
Affan sebagai kuasa hukum Jihan, berjuang keras agar hakim segera memutuskan Wildan dan Jihan resmi bercerai. Dia terlihat begitu gagah, Wildan sangat jauh perbedaannya dengan Wildan. Demi status jandanya sang pujaan hati, dia hanya meminta bayaran dari Jihan setengah dari tarifnya. Uang itu hanya untuk kas kantornya.
"Seperti yang sudah diketahui, klien Saya sudah melihat dengan jelas. Dengan mata kepalanya sendiri, bahwa saudara Wildan saat itu berada di kamar kos sahabatnya yang tak lain selingkuhan dari Wildan. Keduanya dalam keadaan polos, dan dari mulutnya sendiri. Saudara Wildan mengakui, kalau dia telah menikah secara siri dengan wanita yang bernama Melisa. Saat itu Melisa sudah dalam keadaan hamil, lebih tepatnya hamil sebelum menikah. Ini sudah jelas terbukti, tak ada lagi yang perlu dipertahankan! Klien Saya menolak untuk di poligami dan menolak keras anak dari selingkuhan suaminya. Jadi, menurut saran Saya, lebih baik pihak pengadilan langsung memutuskan perceraian mereka," ucap Affan dengan tegas.
"Tapi, Saya masih sangat mencintai istri Saya Pak Hakim. Jihan, Mas mohon dengan sangat!" ucap Wildan dengan wajah penuh iba.
"Saya yakin, Anda bukan cinta kepada klien Saya! Tapi, lebih tepatnya Anda butuh tempat untuk menumpang hidup. Bukan begitu Mbak Jihan? Kalau Anda cinta, tak mungkin Anda selingkuh! Anda mau bilang khilaf? Kok khilaf di lakukan berkali-kali, sampai akhirnya selingkuhan Anda hamil. Mohon maaf, saudara Wildan yang terhormat. Klien Saya sudah menolak untuk kembali kepada Anda. Saya harap, Anda bisa menerimanya. Asal Anda tahu, dia sampai harus menghindar dari Anda sebelum sidang ini dilakukan. Saking, begitu jijiknya dia kepada Anda!"
Sorak-sorak terdengar di ruang sidang perceraian Jihan dan juga Wildan. Mereka mentertawakan Wildan, membuat wajah Wildan memerah. Bukan hanya Wildan saja, sang mama dan juga Melisa merasa malu. Mama Risma tampak memegangi dadanya yang terasa sesak.
Sebagai seorang Ibu, pastinya dia merasa sedih sang diperlakukan seperti itu. Meskipun sang anak salah, tetap saja dia merasa tak terima. Ruang sidang menjadi ramai.
__ADS_1
"Saya minta kalian tenang dulu! Hargai pengadilan!" ucap sang hakim ketua tegas, di iringi ketukan palu. Bukan masalah perceraian saja, Jihan juga sudah meminta kepada Affan untuk mengurus hutang Melisa kepada dia. Dia tak akan mau mengikhlaskannya.
Suasana pengadilan tampak tegang menunggu hasil keputusan hakim, terlebih Wildan. Dia tak memiliki kekuatan apapun, terlebih dia berada di posisi yang salah. Sedangkan Jihan justru terlihat lebih tenang. Dia serahkan semuanya kepada Affan. Ada perasaan sedih dibenak Jihan, dia tak menyangka pernikahan dia dan Wildan akan berakhir di meja hijau.
Wildan hanya bisa memperhatikan kedekatan Jihan dengan Affan. Jihan terlihat berkelas, bahkan dia bisa memakai jasa kuasa hukum. Tak seperti Wildan yang hanya datang bersama mamanya dan juga Melisa.
"Harap tenang semuanya! Sidang akan dilanjutkan! Berdasarkan bukti dan keterangan saksi, dan penjelasan dari pihak penggugat. Maka dengan ini, pengadilan memutuskan bahwa saudara Wildan Prayudi dan saudari Jihan Anandita resmi bercerai secara agama maupun secara hukum. Mereka bukan lagi sebagai pasangan suami istri!" hasil putusan pengadilan. Senyuman melengkung di sudut bibir Jihan. Akhirnya, dia bisa terlepas dari Wildan. Dia akan membuka lembaran baru.
"Selamat ya! Akhirnya, keinginan kamu terwujud! Semoga saja, kamu bisa mendapatkan kebahagiaan dengan yang lain," ucap Wildan. Dia langsung mengulurkan tangannya kepada Jihan.
"Apa Mas boleh memeluk kamu, untuk terakhir kalian ya?" Tanya Wildan dengan tak tahu malunya.
__ADS_1
"Maaf, Mas. Kita bukan pasangan suami istri lagi, hukumnya haram melakukan hal itu! Kisah kita sudah berakhir!" ucap Jihan tegas.
"Wildan, awas ya jangan coba-coba kamu ganggu Jihan lagi! Dia bukan istri kamu lagi! Urusin saja istri baru kamu!" ucap Ibunya Jihan.
"Tuh Wildan, kamu dengar! Kamu harusnya bersyukur Wil, akhirnya kamu bisa terbebas dari perempuan mandul itu! Sekarang, dia bisa tersenyum kemenangan, karena berhasil bercerai dengan kamu. Tetapi bisa dipastikan, hidupnya tak akan pernah bahagia sampai kapanpun. Dia tak akan pernah bisa menjadi seorang wanita yang sempurna. Lebih baik kamu pikirkan masa depan kamu dengan Melisa! Tak usah pikirkan dia lagi! Melisa justru yang bisa memberikan keturunan. Lupakan wanita sombong itu!" ucap Mama Risma. Membuat Ibunya Jihan tersulut api amarah.
"Cih, sudah diposisi salah masih saja sombong. Tak menyadari letak kesalahannya. Kita tunggu tanggal mainnya saja! Siapa yang akan menderita, setelah perceraian ini! Baru juga enggak punya anak 5 tahun, sudah berani-berani nuduh Jihan mandul. Bisa saja Wildan yang mandul. 'Kan selama ini kita enggak pernah tau. Ini hanya perkiraan Ibu saja, mereka tak pernah periksa!" Sahut Ibunya Jihan.
"Jelas dong, anak situ yang mandul! Tuh Wildan sudah ada buktinya, si Melisa bisa hamil. Sadar diri saja deh! Masih saja ngotot, anaknya enggak mau di bilang mandul," sindir Mama Risma.
Hampir saja Ibunya Jihan ingin mere*mas mulut Mama Risma. Tetapi, Jihan dan Affan mencoba menahannya. Mereka tak ingin membalasnya seperti itu.
__ADS_1
"Sudah Bu, diamkan saja! Ibu sabar ya! Biarkan saja mereka bicara apapun tentang aku! Ibu tak perlu takut, Allah itu tak tidur. Sekarang dia bisa berbicara apapun tentang aku, tetapi aku yakin suatu saat nanti dia akan mendapatkan balasannya. Kita tak perlu membalasnya dengan tangan kita! Cukup kita doakan saja! Ayo kita pulang yuk! Mas Wildan jangan lupa ya di transfer ke rekening aku, jangan sampai aku datangi kantor kamu ya Mas untuk menagih uang aku!" Wildan tak mampu berkata-kata. Dia hanya menganggukkan kepalanya. Wildan hanya bisa menatap kepergian wanita yang masih sangat dia cintai, rumah tangganya hancur hanya karena nap*su sesaat. Padahal, semuanya dia bisa dapatkan dari Jihan.
"Kamu kenapa melarang Ibu segala sih? Mulut Ibu rasanya belum puas ngoceh-ngoceh. Kamu itu jadi orang terlalu baik. Makanya, mereka berani injak-injak kamu! Manfaatkan kamu! Jadikan tuh pelajaran berharga! Harus hati-hati sama orang, dan jangan terlalu baik sama orang! Terus, jangan pernah masukin orang lain di rumah tangga kamu! Jika nanti kamu menikah lagi!" ucap sang ibu dan Jihan mengiyakan.