Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Sosok Melisa


__ADS_3

Mama Risma dan Melisa terlihat dekat. Wildan pun merasakan seperti itu. Dia merasa hubungan sang mama dengan Melisa sangat dekat, bahkan melebihi kepada sang istri, dan aneh juga. Sang mama tak sedikit pun marah kepadanya, saat dia mengatakan telah menghamili Melisa. Justru menyuruh dirinya untuk menikahi Melisa, tanpa sedikit pun memikirkan hati Jihan.


"Kurang baik, Ma. Maboknya parah, apalagi setiap pagi. Aku sampai enggak bisa makan, mual terus. Tapi, pas sama Mas Wildan mau makan. Ini juga segar banget, giliran tahu mau jalan papanya. Mungkin, dia minta diperhatiin sama papanya kali," jelas Melisa kepada Mama Risma.


"Iya, bisa jadi itu. Ada yang hamil, seperti itu. Biasanya, orang hamil memang lebih manja kepada suaminya. Makanya mama menyuruh Wildan untuk segera menikahi kamu. Mama sudah tak sabar ingin punya cucu, eh akhirnya kesampaian. Kamu yang bisa memberi mama cucu. Berarti benar kan, sih Jihan itu mandul. Makanya, sampai sekarang enggak bisa hamil. Buktinya kamu hamil. Terbukti kan kalau yang mandul itu dia bukan Wildan," sahut Mama Risma.


Wildan hanya diam mendengarkan percakapan sang mama dengan Melisa. Mama Risma sengaja bicara seperti itu, agar Wildan merasa yakin untuk segera menceraikan Jihan, dan menjadikan Melisa sebagai istri dia satu-satunya.


Obrolan mereka terhenti, karena mereka sudah sampai di sebuah restoran makanan Sunda. Wildan sengaja mencari tempat yang enak untuk duduk santai, sambil melihat kolam ikan, dan duduk di saung.


Mama Risma tampak akrab dengan Melisa, bahkan dia sambil mengusap perut Melisa yang buncit. Melisa memiliki perut yang buncit, tubuhnya lebih padat berisi. Jika dibandingkan Jihan. Tapi, jika dibandingkan Melisa. Jihan justru lebih menarik dan seksi. Mama Risma dan Melisa turun lebih dulu, karena Wildan harus memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Setelah itu, barulah dia menghampiri Melisa dan sang mama.


"Ayo, kita cari tempat duduk!" Ajak Wildan. Melisa tampak bergelayut mesra, merangkul Wildan. Wildan terlihat diam, tak menolak.


Mereka kini sudah berada di saung, dan langsung memesan aneka macam makanan. Sambil menunggu makanan datang, mereka tampak sedang membicarakan masalah pernikahan Wildan dan juga Melisa.


"Mama setuju kan, Mas Wildan menikah dengan aku?" Tanya Melisa untuk memastikan apakah mama Risma setuju atau tidak dengan rencana pernikahan dirinya dengan Wildan.

__ADS_1


"Setuju dong! Mama yakin, kalau kamu lebih baik dari Jihan. Yang bisa membahagiakan Wildan. Buktinya saja, kamu bisa memberikan seorang anak," ucap Mama Risma, tentu saja hal itu membuat Melisa merasa bahagia.


"Iya, Ma. Melisa juga berharap. Mas Wildan segera bercerai dari Jihan, dan menjadikan aku istri dia satu-satunya," ucap Melisa.


"Jangan dibahas lagi dong! Aku kan sudah bilang sama kamu dari awal, kalau aku enggak bisa menceraikan Jihan sampai kapanpun. Kamu tolong pahami dong!" Sahut Wildan ketus.


"Dia itu wanita mandul, untung apalagi dipertahankan? Tak ada gunanya! Kamu itu aneh! Sudah jelas-jelas, si Jihan tak bisa memberikan keturunan untuk kamu. Masih saja dipertahankan," sindir Mama Risma.


Obrolan mereka terhenti, karena makanan yang dipesan sudah datang. Wildan memesan ikan bakar, cah kangkung, sayur asam, sambal, cumi saus padang, dan juga ayam goreng. Untuk minumnya, dia memesan es teh manis. Mereka makan sambil mengobrol.


"Jadinya, kamu nikahi Melisa kapan Wil? Jangan sampai perutnya semakin besar. Menikahnya jadi di sini apa di tempat ibu kamu?" Tanya mama Risma.


"Mas, tapi kayanya kita harus menyewa apartemen atau rumah. Ibu pasti curiga nanti, kenapa aku mau menikah dengan kamu. Sedangkan aku masih tinggal di kosan. Ibu pasti akan curiga, kalau aku hamil duluan," ucap Melisa.


"Ibu kamu pasti bingung, kenapa kamu merebut aku dari sahabat kamu Jihan. Ibu kamu pasti kenal aku kan, kalau aku suami dari Jihan?" Sindir Wildan.


"Sudah! Sudah! Kamu jangan memojokkan Melisa seperti itu. Kamunya juga mau. Yang sudah terjadi, tak mungkin kembali lagi. Mungkin, kalian memang berjodoh. Makanya, kalian akhirnya di satukan. Wil, kamu jangan memojokkan Melisa seperti itu! Melisa enggak akan hamil seperti sekarang ini, kalau kamu tidak ikut andil. Kamu juga mau. Sebelum anak itu dewasa, kamu harus seger ceraikan Jihan! Atau enggak, suruh Jihan menerima Melisa sebagai madunya. Suruh sadar diri, kalau dia itu enggak bisa memberikan kamu keturunan! Kasihan, jika anak itu lahir kalian masih menikah secara siri," ucap Mama Risma.

__ADS_1


Melisa terlihat mencari perhatian dan bersikap manja kepada Wildan. Mengambil kesempatan kehamilan dia saat ini. Terlebih, sang ibu mertua mendukung dirinya. Hingga membuat Wildan tak berkutik.


"Kamu telepon sekarang saja, Ibu kamu! Biar dia segera tahu, rencana pernikahan kamu dengan Wildan," ucap Mama Risma. Mama Risma ingin mengenal ibu dari Melisa.


Melisa langsung mencoba menghubungi sang ibu melalui panggilan telepon di depan Wildan dan juga ibunya Wildan. Mendengar ponselnya berbunyi, sang ibu langsung mengambil ponselnya, dan menerima panggilan telepon dari sang anak.


"Assalamualaikum, Bu. Ibu gimana kabarnya sama Mawar di kampung?" Melisa mengawali pembicaraan dengan sang ibu di panggilan telepon.


"Waalaikumsalam. Kurang baik. Ibu pusing, ini si Mawar banyak banget kebutuhannya. Uang dari kamu enggak cukup. Katanya, kamu mau transfer lagi ke ibu. Kok sampai sekarang, kamu belum transfer juga sih? Ibu jadi pinjam sana sini cari utangan," cerocos sang ibu.


"Iya, bu. Melisa belum bisa transfer. Sabar dulu ya, Bu! Nanti Melisa transfer. Sekarang Melisa belum ada uang," jelas Melisa. Dia jadi tak enak kepada Wildan dan ibunya. Dia takut ibunya Wildan dan Wildan jadi berubah pikiran kepadanya.


"Terus, kamu mau ngapain telepon ibu kalau bukan mau kasih kabar sudah transfer," ucap sang ibu ketus. Melisa hanya bisa menghela napas panjang, mendengar penuturan sang ibu. Ini salah satu alasan Melisa ingin mempunyai uang yang banyak. Agar sang ibu tak bersikap ketus kepadanya.


Melisa mengatakan kepada sang ibu, kalau dia ingin menikah dengan seorang laki-laki di Jakarta, dan meminta sang ibu dan juga anaknya untuk datang ke Jakarta. Melisa mengatakan, kalau dirinya akan menikah di Jakarta.


"Ada uangnya enggak? Kalau miskin lagi, untuk apa? Cari suami itu seperti si Jihan itu, kaya. Makanya, dia hidup senang di Jakarta. Memangnya, cinta bisa buat kamu kenyang dan menghidupi anak dan ibu kamu? Ingat, pengalaman kamu dulu. Kalau hanya buat kamu susah lagi, lebih baik hidup sendiri," ucap sang ibu. Mama Risma dan Wildan saling pandang, seakan saling bertanya. Wildan tampak menelan salivanya. Ternyata, kehidupan Melisa sangatlah rumit. Mendengarnya saja, kepala Wildan sudah langsung cenat-cenut.

__ADS_1



__ADS_2