Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Pertemuan dengan Mama Risma


__ADS_3

"Hari ini aku akan membawa mama bertemu dengan kamu. Untuk membicarakan masalah pernikahan kita. Nanti, kita menikah di Jakarta saja! Ibu kamu dan anak kamu yang ke sini!" Ujar Wildan, dan Melisa mengiyakan.


Dia harus mengerti posisi dia saat ini. Wildan mau menikahi dirinya saja, sudah syukur. Nanti, kalau Wildan sudah bercerai dengan Jihan. Dia akan membawa Wildan ke kampungnya, agar orang di kampungnya tahu kalau dia lebih unggul dari Jihan. Pemikirannya salah besar, justru nantinya orang akan membenci dia. Jika orang-orang tahu kalau, kalau dia menjadi pelakor di rumah tangga sahabatnya sendiri.


"Jam berapa mas kesininya? Ketemu di kosan apa di luar?" Tanya Melisa.


"Dua jam lagi, aku akan pergi bersama mama. Kamu siap-siap ya! Nanti aku jemput kamu, terus kita makan di luar ya," sahut Wildan.


Rencananya, dia ingin beralasan kepada sang istri. Dengan mengatakan, kalau sang mama meminta antar ke rumah saudaranya. Saat ini Jihan sedang belanja ke pasar dengan Bi Sumi.


Wildan mendatangi kamar sang mama, dan menyuruh sang mama untuk bersiap-siap untuk berangkat menemui Melisa. Mama Risma tampak bersemangat ingin bertemu dengan Melisa.


"Ya sudah! Wildan juga mau siap-siap dulu ya! Nanti, kalau Jihan nanya bilang saja kita mau bertemu keluarga mama. Ada acara keluarga. Untuk sementara, jangan sampai Jihan tahu dulu rencana pernikahan aku ini sama Melisa," ujar Wildan dan sang mama mengiyakan. Meskipun dia sebenarnya ingin Jihan tahu, agar Jihan segera bercerai dengan anaknya.


Wildan sudah terlihat rapi dan segar. Dia sudah selesai bersiap-siap, hanya tinggal berangkat saja. Jihan baru saja sampai di rumah, dia terkejut melihat sang suami yang sudah terlihat rapi dan mau pergi. Ibu mertuanya pun sama, sudah terlihat siap untuk berangkat. Sama halnya dengan sang suami.


"Kamu mau kemana Mas?" Tanya Jihan kepada sang suami.

__ADS_1


"Ini, mama minta anterin aku ke acara keluarga. Ngomongnya dadakan. Aku berangkat dulu ya sayang! Secepatnya, aku akan pulang. Kalau acaranya sudah selesai," ucap Wildan bohong.


Jihan masih bengong, saat Wildan memberikan kecupan di pipinya. Sampai Wildan bertanya kepadanya, kalau Jihan tak masalah dia tinggal pergi. Jihan pun tak mungkin melarang, tapi dia kecewa karena sang ibu mertua ataupun Wildan tak basa-basi mengajak dirinya berkumpul keluarga ibunya.


"Oh, ya sudah!" Sahut Jihan. Hingga akhirnya Wildan dapat bernapas lega, karena Jihan percaya padanya. Tak banyak bertanya kepadanya.


"Aku berangkat dulu ya, Sayang!" Pamit Wildan kepada sang istri, dan Jihan pun hanya. menganggukkan kepalanya.


Jihan hanya bisa menatap kepergian ibu mertuanya dan juga suaminya meninggalkan rumah mereka. Namun, akhirnya dia tak ingin mengambil pusing. Dia berniat ingin ke salon untuk melakukan perawatan diri, memanjakan dirinya.


"Bi, ini tolong rapikan ke dalam kulkas ya! Ibu enggak jadi masak, bapak sama ibunya pergi. Hari ini enggak usah masak, Bi! Paling mereka pulang sore atau malam, sayang nanti jadi mubazir. Bibi kalau lapar, nanti masak saja ya untuk Bibi! Ibu mau ke salon dulu," ucap Jihan kepada sang ART. Bi Sumi mengiyakan.


Setelah itu, dia langsung masuk ke dalam salon, dan memesan paket yang di inginkan. Jihan membutuhkan waktu kurang lebih 3-4 jam. Jihan masih harus menunggu, saatnya giliran. Dia berniat untuk menghubungi sahabatnya, semenjak pindah ke kosan Melisa tak ada kabarnya. Semoga seorang sahabat, Jihan merasa khawatir. Mengingat Melisa tak memiliki sanak keluarga di Jakarta.


Mendengar ponselnya berdering, Melisa langsung mengambil ponselnya. Dia mengira kalau yang menghubungi dirinya, adalah Wildan. Ternyata Jihan sang sahabat. Dengan perasaan malas, akhirnya Melisa mengangkat telepon dari Jihan.


"Assalamualaikum," Jihan menyapa lebih dulu sang sahabat.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," sahut Melisa. Saat itu Melisa sudah meriasnya wajahnya sangat menor, dan juga sudah terlihat rapi. Dia hanya tinggal menunggu Wildan menjemput dirinya.


"Gimana kabar kamu, Mel? Kerjaan lancar? Sibuk ya? Enggak pernah ada kabar? Kamu mau pergi ya sudah cantik?" Jihan bertanya kepada sang sahabatnya.


"Alhamdulillah kabar aku baik. Kerjaan juga lancar. Aku lagi sibuk banget, Ta. Makanya, aku sampai enggak sempat hubungi kamu. Kalau lagi kerja kan enggak bisa main ponsel, di letakkan di loker ponselnya. Pulang kerja kadang sudah capek, enggak enak juga chat kamu kalau terlalu malam. Takutnya kamu sudah tidur sama suami kamu. Iya, Ta. Ini aku lagi nunggu di jemput, alhamdulillah aku sudah punya calon pengganti bapaknya Mawar," ungkap Melisa.


Dengan tak tahu malu, Melisa mengatakan kalau dia sudah mendapatkan calon pengganti bapaknya Mawar kepada Jihan. Padahal laki-laki yang dimaksud dia itu suami dari sahabatnya sendiri. Dengan tak punya hati dia merebut suami sahabatnya.


"Alhamdulillah. Aku senang dengarnya, Mel. Semoga calon suami kamu yang sekarang baik dan sayang sama Mawar. Kehidupan kamu dan Mawar bisa lebih baik lagi," ucap Jihan.


Obrolan mereka harus terhenti, karena saatnya Jihan di panggil. Dia pamit, kalau dia mau pijat lulur dulu sama spa. Mendengar ucapan Jihan, Melisa merasa panas.


"Sekarang, kamu bisa menikmati hidup kamu. Bergaya hidup mewah. Tapi, aku pastikan semua akan terhenti. Aku yang akan menggantikan posisi kamu, Ta. Menjadi Nyonya Wildan, apalagi sekarang aku lagi hamil anaknya. Kamu enggak tahu kan? Laki-laki yang kamu doakan tadi itu, adalah suami kamu sendiri. Dia akan yang akan menjadi suami aku, ayah sambung dari Mawar anakku," ucap Melisa dengan sombongnya.


Wildan sudah sampai di kosan Melisa, dia langsung memarkirkan mobilnya. Kemudian, dia langsung menghubungi Melisa, dan meminta dia untuk segera keluar menemui dirinya. Mereka akan langsung pergi mencari tempat makan yang enak untuk mengobrol.


"Iya, Mas. Tunggu ya! Aku keluar sekarang," ucap Melisa. Sebelum keluar dari kamarnya, dia coba lihat penampilannya dulu. Setelah itu barulah dia keluar menghampiri mobil Wildan. Kemudian, dia langsung masuk ke dalam mobil. Melisa langsung mencium tangan ibunya Wildan. Melisa duduk di kursi bagian kedua, karena Mama Risma duduk di depan di sebelah Wildan. Setelah itu, Wildan langsung melajukan mobilnya menuju rumah makan Sunda yang akan di tuju.

__ADS_1


"Hai Mel, gimana kabar kamu? Gimana kehamilan kamu?" Tanya Mama Risma.



__ADS_2