Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Resmi Menikah


__ADS_3

"Kamu enggak salah! Tapi, kamu harus sadar posisi kamu! Kita itu menikah, karena selingkuh! Aku butuh waktu!" jelas Wildan.


"Apa? Kamu bilang, kamu butuh waktu? Mau sampai kapan? Aku sudah hamil begini, kamu masih bilang butuh waktu? Tunggu sampai anak ini lahir, baru kamu menerima aku sepenuhnya?" Sahut Melisa.


"Sudahlah, enggak usah dibahas dulu! Jalanin saja dulu! Aku lagi enggak mau berdebat. Memangnya, kamu mau merusak momen kebahagiaan kita dengan pertengkaran. Baru saja resmi menikah, sudah berdebat seperti ini! Gimana nantinya, rumah tangga kita selanjutnya?" protes Wildan.


Akhirnya, Melisa diam. Benar apa yang dikatakan Wildan kepadanya, kalau hari ini adalah hari bahagia mereka. Dia tak ingin merusak momen ini, dengan pertengkaran.


"Ada yang mau di beli dulu enggak, sebelum ke kosan? Mumpung masih di luar, biar sekalian," ucap Wildan dan Melisa mengiyakan. Dia mengajak Wildan ke minimarket dulu, untuk membeli pop mie, dan juga cemilan.


Wildan menyuruh Melisa memilih sendiri apa yang dia inginkan, karena dia ingin menghubungi Jihan. Agar Jihan tak curiga padanya. Melisa harus mengerti posisi dia saat ini yang berselingkuh dengan Wildan. Mendengar ponselnya berdering, Jihan langsung mengambil ponselnya. Ternyata, suaminya yang menghubungi dirinya.


"Assalamualaikum." Wildan mengucap salam, mengawali pembicaraan di panggilan telepon dengan sang istri.


"Waalaikumsalam," jawab Jihan cuek.


"Kok ngomongnya gitu? Kamu marah ya sama mas, karena mas pergi?" Wildan bertanya kepada sang istri.


"Memangnya, kalau aku marah. Bisa mengubah semuanya? Enggak kan? Jadi, untuk apa aku marah sama mas. Perasaan aku lagi enggak jelas dari mas pergi tadi. Tiba-tiba saja tadi foto pernikahan kita jatuh. Kacanya pecah berserakan, bingkainya rusak. Padahal, enggak ada apa-apa. Entahlah, itu hanya suatu kebetulan saja, atau memang sebuah pertanda. Kalau pernikahan kita memang sedang tidak baik-baik saja," sahut Jihan. Membuat Wildan langsung merasa tertampar.


"Ya pastilah baik-baik saja, sayang! Mungkin ada cicak atau angin, jadinya jatuh bingkai itu. Sudah ya jangan berpikir macam-macam! Aku ingin menua bersama kamu sampai salah satu di antara kita menutup mata. Jika nanti kamu yang akan pergi lebih dulu, aku pun enggak akan menikah lagi. Aku akan selalu setia sama kamu, meskipun nantinya kamu sudah pergi meninggalkan dunia. Kamu pun seperti aku juga ya, kalau aku nanti sudah tiada," ucap Wildan dan Jihan mengiyakan.

__ADS_1


"Ya sudah, aku akhiri dulu ya percakapan kita! Besok Mas pulang. I love you. Mas sayang banget sama kamu, rasa cinta Mas ke kamu sampai kapanpun tak akan pernah berubah. Assalamualaikum."


Wildan mengakhiri panggilan dengan Jihan, karena Melisa sudah datang, dan menunjukkan raut wajah yang kesal. Padahal, baru beberapa jam saja Wildan menikahi dirinya. Tapi sekarang, dia justru membahas cinta dia kepada Jihan.


"Sepertinya, aku masih butuh kerja keras untuk menjadikan aku wanita Mas Wildan satu-satunya. Aku secepatnya harus menyingkirkan Jihan dari hidup Mas Wildan, dan semoga saja bayi dalam kandunganku akhirnya bisa menyatukan kami," ucap Melisa dalam hati.


Tak ada kata maaf dari bibir Wildan, seperti tak ada apa-apa. Wildan langsung melajukan mobilnya menuju kosan Melisa. Seharian ini mereka akan menikmati hari pertama mereka menjadi pasangan suami istri.


"Mas, nanti mainnya pelan-pelan ya! Ingat, sekarang sudah ada anak kita di dalam perut aku! Aku takut terjadi sesuatu sama dia," ucap Melisa dan Wildan mengiyakan.


Perlakuan dan cara bercinta Wildan dengan Melisa memang sangat berbeda saat dengan Jihan. Wildan kerap bersikap kasar. Melisa tak ingin kehilangan bayi itu, hanya bayi itu yang bisa membuat dirinya bertahan dengan Wildan.


Mereka kini sudah sampai di kosan Melisa. Wildan langsung memarkirkan mobilnya, di parkiran kosan, setelah itu barulah mereka turun dari mobil, dan langsung berjalan memasuki kamar kosan mereka.


"Mandi bareng saja ya, mas! Aku ingin mandi bareng sama mas," pinta Melisa dan Wildan akhirnya mengiyakan.


Mereka kini sudah di dalam kamar mandi, keduanya tampak mandi bersama, dan sesekali bercumbu mesra di dalam sana. Melisa tampak menggoda sang suami, sengaja memberikan sabun di tubuhnya mengusap secara perlahan hingga menuju area milik suaminya. Membuat Wildan pun terhanyut. Seketika miliknya menegang.


"Kita percepat saja yuk mandinya! Aku sudah tak tahan," ucap Wildan dan Melisa tentu saja merasa senang. Melakukannya dengan senang hati. Semenjak hamil, nap*sunya pun semakin bertambah.


Setelah keluar dari kamar mandi, Wildan langsung membaringkan tubuhnya di kasur. Dia sudah terlihat terlentang, dan miliknya membuat Melisa tergila-gila. Melisa pun ikut naik ke sebelah Wildan. Mereka langsung bercumbu mesra.

__ADS_1


Semakin lama, ciuman mereka semakin bergairah. Wildan menarik tengkuk Melisa untuk memperdalam ciuman mereka. Kini tangannya bermain di bukit kembar Melisa, yang tentu saja tak sekencang milik istrinya. Rasa miliknya pun, tak seenak milik istrinya yang belum pernah melahirkan, dan hanya dia yang memakainya.


"Puaskan aku!" Pinta Wildan. Melisa seperti seorang jala*ng di hadapan Wildan. Melisa berusaha memuaskan suaminya, agar suaminya tergila-gila kepadanya.


Melisa mulai memasukkan milik suaminya, ke dalam mulutnya, dan mengulumnya. Membuat Wildan mende*sah, merasakan nikmat. Percintaan panas pun terjadi, keduanya terhanyut nap*su yang akan menghancurkan mereka di kemudian hari.


Keduanya kini terkulai lemas di ranjang, mencoba mengatur napas mereka yang masih terengah-engah. Jantung keduanya pun masih berpacu cepat. Melisa tampak menggenggam tangan Wildan dan menatap Wildan, terlihat sekali kalau dia begitu mencintai Wildan.


"Nanti, kamu akan membagi waktu kamu untuk aku juga kan? Aku ingin, kamu menginap di sini menemani aku. Anak kita pun, membutuhkan kasih sayang dari papanya," ucap Melisa.


"Iya, aku akan membagi waktu untukmu. Kamu enggak usah khawatir," sahut Wildan dan Melisa menganggukkan kepalanya.


Melisa menarik tangan Wildan, dan meminta Wildan untuk mengusap perutnya. Dia ingin Wildan memiliki ikatan batin dengan anak dalam kandungannya.


"Tiga bulan lagi perut aku akan mulai membuncit," ucap Melisa dan Wildan mengiyakan.


"Apa kamu menyayangi anak ini?" Tanya Melisa dan Wildan mengiyakan.


"Bagus, kalau kamu menyayangi anak ini. Berarti, kamu akan menuruti permintaan aku dong," ucap Melisa dalam hati.


Dia tak sadar kalau selama ini Jihan begitu berjasa untuknya, menolong dirinya. Bahkan kemarin, akhirnya Jihan memberikan pinjaman kembali kepada Melisa sebesar lima ratus ribu karena Melisa terus memaksa. Hutang dia ke Jihan menjadi 4 juta rupiah.

__ADS_1


Melisa gelap mata. Dia pikir, dia akan bisa memiliki segalanya dengan merebut Wildan dari orang yang berjasa kepadanya. Padahal, semua ini adalah langkah awal untuk kehancuran dia.



__ADS_2