Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Jadikan pelajaran di masa sekarang!


__ADS_3

"Tante, maafin aku ya! Aku jadi merepotkan Tante terus. Pasti Om Affan gak suka sama aku ya?" ujar Mawar membuka omongan dengan Jihan.


"Iya, gak apa-apa. Selama Tante bisa, Tante akan lakukan. Untuk masalah Om Affan, iya maaf ya. Dia sangat tak menyukai mama kamu, karena telah menyakiti hati Tante. Makanya, dia menjaga jarak banget sama kamu," jelas Jihan.


"Oh iya, sekarang Tante mau tanya sama kamu. Kamu mau ke pesantren apa mau pulang ikut papa kamu? Sebelum, Tante memasukkan kamu ke pesantren," Jihan bertanya kepada Mawar.


Mawar menceritakan kepada Jihan, kalau sang papa tak mempedulikan dia sejak sang mama belum berpisah. Dia memilih masuk pesantren, bertemu teman-teman baru, dan kehidupan dia lebih terjamin.

__ADS_1


"Hmm, ya sudah. Kalau keputusan kamu seperti itu. Nanti Bi Sumi akan mengantarkan kamu ke sekolah lama, untuk berpamitan. Setelah itu, dia akan langsung mengantarkan kamu ke pesantren. Maaf, Tante gak bisa nganter kamu. Kamu akan diurus Bi Sumi. Maaf juga, jika Tante nantinya jarang menemui kamu Tapi setiap bulan, Tante akan tetap membiayai kamu. Sampai kamu lulus setara SMA," ujar Jihan.


"Iya tante tak apa-apa. Terima kasih atas bantuan Tante. Semoga Allah membalas semua kebaikan Tante kepada aku," sahut Mawar.


Mawar sudah bersiap-siap untuk berangkat. Dia pamit kepada Jihan. Jihan sudah menyuruh Bi Sumi untuk mengurusnya. Mereka pergi diantar oleh Mang Diman. Jihan hanya melepas kepergian Mawar dari rumah.


"Kasihan Mawar. Nasibnya begitu menderita. Disaat anak seusianya sedang menikmati masanya, dia justru harus berjuang mempertahankan hidupnya. Semoga kamu bisa jadi anak yang sukses, bisa mengubah hidup kamu sendiri!" Jihan bermonolog dalam hati, saat melepas kepergian Mawar.

__ADS_1


Jihan berniat menghubungi sang bunda, untuk memberitahukan perihal meninggalnya Melisa. Sang bunda terkejut mendengarnya. Jihan menceritakan, kalau dia mengurus Mawar karena kasihan.


"Ya udah, kalau sekarang kamu mau menolongnya. Setelah dia lulus nanti, serahkan saja ke bapaknya, atau suruh bertahan hidup sendiri. Suruh kerja, biar gak merepotkan kamu lagi. Kalau dia besar nanti, kamu harus hati-hati! Jangan pernah masukkan dia di rumah kamu! Bisa saja nanti dia menggoda si Affan. Kamu 'kan tahu sendiri. Anak ABG sekarang, suka main sama om-om. Apalagi, si Affan ganteng, kaya lagi. Penampilannya juga keren. Kali ini kamu dengarkan Bunda ngomong. Ingat kejadian waktu itu 'kan? Saat Bunda melarang kamu memasukkan Melisa ke rumah kamu. Kamu tetap ngotot menolong dia, dan yakin kalau dia gak akan jahat sama kamu. Kamu juga saat itu yakin, kalau Wildan tak akan tergoda. Tapi, nyatanya apa? Omongan Bunda terbukti 'kan?" cerocos sang Bunda, dan Jihan mengiyakan ucapan sang Bunda.


Semua akan dia jadikan pelajaran berharga dalam hidupnya. Kali ini dia akan mendengarkan ucapan bundanya, untuk tidak memasukkan Mawar ke dalam rumahnya. Dia tak ingin Mawar merebut suaminya.


"Nanti ibu tanya-tanya sama tetangga. Kali aja mereka tahu, rumah mantan suaminya Melisa. Kamu gak ingat ya? Dulu kamu 'kan dekat, mantan suami Melisa satu sekolah sama kamu 'kan dulu? Biar bapaknya tahu, kalau anaknya terlantar. Kalau kamu gak menolongnya," ucap sang Bunda lagi.

__ADS_1


"Iya, nanti Jihan akan coba tanya ke teman sekolah. Alamat rumah mantan suaminya Melisa. Sekarang, biar aja Mawar di pesantren. Kasihan, biar dia jadi anak yang sholehah. Belajar agama, berkumpul sama teman-teman yang berakhlak baik," Jihan berkata kepada sang mama.


"Ya udah, gimana baiknya aja! Semoga rumah tangga kamu dengan Affan langgeng dan harmonis. Bunda hanya bisa bantu doa, apa yang terbaik untuk kamu. Apalagi, kebahagiaan kamu sekarang bertambah. Kamu akan menjadi seorang ibu," ujar sang bunda, dan Jihan mengiyakan.


__ADS_2