
Melisa bergaya layaknya nyonya rumah di rumah itu. Dia pikir, nantinya dia yang akan menjadi nyonya di rumah itu menggantikan Jihan.
"Kurang ajar sekali sahabatnya Ibu Jihan. Berani-beraninya dia duduk di sebelah Pak Wildan. Kok Ibu Risma cuek saja ya. Sahabatnya Ibu Jihan mencoba mendekati anaknya. Bahkan mereka terlihat dekat. Kasihan Ibu Jihan, dia sibuk bekerja. Suaminya dekat sama sahabatnya," ucap Bi Sumi dalam hati. Diam-diam dia memperhatikan Wildan dan juga Melisa. Dia memperhatikan sambil bersih-bersih.
"Kamu jangan seperti ini! Jangan duduk di sebelah aku. Sudah sana duduk di sana!" usir Wildan.
Namun, Melisa tetap saja tak mau pindah. Membuat Wildan bertambah pusing, karena sudah masuk perangkap Melisa. Bahkan saat Wildan sudah mau berangkat, Melisa mengikuti Wildan hingga ke depan.
"Mas, aku minta nomor telepon kamu dong," ujar Melisa dengan manja. Dengan beraninya merangkul Wildan.
"Ayolah Mel, jangan aneh-aneh! Lusa Jihan sudah pulang ke Jakarta," sahut Wildan.
__ADS_1
"Tenang saja, rahasia ini akan aman. Asalkan kamu menuruti permintaan aku, dan jangan pernah coba-coba menghindari aku!" ancam Melisa.
"Oke ... oke! Aku akan turutin keinginan kamu. Tapi, aku mohon jangan chat macam-macam! Aku takut, Jihan baca," pinta Wildan.
"Iya, kita bertemu di luar. Di dalam rumah, aku tak akan menggangu kamu. Tapi, kamu harus turuti aku. Kalau sewaktu-waktu, aku meminta kamu mengajak aku jalan," ujar Melisa dan Wildan setuju.
Wildan pun akan menyimpan nomor telepon Melisa dengan nama cowok, agar Jihan tak curiga. Lagi pula, pekerjaan Wildan di bidang marketing. Pastinya, Jihan akan mengerti jika ada wanita yang menghubungi dirinya.
"Ya sudah, aku berangkat dulu ya!" Pamit Wildan dan Melisa mengiyakan.
Wildan sudah pergi meninggalkan rumah. Melisa pun kembali masuk ke dalam rumah. Melisa meminta Bi Sumi untuk belanja keperluan Melisa. Agar Melisa bisa mengobrol dengan Mama Risma.
__ADS_1
Sebenernya, Bi Sumi malas menjalankan perintah Melisa. Namun, dirinya teringat ucapan majikannya. Dia khawatir, kalau nantinya. Melisa akan mengadu kepada sang majikan.
Melisa sudah berhasil menyuruh Bi Sumi pergi meninggalkan rumah. Kini Mama Risma sudah bersama Melisa.
"Awal yang bagus! Ibu yakin, Wildan pasti lama kelamaan akan melupakan istri mandulnya itu. Kamu dekati dia terus, sampai akhirnya dia akan memilih kamu, dan menceraikan wanita itu," ucap Mama Risma dan Melisa mengiyakan. Mereka berdua sudah membayangkan yang enak-enak. Padahal kenyataannya, tak seindah yang mereka bayangkan.
"Tapi ingat! Nanti, kalau kamu jadi istri Wildan jangan pelit!" Ucap Mama Risma.
"Tentu saja! Aku akan selalu ingat. Semua ini karena bantuan ibu. Jika tidak, aku tak akan pernah bisa dekat sama Mas Wildan," sahut Melisa.
Melisa terlihat bahagia, karena perlahan Wildan masuk perangkapnya. Melisa akan berusaha keras, agar Wildan berpisah dengan Jihan. Mungkin, saat ini dia mau menutupinya dari Jihan. Tapi tidak, untuk nanti. Tentu saja Melisa tak ingin berbagi suami dengan sahabatnya itu. Dia akan menguasai Wildan, menjadi miliknya seutuhnya.
__ADS_1
"Ya sudah, Melisa pamit siap-siap dulu ya!" Ujar Melisa dan Mama Risma pun mengiyakan. Mereka juga tak mungkin terlihat dekat, di depan Bi Sumi. Bisa-bisa Bi Sumi akan menceritakannya kepada Jihan.