Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Mengelak


__ADS_3

Bunyi adzan di ponsel Jihan sudah berbunyi, tanda waktunya menunaikan ibadah sholat subuh. Tetapi, Jihan sedang datang bulan. Dia berniat membangunkan sang suami untuk sholat subuh. Namun, sang suami melakukan hal yang tak biasa dia lakukan. Bukannya beranjak turun untuk sholat, Wildan justru membalikkan badannya, dan kini posisinya memunggungi sang istri.


Tentu saja Sikap Wildan, membuat mata Jihan membulat sempurna. Dia terkejut melihat reaksi suaminya. Jihan tak tinggal diam, dia terlihat sangat marah, dan langsung beranjak turun, dan berdiri di hadapan suaminya sambil menepuk-nepuk pundak suaminya.


"Kamu apa-apaan si? Aku masih ngantuk," ucap Wildan ketus. Bahkan dia enggan membuka matanya.


"Ini sudah waktunya sholat, Mas! Makanya, aku bangunkan kamu! Memangnya, kamu enggak sholat Mas?" Sahut Jihan tak kalah ketus. Dia terlihat sangat marah, karena sang suami berniat mengabaikan sholat.


Dengan perasaan malas dan kesal, Wildan terpaksa membuka matanya. Dia langsung beranjak turun, dan langsung ke kamar mandi. Dia memilih untuk mandi, dan barulah sholat. Wildan baru saja selesai sholat. Dia terlihat sedang melipat sajadahnya.


"Kamu kenapa si Mas? Aku perhatikan, sikap kamu berubah. Apa ada sesuatu yang sedang kamu tutupi dari aku?" Tanya Jihan yang kini menatap tajam ke arah sang suami. Membuat wajah Wildan berubah tegang, tentu saja hal itu membuat Jihan bertambah curiga kepadanya.


"Berubah? Memangnya aku berubah kenapa? Perasaan, aku sama saja. Tak ada yang berubah, karena memang tak ada yang aku tutupi dari kamu. Itu hanya perasaan kamu saja," ucap Wildan mengelak. Mana mungkin dia berani mengakui, kalau dirinya berselingkuh. Sebenarnya, Wildan tak berniat untuk seperti itu. Tapi, dirinya semakin terlarut dalam kebohongan dirinya.


"Entahlah. Aku merasakan seperti itu. Suamiku mulai berubah. Ya sudah, aku mau masak dulu. Kamu berangkat jam berapa?" Sahut Jihan.

__ADS_1


Wildan mengatakan, kalau dirinya tak jadi pergi. Yang berangkat, hanya anak buahnya. Di mengatakan, kalau dirinya ingin menghabiskan waktu berduaan bersama sang istri. Dia tak ingin bersitegang dengan sang istri. Bisa kacau, kalau Jihan akhirnya mengusut dirinya.


Jihan hanya ber oh ria, bersikap cuek. Dia langsung pergi meninggalkan Wildan turun ke bawah. Jihan memilih untuk memasak. Bi Sumi tampak membantu dirinya memasak.


"Kasihan Bu Jihan. Semoga saja, Pak Wildan tak benar-benar selingkuh dengan sahabatnya. Bu Jihan wanita yang baik. Aku ingin cerita ke Bu Jihan, takut nantinya bertengkar. Memperkeruh keadaan," ucap Bi Sumi dalam hati.


Mama Risma baru terbangun, dan hendak ke kamar mandi yang letaknya di dekat dapur. Dia melihat ke arah sang menantu yang sedang memasak. Dia menjadi betah tinggal di rumah sang anak. Tak ada keinginan untuk pulang ke rumah.


"Kacau ini, Jihan sepertinya mulai curiga. Aku harus bilang sama Melisa, memberi pengertian kepadanya. Untuk sementara waktu, aku tak bisa menemui dirinya dulu. Sampai situasi aman. Sampai Jihan tak curiga lagi," ucap Wildan dalam hati.


"Mas ...," panggil Jihan sambil membuka pintu kamar. Wajah Wildan berubah pucat, bahkan ponselnya hampir terlempar karena dirinya kaget. Jantungnya pun saat itu berpacu cepat. Dia tampak tegang. Saat itu dia lagi menghapus semua yang berhubungan dengan Melisa di ponselnya.


"Kamu itu bikin kaget saja!" Gerutu Wildan.


"Itu tandanya kamu lagi melamun. Sudah jelas-jelas tadi aku manggil-manggil kamu. Tapi kamu enggak dengar. Giliran aku masuk ke dalam, muka kamu terlihat panik. Memangnya, apa yang sedang kamu lakukan si Mas? Coba sini aku lihat ponselnya! Aku ingin tahu apa yang dilakukan suamiku dibelakang aku." Jihan memaksa meminta ponsel Wildan.

__ADS_1


Untungnya, dia sudah selesai menghapusnya. Tak meninggalkan jejak Melisa di ponselnya. Dirinya berharap, Melisa dapat mengerti, dan tak membalas pesan darinya. Wildan merasa tegang, dia takut kalau Melisa membalas pesan darinya. Saat ponsel itu di pegang Jihan. Jihan membuka satu persatu isi ponsel itu.


"Enggak ada apa-apa kan? Karena memang enggak ada apa-apa. Kok kamu jadi seperti ini sih? Jadi curigaan begini? Kenapa sih? Seakan aku punya salah. Mana mungkin sih, aku membohongi kamu. Enggak ada artinya juga," cerocos Wildan. Dia mencoba membela diri.


"Ya, memang sekarang aku tak memiliki bukti apapun. Kecurigaan aku tak beralasan. Tapi, kalau sampai hal ini terjadi, aku tak akan pernah bisa memaafkan kamu Mas. Kamu tahu kan? Kurang apa aku coba? Selama ini, aku yang selalu mencukupi semuanya. Aku pun selalu berusaha menjadi istri yang baik dan menantu yang baik. Tapi, balasan dari mama apa? Dia membenciku, hanya karena aku belum bisa memberikan kamu keturunan. Makanya Mas, ayo kita periksa kesuburan! Biar mama kamu itu tahu. Jika memang, aku benar-benar mandul. Aku siap berpisah dengan kamu. Daripada aku hidup tersiksa," ucap Jihan tegas.


Wildan langsung menutup mulut istrinya, dan meminta sang istri untuk tidak bicara kencang-kencang. Dia tak ingin mamanya mendengar percakapan mereka. Wildan pun merasa takut, kalau sampai hal itu terjadi.


"Lebih baik enggak usah periksa! Daripada aku harus kehilangan kamu. Sudah tak perlu di bahas! Suatu saat nanti, Allah juga akan memberikan kita anak. Sampai kapanpun, aku tak mau pisah sama kamu. Kamu istri aku satu-satunya. Ya sudah! Ayo kita sarapan! Mas lapar. Kita mau jalan-jalan enggak? Mumpung kita berdua ada waktu libur. Bisa menikmati waktu liburan bersama," ucap Wildan. Dia mencoba mengambil hati sang istri.


"Pasti kamu mau ambil hati aku kan? Baik-baikin aku? Kalau memang seperti itu! Lebih baik enggak usah Mas! Aku tak butuh!" Sahut Jihan. Wildan dibuat tercengang mendengar ucapan istrinya. Mengapa perasaan istrinya begitu peka, bisa membaca pikirannya.


"Kok ngomongnya gitu? Ngapain aku baik-baikin kamu? Memangnya aku punya salah apa sama kamu? Aku lakukan ini hanya ingin menikmati waktu bersama, sebelum kita memiliki anak. Jangan ngambek dong! Nanti cantiknya hilang!" Rayu Wildan. Wildan langsung memeluk sang istri, untuk meredakan amarah sang istri.


Hal itu tak berlangsung lama, Jihan langsung melepaskannya. Wildan sangat tahu sifat istrinya. Meskipun Jihan memiliki sifat lemah lembut, di sisi lain dia tipe wanita yang keras, dan tegas.

__ADS_1


__ADS_2