Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Mempermalukan Affan


__ADS_3

Acara pernikahan Jihan dan Affan berlangsung sangat meriah. Banyak pejabat dan artis yang datang ke acara pernikahan mereka. Pernikahan mereka masuk ke dalam pernikahan mewah tahun ini. Jihan tak tahu, kalau pernikahan mereka menjadi sorotan awak media, dan akan menjadi pemberitaan kalangan umum. Pernikahan mereka akan di tayangkan di televisi. Semua mata memandang takjub kepada pasangan yang kini sedang berbahagia.


Senyuman terpancar dari wajah keduanya. Jihan berharap, pernikahannya dengan Affan akan menjadi pernikahan terakhir dalam hidupnya. Semua tamu undangan turut mendoakan yang terbaik untuk mereka. Berharap kelak mereka akan menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah.


"Rik ...," panggil Wildan.


Wildan baru saja sampai di tempat acara pernikahan Jihan. Sebelum dia berangkat, dia sempat bertengkar dengan Melisa. Melisa tak mengizinkan dia untuk pergi. Padahal, dia tak bilang sama Melisa. Kalau dia ingin datang ke pernikahan Jihan. Pasti Melisa akan semakin melarangnya. Jika dia tahu, yang sebenarnya.


"Maaf Pak, ini undangannya hanya untuk dua orang! Jika Bapak ini mau masuk, Bapak ini harus memiliki undangan," jelas sang penerima tamu.


"Tolonglah, Dek! Ini teman saya, teman Jihan juga. Tetapi, dia tak dapat undangan. Soalnya, Jihan tidak tahu rumahnya. Dia hanya menyuruh saya untuk mengundang dia, datang ke pernikahan Jihan. Saya mohon! Masa iya, dia harus pulang lagi? Kasihan sudah datang jauh-jauh." Riko mencoba menjelaskan kepada sang penerima tamu, agar mengizinkan Wildan masuk bersama dia dan juga Elena sang istri.


Hingga akhirnya, sang penjaga tamu mengizinkan Wildan masuk bersama Riko dan juga Elena. "Wow, mewah banget pernikahan Jihan. Calonnya bukan kaleng-kaleng si Jihan. Beruntung banget dia, cerai sama lo Wil. Dapat Sultan ini mah. Kita langsung makan saja yuk! Salamannya nanti saja, setelah makan," ucap Riko.


"Belum tahu saja. Gue yakin, Jihan justru akan tersiksa batinnya. Pasti nanti mertua sama suaminya kepengen punya anak dan cucu. Sedangkan dia enggak bisa memberikannya. Rumah tangganya enggak akan awet, paling larinya cerai lagi," sahut Wildan. Dia menunjukkan sikap tak suka. Dia mencoba menutupi rasa kecewanya. Padahal dalam hati, dia menangis. Melihat sang mantan istri bersanding di pelaminan dengan laki-laki lain.

__ADS_1


Wildan tampak memandang wajah sang mantan istri dari jauh, hatinya bagai teriris. Sakit sekali rasanya, melihat senyuman sang mantan istri Jihan terlihat begitu bahagia. Sampai-sampai Wildan tak makan, dia tak nap*su makan. Dia lebih senang memperhatikan mantan istrinya itu.


"Lo enggak makan, Wil? Enak-enak ini makanannya, menyesal lo nanti enggak nyicipin," ucap Riko.


"Enggak Rik, gue enggak ingin makan," sahut Wildan terdengar lirih.


Ingin rasanya Wildan menjerit, dia tak ingin hal ini terjadi. Dia berharap, kalau semua ini hanyalah mimpi buruk baginya. Dia benar-benar telah kehilangan Jihan, Jihan telah bahagia dengan penggantinya. Wildan berharap, kalau suami Jihan sekarang nantinya akan menceraikan Jihan, karena Jihan tak bisa memberikan keturunan. Agar Jihan kembali lagi kepadanya.


"Ayo Rik, kita salaman ke Jihan! Gue ingin lihat reaksi dia, saat nanti melihat gue," ucap Wildan.


Wildan melangkahkan kakinya menuju pelaminan, jantungnya berpacu semakin cepat. Dia terlihat percaya diri menaiki pelaminan. Jihan tampak mengerutkan keningnya. Dia terkejut melihat mantan suaminya datang ke pesta pernikahannya. Padahal dia tak mengundang Wildan.


"Selamat ya, Anda sudah berhasil mendapatkannya! Pantas saja, Anda berjuang keras saat itu! Ternyata, diam-diam Anda menginginkan dia. Licik sekali Anda!" ucap Wildan sinis. Dia hendak berbicara di depan semua orang. Dia ingin mengatakan, kalau Affan telah berbuat licik merebut Jihan darinya. Membuat Jihan bercerai darinya, karena ingin menikah dengannya.


"Maksud Anda apa? Saya tak berbuat licik! Saya tak merebut Jihan dari Anda! Saya menikah, setelah Jihan resmi bercerai dari Anda! Jihan pun menggugat Anda, karena Anda berselingkuh, dan Jihan tak mau di madu," sahut Affan tegas. Affan merasa tak terima dengan penuturan Wildan.

__ADS_1


"Aku minta sekarang kamu pergi dari sini! Aku sudah tak mau berurusan lagi sama kamu! Aku pun tak pernah mengundang kamu! Jangan sampai, aku meminta Mas Affan menyuruh security mengusir kamu dari sini!" ancam Jihan. Dia terlihat begitu marah dengan mantan suaminya itu.


"Kamu tak perlu repot-repot mengusir aku! Aku akan pergi sendiri dengan senang hati. Tentunya, setelah aku mengatakan kepada semua orang. Kalau suami baru kamu telah berbuat licik untuk mendapatkan kamu. Biar mereka tahu keburukan dia," sahut Wildan. Dia tertawa seperti orang yang tak waras.


"Silakan saja, jika Anda mau melakukan hal itu! Saya tak akan segan-segan memasukkan Anda ke penjara, karena pencemaran nama baik. Saya tidak terima!" ancam Affan. Wildan tak sadar, dengan siapa dia berhadapan. Dengan berani dia menantang Affan. Otaknya sudah tak bisa berpikir jernih.


Wildan langsung turun dari pelaminan. Benar saja, dengan gilanya dia langsung menghampiri pembawa acara. Dia langsung merebut mic sang pembawa acara. Dengan lantang, dia mengatakan kalau Affan telah berbuat licik untuk merebut Jihan darinya.


Wildan merasa puas, karena keadaan pesta sempat kacau. Wildan berhasil mempermalukan Affan di depan para tamu undangan yang datang. Affan tampak marah, dia langsung turun dari pelaminan dan meminta petugas keamanan mengusir Wildan ke luar.


"Aku akan membalas semua perbuatan kamu!" ucap Affan dalam hati.


Affan langsung mengambil mic pembawa acara. Dengan gentleman, dia langsung melakukan klarifikasi. Dia tak ingin semua orang mengecap dirinya buruk.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Di sini saya ingin mengklarifikasi pernyataan laki-laki yang tak bertanggung jawab tadi. Dia memang benar mantan suami dari istri saya Jihan. Di sini saya akan jelaskan kepada semua yang hadir di sini, kalau saya tidak pernah berbuat licik ataupun merebut Jihan dari dia. Mereka bercerai, karena laki-laki tadi berselingkuh dengan sahabat istri saya. Bahkan sampai wanita itu hamil, sebelum mereka menikah secara siri. Istri saya mengetahui perselingkuhan mereka, hingga akhirnya memilih bercerai. Dia berniat menggugat cerai mantan suaminya itu, dengan mendatangi saya untuk meminta bantuan. Dia mengenal saya, karena saya pernah menjadi pengacara untuk menangani kasus perceraian bosnya. Di sini jelas, semua berjalan semestinya. Saya hanya bertugas sebagai pengacaranya. Membantu klien saya. Kita tak pernah tahu, tentang rencana Allah untuk kita. Tak pernah terpikir oleh saya, bisa menikah dengan wanita yang kini sudah resmi menjadi istri saya. Seiringnya jalan, cinta pun hadir di antara kita. Apa kita salah seperti itu? Tentu saja tidak, cinta hadir dengan sendirinya. Setelah istri saya sudah resmi bercerai. Meskipun demikian, saya terima dia apa adanya. Saya benar-benar mencintai dia, dan saya berjanji akan selalu membahagiakan dia. Saya ingin menghapus luka yang ditorehkan mantan suaminya dulu. Sekian pernyataan dari saya, semoga dikemudian hari tidak akan menjadi masalah bagi kami. Saya minta doa dari kalian semua yang datang di acara pernikahan kami. Semoga rumah tangga saya dan istri saya langgeng sampai maut memisahkan kita. Semoga pernikahan ini, akan menjadi pernikahan kami yang terakhir, dan kami pun bisa menjadi keluarga sakinah, mawaddah, dan warohmah. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Jihan merasa terharu dengan penuturan laki-laki yang telah resmi menjadi suaminya. Sampai-sampai dia meneteskan air matanya.

__ADS_1



__ADS_2