Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Serangan Jantung


__ADS_3

"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Mana Wildan? Saya ingin bicara sama anak saya!" ucap Mama Risma ketus. Membuat Melisa merasa kesal kepada Ibu mertuanya, karena tak menghargai dia sebagai seorang menantu.


"Anak situ di penjara! Cari saja sana ke penjara," sahut Melisa tak ada sopannya.


"Apa? Wildan di penjara? Kamu jangan bohongi saya ya! Tadi pagi saya baru bicara sama Wildan, melalui panggilan telepon," ucap Mama Risma.


"Iyalah, benar. Ngapain juga saya harus bohong? Tadi dia telepon suruh saya datang ke perusahaannya, untuk mengambil dompet dan ponselnya ke kantor tempat dia bekerja. Mas Wildan di tangkap di kantor. Di jemput paksa sama tim kepolisian, dan dibawa ke rumah sakit," jelas Melisa.


"Wildan ... Hiks ... Hiks ... Hiks. Kenapa nasib kamu menjadi seperti ini, Nak? Mama sedih melihat kondisi kamu. Kalau kamu di penjara, pasti kamu langsung di pecat sama perusahaan tempat kamu kerja. Semua ini gara-gara kamu, Melisa! Wildan jadi hidup susah, gara-gara dekat dengan kamu. Saya menyesal, mendukung kamu untuk mendekati Wildan. Padahal saat itu, Wildan hidup bahagia dengan Jihan. Jihan juga yang selama ini baik kepada saya. Andai dia dulu tak tergoda sama kamu, pasti sekarang dia masih hidup bahagia bersama Jihan. Dia menjadi kehilangan semuanya, gara-gara menikah sama kamu," cerocos Mama Risma.


"Sekarang, bilang menyesal! Ingat Bu, saya ini lagi hamil anak Mas Wildan. Mantan menantu Ibu, tak bisa memberikan keturunan. Bukankah Ibu sama Mas Wildan menginginkan seorang anak dan cucu. Saya sudah mewujudkan keinginan kalian," ucap Melisa.


"Kalau tahu begini jadinya, saya lebih memilih enggak punya cucu. Rumah saya sampai ke jual, harus dagang nasi uduk, Wildan harus masuk penjara, kehilangan pekerjaan, hidup susah. Biayain untuk anaknya pun bingung, kalau enggak punya anak. Dasar perempuan pembawa sial! Wildan benar-benar sengsara menikah sama kamu!" ucap Mama Risma. Membuat Melisa naik pitam.


"Saya juga menyesal! Kalau tahu, jadinya akan begini. Saya juga tak akan mau sama Mas Wildan. Untuk apa punya wajah tampan, kalau kere. Sama-sama saja, saya harus hidup susah! Memangnya, Ibu saja yang menderita. Saya juga Bu, sangat menderita. Keluarga saya terbengkalai, saya sekarang juga harus menanggung beban menjalankan kehidupan. Bagaimana nasib anak ini? Jika bapaknya di penjara. Yang disalahkan dalam hal ini, sebenarnya Jihan. Dia yang membuat Mas Wildan di penjara. Gara-gara Mas Wildan datang ke pesta pernikahan Jihan. Dia meluapkan perasaan kesalnya. Ternyata, Jihan itu sudah selingkuh juga dengan laki-laki yang menjadi pengacaranya. Bahkan kini mereka sudah menikah, setelah Jihan resmi bercerai dari Mas Wildan. Kelihatannya saja alim. Tapi ternyata, di belakang Mas Wildan dia selingkuh. Makanya, ngotot mau cerai," sahut Melisa.

__ADS_1


Dia sengaja memanas-manasi Mama Risma, agar semakin membenci Jihan. Rencananya, berhasil kembali. Mama Risma terpancing kembali. Membuat Melisa merasa senang. Mama Risma langsung menutup panggilan telepon dengan Melisa. Dadanya terasa sesak. Dia merasa sedih, anak kesayangannya kini harus mendekam di penjara. Dia berniat menengok sang anak di penjara.


"Kirimkan alamat tempat Wildan di penjara! Saya besok ingin menengok anak saya!" Tulis Mama Risma. Melisa langsung membalasnya.


Mama Risma tampak duduk termenung di pinggir ranjangnya. Dia tampak meneteskan air matanya, dia begitu sedih mendengar anaknya masuk penjara. Kegelisahan dia selama ini akhirnya terbukti, sebagai pertanda akan ada permasalahan yang muncul.


Mama Risma merasa sangat berdosa dengan sang anak. Selama ini, dia masih belum berani untuk mengungkap fakta yang sebenarnya. Kalau dialah yang membuat Melisa berani menggoda Wildan, dan dialah yang membuat sang anak terjebak dalam permainan Melisa.


Tekanan yang begitu kuat, menyebabkan Mama Risma tak mampu menahan perasaannya. Dadanya terasa sakit. Dia berteriak memanggil kakaknya Wildan, yang tinggal bersamanya untuk meminta pertolongan. Mendengar sang mama berteriak. Vanya sang anak, langsung berlari menghampiri sang mama.


"Tolong Mama, Vanya! Dada Mama sakit. Mama sudah tak bisa menahannya lagi," ucap Mama Risma kepada sang anak.


Vanya tampak panik, dia berlari keluar rumah untuk mencari pertolongan. Tapi sayangnya, tak ada satupun yang keluar menghampiri dirinya. Hingga akhirnya, Vanya kembali masuk ke dalam rumah. Dia merasa bingung, harus gimana. Dia tak memiliki uang lebih, dan memiliki anak yang masih kecil.


"Ayo, Vanya bawa Mama ke rumah sakit! Mama enggak mau mati sekarang! Mama masih ingin hidup! Sakit banget ini! Mama sudah tak tahan lagi!" ucap Mama Risma. Keringat bercucuran membasahi wajah Mama Risma. Dia merasakan sakit yang luar biasa.


"Vanya bingung Ma! Vanya enggak ada uang. Ini juga Vania dan Vandi gimana? Siapa yang jaga mereka," ucap Vania. Mama Risma merasa sedih. Biasanya, jika dia seperti ini. Wildan yang akan membiayai dirinya. Kini Wildan berada di penjara. Rasa penyesalannya semakin besar.

__ADS_1


"Ini ada sedikit uang, tolong bawa Mama ke rumah sakit! Enggak apa-apa Mama di rawat di kelas tiga. Yang terpenting Mama bisa selamat," Mama Risma begitu ketakutan. Dia takut, kalau akhirnya nyawanya tak tertolong.


Dengan uang yang ada, akhirnya Vanya membawa Mama Risma ke rumah sakit. Dia juga terpaksa membawa kedua anaknya ke rumah sakit, karena tak ada yang menjaga kedua anaknya. Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, dengan menggunakan taksi online.


"Sakit! Mama tak tahan lagi, Vanya!" ungkap Mama Risma. Tak lama kemudian, Mama Risma akhirnya jatuh pingsan. Tak sadarkan diri. Wajahnya terlihat pucat.


"Ma, Mama! Bangun, Ma! Jangan tinggalkan Vanya, Ma!"


Untungnya, letak rumah sakitnya tak jauh dari rumah mereka. Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di rumah sakit. Mereka langsung menuju lobby IGD. Vanya langsung turun dari mobil taksi online, kemudian meminta tenaga bantuan untuk menggendong sang mama.


"Ya Allah, aku mohon! Tolong selamatkan Mamaku!" ucap Vanya dalam hati. Dia takut, kalau nyawa sang mama tak tertolong. Dia terus berdoa, agar sang mama bisa melewati masa kritisnya.


Dia begitu khawatir, melihat kondisi sang mama saat ini. Vanya merasa bingung. Tak ada yang membantu dia lagi. Sama halnya dengan Wildan. Saat ini dia sudah mendekam di penjara, untuk beberapa bulan.


Perasaan Wildan saat itu begitu hancur. Dia merasa bingung, dan masih terus berharap. Agar dia tak sampai di keluarkan dari tempat dia bekerja. Dia memikirkan, gimana kehidupan dia dan keluarga selanjutnya. Jika dia mendekam di penjara, dan tak bisa bekerja lagi.


"Ya Allah, semoga saja aku bisa melewati semua ini!"

__ADS_1


__ADS_2