Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Kepergian Sang Mantan Pelakor Untuk Selamanya


__ADS_3

Ponsel Jihan berdering. Jihan pun bergegas mengambilnya. Nomor telepon yang tak dikenal yang menghubunginya.


"Nomor siapa ya?" Jihan bermonolog.


"Siapa yang telepon?" tanya Affan, melihat wajah istrinya yang terlihat bingung.


"Gak tahu, Mas. Nomor baru," sahut Jihan.


"Ya sudah abaikan saja! Takutnya nomor telepon orang iseng," Affan mengingatkan istrinya. Jihan pun menganggukkan kepalanya. Dia mengikuti saran suaminya, mengabaikan telepon itu. Dia meletakkan kembali ponselnya.


Namun, nomor telepon itu terus saja menelepon Jihan tak henti-hentinya. Menggangu kebersamaan Jihan dengan sang suami. Hal itu membuat Affan merasa kesal. Hingga akhirnya, dia yang menerima panggilan telepon itu.


"Selamat malam, Pak. Apa benar ini nomor telepon Ibu Jihan," ucap seorang laki-laki di sebrang sana yang melakukan panggilan telepon.


"Malam. Maaf, Anda siapa ya menghubungi nomor telepon istri saya malam-malam begini?" Affan justru balik bertanya.

__ADS_1


"Saya dari pihak kepolisian yang menangani kasus Ibu Melisa. Saya ingin menginformasikan kepada Ibu Jihan, kalau Ibu Melisa sudah meninggal dunia. Dia melakukan tindakan bu*nuh diri. Nyawanya tak bisa tertolong lagi. Saat ini jenazahnya sudah berada di rumah sakit Polri, untuk dilakukan otopsi. Ibu Melisa menuliskan sebuah surat, untuk Ibu Jihan. Di dalam suratnya dia menuliskan nomor telepon Ibu Jihan. Dia meminta, kami menghubungi Ibu Jihan untuk mengurus pemakamannya," jelas sang polisi.


"Bikin susah orang saja! Mati aja, masih saja nyusahin istri Saya. Padahal istri Saya tak ada hubungan apa-apa dengannya. Dia itu mantan pelakor, merebut mantan suami istri Saya. Sudahlah, pihak kepolisian saja yang urus! Saya tak ingin istri Saya dilibatkan, dalam hal ini! Istri saya sedang hamil. Lagi pula, wanita itu sudah terlalu banyak menyusahkan istri Saya. Anaknya saja sekarang menjadi beban istri Saya. Bisa-bisanya dia bu*nuh diri, tak memikirkan nasib anak kandungnya. Pasti anak itu nantinya akan menjadi beban istri saya. Sudah Pak, jangan hubungi istri saya lagi! Terserah pihak kepolisian mau apakan wanita itu. Kami tak peduli," ucap Affan tegas. Dia langsung mengakhiri panggilan telepon dengan polisi itu.


"Siapa Mas yang meninggal? Melisa?" Jihan bertanya kepada sang suami, saat sang suami mengakhiri panggilan telepon dengan pihak kepolisian.


"Iya, si Melisa meninggal. Bu*nuh diri dia. Nyawanya tak bisa tertolong lagi. Sekarang jenazahnya ada di rumah sakit Polri, sedang dilakukan otopsi. Polisi itu bilang, katanya Melisa menuliskan nomor telepon kamu. Agar kamu mengurus pemakaman dia. Enak banget. Mati aja, masih nyusahin kamu. Seenaknya aja minta kamu mengurus pemakamannya. Udah nyusahin kamu, ninggalin anaknya. Dasar orang tua gak punya otak. Malah mikir bu*nuh diri. Gak mikirin nasib si Mawar. Karena pasti dia pikir, ada kamu yang akan mengurus si Mawar. Aku bilang aja tadi sama polisi yang menangani kasus si Melisa. Kita gak peduli. Sudah tak ada hubungan apa-apa sama dia. Terserah, mereka mau ngapain. Mau di kubur syukur, mau dibuang ke kali juga bodo amat. Pokoknya, aku gak mau kamu terlibat ngurusin dia lagi. Udahlah, pokoknya aku udah kesal banget sama orang itu. Aku juga udah bilang sama polisi itu, jangan pernah hubungi kamu lagi," cerocos Affan.


"Ya ampun Mel, kamu nekat banget sih. Gak mikirin sih Mawar," ucap Jihan dalam hati.


"Udahlah si Mawar suruh di pesantren aja terus. Daripada nanti jadi masalah untuk kamu lagi. Nyusahin seperti ibunya. Biar dia jadi anak sholehah, jangan jadi pelakor seperti ibunya! Suruh lihat pengalaman ibunya yang mantan pelakor, hidupnya menderita sampai mati pun susah," ucap Affan dan Jihan mengiyakan.


"Kasihan Mawar sebenarnya. Aku sih pengennya dia melihat mamanya untuk terakhir kalinya. Bagaimanapun, Melisa 'kan ibunya," ungkap Jihan.


"Hati kamu itu terlalu baik. Saat seperti ini saja kamu masih memikirkan si Mawar. Ya sudah, suruh antar Mang Diman aja si Mawar ke rumah sakit Polri. Pokoknya, aku gak mau kamu urus begituan. Kamu lagi hamil, gak baik ke rumah sakit. Apalagi ngurusin begituan, yang matinya penasaran," ucap Affan dan Jihan hanya mengangguk kepalanya. Dia harus menuruti ucapan suaminya, yang pastinya terbaik untuknya.

__ADS_1


Jihan langsung keluar dari kamarnya, menemui Bi Sumi, dan memberitahu kalau Melisa meninggal. Dia juga memanggil Mang Diman, untuk mengantarkan Mawar ke rumah sakit untuk menemui jenazah Melisa.


Jihan memberikan uang kepada Mang Diman untuk transport ke rumah sakit. Jihan juga menyuruh Mang Diman mengajak Mawar ke rumah. Dia tak tega membiarkan Mawar di kontrakan sendiri, dalam keadaan berduka seperti itu. Lagi pula, hal ini hanya sementara. Besok pun, Mawar akan mulai masuk pesantren. Dia akan memberi pengertian kepada suaminya.


Setelah bertemu dengan Bi Sumi dan Mang Diman. Jihan kembali ke kamarnya, dia tak ingin suaminya protes karena terlalu lama meninggalkan suaminya. Malam ini Mawar akan tidur bersama Bi Sumi.


"Udah beres?" tanya Affan saat sang istri memasuki kamar.


"Sudah. Aku sudah bilang sama Mang Diman. Mas, malam ini biar Mawar tidur di sini ya. Kasihan kalau di kontrakan sendiri, dalam keadaan berduka seperti ini. Besok 'kan dia sudah ke pesantren. Tadi aku sudah bilang Mang Di man, setelah pulang dari rumah sakit. Mawar suruh langsung bawa ke rumah ini," ucap Jihan kepada suaminya.


"Ya sudah. Tapi, hanya untuk malam ini ya!" ujar Affan dan Jihan mengiyakan.


Mawar tampak menangis sambil memeluk tubuh sang mama yang sudah terbujur kaku. Dia tak menyangka, kalau sang mama tega meninggalkan dia untuk selama-lamanya. Entah bagaimana nasibnya, jika Jihan tak menolongnya.


"Mengapa mama tega meninggalkan Mawar sendiri? Untungnya, Tante Jihan baik kepada Mawar. Kalau tidak, siapa yang menolong Mawar? Mawar berjanji, akan menjadi anak yang baik untuk Tante Jihan. Mawar tak ingin mengecewakan dia," ucap Mawar di iringi isak tangis.

__ADS_1


Sedikit banyak, dia tahu apa yang diperbuat mamanya kepada Jihan. Dia berjanji pada dirinya sendiri, tak akan mengikuti jejak sang mama dulu. Dia akan berusaha menjadi wanita yang baik, meskipun dia anak dari mantan pelakor. Masa lalu sang mama, akan dia jadikan pelajaran hidupnya di masa mendatang.


__ADS_2