
Dua Minggu Kemudian
"Mas, kapan ke kosan aku? Sudah dua minggu Mas tak ada kabar berita. Mas sengaja ya menghindar dariku? Mas mau perselingkuhan kita, aku bongkar ke Jihan? Biar Jihan tahu kelakuan suaminya selama ini. Diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri," cerocos Melisa di panggilan telepon. Dia sengaja menghubungi Wildan, di saat jam kerja. Agar Jihan tak tahu.
Mendengar ancaman Melisa, tentu saja Wildan merasa takut. Dia tak ingin perselingkuhan ini diketahui Jihan. Dia sudah terjebak dalam hubungan terlarang ini dengan Melisa. Sulit rasanya dia melepas Melisa, hingga akhirnya mau tak mau dia harus menjalani hubungan dengan keduanya.
"Iya ... iya! Nanti pulang kerja aku ke kosan ya! Aku bukannya mau menghindar, kamu kan sudah tahu alasannya. Aku tak bisa berkutik, karena Jihan merasa curiga denganku. Untung saja, Jihan tak mencari tahu ke perusahaan. Jika sampai hal itu terjadi, tamat sudah riwayat aku," ungkap Wildan.
"Sebenarnya, bagus dong Jihan tahu. Dia harus menyadari, kalau dirinya tak bisa memberikan keturunan. Makanya suaminya selingkuh. Pokoknya, Mas janji ya! Kalau aku hamil, mas nikahi aku ya!" Ujar Melisa.
"Ya janganlah! Aku tak mau, dia sampai tahu perselingkuhan kita. Sampai kapanpun, dia istri aku! Aku tak akan menceraikan dia," ucap Wildan tegas.
"Oh, jadi hubungan kita selama ini tak ada artinya? Mungkin saat ini pun, sudah ada benih kamu di rahim aku. Kamu jangan main-main mas! Aku enggak mau menanggungnya sendiri. Sudah hidup susah, tambah susah saja aku. Bukannya mendapatkan hidup yang lebih enak di kota, pulang kampung malah bawa enak. Jika aku tak bisa mendapatkan kamu, Jihan pun tak boleh hidup bahagia dengan kamu!" Ancam Melisa membuat kepala Wildan rasanya mau pecah.
Dia tampak memijat keningnya yang tiba-tiba saja terasa sakit. Wildan sudah menyadari letak kesalahannya, tetapi dia tak berani untuk mengatakan kepada Jihan. Dia tak yakin kalau Jihan akan memaafkan dirinya. Dia yakin kalau nantinya Jihan akan meminta cerai darinya, meskipun awalnya bukan kesalahan dirinya. Sahabatnya yang menggoda dirinya.
"Ya sudah, iya! Nanti kita bicarakan lagi ya! Aku mau ada meeting. Sudah dulu ya teleponnya!" Ujar Wildan. Semakin lama dia bicara dengan Melisa, dirinya akan semakin tertekan, hingga akhirnya dia tak bisa konsentrasi dalam bekerja.
__ADS_1
Wildan sengaja tak memberi kabar dari sekarang, kalau nanti dia pulang terlambat. Dia akan melakukan secara dadakan. Lagi pula, dia tak akan lama di kosan Melisa. Dia tak ingin Jihan curiga.
Jam sudah menunjukkan pukul 17.00, Wildan sengaja pulang tepat waktu. Agar dia ada waktu untuk mampir dulu ke kosan Melisa sebentar. Dia khawatir, kalau nantinya Melisa akan berbuat nekat kepadanya. Kini Wildan sudah dalam perjalanan menuju kosan Melisa. Dia sengaja tak memberi kabar kepada sang istri. Setelah sampai di kosan Melisa, barulah dia akan menghubungi Jihan.
Wildan baru saja sampai di kosan Melisa, dia langsung memarkirkan mobilnya. Setelah itu, dia menghubungi Jihan dulu sebelum masuk. Wildan memberitahu, kalau dirinya pulang agak terlambat. Dia mengatakan, kalau dirinya baru akan pulang dari kantor habis sholat magrib. Jihan pun, baru akan pulang habis isya. Kemungkinan dia baru sampai rumah jam 21.00.
Wildan sudah merasa tenang, karena sang istri sudah tahu. Wildan langsung turun dari mobil, menuju kamar kos Melisa. Melisa sudah mempersiapkan diri, menunggu Wildan datang. Dia sudah terlihat seksi menggunakan lingerie, untuk menggoda Wildan.
Suara ketukan pintu terdengar, Melisa langsung bergegas membukanya, dan ternyata laki-laki pujaannya yang datang. Tentu saja Melisa langsung menyambutnya dengan senang hati. Dia langsung menggandeng tangan Wildan masuk ke dalam.
Melihat Melisa penampilan seksi, tentu saja Wildan tak tahan. Terlebih, sampai saat ini dirinya belum melakukan hubungan suami istri dengan Jihan. Jihan selalu sibuk dengan pekerjaannya. Setiap Jihan pulang, Wildan sudah tidur, dan saat pagi hari Jihan pun selalu menolak.
Percintaan panas pun terjadi, tanpa menunda waktu lagi. Keduanya tampak bergairah, Wildan pun akhirnya terhanyut kembali dengan servis yang dilakukan Melisa. Melisa membuat Wildan mendapatkan pelepasan. Kini Wildan mencoba mengatur napasnya dan jantungnya berpacu lebih cepat.
Melisa beranjak turun dan langsung ke kamar mandi. Kemudian mencuci area sensitifnya. Setelah itu dia mengambilkan Wildan air putih. Wildan pun langsung menenggaknya. Setelah itu, dia pun langsung membersihkan miliknya dan memakai celana boxernya. Dia masih bertelanjang dada.
Keduanya kini sudah duduk berhadapan, dan siap membahas tentang hubungan mereka selanjutnya. Intinya, Melisa tak akan membongkar perselingkuhan ini. Kecuali kalau Wildan khianati dirinya, membatalkan menikahi dirinya.
__ADS_1
"Ok, aku akan tetap menjalani hubungan dengan kamu. Tapi tolong! Jangan sampai Jihan tahu perselingkuhan kita," ucap Wildan.
"Iya, tapi kapan kamu nikahi aku? Aku enggak mau terus-terusan seperti ini," protes Melisa.
"Iya, secepatnya! Sabar dulu ya! Aku harus pikirkan masalah financial juga. Kamu kan juga harus aku nafkahi, kalau kita sudah menikah. Kalau aku enggak nafkahi kamu, nanti aku berdosa," jelas Wildan dan akhirnya Melisa mengerti.
Wildan tak lama di kosan Melisa. Setelah itu, dia pamit pulang. Mau tak mau, dia harus mengerti posisi dirinya. Bagaimanapun, dia hanya selingkuhan Wildan. Melisa langsung memakai pakaiannya, tak menggunakan lingerie lagi.
"Mas, aku minta uang dong! Aku enggak punya uang, stok uangku menipis. Mana anakku juga butuh uang di kampung, ibuku telepon minta uang 300 ribu. Tapi aku belum gajian," ucap Melisa. Dia sudah berani meminta terang-terangan kepada Wildan.
Akhirnya Wildan mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah dari dompetnya. "Maaf, aku enggak bisa kasih kamu besar. Soalnya, aku belum gajian. Tolong di irit-irit dulu ya! Bukan depan aku akan mengurangi jatah Jihan, dan itu untuk kamu," ucap Wildan.
"Lima juta ya mas, setiap bulannya. Pasti selama ini kamu besar kan kasih ke Jihan? Sekarang, sudah ada aku. Tolong bersikap adil padaku! Pokoknya, aku ingin kamu secepatnya nikahi aku!" Melisa mulai mengatur hidup Wildan.
"Lihat nanti ya! Aku tak bisa janji, karena aku banyak cicilan. Selama ini di bantu Jihan. Nanti aku coba atur dulu ya!" Ujar Wildan yang mencoba memberi pengertian kepada Melisa.
"Intinya, aku ingin kamu berbuat adil kepada aku! Jangan berat ke Jihan saja! Nanti, mentang-mentang Jihan istri sah kamu. Kamu lebih fokus ke dia!" Melisa mulai menuntut Wildan.
__ADS_1
Sabar ya! Sesuai di deskripsi. Jihan mengetahui perselingkuhan itu, setelah Wildan dan Melisa menikah. Gak usah khawatir, author sudah siapkan kejutan untuk mereka bertiga. Ikuti dulu ya alurnya.