Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Mengalami Kecelakaan


__ADS_3

"Wil, kamu kenapa? Kakak perhatikan wajah kamu seperti ada yang sedang dipikirkan? Kamu lagi ada masalah?" tanya Kak Vanya, kakaknya Wildan.


"Enggak Kak, aku baik-baik aja kok. Kakak tak perlu khawatirkan aku!" jawab Wildan. Dia memegang pundak sang kakak sambil menepuk-nepuk pundaknya.


Wildan tak ingin menambah pikiran sang kakak. Dia memilih menyimpan permasalahannya sendiri.


"Aku berangkat dulu ya, Kak! Assalamu'alaikum," ucap Wildan.


Dia pergi ke kantor dengan mengendarai sepeda motor yang dia beli secara kredit. Wildan melajukan motornya menuju kantor tempat dan bekerja.


Setelah dia mengetahui, kalau dirinya mandul. Wildan memang menjadi kepikiran. Dia semakin tak bersemangat hidup. Terlebih melihat istrinya hidup bahagia dengan laki-laki lain. Ada perasaan iri di benaknya.


Brug!


"Akhh ...." Wildan berteriak.


Kecelakaan tak dapat dihindari. Wildan terlihat mengendarai sepeda motor sambil melamun, hingga dia tak melihat mobil dari berlawan arah. Wildan terlempar dari motor, dan kakinya terlindas mobil di depan. Mobil itu langsung berhenti. Jika tidak, mungkin hal yang paling buruk akan terjadi. Tubuhnya akan terlindas semuanya.


Wildan langsung tak sadarkan diri. Dia jatuh pingsan. Lalu lintas di tempat kejadian menjadi ramai. Wildan langsung dilarikan ke rumah sakit, untuk mendapatkan pertolongan. Wildan mengalami luka parah.


Tim medis mencoba menyelamatkan nyawanya. Nyawanya bisa terselamatkan. Namun, kakinya harus diamputasi karena mengalami kerusakan pada tulangnya. Dia juga akan mengalami kelumpuhan, mulai dari pinggang hingga kaki.


"Apa, adik saya kecelakaan?"


Sang kakak begitu terkejut mendengar sang adik mengalami kecelakaan, dan saat ini berada di rumah sakit. Berdasarkan hasil penyelidikan, pihak Wildan tak bisa menuntut pengemudi mobil sepenuhnya. Karena berdasarkan hasil pemeriksaan CCTV jalanan, pihak Wildan yang bersalah. Namun, mobil itu tak bisa langsung menghindar. Dia telat mengerem, hingga kaki Wildan sempat terlindas.


Vanya merasa bingung, karena dia memiliki anak yang masih kecil. Dengan sangat terpaksa, dia harus membawanya. Selama dalam perjalanan Vanya tampak menangis, dia merasa sedih dengan apa yang dialami sang adik secara bertubi-tubi.


Padahal dulu, saat sang adik masih bersama Jihan tampak baik-baik saja. Hidup bahagia, tak ada permasalahan hidup.


"Kamu sih Wil, segala selingkuh. Jadinya begini 'kan? Hidup kamu begitu menderita. Cobaan demi cobaan silih berganti. Kamu menggali kuburan sendiri sih," ucap sang kakak dalam hati.

__ADS_1


Perlahan, Wildan membuka matanya. Dia tampak histeris, karena tubuh dan kakinya tak dapat di gerakkan. Saat itu, sang kakak baru saja sampai di rumah sakit.


"Tenang, Wil! Istighfar!" sang kakak mencoba mengingatkan sang adik. Meskipun saat itu pun, dia terlihat ikut menangis.


"Bagaimana Wildan bisa tenang Kak, Wildan lumpuh, Wildan cacat. Kaki Wildan harus diamputasi. Lebih baik Wildan mati saja, daripada hidup tak ada gunanya. Nantinya hanya menyusahkan kakak, menambah beban kakak," ungkap Wildan di iringi isak tangis.


Perasaan dia saat itu begitu hancur. Wildan begitu sedih. Sang kakak langsung memeluk sang adik, mencoba menguatkan sang adik.


"Kamu harus bersyukur Wil, karena Allah masih memberikan kamu kesempatan untuk hidup! Kamu harus sabar, ini ujian dari Allah! Kita coba lewati bersama. Selama ini, kamu banyak berjuang untuk kakak. Kini giliran kakak yang merawat kamu. Kamu harus kuat, cobalah meminta ampun kepada Allah! Memang, ini sangat berat untuk kamu. Tapi, yakinlah. Kalau semua ini adalah ketentuan Allah. Kamu harus mengikhlaskannya!"


Wildan tampak diam, meskipun sebenarnya dia belum bisa menerima kenyataan ini. Dia tak memiliki semangat hidup lagi. Hidupnya sudah benar-benar hancur.


Dokter menyarankan untuk melakukan tindakan operasi. Sang kakak tampak bingung, karena mereka tak memiliki uang.


"Biarkan saja kak, aku tak usah di operasi! Lebih baik aku mati saja secara perlahan," ucap Wildan yang saat itu mendengar ucapan sang dokter.


"Hush, jangan bicara seperti itu! Kakak tak akan membiarkan hal itu terjadi. Kakak coba cari pinjaman dulu, sambil menawarkan rumah. Kita jual saja, kita mengontrak bulanan saja. Lumayan, hasil jual rumah itu. Bisa kakak gunakan untuk modal usaha. Yang penting, kita masih bisa bertahan hidup!"


Berbeda halnya dengan mantan suaminya. Jihan justru terlihat sedang sibuk menyiapkan acara empat bulanan kehamilan dia. Saat ini dia sedang bersama dengan ibu mertuanya. Acara empat bulanan baby Sultan, akan diadakan sangat mewah.


Kedua orang tua Affan merasa bahagia menyambut kelahiran kedua cucunya. Acara empat bulanan, akan mengusung adat Jawa. Bahkan acara itu akan di liput di TV, karena keluarga Affan berasal dari keluarga terkemuka.


Bukan hanya pejabat saja yang datang. Mereka juga akan mengundang ibu-ibu pengajian, dan Anak-anak dari panti asuhan untuk ikut berbahagia bersama mereka. Acara itu akan diadakan di kediaman orang tua Affan, karena orang tua Affan memiliki rumah yang lebih luas untuk menampung banyaknya tamu undangan.


"Ma, apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Jihan kepada sang ibu mertua.


"Tentu saja tidak, Sayang! Acara ini akan ditayangkan secara live di TV. Papa begitu bahagia, karena akan mendapatkan dua orang cucu. Cucu yang selalu dinanti-nantikan. Makasih ya Sayang, akhirnya kamu bisa mewujudkan keinginan kami. Kamu tahu tidak? Affan itu rela gak menikah, demi menunggu jandanya kamu. Hahahaha. Dia cerita sama mama. Untung saja, suami kamu selingkuh. Jadinya, kamu bercerai sama dia," ungkap sang ibu mertua. Jihan tampak tersenyum mendengarnya.


Ya, Affan memang begitu tergila-gila dengannya. Namun, dia masih waras. Sehingga dia lebih memilih memendamnya, tidak merusak hubungan Jihan dan Wildan.


"Assalamualaikum. Mama di sini?" Sapa Affan.

__ADS_1


Affan baru saja pulang. Dia langsung menghampiri dua orang wanita yang dia sayangi. Affan mencium tangan sang mama terlebih dahulu. Setelah itu, dia langsung duduk di sebelah Jihan. Jihan pun langsung mencium tangan sang suami.


Tangan Affan tampak mengusap punggung Jihan. Dia selalu menunjukkan kemesraannya kepada Jihan.


Mereka langsung membahas masalah persiapan acara empat bulanan kemarin. Affan menyerahkan sepenuhnya kepada Jihan dan sang mama. Baik dalam hal dekorasi, maupun catering untuk jamuan para tamu undangan yang nanti datang.


Makanan yang disediakan pastinya beraneka ragam. Affan juga akan menyiapkan amplop untuk semua anak yatim piatu yang akan datang ke acara itu. Dia ingin mengajarkan sang anak bersedekah sejak dalam kandungan. Bukan hanya kemewahan yang mereka perlihatkan, tapi mereka bertujuan untuk berbagi, dan berbahagia bersama keluarga besarnya.


"Ya sudah, Mama pulang dulu ya! Jihan besok mama jemput jam 10.00 ya! Kita ke EO milik anaknya teman mama. Biar kamu bisa mengobrol masalah konsep acara nanti, dan memilih menu makanan. Catering yang bekerja sama dengan dia, masakannya enak," ucap sang ibu mertua dan Jihan mengiyakan.


Dia bersyukur memiliki ibu mertua yang baik dan perhatian kepadanya. Terlebih saat seperti ini, dia semakin di sayang. Jihan dan Affan mengantarkan sang mama sampai ke mobil.


Setelah sang mama pulang, barulah mereka ke kamar. Affan tampak merangkul sang istri.


"Aku mandi dulu ya! Setelah ini, baru kita mengobrol," ucap Affan dan Jihan menganggukkan kepalanya.


Affan sudah terlihat segar, teh manis hangat pun sudah tersedia. Di dalam kamar Jihan, terdapat dispenser, gelas, sendok kecil, teh, gula, dan juga kopi kemasan. Sekarang, mereka memang sengaja sedia. Agar tak perlu repot-repot turun ke bawah.


"Mama tadi lama di sini?" Affan bertanya Jihan.


"Iya, lumayan lama. Soalnya, membahasnya sekalian. Kasihan 'kan kalau mama bolak-balik kesini terus. Kata mama, nanti acara ini akan diadakan secara live di stasiun TV. Aku jadi malu," ujar Jihan.


"Loh, kenapa harus malu? Justru harusnya kamu bangga, karena biar orang tahu siapa kamu sekarang. Kalau perlu, mantan suami kamu juga biar lihat. Kamu pantas mendapatkannya sayang. Lagipula, Baby kita ini Baby Sultan," ucap Affan di akhir gelak tawa. Dia geli sendiri, mendengar julukan untuk kedua anaknya.


Adzan sholat magrib sudah berkumandang. Jihan dan Affan bersiap-siap untuk sholat magrib berjamaah. Setelah sholat, barulah mereka makan. Untungnya sekarang, Jihan tak ada drama mual lagi. Dia sudah terlihat lebih segar, dan justru auranya lebih terlihat. Lebih terlihat cantik. Membuat Affan semakin cinta.


Mereka sudah selesai makan, dan kini sedang duduk bersantai makan buah yang di potong oleh Jihan. Sambil menikmati siaran TV.


Alangkah terkejutnya Jihan dan Affan, saat melihat tayangan berita TV yang memperlihatkan kejadian kecelakaan yang terjadi pada Wildan.


"Astaghfirullahalazim, kasihan banget Mas Wildan. Kakinya sampai kelindas mobil gitu," ucap Jihan spontan.

__ADS_1


"Iya, kasihan. Pasti patah itu kakinya, bisa lumpuh," Affan ikut komentar. Jihan hanya mengiyakan ucapan suaminya.


__ADS_2