Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Penangkapan Wildan


__ADS_3

"Sayang, Mas berangkat dulu ya!" ucap Affan kepada sang istri, setelah sarapan pagi.


"Mas ...," ucapan Jihan terputus. Dia tak jadi melanjutkannya. Dia khawatir, suaminya nanti menjadi salah paham.


"Kenapa? Gak tega sama dia? Kamu harus ingat Sayang, apa yang dia lakukan kepada kita. Terutama kamu. Biar dia mendapatkan pelajaran berharga dulu dalam hidupnya!" Affan mencoba memberi pengertian kepada sang istri. Akhirnya, Jihan menganggukkan kepalanya. Dia akan menyerahkan semuanya kepada sang suami.


"Ya sudah, Mas berangkat dulu ya Sayang! Nanti Mas kabarin ya, Sayang!" ucap Affan.


Jihan langsung mencium tangan suaminya, dan Affan memberikan kecupan di pucuk kepala sang istri. Jihan mengantarkan sang suami sampai mobil sang suami pergi meninggalkan rumah. Besok, dia akan berangkat berbulan madu. Dia mengambil cuti 7 hari untuk berkeliling tempat.


Kini Affan sudah bertemu dengan tim kepolisian yang akan mengurus kasusnya. Dia terlihat begitu gagah, dan berwibawa. Tim kepolisian sudah siap untuk mengeksekusi Wildan di tempat kerjanya.


"Gimana kalau kita berangkat sekarang saja?" Tanya Affan dan ketua tim kepolisian mengiyakan.


Saat itu jam menunjukkan pukul 08.00 pagi. Wildan baru saja sampai di kantor, dan ingin mulai bekerja. Affan dan tim kepolisian sudah dalam perjalanan menuju kantor Wildan.


Sejak kemarin malam, Wildan merasa gelisah. Namun, dia tak tahu apa yang menyebabkan dia seperti itu. Wildan mencoba menghubungi sang mama, dia takut terjadi sesuatu dengan sang mama.


"Waalaikumsalam. Iya, Wil. Gimana keadaan kamu saat ini? Mama kemarin memimpikan kamu, semoga saja kalau ini bukanlah sebuah pertanda buruk untuk kamu Wil," ungkap sang mama.


"Jadi, Mama memimpikan aku? Memangnya, Mama mimpi apa?" Tanya Wildan. Dia semakin merasa gelisah.


"Mama mimpikan kamu ditangkap polisi. Akhirnya, kamu di pecat dari perusahaan, dan kamu hidup susah menderita," ungkap sang mama. Membuat jantung Wildan seakan terhenti. Dia takut, kalau hal ini akan terjadi di dunia nyata.

__ADS_1


"Doakan Wildan ya, Ma! Semoga ini hanya sebuah mimpi. Sejak malam, Wildan pun merasa gelisah. Wildan terbangun dari tidur," ucap Wildan.


"Amin. Semoga, Allah selalu melindungi kamu, dan semoga mimpi ini hanya menjadi bunga tidur," ucap sang mama.


Wildan mengakhiri panggilan telepon dengan sang mama, karena dia harus berkerja. Dia harus bersikap profesional, karena dia membutuhkan pekerjaan ini untuk memenuhi kebutuhan hidup dia beserta mama, dan istrinya. Terlebih, dia juga memiliki hutang yang banyak kepada bosnya untuk operasi sang mama.


Affan dan beserta tim kepolisian, sudah sampai di perusahaan tempat Wildan bekerja. Siap melakukan eksekusi Wildan. Mobil tim polisi dan Mobil Affan memasuki area perusahaan tempat Wildan bekerja. Affan turun memakai kaca mata hitam, dia terlihat gagah.


"Kami dari tim kepolisian ingin melakukan penangkapan saudara Wildan Prayudi karyawan di perusahaan ini. Tolong Anda panggilkan dia sekarang!" ucap salah seorang anggota tim kepolisian kepada sang security.


"Kalau saya boleh tahu, Pak Wildan ada salah apa ya?" tanya sang security. Sebelum dia memanggil Wildan.


"Kasus pencemaran nama baik Bapak Affan dan Ibu Jihan," jelas sang polisi.


Tim kepolisian dan juga Affan, ikut masuk ke dalam perusahaan. Mengikuti sang security. Pak Rusli selaku sekretaris, memberikan informasi kepada sang resepsionis. Sang resepsionis langsung menemui Wildan di ruangannya.


"Permisi Pak, di depan ada tim kepolisian yang mencari Anda!" ucap Asri sang resepsionis.


"Tim kepolisian, mencari saya? Ada apa ya?"


Wildan tampak bingung. Dia belum sadar, dengan apa yang dia lakukan di pesta pernikahan Jihan mantan istrinya. Sang resepsionis tak berani memberitahu Wildan, kalau kedatangan mereka karena ingin menangkap Wildan.


Dengan percaya diri Wildan keluar menghampiri mereka. Dia baru tersadar, saat melihat Affan. Dia yakin itu Affan, meskipun Affan masih menggunakan kaca mata hitam. Wajah Wildan berubah pucat. Keringat bercucuran membasahi wajahnya. Dia merasa shock saat itu. Ternyata, Affan bukan hanya mengancam. Affan benar-benar melakukannya.

__ADS_1


"A—ada apa ya, kalian ke sini? Memangnya, saya salah apa?" Tanya Wildan. Suaranya terdengar bergetar. Dia merasa gugup.


"Saudara Wildan Prayudi, Anda kami tangkap! Atas tuduhan pencemaran nama baik Bapak Affan dan juga Ibu Jihan. Saya minta Anda ikut ke kantor polisi, untuk memberikan keterangan!" Ujar sang polisi.


"Saya tidak, salah! Lepaskan saya! Saya mengatakan apa adanya! Lagi-laki itu yang membuat mantan istri saya menggugat cerai. Dia mengatur rencana, agar kami bercerai!" Wildan masih saja membela diri. Saat kedua tangannya di borgol.


"Tolong Pak, jangan seperti ini! Kasihanilah saya! Istri saya sedang hamil, dan Ibu saya punya penyakit jantung. Kalau saya dipenjara, gimana nasib kami nanti! Tolong cabut gugatan kamu! Saya mohon!" ucap Wildan memohon iba. Sampai-sampai dia meneteskan air matanya. Dia begitu menyesal.


"Kamu pantas mendapatkannya! Agar kamu bisa menjaga mulut kamu dan menjadikan otak kamu untuk berpikir panjang! Kamu harus mendapatkan pelajaran berharga dalam hidup kamu!" ucap Affan.


Wildan benar-benar lemah, tak ada yang bisa menolong dia untuk terbebas dari permasalahan yang dia hadapi saat ini. Wildan meminta waktu untuk bisa menghubungi Melisa sang istri, dan sang mama.


Dia diperbolehkan masuk untuk merapikan barang-barangnya, dan menghubungi istri dan juga mamanya. Mendengar ponselnya berdering, Melisa langsung bergegas untuk mengambilnya.


"Ya, Mas," ucap Melisa mengawali pembicaraan dengan sang suami.


"Mel, Mas di tangkap polisi. Mau dibawa ke polisi. Entah nasib Mas akan seperti apa ke depannya. Mas belum tahu. Mas titip sama orang kantor dompet dan juga ponsel Mas! Nanti Mas kasih nomor pin ATM Mas, kamu gunakan sisa uang yang ada sebaik mungkin! Mas titip Mama ya!" ucap Wildan lirih. Dia tak menyangka, kalau nasibnya akan seperti sekarang.


"Memangnya, Mas salah apa? Sampai ditangkap seperti ini? Kalau Mas dipenjara, dan Mas enggak kerja. Gimana nasib aku? Siapa yang membiayai aku dan anak ini?" ucap Melisa di iringi isak tangis.


"Maafin Mas ya! Sudah membuat kamu susah, dan harus berjuang sendiri untuk anak kita! Mas titip calon anak kita ya! Mas pergi dulu!" ucap Wildan.


"Mas ...! Jangan tinggalkan aku! Gimana nasib aku sama anak ini? Hiks ... Hiks ... Hiks!" Melisa menjerit, memanggil nama suaminya. Tapi sayangnya, Wildan tak mempedulikannya. Dia tetap memilih mengakhiri panggilan telepon dengan Melisa. Tubuh Melisa terasa lemas, tak memiliki kekuatan. Air matanya mengalir deras. Dia tak sanggup menghadapi masalah ini. Dia begitu rapuh. Permasalahan terus hadir bertubi-tubi menghampiri dirinya. Hidupnya semakin menderita.

__ADS_1


Mampir yuk ke karya temanku🙏



__ADS_2