
"Mas, mas jangan diem saja dong! Mas harus rebut rumah itu! Mas kan ada hak juga, atas rumah itu," ucap Melisa. Wildan terlihat stres. Dia terlihat mengacak-acak rambutnya. Betapa menyesalnya dia. Sekarang, dia harus kehilangan semua yang berharga di hidupnya.
"Kamu bisa diam enggak sih? Aku ini lagi pusing! Kamu jangan kebanyakan protes. Semua ini gara-gara kamu, aku jadi ikut-ikut susah. Mana harus menanggung hutang kamu lagi. Apa yang dikatakan Jihan memang benar. Selama ini, aku menumpang hidup sama Jihan. Setiap bulan, aku hanya memberikan uang gajiku. Dia yang mengaturnya. Makanya, sekarang aku benar-benar pusing pisah sama dia. Harus bayar kreditan mobil, uang untuk ibu, buat kamu, uang sewa kosan. Rasanya, kepalaku mau pecah. Aku benar-benar menyesal pisah sama Jihan," sahut Wildan.
Bukan hanya Wildan saja yang menyesal dan meratapi nasibnya. Melisa pun terlihat syok. Dia tak menyangka kalau selama ini, Wildan hanya menumpang hidup kepada Jihan. Dia merasa menyesal, karena harus mengkhianati sahabatnya, dan kini dirinya harus merasakan hidup susah kembali.
"Apa yang harus aku katakan sama mama? Aku takut nanti mama terkena serangan jantung, kalau dirinya tahu yang sebenarnya," ucap Wildan dalam hati.
"Mulai sekarang, kita harus berhemat! Uangku tak cukup untuk membayar semuanya," ucap Wildan. Baru saja mereka menikah, kini dirinya harus dihadapkan permasalahan hidup. Ternyata, sang suami tak seperti yang dia bayangkan.
Setelah merasa puas meluapkan perasaan hatinya, Jihan memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia sudah tak sabar ingin mengusir Wildan dan ibunya dari rumah. Rasa cintanya kepada Wildan, hilang sudah karena perselingkuhan yang Wildan lakukan kepadanya.
Mama Risma baru saja sampai di rumah milik Jihan, Bi Sumi tak memberikan Mama Risma untuk masuk ke dalam rumah. Dia menyuruh Mama Ratih menunggu di teras rumah, sampai Jihan sampai.
"Apa-apaan kamu, berani-beraninya melarang saya untuk masuk ke dalam rumah? Kamu ingin dipecat anak saya? Awas!" Mama Risma tampak marah.
__ADS_1
"Maaf, anak ibu bukan majikan saya lagi! Majikan saya hanya Ibu Jihan. Ibu Jihan akan menggugat cerai anak ibu. Ini saya sudah menyiapkan barang-barang ibu dan Pak Wildan. Ibu Jihan tak mengizinkan Ibu dan bapak masuk ke dalam rumah, sampai Ibu Jihan pulang.
Mata Mama Risma membulat sempurna penuturan Bi Sumi. Dia langsung menghubungi sang anak. Mendengar teleponnya berbunyi, Wildan langsung mengambil ponselnya.
"Mama? Duh, aku harus bilang apa yang sama mama agar dia enggak ke rumah dulu," ucap Wildan. Wildan pikir mamanya belum kembali ke rumah Jihan.
"Aku angkat saja deh teleponnya. Takutnya, mama malah curiga nanti." Akhirnya Wildan menerima panggilan telepon dari sang mama.
"Wildan, apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu dan Jihan? Ini Mama di rumah kamu, tetapi pembantu kurang ajar itu tak mengizinkan Mama untuk masuk. Dia bilang, kamu mau di gugat cerai sama Jihan. Kalau memang, kalian mau bercerai. Seharusnya, kamu yang mengusir dia! Bukan dia bersikap seenaknya seperti ini! Kamu harus bertindak tegas sama dia! Jangan mau di injak-injak seperti ini! Usir dia dari rumah itu! Cepat kamu ke sini! Kamu jangan buat penyakit jantung Mama kambuh!" Cerocos Mama Risma.
"Kenapa, mas?" Tanya Melisa, saat melihat ekspresi suaminya yang terlihat lesu.
"Jihan benar-benar bertindak keras. Sampai-sampai dia tak mengizinkan mama untuk masuk. Mama sekarang di rumah Jihan, dan Bi Sumi tak memperbolehkan dia untuk masuk," jelas Wildan.
Melisa tercengang mendengarnya. Padahal yang dia tahu, Jihan itu wanita yang lembut. Tetapi ternyata, dia berubah menjadi sosok yang kejam. Jihan baru saja sampai di rumahnya, Bi Sumi langsung bergegas menghampiri majikannya, dan langsung membuka pintu pagar agar majikannya masuk.
__ADS_1
"Akhirnya, kamu mendapatkan balasan dari kesombongan kamu," ucap Jihan dalam hati. Dia melihat Mama Risma yang duduk di kursi teras depan rumahnya. Sejak Jihan turun, Mama Risma sudah menatap Jihan sinis. Tetapi, Jihan tak mempedulikannya. Dia sudah tak ada urusan lagi dengan wanita yang di hadapannya.
"Kurang ajar kamu, Jihan! Dasar wanita tak tahu diri! Seharusnya, kamu yang keluar dari rumah ini!" Mama Risma langsung menyerang Jihan. Tetapi, Jihan tetap menanggapinya dengan kepala dingin, berusaha untuk bersikap tenang..
"Ucapan ini, salah Anda ucapkan kepada saya! Ucapan ini lebih pantasnya untuk anak Anda yang tak tahu diri itu, dan juga menantu baru Anda! Ini rumah saya! Saya yang membelinya, dan mencicilnya setiap bulan dari hasil keringat saya. Selama ini, anak Anda hanya menumpang kepada saya. Gaji Anak Anda itu hanya cukup untuk membayar kreditan mobilnya, kebutuhan sehari-hari. Bahkan, itu masih minus. Saya masih harus menambahnya untuk kehidupan sehari-hari. Oh iya, satu lagi. Asal Anda tahu, uang yang biasa anak Anda berikan setiap bulannya kepada Anda itu adalah dari saya! Saya yang memberinya, tapi nyatanya Anda membalasnya seperti itu," ucap Jihan sinis.
"Ya, karena kau wanita mandul! Tetap saja kau bukan wanita yang sempurna, karena tak mampu memberikan keturunan untuk anakku. Harta yang kau miliki, tak ada gunanya! Anakku telah hidup bahagia dengan Melisa. Pasti kau sudah tahu kan? Kalau Wildan sebentar lagi akan memiliki anak dengan Melisa. Wajar jika Wildan selingkuh dengan sahabatmu, karena dia menginginkan seorang anak, dan kau tak mampu mewujudkannya," sahut Mama Risma. Rasanya, begitu sakit terdengarnya. Tetapi, Jihan berusaha untuk menahannya.
"Silahkan Anda menghina sepuasnya! Tapi ingat, karma di dunia akan berlaku! Saya ingin lihat rumah tangga, yang diawali dengan kebohongan. Saya ingin lihat, apakah anak Anda bisa hidup bahagia dengan menantu pilihan Anda. Ya, saya si berharapnya mereka akan bahagia," ucap Jihan sinis. Membuat Mama Risma tak berkutik.
Jihan meminta Bi Sumi untuk mengeluarkan semua barang-barang milik Wildan dan Mama Risma. Mama Risma hanya diam menatap ke arah barang-barang yang di bawa Bi Sumi.
"Maaf, saya hanya meletakkannya di kasus dan kantung plastik karena saya gak sudi memberikan koper yang saya beli dari hasil kerja keras saya," ucap Jihan sinis. Dia terlihat begitu kuat, tak setetes air mata pun yang menetes di wajahnya.
"Bi, apa sudah kamu pastikan semua sudah dibawa? Tak ada yang tertinggal lagi? Saya tak sudi melihatnya sedikitpun, dan maaf mulai saat ini saya tak mengizinkan Anda maupun Anak Anda untuk menginjakkan kaki di rumah ini!" Ucap Jihan tegas.
__ADS_1