Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Mengancam


__ADS_3

"Sudah sana! Cepat pakai, pakaianmu!" Usir Wildan.


"Tidak! Aku tak ingin keluar dari sini! Aku ingin tidur di sini, bersamamu. Berhari-hari tidur di sofa, tubuhku sangat sakit. Mengapa kau tega mengusirku? Mungkin saja, di dalam rahimku sudah berkembang anakmu. Aku yakin, setelah ini pasti kau akan terus terngiang-ngiang percintaan kita tadi. Mulai sekarang, aku ingin kau perhatian kepadaku! Jika tidak, aku akan membongkar semuanya kepada Jihan. Aku akan bilang, kalau kau meminta aku melayani kamu disaat dia tak ada, dan aku akan bilang, kalau kamu seperti ini karena kau menginginkan seorang anak. Kamu meminta aku mengandung anakmu, karena dia tak bisa memberikan anak kepada kamu. Gimana? Kau pilih yang mana? Aku akan tutup mulutku, dan tak akan mengusik Jihan. Jika kamu bersikap baik kepadaku. Gimana menurutmu? Adil 'kan?" Ujar Melisa tersenyum licik.


"Dasar wanita ular! Bodohnya Jihan terlalu mempercayai kamu! Kamu benar-benar tega kepada Jihan, padahal Jihan begitu baik kepadamu, dan sekarang kau justru merebut aku darinya. Dasar wanita murahan! Aaahhh, bisa-bisanya aku tergoda padamu," Teriak Wildan. Dia begitu menyesal. Mengapa dia bisa tergoda dengan Melisa, dan kini kehancurannya sudah di depan mata.


Wildan tampak mengacak-acak rambutnya. Dia terlihat seperti orang yang tak waras, sedangkan Melisa justru tertawa bahagia. Karena berhasil membuat Wildan tak berkutik.

__ADS_1


"Emang enak! Dulu kau begitu sombong padaku, sekarang kau terima akibat dari kesombonganmu!" Umpat Melisa dalam hati.


"Aku tak habis pikir, mengapa ada wanita sekejam kamu kepada sahabatnya sendiri. Jihan itu begitu baik padamu. Mengapa bisa-bisanya kau berpikir untuk menjebakku?" Wildan bertanya-tanya.


"Karena aku iri padanya. Dia selalu lebih unggul dariku, bahkan ibu kandungku sendiri selalu memuji dirinya. Selama ini dia selalu mendapatkan kebahagiaan, mendapatkan segalanya. Sedangkan aku. Hidupku selalu saja menderita. Kini giliran dia yang hidup menderita. Dia memiliki dua pilihan di hidupnya. Menerima aku sebagai madunya, atau bercerai darimu," ungkap Melisa.


"Tidak! Aku tak ingin bercerai darinya. Sampai kapanpun, hanya dia yang aku cintai. Aku tak sudi memiliki istri seorang penggoda, yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang kau inginkan. Kita ini sudah berzina. Kau tahu, apa hukuman orang berzina? Kau benar-benar menghancurkan aku. Menarik aku ke maksiat," ujar Wildan.

__ADS_1


"Kau yakin, tak ingin mengulanginya lagi? Aku bisa memuaskan kamu, sampai pagi," goda Melisa sambil memainkan alisnya.


"Dasar wanita gila!" Umpat Wildan.


Wildan langsung turun dari ranjang, dan langsung ke kamar mandi.


"Sekarang, aku sudah ada lawan jika aku menginginkannya. Aku yakin, pasti dia akan tergoda jika aku membuat dia tak berkutik lagi," ucap Melisa dalam hati.

__ADS_1


Wildan memilih untuk tidur, karena nanti pagi dia harus bekerja. Dia lebih memilih tidur di sofa. Daripada harus tidur bersama Melisa.


"Sayang, maafkan aku yang telah mengkhianati kamu. Semua ini gara-gara wanita yang kau anggap sahabatmu, dan justru malam ini telah menghancurkan aku. Selama ini kau terlalu baik padanya. Tanpa kau sadari, dia berniat menghancurkan kamu," ucap Wildan. Wildan tampak stres, gimana kalau sampai Jihan tahu hal ini. Pastinya Jihan akan mengusir dia dari rumah ini, karena rumah yang mereka tempati saat ini. Jihan yang membayarnya.


__ADS_2