Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Merasa Menang


__ADS_3

"Akhirnya, Melisa menikah dengan laki-laki yang kaya. Kehidupan aku tak lagi susah, aku bisa mendapatkan uang dari Melisa. Tapi, kenapa laki-laki itu wajahnya tak asing ya? Wajahnya, seperti suaminya Jihan," ucap sang ibu di dalam hati. Dia berniat menanyakannya kepada sang anak nanti.


Berbeda halnya dengan Melisa yang terlihat bahagia bersama Wildan, Jihan justru sedang merapihkan potongan kaca dari bingkai yang pecah. Foto pernikahannya dengan Wildan tiba-tiba saja jatuh. Semua terjadi begitu saja, tanpa tahu penyebab kenapa bisa terjatuh.


"Ya Allah, kenapa perasaan aku tak enak. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa tiba-tiba saja bingkai itu jatuh? Semoga saja, ini bukanlah sebuah pertanda yang buruk untuk pernikahan aku dengan mas Wildan," ucap Jihan.


Setelah acara akad nikah selesai, Mama Risma langsung pamit untuk pulang. Dia mau pulang dulu ke rumah, besok dia akan kembali lagi. Mama Risma akan pulang bersama sang anak. Wildan mengantarkan sang mama sampai lobby, sampai sang mama pergi meninggalkan apartemen.


Mama Risma sudah pergi, Wildan kembali ke unit apartemen yang dia sewa. Sesampainya di apartemen, Wildan langsung ke kamar mandi. Saat Wildan ke kamar mandi, sang ibu menarik tangan sang anak untuk menanyakan jawaban dari pertanyaan di hatinya.


Ibu dari Melisa sempat melihat Wildan, saat Wildan dan jihan pulang kampung waktu itu. Tetapi, Wildan yang sekarang sudah banyak perubahan. Tiga tahun belakangan ini, justru orang tua Jihan yang datang ke Jakarta. Saat menikah pun, Jihan dan Wildan menikah di Jakarta. Agar teman-teman Jihan dan juga Wildan bisa hadir di acara pernikahan mereka.


"Ada apa sih bu, narik-narik tangan Melisa gini? Bicara saja bu, tak perlu seperti ini," protes Melisa kepada sang ibu, saat sang ibu menarik tangannya.


"Ibu mau tanya sama kamu. Kenapa suami kamu wajahnya mirip dengan suaminya Jihan?" bisik sang ibu.


Senyuman melengkung di sudut bibirnya, dia terlihat senang mendengar penuturan sang ibu. Tentang pertanyaan, kenapa suaminya mirip dengan suami Jihan. Inilah saatnya baginya, menunjukkan kemenangannya berhasil mengalahkan Jihan. Dia merasa menang, karena berhasil merebut suami sahabatnya.

__ADS_1


"Emang Mas Wildan itu suaminya Jihan," sahut Melisa dengan tak tahu malu. Ucapan Melisa membuat mata sang ibu membulat dengan sempurna.


"Pasti ibu terkejut kan mendengarnya? Mas Wildan lebih memilih aku dibandingkan Jihan, makanya dia menikahi aku. Tapi, untuk sementara waktu. Pernikahan ini dirahasiakan dulu dari Jihan. Setelah itu, Mas Wildan akan menceraikan Jihan, dan menjadikan aku istri sahnya satu-satunya. Kali ini aku menang, dan unggul dari Jihan. Jihan itu mandul bu, tak bisa memberikan keturunan untuk Mas Wildan. Asal ibu tahu, saat ini aku sedang hamil anak Mas Wildan, adik untuk Mawar," ucap Melisa tersenyum penuh kemenangan. Dia tampak mengusap perutnya.


"Apa? Jadi kamu hamil duluan? Kok kamu tega si sama Jihan? Bukannya kata kamu, Jihan baik sama kamu?" Ujar sang ibu.


"Aku capek Bu hidup susah terus! Lagipula, Mas Wildan laki-laki yang sempurna. Selama ini Jihan selalu lebih unggul dariku, dan kali ini aku ingin lebih unggul darinya. Ternyata Allah mendukungku, hingga akhirnya hari ini aku resmi menjadi istri Mas Wildan, dan kami akan hidup bahagia. Ibu tenang saja, tak perlu khawatir! Justru, ibu akan hidup senang setelah ini. Kita enggak akan hidup susah lagi bu, kehidupan ibu di kampung tak akan kalah dengan orang tua Jihan," ucap Melisa.


"Tapi, gimana kalau orang tua Jihan tahu kalau kamu merebut suami anaknya. Taro di mana muka Ibu? Pasti satu kampung akan membenci ibu, karena mendukung kamu," sahut sang ibu.


"Ibu tenang saja! Setelah Jihan dicerai sama Mas Wildan, dia akan Mas Wildan usir dari rumah itu, dan aku akan membawa ibu dan juga Mawar ke kota. Ibu tinggal bersama aku di Jakarta. Ibu sabar dulu ya! Itu Mas Wildan keluar, kita putus dulu ya bu obrolan kita! Aku enggak mau Mas Wildan tahu obrolan kita," ucap Melisa dan sang ibu menganggukkan kepalanya.


"Mawar, mama pergi dulu ya sama Papa Wildan. Besok mama pulang, dan kita besok jalan-jalan ke mall ya! Mawar sama nenek dulu ya!" Ujar Melisa, dia mencoba memberikan pengertian kepada sang anak.


Wildan terlihat cuek kepada Mawar, tak seperti papa sambung pada umumnya yang mencoba dekat dengan anak sambungnya. Tapi, Melisa berusaha untuk sabar. Melisa yakin, seiringnya jalan Wildan akan menyayangi sang anak. Namun, semuanya butuh proses.


"Ibu enggak apa-apakan di apartemen hanya berdua Mawar? Besok aku pulang kok bu. Besok kita jalan-jalan ke mall ya. Bukan begitu Mas Wildan?" Ujar Melisa kepada sang ibu.

__ADS_1


"Iya, kamu enggak usah khawatir! Urusan Mawar, serahkan sama ibu saja! Kalian nikmati saja malam pertama kalian," ucap sang ibu dan Melisa mengiyakan.


"Ya, sudah! Aku siap-siap dulu ya bu!" Ucap Melisa dan sang ibu mengiyakan.


Melisa langsung berganti pakaian, melepas kebaya yang dia kenakan. Dia juga membersihkan makeup yang masih menempel di wajahnya. Wildan pun sudah berganti pakaian yang santai.


"Melisa berangkat ya, bu!" Ucap Melisa sambil mencium tangan sang ibu, dan Mawar mencium tangannya. Wildan pun melakukan hal yang sama. Namun, sikap Wildan sangat berbeda kepada ibunya Melisa. Dia lebih terlihat dingin, tak sedekat dengan ibunya Jihan. Rasa cintanya Wildan kepada Melisa pun sangat berbeda, tak seperti kepada Jihan.


Melisa tampak menggandeng tangan Wildan keluar dari unit apartemennya menuju parkiran mobil yang berada di basement. Setelah itu, Wildan langsung melakukan mobilnya menuju kosan Melisa tinggal.


Kini mereka sudah dalam perjalanan. Melisa terlihat mengabadikan kebersamaan mereka selama perjalanan dalam sebuah foto. Dia juga terlihat manja kepada Wildan. Sedangkan Wildan justru terlihat dingin. Membuat Melisa merasa kesal. Seakan Wildan tak menyukai pernikahan ini.


"Kamu tak suka ya mas dengan pernikahan ini?" Tegur Melisa.


"Sudahlah Mel, jangan bahas seperti ini! Kalau aku tak menyukainya, aku tak mungkin menikahi kamu. Jangan terlalu banyak menuntut yang sulit untuk aku lakukan!" Sahut Wildan.


"Apa? Aku banyak menuntut kata Mas? Aku ini istri Mas, dan aku saat ini sedang mengandung anak Mas? Apa aku salah, meminta sedikit perhatian kamu ke aku?" Protes Melisa.

__ADS_1



__ADS_2