Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Penyesalan Wildan


__ADS_3

Wildan baru saja sampai rumah Jihan, dia langsung memarkirkan mobilnya di depan pagar rumah Jihan. Dia tak berani lagi memasukkan mobilnya ke dalam mobil. Wildan menatap rumah yang selama lima tahun yang dia tempati bersama Jihan. Rumah yang memiliki kenangan indah bersama Jihan, betapa dirinya dulu begitu bahagia bersama Jihan. Namun, semuanya hancur begitu saja karena hadirnya Melisa di kehidupan mereka.


Wajah Wildan terlihat lesu, tak bersemangat. Wildan dan Melisa masuk ke dalam rumah. Jihan menatap sinis ke arah Wildan dan juga Melisa. Tiba-tiba saja Wildan langsung berlutut di kaki Jihan, dan menggenggam tangan Jihan. Membuat Jihan naik pitam.


"Lepas! Aku jijik sama kamu! Aku gak sudi di sentuh kamu!" Jihan langsung menghempaskan tangan Wildan dengan kasar, sampai Wildan hilang keseimbangan dan terjatuh. Jihan menatap sinis ke arah keduanya, Melisa tampak membantu Wildan.


"Maafin aku, sayang! Aku salah! Aku menyesal! Aku janji, setelah Melisa melahirkan. Aku akan menceraikannya," ucap Wildan penuh iba.


"Mas, maksud kamu apa bicara seperti itu? Jahat sekali mamu, jika sampai melakukan hal ini padaku. Kasihan anak dalam kandungan aku." Melisa berniat protes, dan matanya kini membulat sempurna.

__ADS_1


"Aku enggak pernah cinta sama kamu! Tolong jangan paksa aku! Tetapi, aku janji akan selalu bertanggung jawab dengan anak itu. Meskipun nantinya, kita sudah berpisah," jelas Wildan.


"Cih, kamu kira aku sudi kembali dengan laki-laki yang miliknya sudah terbagi dengan pela*cur itu! Sudahlah, kamu nikmati saja apa yang kamu tanam selama ini! Kamu jalani saja dengannya, mungkin dia lebih bisa memberikan kamu kebahagiaan! Kita bertemu di pengadilan! Ini barang-barang kalian! Silahkan, kalian bawa sekarang juga, dan pergi dari rumah ini! Jangan pernah menginjakkan kaki kalian di rumah ini!" ucap Jihan tegas. Jihan berusaha untuk menahan tangisnya, karena semua ini memang tak pantas untuk di tangisi.


"Keputusan aku sudah bulat! Aku tak akan pernah mengubahnya! Bukankah mas sudah tahu, kalau ucapan ini sudah aku sering ucapkan pada mas. Tapi nyatanya, mas justru menantangku seperti ini. Aku tak akan pernah menerima mas lagi, jika mas terbukti selingkuh. Ya sudah, mas cepat pergi dari sini! Urusan kita sudah selesai!" usir Jihan.


"Sudahlah Wil, lupakan saja dia! Kamu pasti bisa melewati semua ini! Cari kebahagiaan kamu sendiri! Ingat, sekarang kamu sudah diberi kesempatan untuk memiliki anak! Kamu dengar kan apa yang dia katakan tadi padamu! Jangan rendahkan harga dirimu sebagai laki-laki! Lupakan wanita itu!" ucap Mama Risma. Dia berniat untuk menenangkan hati sang anak.


"Gimana Wildan bisa tenang, ma? Wildan cinta sama Jihan. Pokoknya, Wildan enggak mau pisah sama Jihan. Wildan ingin kembali sama Jihan," sahut Wildan

__ADS_1


Mereka langsung menuju apartemen yang Wildan sewa, selama orang tua Melisa di Jakarta. Wildan meminta Melisa untuk menyuruh ibu dan anaknya pulang ke kampungnya, agar dia tak terus menerus membayar sewa apartemen. Dia juga menyuruh mamanya untuk pulang kembali ke rumahnya, karena Wildan kini tak memiliki rumah. Untuk sementara waktu, Wildan tinggal bersama Melisa di kosan yang Melisa tempati selama ini.


Setelah kepergian mantan suami, mantan sahabatnya, dan mantan ibu mertuanya, Jihan langsung bergegas ke kamarnya. Dia langsung membaringkan tubuhnya di ranjang.


"Aku pasti bisa melewati semua ini! Aku harus kuat!" ucap Jihan. Dia akan mencoba melewati semua ini, meskipun rasanya begitu berat dia lalui.


Wildan merasa kehilangan wanita yang dia cintai sebenarnya. Dia menyesal. Andai waktu bisa diputar kembali. Dia pasti akan memilih untuk tidak mengkhianati Jihan. Kini nasi sudah menjadi bubur, mau tak mau Wildan harus menanggungnya.


__ADS_1


__ADS_2