Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Berbohong


__ADS_3

Jika kalian, gak sabar dan gak suka dengan cerita ini! Lebih baik kalian skip! Jgn berprasangka buruk tentang cerita ini, author sudah siapkan ending yang pantas untuk Wildan, Melisa, dan Mama Risma. Ikuti dulu alurnya. 🙏 Ingat ya, cerita ini untuk pelajaran bukan karena mendukung perzinaan. Di dunia nyata banyak terjadi, dan kisah ini adalah kisah sahabatku sendiri yang mengalaminya sebagai Jihan. Tapi untuk ending murni author yang buat. Dengan teganya laporkan karya ini, apa memang karya ini mau saya stop saja? Saya tamatkan paksa? Tolong hargai penulis, tak semudah itu mikir alur cerita. Bahkan ini pun saya lagi sakit, tetap maksain nulis. Kalau memang gak suka karena melanggar agama atau apalah, jangan baca novel! Coba tengok dunia luar, apa kisah seperti ini tak ada? Hanya kehaluan penulis?


 


"Lepasin! Lepasin brengsek!" Melisa berteriak meminta dua orang pemuda tak di kenal melepaskan dirinya.


Dia terlihat ketakutan, keringat bercucuran membasahi wajahnya, dan jantungnya berpacu begitu cepat. Dia takut kedua laki-laki itu benar-benar menyetubuhi dirinya. Melisa baru saja pulang bekerja. Dia menyelusuri jalan dari tempat kerjanya menuju tempat kosannya. Ternyata saat itu ada dua orang pria yang sedang mabuk. Terlebih, dirinya berpakaian rok sangat pendek.


Melisa di tarik ke tempat yang gelap dan kosong. Kini Melisa tampak tak berdaya di bawa kungkungan laki-laki itu secara bergantian. Melisa di paksa melayani nap*su bejat kedua laki-laki itu.


Dia tampak menangis, air matanya menetes satu persatu. Dia tak menyangka kalau nasibnya akan seperti itu. Jika Wildan tahu tubuhnya begitu kotor, pasti Wildan akan meninggalkan dirinya.


Dengan tertatih, sambil menahan rasa sakit di area sensitifnya. Melisa berjalan menyelusuri jalan menuju kosannya. Dengan pakaian yang sudah acak-acakan. Padahal, besok dirinya akan berlibur bersama Wildan ke Puncak. Sesuai permintaannya.


"Aku ikut ya Mas. Besok kan aku libur," pinta Jihan kepada sang suami.

__ADS_1


"Aku itu ada event perusahaan, bukan ingin jalan-jalan. Kamar hotelnya, harus bareng dengan yang lain. Nanti saja ya! Kita jalan-jalan sendiri. Aku janji! Sabar dulu ya!" Ujar Wildan mencoba menjelaskan bohong. Agar sang istri mengurungkan niatnya untuk ikut bersamanya.


"Ya sudah, nanti aku yang bayar sendiri kamar hotelnya. Jadi, kamu bisa tidur sama aku," rayu Jihan. Dia masih saja merengek ingin ikut suaminya.


Jihan terkejut, saat Wildan membentak dirinya. Karena dia tak mau mengerti. Padahal dulu, Wildan tak pernah bersikap demikian. Tak pernah sekalipun dia membentak Jihan. Dia selalu bersikap sabar kepada dirinya.


Tentu saja Jihan menangis, terlebih selama ini sang suami tak pernah sedikitpun bersikap kasar kepadanya. Bukan hanya menangis, dia pun merasa tak terima dengan sikap Wildan.


"Maafin aku! Makanya, kamu tolong dong jangan mancing-mancing aku! Aku kan sudah memberi pengertian ke kamu, tolong ngertiin aku dong! Aku ini kerja, bukan main. Aku ingin cari uang tambahan, biar bisa kasih kamu lebih besar. Kamu kan tahu, sekarang perusahaan lagi gak terlalu banyak job. Makanya, kalau aku dapat kerjaan. Kesempatan emas banget," ucap Wildan mencoba memberi pengertian. Dia mencoba menenangkan amarah sang istri.


"Maaf! Iya, aku khilaf. Ya sudah, kalau kamu enggak setuju aku pergi. Aku batalkan. Ya sudah, aku enggak usah ikut acara itu, biar yang lain saja yang mewakilkan," sahut Wildan.


"Yang bilang kamu pergi, enggak setuju itu siapa? Aku enggak mempermasalahkan hal itu. Tadinya, aku ingin ikut. Sekalian, kita liburan. Karena kita sudah lama enggak ada waktu untuk liburan. Tapi, kalau kamu enggak setuju. Ya sudah, mau apalagi. Nanti aku main ke kosan Melisa saja. Kalau perlu nginap di kosan dia, mumpung kamu enggak ada," ucap Jihan tegas.


Membuat Wildan terlihat stres, sungguh pilihan yang sulit baginya. "Aku harus bicara ke Melisa, untuk membatalkan rencana ini dulu. Sepertinya, lebih baik enggak ngomong di awal. Jadi, tak seperti ini," ucap Wildan dalam hati.

__ADS_1


Saat Jihan tidur, Wildan mengendap-endap turun ke bawah untuk menghubungi Melisa. Jihan sudah tertidur nyenyak. Wildan tak tahu, apa yang terjadi pada Melisa saat ini. Tentu saja Melisa akan menutupi pemerko*saan ini.


"Ya, halo," ucap Melisa. Suaranya terdengar lesu, karena dia saat itu memang sedang menangis. Dia mencoba menahannya sejenak. Tak ingin Wildan curiga.


"Kamu kenapa? Kamu lagi nangis ya? Kok suaranya seperti orang yang habis nangis? Tadi pulang jama berapa?" Tanya Wildan yang mulai terlihat perhatian kepada Melisa.


Tentu saja Melisa berbohong. Dia bersikap seperti tak ada apa-apa. Wildan membicarakan mengenai keinginan Jihan ikut ke Puncak, atau menginap di kosan Melisa.


"Ya sudah Mas, kalau seperti itu. Batalkan saja dulu. Aku juga lagi enggak enak badan ini. Lain waktu saja. Ini juga aku ingin istirahat. Kamu enggak tidur Mas? Sudah sana tidur, nanti Jihan mencari kamu," ucap Melisa dan akhirnya mereka mengakhiri panggilan telepon mereka.


Wildan kembali ke kamar, kemudian membaringkan tubuhnya di samping sang istri. Namun, dia tak langsung tidur. Kini dirinya menatap wajah wanita yang dia dulu sangat cintai, dan tak pernah berpaling. Kini dirinya justru luluh dengan sahabat istrinya sendiri.


"Maafkan aku sayang! Kini hatiku sudah terbagi, ada kamu dan Melisa. Tapi, sampai kapanpun kamu adalah istri sahku," ucap Wildan dalam hati.


Perlahan Wildan memejamkan matanya, hingga akhirnya dia tertidur nyenyak. Berbeda halnya dengan Melisa. Di sepanjang keheningan malam, dia tampak menangis. Dia takut, kalau sampai hamil kedua laki-laki yang tak dia kenal. Bagaimana nasibnya dia nanti, jika Wildan tahu.

__ADS_1


"Secepatnya aku harus meminta Mas Wildan menikahi aku. Agar dia tak akan pernah berpaling dariku. Aku tak mungkin menanggung semua ini sendiri, kalau memang nantinya aku hamil. Semoga saja, salah satu penjahat itu tak menitipkan benih di rahimku, dan semoga saja aku segera mengandung anak Mas Wildan," ucap Melisa.


__ADS_2