
"Klien saya 'kan sudah mengakui kesalahannya Pak. Dia juga siap mempertanggung jawabkan di depan publik. Tolonglah Pak, jangan terlalu saklek! Kariernya bisa hancur, jika sampai dia di penjara," ucap kuasa hukum Adel.
"Apa dia memikirkan, saat dia ingin menjebak saya dulu? Reputasi saya sebagai seorang pengacara bisa buruk di mata publik. Rumah tangga saya dengan istri saya pun bisa hancur. Bahkan, saya hampir mati gara-gara obat perang*sang terkutuk. Apa Anda tahu, perjuangan saya untuk menahan has*rat? Sampai saya benar-benar jijik dengan diri saya, saat milik saya mengeluarkan sendiri karena tak tersalurkan. Saya juga sampai pingsan, masuk rumah sakit. Untung saja, Allah masih melindungi saya."
"Tuntutan saya ada dua. Saya ingin dia mendekam di penjara selama tiga bulan dan dia harus klarifikasi di depan publik. Jangan pernah bermain-main dengan Saya! Saya bisa saja membuat dia mendekam lebih lama lagi!"
Adel dan kuasa hukum Adel tak berkutik. Mereka hanya mendengarkan penuturan Affan. Affan bukan pengacara ecek-ecek, dia memiliki pengalaman cukup banyak. Keberanian dalam bersikap. Terlebih dia memiliki papa seorang pengacara kondang.
"Awas saja kamu! Jika nanti aku keluar dari penjara, aku akan hancurkan hidup kamu seperti kamu menghancurkan aku saat ini!"
Ternyata, Adel tak jera. Dia justru menaruh dendam sama Affan. Affan membuat dia malu, dan bahkan kariernya sebagai artis akan meredup karena kasus ini. Adel menatap Affan sinis.
"Kenapa menatap saya seperti itu? Menaruh dendam? Silakan saya, jika ingin hidup kamu semakin sengsara!"
"Gila ini orang feelingnya kuat banget. Bisa tahu ucapan gue dalam hati," Adel berucap dalam hati.
Para wartawan sudah ramai berkumpul. Adel diminta untuk segera melakukan klarifikasi saat itu juga di hadapan Affan. Dia ingin mendengar langsung penuturan Adel. Namun, Affan menolak disebut wawancara oleh tim wartawan dan media.
__ADS_1
Selama melihat konferensi pers, Affan terlihat terus menggenggam tangan Jihan. Tak terlepas. Semua orang tahu sekarang, siapa yang salah dan siapa yang benar. Affan dan Jihan tak terlepas dari sorotan awak media.
"Saya rasa, urusan Saya dengan klien Anda sudah selesai. Untuk urusan selanjutnya. Kasus ini sudah Saya serahkan kepada asisten saya, dan tim kepolisian. Waktu saya tak banyak, saya permisi."
"Pesan saya untuk kamu Del, Hati-hati dalam bertindak! Bisa jadi apa yang kamu lakukan, akan berbalik kepada kamu. Kamu justru yang akan merasa hancur, seperti yang kamu lakukan saat ini. Kamu masih sangat muda, jangan hancurkan hidup kamu dengan suatu ambisi yang buruk. Jangan pernah berniat menghancurkan saya! Karena bisa jadi, hidup kamu akan semakin hancur. Lebih baik introspeksi diri, dan buka lembaran baru yang lebih baik. Junjung tinggi kejujuran, agar karier kamu bertahan!" pesan Affan kepada Adel sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
Adel hanya menatap kepergian Affan yang menggandeng tangan Jihan. Penyesalan tak ada artinya. Lebih baik berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dalam bersikap. Kini Jihan dan Affan sudah dalam perjalanan menuju Mall. Affan ingin menyenangkan hati istrinya.
"Kamu sudah dengar sendiri 'kan yang sebenarnya? Mana mungkin aku mengkhianati kamu setelah apa yang kamu berikan untukku. Cinta dan kasih sayang sudah aku dapatkan dari kamu, dan bahkan kamu menambah kebahagiaan untuk aku dengan hadirnya kedua malaikat kecil di rahim kamu. Sudah ya, jangan berpikir macam-macam tentang suami kamu ini! Jangan samakan aku seperti mantan suami kamu! Curiga boleh, tak mudah percaya boleh. Tapi, jangan sampai langsung mengambil keputusan. Jika kamu belum tahu yang sebenarnya!" ungkap Affan.
"Iya Mas, aku minta maaf. Aku sempat salah menilai kamu," ucap Jihan.
"Tuh 'kan merah wajah kamu. Berarti, benar ya?" Affan masih saja menggoda istrinya.
Mereka kini sudah sampai di sebuah Mall.
"Kamu mau makan apa?" tanya Affan ke sang istri lembut.
__ADS_1
Di luar dia memang sosok yang tegas. Tapi, saat dengan istri. Dia sosok yang lembut dan romantis. Bagi Affan semua itu tuntutan karier, sebagai seorang pengacara. Dia berani di depan umum, tetapi sangat takut dengan sang istri. Karena rasa cintanya kepada sang istri, dia tak ingin kehilangan istrinya.
Mereka kini sudah di sebuah restoran Jepang. Sesuai permintaan istrinya. Dia berusaha menuruti permintaan istrinya. Demi menyenangkan hati istrinya.
"Mau nonton gak setelah ini? Sepertinya, seru juga. Mumpung si kembar belum lahir. Papa Mamanya puas-puasin dulu pacarannya. Nanti pasti kamu sibuk mengurus kembar, waktu untuk aku berkurang deh," ucap Affan sambil terkekeh.
"Aku akan berusaha berbuat adil kok, Mas." sahut Jihan.
"Asyik. Jatah bapaknya berarti aman ya. Biasanya, berapa lama ya harus puasanya? Harus persiapkan diri nih." Affan terlihat ceria jika dekat sang istri, berbeda sikapnya ke orang lain yang terlihat kaku.
"Sampai aku siap. Dua tahun mungkin, jika sesar," goda Jihan balik.
"Hah, 2 tahun? Lama banget sih Yang, tega banget. Mana bisa tahan aku. Kalau dulu, bisa. Sekarang, sudah merasakan enak. Gak yakin bisa Yang. Setahu aku selesai masa nifas. Tapi nanti, sebelum kita melakukannya kembali. Kamu KB dulu deh. Nanti yang ada kamu hamil lagi. Kasihan kamu dan kembar. Aku tak ingin membuat kamu kelelahan. Kembar juga masih kecil. Aku ingin semuanya direncanakan. Dalam soal anak pun. Agar mereka tak kekurangan kasih sayang," ucap Affan dan Jihan mengiyakan.
Suaminya memang tak pernah egois dalam segala hal. Semua dia pikirkan. Apalagi, Affan kerap menangani kasus perceraian, dan kliennya banyak wanita. Ini menjadi pelajaran juga untuknya. Dia bisa mendengar keluhan seorang wanita. Itulah salah satu alasan, mengapa dia begitu berhati-hati dalam bersikap dengan istrinya.
Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk langsung ke bioskop. Karena film yang mereka pilih, akan segera dimulai. Affan sudah membeli tiket secara online.
__ADS_1
"Kamu mau lemon tea, orange jus, atau coklat dingin? Popcornnya mau yang manis atau yang asin? Aku beli untuk di dalam," Affan bertanya kepada sang istri.
Dia menyuruh Jihan untuk duduk menunggu. Dia yang akan membeli cemilan dan juga minuman untuk di dalam studio. Affan memperlakukan istrinya seperti seorang Ratu. Dia begitu memuliakan istrinya.