanya sudah membaringkan tubuhnya di ranjang. Mereka baru saja selesai sholat isya berjamaah. Jihan terpaksa harus melepaskan pekerjaannya. Dia sudah resmi menjadi ibu rumah tangga, yang hanya mengandalkan uang dari suami. Dia ingin fokus dengan kehamilannya, dan juga mengurus kedua buah hatinya nanti setelah lahir ke dunia.
"Mas, sebenarnya ada hal yang ingin aku bicarakan sama Mas," ucap Jihan. Awalnya, dia merasa ragu untuk mengatakannya.
"Katakan saja! Mas ingin tahu," sahut Affan.
Affan tampak menyimak, ucapan demi ucapan yang dibicarakan sang istri. Dia sempat terkejut mendengarnya, karena sang istri begitu baik kepada orang-orang yang menyakiti hatinya. Sang istri masih saja mau menolong Melisa, dengan menyekolahkan Mawar sang anak. Jihan juga meminta sang suami, untuk segera membebaskan Wildan sang mantan suaminya.
"Kamu yakin ingi melakukannya? Dia itu sudah sangat jahat sama kamu. Ngapain kamu masih mau peduli sama dia. Biarkan saja, tak usah ditolong! Nanti yang ada dia memanfaatkan kebaikan kamu lagi! Awas saja nanti, kalau dia berani mengusik hidup kamu lagi! Mas gak akan tinggal diam. Mas akan membuat dia menderita. Untuk masalah Wildan, biarkan saja dulu dia mendekam di penjara. Agar mendapatkan hukuman. Agar dia merasakan balasan atas apa yang dia lakukan," ucap Affan.
"Iya Mas, aku yakin ingin menolong Mawar. Mawar tak salah dalam hal ini, dia hanya korban dari kejahatan ibunya. Dia menjadi menderita, karena ulah ibunya. Aku tak tega melihatnya, Mas. Aku hanya ingin menyekolahkan dia, bukan karena aku telah memaafkan kesalahan Melisa. Untuk masalah Mas Wildan pun, yang aku lihat hanya anak dalam kandungan Melisa," jelas Jihan. Affan hanya bisa menghela napas panjang, istrinya itu begitu baik.
"Ya sudah, kalau kamu maunya begitu. Mas ikut saja, meskipun sebenarnya dalam hati Mas menolaknya. Mas masih ingat, betapa jahatnya mereka dulu kepadamu. Namun, kamu justru tak ingin membalasnya," ucap Affan.
"Aku hanya ingin menjadi orang yang tak pendendam, selama dia tak mengusik hidupku. Apalagi sebentar lagi kita akan memiliki anak. Saat ini aku sedang hamil," jelas Jihan dan Affan akhirnya mengiyakan ucapan Jihan.
__ADS_1
Besok, dia akan membebaskan Wildan dari tuntutan hukum yang dia lakukan, sesuai permintaan sang istri. Namun sebelumnya, dia akan mengingatkan Wildan untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi. Dia akan meminta Wildan, untuk tidak mengusik kehidupan mereka lagi. Jika sampai hal itu terjadi kembali, Affan tak akan segan-segan melakukan tindakan tegas. Dia akan membuat Wildan semakin menderita. Affan juga pada akhirnya, tak melarang Jihan menyekolahkan Mawar.