Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Merayu Wildan


__ADS_3

"Ma, aku berangkat kerja dulu ya! Sekalian antar Melisa pindah ke kosan. Dia mau ngekos, enggak tinggal di sini lagi," ucap Jihan. Meskipun mertuanya selalu bersikap tak baik kepadanya, Jihan tetap berusaha baik kepada ibu mertuanya.


"Kamu memang bodoh Jihan! Kamu tak menyadari, apa yang sebenarnya terjadi antara aku dengan suamimu. Bahkan mertuamu saja, lebih memilih aku dibandingkan kamu. Perlahan, kamu yang akan di tendang mereka dari sini, dan nantinya aku lah nyonya di rumah ini," ucap Melisa dalam hati. Dia begitu sombong, karena merasa menang telah merebut Wildan dari Jihan.


Jihan terkejut, saat melihat Mama Risma terlihat dekat dengan Melisa. Tak seperti saat pertama kali Mama Risma datang, dan tak menyukai Jihan. membawa sahabatnya ke rumahnya. Jihan dibuat melongo, karena Mama Risma tak pernah melakukan hal itu kepadanya. Berbeda sikapnya kepada Melisa.


"Sebenarnya, Mama berat kamu enggak tinggal di sini. Mama sudah merasa nyaman mengobrol denganmu. Nanti kapan-kapan main ya ke sini!" Ujar Mama Risma membuat Jihan tak mampu berkata-kata. Dia baru tahu, kalau hubungan mertuanya dengan sahabatnya sekarang sangat baik, dan sering mengobrol di belakangnya.


Jihan dan Melisa kini sudah dalam perjalanan menuju kosan Melisa. Melisa merasa iri, melihat Jihan bisa menyetir mobil. Terlebih dirinya yang berasal dari daerah, pastinya akan kebanggaan tersendiri bisa memiliki orang kaya. Ibunya tak akan menghina dirinya lagi, dan pastinya akan merasa bangga kepadanya.


"Makasih ya Ta, lo sudah baik banget sama gue. Gue benar-benar berhutang budi sama lo. Gue enggak tahu nasib gue, kalau enggak ada lo di sini," ucap Melisa yang berpura-pura mengambil hati Jihan. Padahal, dia menusuk Jihan dari belakang.


"Iya, sama-sama. Gue senang bisa bantu. Semoga, kehidupan lo bisa lebih baik lagi. Lo juga bisa mendapatkan pendamping hidup yang lebih baik baik lagi. Kalau lo perlu sesuatu, lo kabarin gue saja ya! Insya Allah, kalau gue bisa bantu. Gue akan bantu lo," sahut Jihan.


"Dia enggak tahu saja, kalau nantinya suaminya lah yang akan menjadi pendamping aku. Sorry ya, Ta! Gue butuh suami lo, untuk membuat gue bahagia. Gue capek jadi orang susah terus. Gue ingin hidup senang seperti lo sekarang. Kita gantian lah. Selama ini, lo terus yang hidup bahagia," ucap Melisa dalam hati.


Mereka kini, sudah sampai di parkiran kosan Melisa. Kosan yang cukup mewah. Jihan, sempat merasa bingung. Mengapa Melisa menyewa di tempat kosan elit. Namun, dia tak mungkin menegur sahabatnya itu. Yang ada nantinya Melisa akan tersinggung kepadanya.


Jihan memarkirkan mobilnya, di parkiran kosan. Setelah itu, dia ikut turun bersama Melisa. Dia ingin tahu, kondisi kosan Melisa. Jika dirinya ingin main, dia sudah tahu.

__ADS_1


"Enak juga Mel, kosannya. Tapi, kok spreinya acak-acakan si? Ada botol minuman bekas juga. Harusnya di rapikan dulu, sebelum yang nyewa mulai menempati. Semoga betah ya, Mel! Nanti kapan-kapan, kalau aku enggak sibuk. Aku main deh kesini," ujar Jihan.


"Itu bekas aku kemarin, aku sudah sempat di sini sebelum berangkat kerja. Iya, nanti kabarin saja ya sebelum kesini! Takutnya, pas aku kerja. Kasihan kamu, kalau sudah jauh-jauh kesini. Akunya enggak ada," sahut Melisa bohong. Padahal, dia dan Wildan sempat bercinta. Mereka tertidur, hingga akhirnya langsung buru-buru pulang, dan tak sempat beres-beres dulu. Dia pun sengaja berkata demikian, karena dirinya takut kalau nantinya Jihan datang saat dirinya sedang bersama Wildan.


Jihan tak lama di sana, dia langsung pamit pulang. Karena dia ingin langsung ke kantor, bekerja. Jihan pamit pulang ke Melisa, Melisa mengantarkan Jihan sampai parkiran. Setelah Jihan pergi, dia kembali lagi ke kosan. Hari ini dia memutuskan untuk tidak bekerja lagi. Dia menjadi bermalas-malasan bekerja, tak seperti rencana awalnya untuk menjadi orang sukses.


Melisa pikir, dengan dia memiliki Wildan. Dia tak perlu lagi capek-capek bekerja. Lebih baik dia melayani Wildan dengan baik, agar Wildan tak berpaling darinya, dan menikahi dirinya.


"Akhirnya, satu persatu aku bisa miliki. Paling tidak, aku memiliki tempat yang nyaman untuk bisa berduaan dengan Mas Wildan," ucap Melisa tersenyum licik.


Melisa langsung mengambil ponselnya, dan berniat menghubungi Wildan untuk memberitahu kalau dirinya hari ini izin tak bekerja. Dia meminta Wildan untuk segera datang menemui dirinya.


Mendengar ponselnya berbunyi, Wildan langsung mengambil ponselnya, dan melihat siapa yang menghubungi dirinya. Ternyata selingkuhannya, yang tak lain Melisa. Senyuman terbit di sudut bibirnya. Kesempatan dirinya untuk bisa melampiaskan hasratnya. Terlebih saat ini Jihan sedang datang bulan, tak bisa melayani dirinya.


Wildan sudah tak canggung lagi berkata seperti itu ke Melisa. Tentu saja Melisa sangat bahagia, karena Wildan sekarang bersikap manis kepadanya. Bahkan kini Wildan memanggil dirinya dengan sebutan sayang.


"Akhirnya, keberuntungan berpihak kepadaku. Mas Wildan sudah tergila-gila kepadaku," ucap Melisa. Melisa berniat untuk pergi ke Mall untuk membeli lingerie, yang akan dia pakai saat nanti Wildan datang. Dia ingin berdandan cantik untuk menarik perhatian Wildan. Merayu Wildan.


Tepat pukul 16.00 WiB, Wildan sudah bersiap-siap untuk pulang. Dia sudah tak sabar ingin bertemu Melisa. Dia langsung pergi meninggalkan perusahaan tempat dia bekerja.

__ADS_1


"Aku sudah di jalan ya! Jangan lupa, pesan aku tadi! I miss you," tulis Wildan di pesan chat.


Melisa terlihat senyum kemenangan, saat membaca pesan dari Wildan. Dia langsung mandi dan berdandan cantik. Layaknya seorang wanita penggoda. Dia juga memakai lingerie untuk merayu Wildan.


"Selesai! Tinggal tunggu Mas Wildan datang. Pasti, Mas Wildan senang aku seperti ini," ucap Melisa dengan percaya diri. Dia sudah tak sabar menanti Wildan datang. Suhu ruangan pun sudah sangat dingin, dia siap untuk memberi kepuasan kepada Wildan.


Mobil Wildan sudah terparkir di parkiran kosan Melisa. Dia langsung melangkahkan kakinya menuju kamar kos Melisa. Suara ketukan pintu kamar terdengar, Melisa segera membukanya.


Melisa langsung menarik tangan Wildan untuk masuk, dan menutup pintu kamar itu. Tanpa basa basi. Dia langsung membuka semua pakaian yang Wildan kenakan, kemudian mendorong Wildan ke kasur. Wildan sudah dalam keadaan polos. Kini Wildan sudah membaringkan tubuhnya di ranjang, dan siap dipuaskan Melisa.


Desa*han pun keluar dari bibir Wildan saat Melisa mengulum miliknya. Dia terlihat begitu menikmatinya. Percintaan panas pun akhirnya terjadi saat itu. Keduanya sama-sama menikmati. Mereka pun bercumbu mesra, layaknya pasangan suami istri. Hasrat Wildan akhirnya tersalurkan. Dia merasa puas.


"Terima kasih ya sayang," ucap Wildan yang kini melabuhkan kecupan di kening Melisa. Mereka kini berpelukan.


Berbeda halnya dengan Wildan dan Melisa yang masih mencoba mengatur napas dan jantungnya. Jihan justru terlihat lemas. Tiba-tiba saja gelas yang dia pegang, terjatuh, dan pecah. Perasaan hatinya pun tak enak. Seperti ada sesuatu yang terjadi. Tiba-tiba saja dia teringat suaminya. Jihan mencoba menghubungi ponsel Wildan.


"Sebentar ya sayang! Aku angkat telepon dari Jihan dulu," ucap Wildan dan Melisa tak bisa menolaknya, meskipun dia merasa kesal karena Wildan menerima panggilan telepon dari Jihan saat bersamanya.


"Ya ampun, sayang! Masa iya, gara-gara gelas terjatuh dan pecah, kamu jadi berpikir ada sesuatu terjadi padaku. Kamu sudah dengar sendiri kan? Kalau aku baik-baik. Sudahlah, lupakan saja! Mungkin kamu kelelahan, jadinya tak fokus. Ya sudah, aku lanjut kerja dulu ya! Malam ini aku lembur ya! Kamu tak usah menunggu aku, kalau kamu pulang duluan. Tidur, tidur saja ya!" Ujar Wildan dan Jihan mau tak mau mengiyakan.

__ADS_1


Meskipun dirinya sudah tahu, kalau suaminya saat ini baik-baik saja. Perasaan gelisahnya, tetap saja tak hilang. Dia masih belum merasa tenang.



__ADS_2