Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Cucu Yang Dinantikan


__ADS_3

"Mas, aku mau telepon ibu dulu," ucap Jihan kepada sang suami.


"Iya, Mas juga mau telepon mama. Pasti mereka sangat senang, mendengar saat ini kamu sedang hamil. Apalagi, mereka akan mendapatkan dua orang cucu sekaligus," ujar Affan.


Kedua anak ini adalah cucu yang sudah mereka nantikan. Akhirnya, Jihan bisa memberikan cucu untuk kedua orang tua mereka. Dia tak akan lagi mendapatkan cap, sebagai wanita mandul. Sudah terbukti, kalau dia tak mandul.


"Assalamualaikum," ucap Jihan mengawali pembicaraan.


"Waalaikumsalam. Gimana kabar kamu? Sudah pulang dari bulan madu?" ujar sang ibu.


"Alhamdulillah baik, Bu. Jihan sudah pulang ke rumah. Oh iya Bu, Jihan punya kejutan untuk ibu dan bapak. Saat ini Jihan sedang hamil, hamil anak kembar. Alhamdulillah, Jihan gak mandul Bu. Allah mengabulkan doa Jihan, untuk bisa memberikan keturunan untuk Mas Affan. Jihan bisa merasakan menjadi wanita yang sempurna," ungkap Jihan di iringi isak tangis.


Dia tak mampu membendung perasaannya lagi, karena akhirnya Allah menjawab doa-doanya selama ini, dan justru do'anya terkabul di saat dia bersama Affan. Allah memiliki rencana yang indah untuknya. Menunjukkan kepadanya, kalau Wildan bukan laki-laki yang pantas untuknya. Dia hanya menjadi benalu untuknya. Mantan mertuanya juga sangat jahat kepadanya. Sedangkan orang tua Affan, justru sangat baik kepadanya.


"Ya Allah, alhamdulillah. Ibu senang sekali mendengarnya. Akhirnya, kamu bisa hamil, dan ibu bisa punya cucu. Semoga kamu dan calon Anak-anak kamu selalu sehat, dan dilancarkan sampai persalinan. Aamiin Ya Rabbal Alamin," ucap sang ibu.

__ADS_1


Kebahagiaan juga menyertai mamanya Affan, saat mendengar dari sang anak. Kalau Jihan menantunya sedang hamil, dan akan memberikan dia dua orang cucu sekaligus. Rasa sayang sang ibu mertua semakin besar kepada Jihan.


Berbeda halnya dengan Jihan yang sedang berbahagia. Wildan justru sedang duduk termenung di balik jeruji. Menikmati hidupnya di dalam penjara. Wajahnya terlihat kusut, tak bercahaya. Dia terlihat murung, dan tua. Tak ada semangat hidup. Dia berharap, Affan dan Jihan mau berbaik hati. Segera membebaskannya. Ada tanggungan yang harus dia perjuangkan, yaitu mama, istri, dan calon anaknya yang sebentar lagi lahir ke dunia.


Hal serupa dirasakan oleh Melisa. Saat itu dia sedang mengusap perutnya yang semakin membesar. Beberapa bulan lagi dia akan melahirkan. Tak ada yang berani mempekerjakan dia, karena mereka tak ingin mengambil resiko. Dia berniat untuk mencoba berjualan, untuk menyambung hidup. Harapannya, suaminya bisa segera dibebaskan. Melisa berniat menemui Jihan kembali di rumahnya. Dia akan meminta Jihan untuk membebaskan suaminya.


"Ya Allah, aku mohon! Tolong ampunilah aku! Berikan rezeki untuk Anak-anakku!" ucap Melisa dalam hati. Melisa merasa tak tega melihat anaknya yang harus terputus sekolahnya, karena perbuatan dia.


"Maafin Mama, semoga mama bisa segera menyekolahkan kamu lagi," ucap Melisa yang kini meneteskan air matanya. Menatap sang anak yang sedang tertidur nyenyak.


Kehamilannya yang sekarang begitu berat, dia harus terpisah dengan suaminya. Menjalani masa kehamilan sendiri, dia juga tak bisa membeli susu, dan jarang sekali memeriksakan kandungannya. Uang yang dia miliki, dia pergunakan dengan hemat.


"Kamu gak usah kerja lagi ya! Aku mengkhawatirkan kamu. Aku yang akan membayar gaji kamu. Aku ingin kamu fokus dengan kehamilan anak kita. Pasti sangat sulit menjalani kehamilan anak kembar. Apalagi ini adalah kehamilan pertama kamu. Gimana?" ucap Affan.


Saat ini mereka sudah membaringkan tubuhnya di ranjang. Affan memperlakukan Jihan begitu manis, mengusap rambut Jihan dengan lembut, dan Jihan tampak meletakkan kepalanya di dada bidang suaminya.

__ADS_1


"Kamu yakin gak akan selingkuhin aku? Nanti, aku berhenti kerja. Kamu berubah, dan aku bingung gak ada penghasilan. Apalagi kamu memiliki segalanya, bisa melakukan apapun yang kamu mau, dan pastinya akan banyak wanita yang menginginkan kamu di luar sana," ungkap Jihan.


Dia masih merasa ragu, untuk berhenti kerja. Trauma yang dialami, masih membekas. Dia takut, kalau nantinya Affan akan tergoda dengan wanita lain. Affan meminta Jihan, tidur di sebelahnya. Kini posisi mereka saling berhadapan.


"Kamu tatap mata aku! Lihat kesungguhan aku! Apa kamu melihat kebohongan di mata aku? Aku ini bukan mantan suami kamu yang gak tau diri itu. Mungkin, saat ini kamu masih meragukan cinta aku. Aku janji akan selalu berusaha untuk menyakinkan hati kamu! Aku sayang ... banget sama kamu. Kamu itu wanita yang sempurna bagiku. Tak alasan bagiku, untuk berselingkuh dari kamu. Aku janji, akan selalu menyayangi dan mencintaiku kamu. Kalau sampai aku berselingkuh, berarti aku orang yang gak bersyukur. Padahal, Allah telah memberikan segalanya untukku. Istri yang sempurna, dan kelak aku akan mendapatkan dua orang anak dari kamu," ungkap Affan.


"Aku butuh waktu. Nanti aku coba pikirkan dulu secara matang. Sabar dulu ya! Aku mau coba bicara dulu sama bos aku. Dia memperbolehkan aku untuk selalu stay di kantor apa tidak. Tak melakukan perjalanan dinas, selama aku hamil. Jika Pak Arman menolaknya. Mau tak mau, aku harus mengajukan resign," ucap Jihan dan Affan mengiyakan.


"Ya sudah, kita tidur yuk! Sudah malam. Besok aku harus bekerja, kamu gak usah kerja ya! Kondisi kamu masih lemah," ujar Affan. Jihan akan mencoba membicarakannya dulu kepada bosnya.


Mereka memutuskan untuk tidur. Keduanya tampak sudah memejamkan matanya. Hingga akhirnya mereka berdua tertidur nyenyak. Sambil berpelukan. Untungnya sang istri tak lagi ingin muntah, jika di dekati. Tak seperti di awal Affan belum mengetahui, kalau sang istri sedang hamil.


Wildan hanya tidur beralaskan tikar. Tubuhnya terlihat kurus. Dia tak menyangka, akan mengalami nasib seperti ini. Naf*su, benar-benar menghancurkan hidupnya. Kini hanya tinggal penyesalan yang dia rasa.


Berbeda halnya dengan sang mantan istrinya, yang hidup dengan kemewahan bersama suami barunya, dan sebentar lagi akan memiliki dua orang anak sekaligus. Mama Risma pun begitu menyesal, telah menghancurkan anaknya sendiri. Membuat sang anak bercerai, dan tergoda dengan Melisa. Kini dia hanya bisa menangis, melihat anaknya harus merasakan dinginnya tidur di lantai yang hanya beralaskan tikar.

__ADS_1


Mama Risma sudah pulang ke rumah. Semenjak Wildan di penjara, ekonomi Mama Risma semakin terpuruk. Dia harus mencari uang sendiri, untuk bertahan hidup. Tak ada yang bisa dia andalkan lagi. Mantan menantunya dulu yang begitu baik kepadanya, justru dia musuhi, dan kini dia harus kehilangan mantan menantunya. Hanya penyesalan yang dia rasakan, semua tak akan pernah kembali seperti dulu lagi.



__ADS_2