Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Menghindar dari Wildan


__ADS_3

"Assalamualaikum, Mbak," ucap Affan di panggilan telepon.


"Waalaikumsalam, Ya Mas. Ada apa?" Sahut Jihan.


"Begini Mbak, Aku mau kasih berita yang baik untuk Mbak," jelas


"Oh ya? Apa itu, Mas?" Tanya Jihan kepada Affan. Dia terlihat begitu penasaran.


Affan mengatakan, kalau sidang perceraian Jihan dan Wildan dipercepat. Minggu depan akan di gelar, sidang perceraian pertama Jihan dengan Wildan. Tentu saja hal itu membuat Jihan terkejut mendengarnya, Affan patut di acungkan jempolnya.


"Makasih ya Mas, aku senang sekali dengarnya," ucap Jihan.


"Iya, Mba sama-sama. Saran aku, Mba jangan tinggal di rumah dulu sampai sidang dilaksanakan! Saya yakin suami Mba pasti mendatangi rumah Mba. Dia pasti ingin bertemu dengan Mba, agar Mba membatalkan gugatan ini. Mba enggak perlu khawatir, Aku sudah mengurusnya juga. Sidang ini tak ada tahap mediasi lagi, karena suami Mba sudah terbukti selingkuh. Bahkan dia menikah secara siri dan selingkuhnya itu sedang hamil saat itu. Ini sudah melanggar janji pernikahan. Maka Mba berhak mengambil keputusan, mempercepat perceraian," ucap Affan.


"Baiklah, kalau saran Mas Affan seperti itu. Setelah pulang kerja, aku akan langsung menginap di hotel. Sampai sidang dilaksanakan. Semoga saja langsung putusan ya Mas, seperti yang Mas bilang itu," ucap Jihan. Jihan sudah ingin bercerai dengan Wildan. Jihan dan Affan mengaminkannya.


Setelah selesai melakukan panggilan telepon dengan Affan. Jihan langsung menghubungi sang ART untuk menyiapkan barang-barang yang dia butuhkan. Demi menghindar dari Wildan, Jihan akan menginap di hotel.


Benar, apa yang dikatakan Affan. Wildan tampak stres, saat menerima surat panggilan pengadilan. Jumat depan, sidang perceraian dia dengan Jihan akan di gelar.


"Aku harus segera menemui Jihan, agar dia membatalkan gugatan cerai itu. Ya, harus!"

__ADS_1


Setelah jam pulang, Wildan langsung bergegas untuk ke kantor Jihan. Dia yakin, kalau Jihan pasti masih di kantor. Padahal, Jihan pulang lebih awal. Itupun dia di dampingi Affan. Meskipun mereka pergi dengan mobil berbeda.


Jihan pun sudah menginformasikan permasalahan yang sedang dia hadapi. Jihan sudah meminta tolong kepada pihak security, agar tak mempertemukan dia dengan Wildan. Jihan sudah memberikan foto Wildan, agar security tahu. Dia pun sudah meminta kepada resepsionis di kantornya, untuk mengatakan kalau dirinya sedang tak masuk kerja. Jika Wildan datang.


Jihan seperti sedang main petak umpet dengan Wildan, sampai ketok palu putusan pengadilan. Bahkan Affan menyarankan agar Jihan tak menggunakan mobilnya. Affan menyuruh Jihan pergi dengan menggunakan taksi online.


"Ya ampun, Mas. Aku kok sampai seperti ini ya? Jadi pengen ketawa sendiri aku jadinya," ucap Jihan. Jihan bisa tersenyum, meskipun sedang dihadapkan permasalahan berat baginya. Ya, semua itu karena hadirnya Affan di hidupnya sekarang.


"Aku yakin, dia pasti kelimpungan cari kamu. Biar saja, kasih pelajaran dia. Jadi orang jangan sombong. Punya istri cantik, pintar, sempurna gini di sia-siakan. Sekarang, hidupnya justru tak karuan. Tapi ya sudahlah, mungkin kamu jodohnya sama yang lain bukan sama dia," ucap Affan.


"Entahlah, Mas. Aku jadi pesimis gini. Aku takut kejadian seperti ini lagi, kalau aku menikah nanti. Aku takut, kalau suamiku berselingkuh lagi karena aku tak bisa memberikan keturunan untuknya. Mungkin lebih baik aku hidup sendiri saja, daripada tersakiti lagi," ucap Jihan terdengar lirih.


Affan dapat merasakan, apa yang Jihan rasakan. Pastinya tak mudah bagi Jihan, untuk menghadapinya. Namun, Affan berusaha memberi semangat. Menyakinkan Jihan, kalau semua itu rencana Allah. Berharap Allah akan memberikan mukjizat untuknya.


"Belum. Mas Wildan enggak mau periksa, setiap aku ajak dia periksa. Tapi dia 'kan sudah terbukti, kalau dia enggak mandul. Buktinya Melisa bisa hamil cepat. Tandanya, aku yang mandul. Ya sudahlah, aku tak mau memikirkannya. Rasanya begitu sakit, jika aku mengingatnya," ucap Jihan.


Affan memutuskan untuk pamit pulang, dia menyuruh Jihan beristirahat. Affan langsung pergi meninggalkan hotel, dan Jihan langsung menuju kamarnya. Wildan sudah berada di kantor Jihan, tetapi security mengatakan, kalau Jihan sedang tak masuk kerja karena pulang kampung.


"Gimana aku bisa berkomunikasi dengan Jihan? Dia sulit sekali di temui. Kalau security bilang dia sedang pulang kampung, berarti Jihan tak ada di rumah." Wildan bermonolog.


Dia terlihat lesu, tak bersemangat. Wildan memutuskan untuk pulang. Kepalanya rasanya ingin pecah. Gajian bulan ini, dia harus membayar hutang Melisa ke Jihan. Terpaksa dia tak bayar mobil dulu.

__ADS_1


Wildan baru sampai kosan. Dia harus mencari kontrakan baru, minggu depan kosan yang dia tempati habis. Wildan ingin mencari kontrakan yang lebih murah. Begitu tersiksanya dia. Tak bisa lagi merasakan kasur yang empuk dan tidur menggunakan AC. Dia hanya bisa membeli kasur lantai dan juga kipas angin. Mereka harus membeli kompor gas kecil, dan juga magicom untuk memasak nasi. Melisa sempat protes, karena Wildan tak bisa membelikan TV, kulkas, dan mesin cuci.


Dia kembali lagi seperti dulu hidup di kampung, yang penuh dengan keterbatasan. Terlebih, saat ini dia sedang hamil. Tapi, dia bisa apa? Semua salah dia, daripada dia di suruh bayar hutang ke Jihan sendiri.


"Assalamualaikum," ucap Wildan sambil mengetuk pintu kamar kos.


Melisa langsung membuka pintu itu, dia melihat wajah suaminya yang kusut. Melisa langsung membuatkan teh hangat untuk suaminya. Dia hanya bisa membuatkan teh hangat tawar.


"Di minum dulu, Mas!" ucap Melisa sambil memberikan teh itu kepada sang suami.


Wildan langsung menyemburkan teh itu dari mulutnya. Dia tampak marah, karena teh yang dibuat Melisa rasanya pait tak manis. Hatinya bertambah kesal.


"Maafin aku, Mas! Aku hanya buat yang ada saja. Gulanya habis, aku mau beli enggak ada uang. Uang dari Mas Habis," ucap Melisa dengan penuh hati-hati.


"Harusnya kamu tanya dulu dong! Jangan asal bikin saja, seperti ini! Ya sudah, minum saja sendiri teh itu! Aaahhh, lagi kesal bikin tambah kesal saja!" bentak Wildan.


Wildan memilih untuk langsung mandi, untuk menyegarkan tubuhnya. Melisa tampak menangis, dia merasa sedih dengan hidupnya sekarang. Tak terbayang olehnya, kalau Wildan begitu kasar kepadanya. Padahal dulu, saat bersama Jihan. Dia sangat tahu, kalau Wildan laki-laki yang lembut tak pernah marah. Dia juga begitu perhatian kepada Jihan, dan sekarang Wildan tak pernah melakukan hal itu kepadanya.


"Kamu masak enggak? Aku lapar!" ucap Wildan.


"Enggak, Mas! Aku enggak punya uang, tadi aku juga hanya makan mie instant saja. Sekarang pun, stoknya habis. Kita tak punya apa-apa. Aku juga pusing. Ibu minta uang buat acara perpisahan sekolah Mawar," jelas Melisa. Kepala Wildan rasanya tambah nyut-nyutan.

__ADS_1



__ADS_2