Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Sidang Perceraian


__ADS_3

Hari ini adalah sidang perceraian Jihan dengan Wildan. Jihan sudah terlihat cantik dan segar. Dia ingin menunjukan kepada Wildan dan juga sahabatnya, kalau dia baik-baik saja, dan bahkan lebih bahagia setelah bercerai. Jihan merias wajahnya dengan riasan natural.


Selain dia dampingi kuasa hukumnya, Jihan juga datang dengan di dampingi sang ibu. Ibunya Jihan sudah tak sabar ingin memaki-maki Wildan dan juga Melisa. Dia berharap, perceraian sang anak berjalan lancar.


"Gitu dong! Ibu senang melihat kamu seperti itu. Ibu yakin, si Wildan bakal menyesali kebodohannya seumur hidupnya. Anak Ibu cantik begini, bisa-bisanya dia tergoda. Melisa mah jauh dari kamu, badannya sudah enggak bagus. ibu sudah tak sabar ingin melihat si Wildan sama si Melisa. Rasanya ini mulut sudah tak sabar, ingin ngoceh-ngoceh," ucap sang Ibu. Jihan hanya tersenyum, melihat sikap sang Ibu. Bukan hanya Jihan, Affan pun tampak tersenyum.


Jihan langsung memeluk sang ibu, untungnya di saat seperti ini. Dia memiliki Ibu yang luar biasa, yang selalu memberikan kekuatan untuknya, di saat dia kemarin sempat terpuruk. Kini saatnya dia membuka lembaran baru yang lebih baik, tanpa parasit di hidupnya.


"Gimana? Sudah siap?" Tanya Affan kepada Jihan.


"Iya, Mas. Insya Allah sudah siap. Ya sudah, kita berangkat sekarang saja yuk! Biar enggak terlambat!" Ujar Jihan.


"Jangan lupa kaca mata hitamnya di pakai saja Mba, biar dia tak melihat mata Mba. Nanti di hipnotis lagi, Mbak jadinya mau kembali dengan dia," goda Affan.


"Mas Affan bisa saja! Insya Allah sudah enggak mempan, dia nangis darah pun aku sudah tak peduli," sahut Jihan. Dia terlihat anggun dengan balutan gamis berwarna pink bermotif bunga-bunga. Terlihat segar dan begitu mempesona. Membuat Affan semakin cinta kepadanya, terlebih hubungan mereka kini semakin dekat.

__ADS_1


Kini mereka sudah dalam perjalanan. Ibunda Jihan sudah melihat gerak-gerik Affan kepada sang anak. Dia sudah memiliki feeling, kalau Affan memiliki perasaan kepada sang anak. Sang ibu tampak tersenyum, melihat kedekatan sang anak dengan Affan. Dia senang, melihat sang anak yang bisa tersenyum dan tertawa karena ulahnya Affan. Affan tipe laki-laki yang humoris, tak laku seperti Wildan. Dia pun terlihat berkelas. Pastinya sangat gagah, menggunakan jas berwarna hitam.


"Semoga saja mereka berjodoh ya Allah. Aku lihat, Affan laki-laki yang baik. Semoga saja, dia bisa mengobati luka di hati Jihan, dan bisa memberikan kebahagiaan untuk Jihan. Amin," ucap sang Ibu.


"Pokoknya, kamu harus rileks ya Mbak selama persidangan! Yakin saja, harus percaya diri dalam berbicara nanti! Agar lebih menyakinkan hakim dalam mengambil keputusan. Mbak enggak usah khawatir, Aku mendampingi Mbak. Mbak enggak sendiri!" pesan Affan dan Jihan mengiyakan.


Mobil Affan memasuki parkiran pengadilan Agama tempat Jihan akan menjalankan sidang perceraian. Mereka pergi dengan menggunakan mobil Affan. Jihan merasa sedikit tegang, jantungnya berpacu lebih cepat. Affan langsung memarkirkan mobilnya.


Wildan sudah datang lebih dulu, dia datang dengan di dampingi Mama Risma dan juga Melisa. Dengan tak tahu malunya, Melisa ingin ikut ke persidangan itu. Dia takut, kalau suaminya nanti akan tergoda lagi dengan Jihan, dan meninggalkan dirinya. Melisa ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri, persidangan itu.


"Iya, Ibu akan selalu mendoakan kamu! Semoga kamu menemukan kebahagiaan," ucap sang ibu.


Sejak awal Jihan datang, Wildan beserta Mama Risma dan juga Melisa tampak memperhatikan. Mereka melihat, Jihan begitu mempesona. "Bersikap biasa saja! Lihatlah, mereka tampak memperhatikan kamu!" Bisik Affan dan Jihan membalasnya dengan senyuman. Tepatnya senyum kebahagiaan, karena berhasil membuat ketiganya menyesali perbuatannya.


"Jihan, aku mohon! Batalkan gugatan cerai ini! Mas tak ingin bercerai dari kamu, Mas ingin kembali denganmu!" ucap Wildan. Wildan nekat menghentikan langkah Jihan, dan kini berdiri di hadapan Jihan. Jihan tampak tersenyum, meskipun dalam hatinya begitu terluka. Teringat akan kenangan dia, menemukan Wildan di kamar kos Melisa.

__ADS_1


"Sudah terlambat, Mas! Kamu terima saja! Kamu menangis darah pun, aku tak akan pernah mau kembali dengan laki-laki pengkhianat seperti kamu! Hatiku sudah tertutup untuk kamu, Mas! Keputusan aku sudah bulat, aku akan tetap pada pendirianku untuk bercerai darimu! Bukankah, ini semua kamu yang memilihnya? Kamu sudah tahu 'kan prinsip hidupku, tapi nyatanya kamu tetap melanggarnya. Berkali-kali, aku bilang kepadamu Mas! Jika kamu berkhianat, maka aku akan meminta cerai darimu. Kita bertemu di dalam! Kita jalani hidup kita masing-masing! Kamu bahagia dengan pilihanmu, dan aku pun bahagia dengan pilihanku!" ucap Jihan tegas.


"Dasar laki-laki tak tahu malu! Sudah berbuat salah, masih saja berani mengajak kembali! Memangnya enak, menyesal 'kan? Nikmati saja hidup kamu tuh! Kalian itu cocok! Pengkhianat sama pengkhianat. Jangan ganggu Jihan lagi! Kamu tak pantas untuknya!" ucap Ibunya Jihan.


"Dan untuk kamu Melisa! Jaga suami kamu dengan baik, jangan ganggu Jihan lagi! Jihan itu wanita terhormat, dia bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari suamimu itu! Dia cocoknya sama kamu, wanita murahan," ucap Ibunya Jihan membuat Melisa merasa kesal.


Affan langsung menarik tangan Jihan, mencoba menghindar dari Wildan. Sebagai seorang kuasa hukum, Affan tampak melindungi kliennya. "Sudahlah Wil, jangan seperti ini! Bikin jatuh saja harga dirimu! Semakin percaya diri saja, wanita itu. Lupakan dia!" ucap Mama Risma sedangkan Melisa hanya diam saja, tak berani membuka omongan.


Suasana persidangan tampak tegang. Kini Jihan dan Wildan tampak duduk bersebelahan. Jihan tampak menatap lurus, dia tak mempedulikan Wildan yang berada di sampingnya. Jihan berusaha menutupi perasaannya. Bagaimanapun dia hanyalah seorang wanita, yang memiliki hati dan perasaan. Dia bisa merasakan sedih.


Dia tak menyangka, kalau rumah tangganya berakhir di meja hijau. Pada akhirnya, kandas karena pengkhianatan Wildan. Jihan berusaha mengikhlaskan. Wildan tak berkutik, saat Affan selalu kuasa hukum Jihan mengatakan apa yang terjadi. Membuat dia tak berkutik, karena dia berada di posisi yang salah.


"Saya mohon yang mulia! Saya sudah menyesali perbuatan Saya dulu! Saya tak ingin bercerai darinya, setelah istri kedua saya melahirkan. Saya berjanji akan menceraikan dia, dan menjadikan Jihan menjadi istri Saya satu-satunya," ucap Wildan. Membuat mata Melisa dan Mama Risma membulat sempurna. Melisa tampak kesal terlebih, saat Ibunya Jihan menyindir dirinya.


"Kasihan banget, dengan lantangnya Wildan mau menceraikannya. Tak ada artinya dong dia selama ini! Hanya dijadikan alat untuk menyalurkan hasrat. Tapi akhirnya di sia-siakan. Makanya, jadi orang itu tahu diri. Suami orang, bahkan suami sahabatnya sendiri. Malah direbut," sindir Ibunya Jihan.

__ADS_1



__ADS_2