Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Berbohong


__ADS_3

"Mas Wildan kemana si? Kok enggak ada kabar si? Aku telepon berkali-kali, enggak di angkat. Di chat, enggak di balas. Sebenarnya, ada apa si? Tadi dia bilang mau jemput aku, kenapa sampai sekarang belum datang juga. Biasanya, tak pernah seperti ini." Jihan bermonolog.


Kini Jihan beralih ke pesan chat dari Melisa.


"Waalaikumsalam. Iya, Mel. Aku transfer ya! Tapi, sekarang kamu masih di rumah aku kan belum pindah? Maaf ya, gara-gara ada mamanya Mas Wildan kamu jadi harus tidur di luar. Iya, si menurut aku itu lebih baik. Jadi, kamu enggak capek di jalan. Kalau kos di daerah sana kan, bisa lebih santai. Tinggal jalan kaki saja." Jihan membalas pesan chat dari Melisa. Dia juga sudah mentransfer uang yang Melisa pinjam darinya.


Bagi Jihan, keputusan Melisa untuk kos itu yang terbaik. Karena selama ini dia merasa serba salah. Mertua dan suaminya menunjukkan rasa tak suka, dengan kehadiran Melisa di rumahnya. Namun, dia merasa tak enak, jika bicara kepada Melisa. Kalau suami dan mertuanya merasa tak suka dengan hadirnya dia di rumah mereka.


Karena sang suami tak juga ada kabar berita, akhirnya Jihan memutuskan untuk pulang sendiri dengan menggunakan taksi online. Terlihat sekali kekecewaan di wajahnya.


"Kamu lagi apa si Mas? Kok kamu sampai lupa untuk menjemput aku. Harusnya, kalau kamu tak sempat menjemput aku. Kamu bilang! Jangan buat aku menunggu seperti sekarang ini," ucap Jihan dalam hati. Mata Jihan kini mengarah ke luar jendela. Memandang jalanan.


Jihan sudah sampai di depan rumah, dia langsung turun dari mobil dan mengambil koper miliknya yang dia letakkan di bagasi mobil taksi onlinenya. Kemudian berjalan mendekati pagar, dan menekan bel rumah. Mendengar bel berbunyi, Bi Sumi langsung bergegas untuk melihat gerangan yang datang. Ternyata sang majikan yang baru pulang dari tugas luar kota.


"Assalamualaikum, Bi." ucap Jihan.


"Waalaikumsalam, Bu," sahut sang ART.


Sang ART langsung membuka pintu pagar, agar sang majikan bisa masuk.


"Bapak belum pulang ya Bi? Keadaan rumah gimana? Aman?" Tanya Jihan kepada sang ART.

__ADS_1


Mendengar Jihan menanyakan tentang Wildan dan juga menanyakan keadaan rumah. Bi Sumi jadi teringat kecurigaan dirinya terhadap Wildan dan juga Melisa. Namun, Bi Sumi merasa tak tega mengungkapkan apa yang dia rasa saat ini.


"Belum Bu, tadi pagi berangkat kerja. Biasanya, bapak jemput ibu. Kalau ibu pulang dari luar kota," sahut Bi Sumi.


Jihan tersenyum getir, tiba-tiba saja hatinya terasa sakit saat mendengar ucapan Bi Sumi. Firasat hatinya semakin menjadi. Namun, dia berharap kalau ini hanyalah perasaan kecewa karena sang suami tak sempat menjemputnya.


"Kamu tak boleh berpikir macam-macam tentang suami kamu! Nantinya kamu akan menjadi curiga yang tak beralasan kepada suamimu. Padahal, kenyataannya belum tentu benar," ucap Jihan dalam hati.


Jihan berpapasan dengan sang ibu mertua. Mama Risma menunjukkan sikap yang tak baik kepada Jihan. Dia tak tahu, kalau rumah itu adalah milik Jihan. Mama Risma bersikap sinis kepada Jihan, berbeda sekali perlakuan Mama Risma saat bersama Melisa. Seakan Melisa adalah istri sah Wildan.


"Ya Allah, kuatkan aku! Mengapa sikap ibu mertuaku semakin tak baik padaku? Apa salahku? Apa karena aku belum bisa memberinya keturunan? Padahal dulu, dia begitu baik padaku," ucap Jihan lirih.


Jihan memilih untuk naik ke kamarnya, untuk mandi, dan beristirahat. Tubuh dan pikirannya terasa lelah. Belum lagi, dia harus membuat laporan dari hasil auditnya di Yogyakarta.


Alangkah terkejutnya Wildan saat melihat jam sekarang ini. Dia terlihat panik, saat melihat banyaknya pesan chat dan panggilan yang masuk dari istrinya. Wildan berusaha untuk bangkit, membuat Melisa terusik dari tidurnya.


"Kenapa si Mas? Bikin aku kaget saja," protes Melisa. Dia merasa kesal dengan sikap Wildan.


"Aku harus segera pulang. Pasti Jihan mencari aku, karena aku tak ada kabar berita. Padahal, terakhir kali aku chat dia. Aku mengatakan kalau diriku akan menjemput dia. Tapi ternyata, aku justru masih berada di sini sampe sekarang. Pasti Jihan merasa kecewa sama aku. Ya udah, aku pulang duluan ya. Nanti kamu pulang naik ojek online saja ya! Kita tak boleh menunjukkan hubungan kita di hadapannya," ucap Wildan.


"Selalu saja, Jihan yang lebih unggul dariku! Bahkan sekarang, Wildan berniat meninggalkan aku. Karena merasa takut dengan Jihan. Aku tak akan membiarkan dia pergi begitu saja," ucap Melisa licik.

__ADS_1


Wildan sudah terlihat rapi, memakai pakaiannya kembali. Melihat seperti itu, Melisa tentu saja merasa tak terima.


"Jihan, pasti sudah di rumah. Berarti, kamu tak perlu terburu-buru pulang ke rumah. Aku lapar, aku ingin makan. Aku ini sudah kehabisan tenaga memuaskan kamu, masa iya kamu tega meninggalkan aku seperti ini," rayu Melisa.


Melisa langsung memeluk tubuh Wildan. Tak membiarkan Wildan pergi.


"Aku harus segera pulang Mel! Jangan seperti ini! Kamu makan sendiri saja ya? Aku kasih uangnya," ucap Wildan.


"Istri kamu itu tak akan pergi! Dia sekarang sudah di rubah. Kamu tinggal bilang saja, kalau kamu ada pekerjaan yang tak bisa di tinggalkan, dan meminta maaf baru menghubungi dirinya. Kamu katakan saja, kalau kamu belum bisa pulang. Ayo dong, Mas! Setelah ini, pasti waktu kamu akan lebih banyak untuknya. Aku minta sekali ini saja, aku ingin makan bersama kamu. Setelah itu, kamu bisa pulang kok bersama istri kamu. Mulai besok, aku juga sudah tak tinggal di sana," rayu Melisa yang kini masih bergelayut manja.


Wildan menghela napas panjang, tak ada pilihan lain selain menuruti Melisa untuk makan bersama. Setelah itu, barulah dia akan pulang ke rumah.


"Ya sudah, ayo! Cepat pakai, pakaian kamu! Kita berangkat sekarang! Memangnya kamu mau makan apa?" Ujar Wildan.


Melisa tersenyum penuh kemenangan, karena berhasil membuat Wildan lebih memilih menuruti keinginannya, daripada dia pulang meninggalkan dirinya.


Kini mereka sudah keluar dari kosan, sudah berada dalam perjalanan menuju restoran ayam kriuk. Sesuai permintaan Melisa. Berbeda hal dengan sang suami yang sedang bersama Melisa. Jihan justru terlihat gelisah, pasalnya sampai saat ini belum ada kabar juga dari suaminya. Karena rasa lelah yang dia rasakan, akhirnya Jihan tertidur nyenyak.


"Ya sudah, ya! Aku pulang duluan!" pamit Wildan kepada Melisa.


"Kita pulang bersama ya! Nanti, turunkan aku di gerbang perumahan saja! Biar aku nanti tinggal jalan saja," rayu Melisa.

__ADS_1


Hingga akhirnya, mereka kini sudah dalam perjalanan menuju rumah.



__ADS_2