
"Aku ingin kamu segera melamar aku. Mendatangi ibu aku di kampung. Biar orang di kampung aku tahu, kalau aku sudah menikah lagi, dan wajar jika aku pulang nanti dalam keadaan hamil besar," pinta Melisa.
"Ya enggak mungkinlah! Kamu gila? Bukannya, rumah orang tua kamu dengan Jihan dekat? Bisa kacau rumah tangga aku sama Jihan, kalau orang tua Jihan tahu kalau suami anaknya menikah lagi dengan wanita yang di anggap sahabat oleh anaknya. Jika sampai hal itu terjadi, kamu benar-benar keterlaluan," protes Wildan.
"Justru, itu yang aku inginkan. Biar semua orang kampung tahu, kalau aku lebih unggul dari Jihan. Kamu lebih memilih aku daripada Jihan," ucap Melisa. Melisa begitu bangga menjadi pelakor. Dia tak mungkin bicara seperti itu ke Wildan, karena pada kenyataannya Wildan tak pernah memilih dia seutuhnya. Dia masih ingin mempertahankan rumah tangganya dengan Jihan.
Wildan menyarankan agar ibu dan anaknya Melisa datang ke Jakarta, dan mereka menikah di Jakarta. Dia ingin, pernikahan Melisa dengan dirinya dilakukan secara tertutup. Tetangga tak perlu tahu, siapa suami Melisa yang baru. Mereka hanya perlu tahu, kalau Melisa sudah menikah kembali di Jakarta.
"Ya sudah, nanti aku coba bicarakan sama Ibu tentang rencana pernikahan kita ini," ucap Melisa.
Wildan akan membicarakan rencana pernikahan dirinya dengan Melisa kepada sang mama. Mamanya pasti senang, jika dia tahu kalau saat ini Melisa sedang hamil anaknya. Mereka kini sudah berada di restoran steak. Wildan langsung memesan dua porsi steak dan juga minuman. Mereka sedang menunggu makanan datang.
"Kamu kapan mau nikahin aku nya? Minggu depan ya?" Rengek Melisa lagi. Dia meminta Wildan segera menikahi dirinya.
"Kan aku sudah bilang, sabar dulu! Aku ingin bicarakan dulu hal ini kepada mama. Menikah bukan hanya sekadar menikah. Tetapi, aku juga harus bisa membagi waktu untuk Jihan dan juga kamu. Masalah keuangan pun, harus aku pikirkan," jelas Wildan.
"Tapi ..., rasanya aku enggak sanggup kalau harus sambil bekerja. Pasti, atasan aku protes. Jadi, aku sudah memutuskan untuk berhenti bekerja. Daripada nanti di pecat," sahut Melisa. Wildan tampak menghela napas panjang. Semua memang salah dia, seharusnya dari awal dia tak bermain api. Sekarang, dia jadi pusing sendiri. Dia tak bisa menghindari lagi, karena Melisa sedang hamil anaknya.
Hingga akhirnya, Wildan menyetujui keinginan Melisa untuk berhenti bekerja. Semua dia lakukan demi anak yang dikandung Melisa saat ini. Wildan terpaksa menutupi rencana pernikahannya dengan Melisa, dari Jihan. Obrolan mereka harus terhenti, karena makanan yang mereka pesan datang. Mereka langsung menikmati. Namun, Melisa berakting manja mencari perhatian Wildan, dengan memanfaatkan kehamilannya saat ini.
Rencananya berhasil, Wildan menjadi lebih perhatian kepadanya. Wildan tampak menyuapi Melisa makan. Dia benar-benar melupakan Jihan secara perlahan, Melisa benar-benar hebat menjadi seorang penggoda. Dengan teganya, dia berhasil merebut suami sahabatnya sendiri.
Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk pulang. Dengan cueknya Melisa berjalan di depan tempat dia bekerja. Dia berani menggandeng tangan Wildan dengan mesra. Wildan hanya diam tak berkutik. Melihat Melisa melintas, teman di tempat kerjanya langsung melapor ke atasan Melisa. Membuat dia merasa kesal dengan sikap yang dilakukan Melisa.
__ADS_1
Langkah Wildan dan Melisa terhenti, saat atasan Melisa berteriak memanggilnya. "Melisa! Bilangnya sakit, tahu-tahu jalan sama cowok!"
Dengan sombongnya, Melisa menghampiri atasannya. "Emang lagi sakit, tapi bukan sakit biasa. Saya sebenarnya, sudah menikah lagi, dan saat ini saya sedang hamil. Saya tak sanggup kalau harus bekerja. Jadi, saya sudah memutuskan untuk berhenti bekerja. Toh, sekarang ini saya sudah ada yang membiayai hidup saya. Ngapain saya harus capek-capek bekerja lagi," sahut Melisa. Wildan tampak kesal, mengapa Melisa mengatakan seperti itu kepada orang.
"Bagus deh! Lagi pula, kami sudah tak butuh pekerja model kamu. Alah, ngaku-ngaku sudah nikah, palingan juga kumpul kebo," sindir SPG lainnya.
"Atau mungkin, jadi pelakor. Kalau enggak simpanan laki orang," sahut SPG lainnya. Melisa tampak kesal, karena dia menjadi bahan bullyan teman kerjanya dulu. Wajahnya terlihat memerah, menahan rasa malu. Pada kenyataannya, dia memang seperti itu.
Dengan perasaan kesal, dia langsung menarik tangan Wildan keluar Mall. "Makanya, kamu itu nikahi aku. Terus, kamu ceraikan Jihan. Ini baru aku yang di bully seperti ini. Memangnya, kamu mau kalau anak kita nanti menjadi bahan bullyan teman-temannya karena di bilang anak haram?" Cerocos Melisa. Dia sengaja menyudutkan Wildan. Agar hati Wildan terketuk, untuk segera menikahi dirinya.
"Iya ... iya! Aku akan segera menikahi kamu. Aku tak mungkin tega, anakku mengalami seperti yang kamu ucap tadi," sahut Wildan.
Wildan berniat untuk segera menikahi Melisa. Malam ini juga, dia akan membicarakan hal ini kepada sang mama. Dia lakukan demi anak yang ada di dalam kandungan Melisa. Setelah mengantarkan Melisa pulang ke kosan. Wildan pamit ingin langsung pulang. Agar tidak terlalu malam, pulang ke rumah.
"Ya sudah, kamu kirim nomor rekening kamu ya! Tapi, maaf. Aku belum bisa kasih kamu uang besar-besar, karena aku belum gajian. Tolong kamu irit-irit ya!" Sahut Wildan.
"Berapa? Ingat, anak kamu perlu minum susu, perlu makan-makanan yang bergizi. Agar sehat di dalam kandungan aku," ucap Melisa. Melisa sangat berbeda dengan Jihan. Belum apa-apa, dia sudah banyak menuntut masalah uang.
"Iya, aku tahu. Tapi, uang aku menipis. Hanya uang itu saja. Aku sudah transfer uang itu ke Jihan. Aku hanya pegang untuk transport. Untung, aku ada tambahan uang dari fee jadi marketing. Uang itu selalu aku simpan dan pakai untuk keperluan pribadi. Jihan enggak tahu. Aku transfer 500 ribu ya! Tolong kamu irit-irit pakai uangnya ya!" Jelas Wildan.
Setelah transfer uang untuk Melisa, Wildan langsung pergi meninggalkan kosan Melisa menuju rumahnya. Dia harus segera sampai di rumah. Jika Jihan belum pulang, dia ingin membicarakan hal ini kepada sang mama.
Wildan baru saja sampai di rumah. Dia langsung memarkirkan mobilnya. Setelah itu, dia langsung memasuki rumah. Wildan bisa bernapas lega, karena Jihan belum pulang. Dia langsung menghampiri sang mama yang berada di kamarnya.
__ADS_1
"Baru pulang kamu, Wil?" Tanya sang mama.
"Iya. Ma, ada yang Wildan bicarakan sama mama. Sebelumnya, Wildan ingin meminta maaf sama mama. Jika mama nantinya kecewa sama aku. Aku, akui. Aku salah. Seharusnya, aku tak seperti ini. Aku jadi terjebak seperti ini, dan sulit untuk terlepas. Melisa sahabatnya Jihan hamil anakku, dan dia meminta aku untuk segera menikahi aku.. Aku terpaksa Ma, aku harus menikahi dia. Aku tak ingin, anakku di sebut anak haram dan aku tak ingin Melisa membunuh anak itu. Anak itu, sudah aku nanti sejak dulu.
Mama Risma tentu saja tersenyum puas, inilah saat yang dia nantikan. Akhirnya, keinginan dia bisa terwujud. Melisa berhasil menaklukkan hati anaknya. Terlebih kini, Melisa sudah memberikan cucu untuknya. Kesenangannya berlipat ganda. Wildan tak tahu, kalau semua ini adalah rencana ibunya yang ingin memisahkan dia dengan Jihan. Wanita yang masih resmi menjadi menantunya.
"Kamu tak perlu bersalah. Mungkin, memang sudah jalannya seperti itu. Siapa suruh dia mandul. Benar kan kata mama, Jihan itu mandul. Itu buktinya Melisa hamil anak kamu. Berarti, yang mandul itu Jihan bukan kamu. Ya, kamu harus segera menikahi Melisa. Mama tak ingin cucu mama, nantinya di bully teman-temannya. Sudahlah, Wil! Untuk apalagi kamu mempertahankan jIhan? Yang sudah jelas-jelas tak bisa memberikan kamu keturunan. Lebih baik kamu cerai dengan Jihan, dan nikahi Melisa! Rencananya, kapan kamu akan menikahi Melisa? Harus secepatnya, sebelum perut Melisa buncit. Kasihan juga, jika dia harus melewati kehamilan dia sendiri. Dia butuh perhatian dari kamu," ucap Mama Risma. Wildan tampak menganggukkan kepalanya. Bagi dia, apa yang dikatakan mamanya benar. Dia harus segera menikahi Melisa. Tapi, dia masih tak sanggup untuk mengatakan hal ini kepada Jihan, Wildan masih memilih untuk menutupinya dari Jihan.
"Iya, Ma. Wildan akan segera menikahi Melisa. Bertanggung jawab atas apa yang telah Wildan lakukan, sampai akhirnya hadirnya anak di hubungan terlarang kami. Tapi, Wildan cinta sama Jihan. Wildan tak ingin kehilangan Jihan, dia wanita yang baik," sahut Wildan. Dia terlihat stres. Wildan langsung pamit ke kamarnya. Dia harus segera mandi sebelum Jihan pulang.
"Ya sudah! Kapan jadinya kamu nikahi dia?" sahut Mama Risma.
"Secepatnya. Nanti Wildan kasih tahu mama lagi ya!" Ujar Wildan dan sang mama mengiyakan.
Wildan langsung ke kamarnya, dia langsung mandi. Dia tak ingin istrinya tahu, kalau dirinya baru pulang. Mama Risma tampak senang, karena sebentar lagi keinginannya akan terwujud. Sama halnya dengan Mama Risma, Melisa pun tampak senang. Sebentar lagi, dia akan menjadi nyonya Wildan. Cita-citanya ingin menikah dengan orang Jakarta dan hidup enak, akan segera terwujud. Dia tak tahu, kalau apa yang dia pikirkan tak seindah dengan kenyataan yang ada.
Wildan sudah selesai mandi, dia langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. Semenjak selingkuh dengan Melisa, dia jadi malas untuk sholat. Dia melakukan hal itu, karena di ingatkan Jihan.
Wildan langsung tertidur nyenyak, tubuh dan pikirannya terasa lelah. Jihan baru saja sampai di rumah. Dia langsung memarkirkan mobilnya. Setelah itu, dia langsung naik ke kamarnya. Jihan melihat suaminya yang sudah tertidur nyenyak.
Jihan memilih untuk langsung mandi, karena merasa tubuhnya terasa lengket. Setelah itu, dia langsung sholat isya. Tiba-tiba saja perasaan hatinya tak enak, seakan sebuah pertanda sesuatu yang tak baik. Namun, Jihan berusaha untuk melawannya. Setelah sholat, dia langsung naik ke ranjang secara perlahan. Dia tak ingin mengusik tidur suaminya. Dia langsung membaringkan tubuhnya di samping sang suami.
__ADS_1