Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Membohongi Jihan


__ADS_3

"Dari mana kamu mas?" Tanya Jihan membuat jantung Wildan rasanya mau copot. Dia tersentak kaget.


"Ah, itu. Dari bawah. Aku habis mengecek mobil. Takutnya lupa mengunci mobil. Kok kamu bangun? Kenapa? Ayo kita tidur lagi!" Sahut Wildan bohong. Dia sudah mulai terbiasa berbohong.


Untungnya Jihan tak banyak bertanya lagi, membuat Wildan bisa bernapas lega. Wildan melirik ke arah sang istri, yang kini sudah tertidur kembali. Dia pun ingin segera menyusul sang istri tidur, matanya mulai mengantuk karena tadi mendapatkan servis dari Melisa.


"Akhirnya, besok aku tak lagi merasakan tidur di sofa. Meskipun tidak tinggal di apartemen. Paling tidak, aku bisa merasakan di kasur empuk dan menggunakan AC. Mas Wildan juga sudah jatuh ke pelukanku. Jadi, aku tak lagi hidup susah. Aku bisa mengirim uang ke Mawar," ucap Melisa dalam hati.


Besok pagi, dia berniat untuk memberitahu rencana kepindahan ke kosan kepada Jihan. Dia ingin bebas, dekat dengan Wildan. Perlahan, Melisa pun akhirnya tertidur nyenyak.

__ADS_1


Alarm di ponsel Jihan sudah berbunyi, tanda waktunya dia untuk bangun. Baru saja dirinya hendak turun, sang suami langsung menarik tangannya, dan menindihnya. Wildan langsung menyerang bibir istrinya, mencumbunya.


"Mas pengen. Main dulu ya sekali, sebelum mandi dan sholat," bisik Wildan di telinga Jihan. Suaranya sudah terdengar berat.


"Aku lagi datang bulan Mas," ucap Jihan, membuat Wildan lesu. Pasalnya, dia lagi sangat menginginkannya. Namun ternyata, sang istri saat ini sedang datang bulan.


Jihan berjalan melewati Melisa yang masih tertidur nyenyak. Padahal, Jihan berniat ingin bicara dengan Melisa. Tentang kepindahan Melisa dari rumahnya.


"Bi, tolong belikan 4 bungkus nasi uduk! Campur saja ya semuanya! Pakai telor balado sama gorengan ya! Sekalian, kamu juga beli ya. Hari ini ibu masih merasa capek, enggak bisa masak. Nanti siang, bibi beli lauk saja ya untuk bibi sama Mama Risma! Sore juga beli saja, kalau bibi malas masak. Ibu kemungkinan makan di kantor, soalnya hari ini Ibu lembur. Pulang malam. Melisa hari ini pindah, enggak tinggal di sini lagi. Bapak juga, paling nanti makan di kantor kali," jelas Jihan dan sang ART mengiyakan.

__ADS_1


Setelah berbicara dengan sang ART, Jihan naik ke kamarnya kembali. Saat itu Wildan baru saja selesai sholat. Jihan memberitahu kepada suaminya, kalau hari ini dia lembur. Setelah mengantar Melisa ke kosannya, dia akan langsung bekerja.


Tentu saja hal ini akan Wildan jadikan kesempatan untuk menemui Melisa di kosannya, untuk mengasah pedangnya. Semenjak kejadian malam itu, pikirannya menjadi kotor. Dia langsung berubah kepada Jihan. Padahal dulu, dia tak menyukai kehadiran Melisa, dan sekarang justru menjadi tergila-gila dengan Melisa.


"Kalau kamu sibuk, sudah si Melisa suruh naik taksi online saja atau naik ojek online. Barangnya juga kan enggak banyak. Cuma 1 tas saja. Jadi, kamu enggak usah repot-repot nganter dia!" Ujar Wildan.


"Paling nanti aku nganter saja kok. Enggak lama-lama di sana. Asal tahu saja kosannya," sahut Jihan. Membuat Wildan tak berkutik.


"Oh iya, aku lupa ngomong sama kamu. Hari ini aku lembur juga. Aku pulang malam nanti," ucap Wildan bohong dan Jihan mengiyakan. Dia tak kalau suaminya membohongi dirinya.

__ADS_1


__ADS_2