Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Melisa Hamil


__ADS_3

6 Minggu Setelah Kejadian


"Kenapa ya? Kepala aku kok pusing banget," ucap Melisa. Awalnya dia hendak bangun, untuk bersiap-siap bekerja. Tapi, rasanya dia tak sanggup untuk bangkit, dan beranjak turun.


Namun, tak berlangsung lama. Dia terpaksa harus bangkit, dan turun dari tempat tidur. Melisa langsung berlari ke kamar mandi. Perutnya terasa di aduk-aduk, dia langsung memuntahkan isi perutnya. Tubuhnya menjadi bertambah lemas. Tertatih dia berjalan, untuk kembali ke ranjang.


Saat itu jam menunjukkan pukul 07.30 pagi. Waktu nya Melisa untuk bersiap-siap, karena jam 08.30 dia harus sampai di tempat kerja. Melisa berniat menghubungi Wildan, untuk memberi kabar kondisinya saat ini, dan meminta Wildan untuk mengantarkan dirinya ke dokter.


"Ya, halo. Kenapa? Aku masih di jalan mau kerja," ucap Wildan di panggilan telepon.


"Mas bisa antar aku berobat enggak ke dokter sekarang? Kepala aku sakit banget mas, mual juga. Tadi aku muntah-muntah. Tubuh aku lemas banget Mas. Jalan saja rasanya enggak sanggup. Padahal, tadi itu aku mau siap-siap berangkat kerja," jelas Melisa.


"Waduh, aku ini udah di jalan mau kerja. Mau ada meeting. Kalau pulang kerja gimana? Kalau enggak ada meeting, aku bisa izin. Maaf ya! Coba kamu minum obat yang ada dulu, untuk sementara. Kalau enggak, coba kamu pakai tidur dulu ya!" Ujar Wildan.


Melisa akhirnya mengerti, mereka mengakhiri panggilan telepon itu. Wildan baru saja sampai di kantornya, dia langsung memarkirkan mobilnya. Tak ada yang tahu, kalau dirinya selingkuh di belakang Jihan. Yang mereka tahu, istri Wildan adalah Jihan, dan hubungan mereka harmonis.


Tempat kerja Melisa mulai protes, karena Melisa banyak izin tak bekerja. Mereka memberi surat peringatan kepada Melisa. Tetapi Melisa tak pedulikan, karena dia tak sanggup bila masuk kerja. Jika memang dia di pecat pun, dia sudah memiliki Wildan yang setiap bulan akan memberikan dia uang.


Melisa teringat, kalau dirinya belum datang bulan. Ini sudah lewat dari jadwal dia datang bulan. "Jangan bilang, gue lagi hamil! Masa iya si, kemarin baru melakukan lagi sama Mas Wildan. Hari ini masa gue hamil. Jangan sampai deh, gue hamil anak laki-laki brengsek itu. Masalahnya, gue juga enggak tahu anak dari laki-laki yang mana," ucap Melisa. Kepalanya bertambah sakit memikirkan hal itu. Jika memang dirinya hamil, dia akan meminta Wildan untuk segera menikahi dirinya.

__ADS_1


"Mas, nanti jangan sampai enggak jadi ya antar aku berobat! Aku sudah tak tahan mas!" Tulis Melisa di pesan chat kepada Wildan.


Jika memang dirinya hamil, dia ingin Wildan mengetahui secara langsung kalau dirinya saat ini sedang hamil. Memudahkan dirinya untuk segera meminta Wildan menikahi dirinya. Wildan yang belum memiliki pengalaman, tentu saja tak merasa curiga dengan sakit yang di rasa Melisa saat ini.


Setelah meeting selesai, saat jam makan siang. Barulah Wildan membalas pesan chat dari Melisa. Dia mengiyakan, dia berjanji akan mengantarkan Melisa ke dokter. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 17.00, Wildan langsung bergegas untuk pulang. Semenjak dirinya menjalin hubungan dengan Melisa, Wildan selalu ingin pulang cepat.


"Kamu siap-siap ya! Ini aku sudah di jalan mau ke tempat kamu. Biar aku sampai, kita bisa langsung jalan," tulis Wildan di pesan chat kepada Melisa.


Melisa pun langsung bersiap-siap. Wajahnya terlihat pucat. Dia masih merasa pusing dan juga mual. Saat Wildan datang, Melisa langsung menghampirinya. Berjalan pelan-pelan ke luar kamar. Kemudian, dia langsung naik ke mobil Wildan. Wildan langsung melajukan kendaraannya menuju rumah sakit.


"Memangnya, apa saja yang kamu rasakan saat ini?" Tanya Wildan kepada Melisa sambil dirinya fokus menyetir mobil. Melisa senang, sekarang dirinya bisa merasakan naik turun mobil. Terlebih, jika dirinya hamil. Pasti Wildan akan merasa senang.


"Mas, hati-hati dong! Kamu ingin buat aku mati ya?" Sindir Melisa.


"Maaf. Aku reflek soalnya. Kamu yakin, kalau saat ini kamu sedang hamil?" Tanya Wildan untuk memastikannya lagi.


"Aku sih belum tahu pasti. Makanya, nanti coba periksa dulu di poli OBGYN," jawab Melisa dan Wildan mengiyakan.


Wildan tampak bingung, jika memang benar Melisa hamil. Dirinya harus menikahi Melisa. Entah dirinya harus merasa senang atau gimana. Dia memang menginginkan memiliki anak. Sudah hampir lima tahun dia menantinya. Sayangnya, yang hamil bukan Jihan, dan justru malah Melisa yang hamil anaknya.

__ADS_1


Mereka baru saja sampai di rumah sakit, Wildan langsung memarkirkan mobilnya. Di parkiran rumah sakit. Setelah itu mereka langsung turun dari mobil untuk masuk ke dalam rumah sakit. Melisa meminta Wildan membawanya ke rumah sakit, dia tak ingin di bawa berobat ke klinik oleh Wildan.


"Mas, gandeng dong! Kamu enggak perhatian banget si sama aku. Sudah tahu aku lagi lemes," protes Melisa. Hingga akhirnya Wildan menuruti permintaan Wildan, dia merasa tak tega juga melihat Melisa. Jika Melisa nanti jatuh, dia pun yang akan merasa susah.


"Kamu tunggu sini saja dulu! Biar aku yang daftar. Sini KTP kamu," ucap Wildan dan Melisa mengiyakan. Melisa langsung mengeluarkan KTPnya dari dalam dompetnya.


Melisa terlihat duduk, menunggu Wildan selesai daftar. Wildan terpaksa mengaku suami dari Melisa, untuk mengisi data Melisa. Kini saatnya Melisa menunggu waktunya dia di periksa. Mereka kini sudah duduk di poli.


"Mas, kalau aku hamil gimana?" Ujar Melisa membuka obrolan.


"Hush, jangan kencang-kencang! Kalau di dengar orang gimana," protes Wildan.


"Ya enggak apa-apa. Ini juga kan kamu mengantarkan aku periksa. Mereka pasti mikir, kalau kita ini pasangan suami istri. Memangnya, kenapa sih Mas? Kamu tak suka, aku hamil? Bukannya ini yang kamu inginkan? Harusnya, kamu senang dong kalau aku hamil. Akhirnya, keinginan kamu untuk memiliki anak bisa terwujud. Sudah jelas kan? Berarti, Jihan itu benar mandul. Aku saja yang baru melakukannya bersama kamu, bisa hamil," cerocos Melisa. Wildan tampak terdiam. Entah, dia harus senang atau seperti apa. Tapi, dia tak bisa mengelaknya. Jika memang benar Melisa saat ini sedang hamil.


Kini giliran Melisa di periksa. Wildan ikut masuk bersama Melisa ke dalam. Jika dia di suruh memilih, dia berharap kalau Melisa saat ini tak hamil. Entah mengapa, dia jadi tak menginginkan seorang anak. Dia masih berharap, kalau Jihan lah yang hamil anaknya.


Dokter mulai menanyakan keluhan yang Melisa rasakan, dan dokter menyarankan Melisa untuk membaringkan tubuhnya di ranjang. Sang dokter akan mulai melakukan pemeriksaan. Melisa sudah membaringkan tubuhnya di ranjang. Dokter mulai memberikan gel USG di perut Melisa. Kemudian sang dokter mulai menempelkan transduser di perut Melisa, dan mulai menggerakkannya.


Jawabannya benar. Kalau saat ini Melisa sedang hamil. Wildan terkejut, menampakkan wajah tak suka. Dia masih terlihat shock, saat mendengar kalau saat ini Melisa sedang hamil. Semakin sulit saja dia melepas Melisa.

__ADS_1


__ADS_2