Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Berbalik


__ADS_3

Ibunya Jihan begitu kesal, dia sudah tak mampu menahan emosinya. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk mendatangi rumah orang tua Melisa. Dia ingin membuat perhitungan, dan ingin mempermalukan Ibunya Melisa.


Dia baru saja sampai di depan rumah Melisa. Ibunya Jihan tampak berteriak meminta Ibunya Melisa untuk keluar menemuinya. Hingga akhirnya, menjadi pusat perhatian para tetangga yang melihatnya.


Dengan sombongnya, Ibunya Melisa keluar menemui Ibunya Jihan. "Wah ... wah ... wah, Saya kedatangan tamu jauh ini. Santai saja Bu, jangan terbawa emosi!" sindir Ibunya Melisa. Ibunya Jihan, tampak menatap tajam ke arah Ibunya Melisa.


"Dasar orang tua tak tahu malu! Bukannya mengingatkan anak, ini malah senang anaknya merebut suami orang. Suami sahabatnya lagi, benar-benar keterlaluan banget! Di kasih hati, minta jantung! Di kasih tumpangan tinggal di rumah, dipinjamkan uang, eh malah merebut! Dasar wanita murahan! Sekarang malah kena batunya, dikira nikah sama si Wildan bakalan hidup enak. Eh tahunya, si Wildan selama ini numpang hidup sama si Jihan. Demi bisa jadi orang kaya, rela dihamili sebelum nikah," sindir Ibunya Jihan.

__ADS_1


Para tetangga bersorak menyoraki Ibunya Melisa. Mereka tahu, yang sebenarnya. Kini justru berbalik, para tetangganya menjadi tak simpatik kepada Ibunya Melisa. Saat tahu, kalau Melisa adalah seorang pelakor.


"Eh, kamu jangan asal bicara! Saya bisa nuntut kamu ya! Mereka itu menikah, karena saling cinta. Bukan karena hamil duluan! Memang benar, Melisa merebut Wildan dari Jihan. Tetapi, kamu salah! Wildan itu orang kaya. Wildan membelikan Melisa apartemen, sebagai hadiah pernikahan mereka," Ibunya Melisa membela diri, dia tak mau kalah. Bahkan dia terlihat lebih banyak bicara, demi menutupi perasaan malunya.


"Tetap saja Melisa salah! Apapun alasannya, Melisa adalah pelakor! Bikin malu kampung kita! Sama saja, dia menjual diri menghalalkan segala cara untuk bisa jadi orang kaya," ucap seorang tetangga yang ikut bicara dan di iyakan tetangga lain. Wajah Ibunya Melisa langsung memerah, menahan rasa malunya.


"Terserah, kamu mau bicara apa! Yang menjalankan itu mereka, mereka saling cinta. Jihan saja yang kegeeran. Kalau Wildan tak cinta sama Melisa, dia tak mungkin tergoda dengan Melisa. Itu tandanya Wildan lebih cinta sama Melisa. Ya sudah, saya malas bicara sama kamu! Lebih baik sekarang kamu pergi dari rumah Saya, dan jangan pernah injakkan kaki kamu di rumah Saya! Keberuntungan kini berpihak kepada Melisa, Melisa bisa lebih unggul dari Jihan. Jihan terima saja kekalahannya," ucap Ibunya Melisa sombong.

__ADS_1


"Kita tunggu saja tanggal mainnya! Kalian semua yang di sini, jadi saksinya ya. Kita lihat nantinya, rumah tangga mereka akan seperti apa ya Ibu-ibu," ucap Ibunya Jihan dan semua Ibu-ibu yang berada di sana mengiyakan.


"Yang sabar ya, Jihan! Allah tidak tidur, dia tahu siapa yang benar, dan siapa yang salah! Kami yakin, cepat atau lambat, Melisa akan kena karna atas perbuatannya!"


Ibunya Jihan mengucapkan terima kasih kepada semua Ibu-ibu yang berada di sana, mereka semua mendukung Jihan. Meskipun mereka sebenarnya tetangga terdekat Melisa. Mereka tetap saja tak suka.


Dia pamit meninggalkan rumah Melisa kepada Ibu-Ibu yang masih berada di sana. Ibunya Jihan kembali lagi ke rumahnya. Sang Ibu langsung menghubungi Jihan, dan mengatakan kalau Sang Ibu sudah menghampiri rumah Ibunya Melisa.

__ADS_1



__ADS_2